MENJAMAK SHOLAT KARENA ADA SUATU KEPERLUAN

April 4, 2018 at 1:13 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA ADA SUATU KEPERLUAN

 

Sebagian ulama memandang bolehnya menjamak sholat karena ada suatu kebutuhan. Al-‘Alamah Abu Bakar al-Husainiy dalam kitabnya “Kifaayah al-Akhyar” (hal. 140-141) berkata :

بل ذهب جمَاعَة من الْعلمَاء إِلَى جَوَاز الْجمع فِي الْحَضَر للْحَاجة لمن لَا يَتَّخِذهُ عَادَة وَبِه قَالَ أَبُو إِسْحَاق الْمروزِي وَنَقله عَن الْقفال وَحَكَاهُ الْخطابِيّ عَن جمَاعَة من أَصْحَاب الحَدِيث وَاخْتَارَهُ ابْن الْمُنْذر من أَصْحَابنَا وَبِه قَالَ أَشهب من أَصْحَاب مَالك وَهُوَ قَول ابْن سِرين وَيشْهد لَهُ قَول ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنْهُمَا أَرَادَ أَن لَا يحرج أمته حِين ذكر أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم (جمع بِالْمَدِينَةِ بَين الظّهْر وَالْعصر وَالْمغْرب وَالْعشَاء من غير خوف وَلَا مطر) فَقَالَ سعيد بن جُبَير لم فعل ذَلِك فَقَالَ لِئَلَّا يحرج أمته فَلم يعلله بِمَرَض وَلَا غَيره وَاخْتَارَ الْخطابِيّ من أَصْحَابنَا أَنه يجوز الْجمع بالوحل فَقَط وَالله أعلم

“bahkan sebagian ulama berpendapat bolehnya menjamak sholat pada waktu hadir (tidak sedang bepergian) karena adanya suatu keperluan selama hal tersebut tidak dijadikan kebiasaan. Ini adalah pendapatnya Abu Ishaq al-Marwaziy, sebagaimana dinukil dari al-Qofaal dan al-Khothoobiy menceritakan pendapat ini dari sejumlah ulama hadits dan menjadi pilihan pendapatnya Ibnul Mundzir dari kalangan madzhab kami, juga menjadi pendapatnya Asyhab dari kalangan Malikiyyah serta ini adalah pendapatnya Ibnu Siriin. Dalil mereka adalah ucapan Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa, “bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tidak ingin memberatkan umatnya”, tatkala beliau ditanya alasan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjamak sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah, bukan karena takut ataupun karena hujan. (HR. Muslim).

Sa’id bin Jubair berkata, Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa menjawab demikian tatkala ditanya alasan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjamak sholat tersebut, dimana (alasannya) bukan karena sakit dan selainnya. Al-Khothoobiy dari kalangan madzhab kami memilih bolehnya menjamak sebatas jika jalanan berlumpur saja. Wallahu a’lam.

 

Mayoritas ulama mentakwil bahwa yang dimaksud dengan hadits Muslim diatas adalah jamak shuri, yakni mengerjakan sholat Dhuhur di akhir waktunya, kemudian menunggu sampai masuk waktu Ashar, lalu mengerjakan sholat Ashar, begitu juga dengan sholat Maghrib yang dikerjakan pada akhir waktunya, lalu menunggu masuk waktu Isya, kemudian mengerjakan sholat Isya.

 

Akan tetapi asy-Syaikh al-Albani menyanggah takwilan diatas dalam kitabnya yang sangat berfaidah “Silsilah Ahaadits ash-Shahihah” (6/814-815) :

واعلم أن الشوكاني رحمه الله ذهب إلى أن المقصود بالحديث إنما هو الجمع الصوري، وأطال البحث في ذلك جدا، وتكلف في تأويل الحديث وصرف معناه عن الجمع الحقيقي الثابت صراحة في بعض أحاديث الجمع في السفر. واحتج لذلك بأمور يطول الكلام عليها جدا، والذي أريد أن ألفت النظر إليه إنما هو أنه لم يتنبه إلى أن قوله: ” كي لا يحرج أمته ” نص في الجمع الحقيقي، لأن رفع الحرج إنما يعني في الاصطلاح الشرعي رفع الإثم والحرام

“ketahuilah bahwa Syaukani Rahimahullah berpendapat bahwa maksud hadits Muslim adalah jamak shuriy, kemudian beliau membahasnya panjang lebar, terlalu membebani diri dalam mentakwil haditsnya dan memalingkan dari makna jamak hakiki yang telah tsabit dan sangat jelas pada sebagian hadits-hadits tentang menjamak pada saat bepergian, beliau berhujjah dengan ucapan yang panjang lebar. Dan yang ingin saya palingkan perhatian kepadanya adalah bahwa beliau tidak menjelaskan ucapan Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu : “Rasulullah tidak ingin memberatkan umatnya” ini adalah nash tentang jamak hakiki, karena mengangkat keberatan itu hanyalah dimaksudkan dengan makna istilah yang syar’i yakni mengangkatnya dari dosa dan keharaman..”. –selesai-.

 

Kemudian asy-Syaikh al-Albani membuat kesimpulan (6/817) :

أقول: يبدو لي من تعليل الجمع في حديث ابن عباس برفع الحرج – أنه إنما يجوز الجمع حيث كان الحرج، وإلا فلا، وهذا يختلف باختلاف الأفراد وظروفهم، ولعل  لقائلين بجوازه مطلقا من السلف أشاروا إلى ما ذكرته حين اشترطوا أن لا

يتخذ ذلك عادة كما تفعل الشيعة

“jelaslah bagiku alasan jamak dalam hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu adalah untuk mengangkat kesulitan, sehingga diperbolehkan menjamak tatkala ada kesulitan disana, kalau tidak ada, maka tidak boleh dan ini tentunya berbeda tergantung pribadi dan kondisi tertentu. Oleh sebab itu, para ulama salaf yang membolehkan jamak secara mutlak, mereka mengisyaratkannya kepada apa yang telah disebutkan yakni mempersyaratkan hal tersebut bukan sebagai kebiasaannya, sebagaimana yang dilakukan orang Syi’ah..”. –selesai-.

 

Kemudian yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah bagaimana hukumnya menjamak sholat karena kemacetan di jalan raya?, biarlah orang yang ahli fatwa yang menjawabnya, yakni pernah diajukan kepada al-‘Alamah Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz –pernah menjadi mufti ‘aam Saudi Arabia- Rahimahullah :

Soal : “sebagian anggota keluarhga kami pergi ke daerah tetangga yang jaraknya kurang lebih 5 km dari tempat kami untuk membeli suatu keperluan, dan kembali di perjalanan sudah waktu maghrib, kami tidak bisa keluar dari jalan raya kecuali sudah berakhir waktu maghrib karena kemacetan di jalan raya dan sempitnya waktu maghrib. Kami tidak sholat, melainkan setelah akhir-akhir adzan Isya, yakni setelah waktu Maghrib terlewatkan. Apakah boleh bagi kami pada kondisi ini menunggu agak jauh lagi, mengingat adanya kesulitan dengan ikutnya sebagian wanita, lalu kami mengakhirkan waktu maghrib untuk sholat didaerah kami sendiri?

 

Jawaban beliau Rahimahullah : “tidak mengapa mengakhirkan sholat Maghrib pada kondisi yang engkau sebutkan, lalu kalian mengerjakan sholat di daerah kalian sendiri untuk menghindari kesulitan, namun jika memudahkan bagimu mengerjakan sholat (Maghrib) di jalan maka itu lebih utama”.

Sumber : https://www.binbaz.org.sa/fatawa/4633.

 

Dari jawaban al-‘Alamah bin Baz, kita dapat menarik kesimpulan bahwa jika kondisi memang ada hajat atau kesulitan disana, seperti karena macet di tengah jalan, maka yang lebih utama berhenti lalu sholat di pinggir jalan, jika kondisinya memungkinkan, namun jika dirasa ada kesulitan disana, maka menjamak sholat yang terlewat tersebut diperbolehkan. Wallahu a’lam.

 

Kemudian madzhab fiqih yang memperluas cakupan udzur diperbolehkan untuk menjamak sholat adalah madzhab Hanbali, diantara udzur yang mereka katakan bolehnya menjamak adalah adanya perasaan takut yang menghantui dirinya, atau hartanya, atau sesuatu yang akan menyulitkan pekerjaan sumber penghidupannya jika meninggalkan menjamak sholat, sebagaimana dinukil oleh DR. Ali Abu al-Bashal dalam bukunya “ar-Rukhos fii ash-Sholaat”. Walhamdulillah

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: