HADITS SUTRAH DENGAN GARIS

April 20, 2018 at 10:05 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HADITS SUTRAH DENGAN GARIS

Pada asalnya sutrah (pembatas) untuk sholat yang diletakkan didepan orang yang sedang sholat adalah sesuatu yang menonjol, bisa berupa dinding masjid, tiang masjid atau pelana kuda dan semisalnya. Namun jika itu semua tidak ada, apakah diperbolehkan bersutrah dengan garis?.

Al-Hafidz Ibnu Rajab (w. 795 H) Rahimahullah dalam kitabnya “Fathul Bariy Syarah Shahih Bukhori” (IV/39-40) menjelaskan kepada kita pendapat para ulama terkait hal ini, kata beliau :
وأما الخط في الأرض إذا لم يجد ما يستتر به ففيه قولان:
أحدهما: أنه يحصل به الاستتار – أيضا -، وهو قول أبي هريرة، وعطاء، وسعيد بن جبير، والأوزاعي، والثوري، والشافعي في أحد قوليه – ورجحه كثير من أصحابه أو أكثرهم – وأحمد، وإسحاق، وأبي ثور.
والثاني: أنه ليس بسترة، وهو قول مالك، والنخعي، والليث، وأبي حنيفة، والشافعي في الجديد. وقال مالك: الخط باطل.
“adapun garis di tanah jika tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan sutrah maka terkait dengannya ada dua pendapat :
1. Garis bisa dijadikan sutrah juga, ini adalah pendapatnya Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, ‘Athaa`, Said bin Jubair, al-Auzaa’iy, ats-Tsauriy, asy-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya –kemudian dirajihkan oleh kebanyakan ashabnya-, Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur Rahimahumullah;
2. Garis tidak bisa dijadikan sutrah, ini adalah pendapatnya Malik, an-Nakhoo’iy, al-Laits, Abu Hanifah, asy-Syafi’i dalam pendapat Jadidnya. Malik berkata : “garis itu batil”.

Aimah yang berpendapat bolehnya garis sebagai sutrah berdalil dengan hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ :
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ شَيْئًا، فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا، فَلْيَخُطَّ خَطًّا، وَلَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ
“Jika kalian sholat, maka letakkanlah dihadapannya sesuatu (sutrah), jika tidak mendapatkan sutrah tersebut, maka tancapkanlah tongkat (didepannya), jika tidak ada tongkat, maka buatlah sebuah garis, dan orang yang lewat dibelakang garis tidak membahayakannya”.

Oleh karena ini adalah hadits yang dijadikan dalil oleh kelompok yang membolehkannya, maka kita fokus untuk melihat bagaimana kevalidannya berdasarkan tinjaun terhadap sanadnya.

Hadits diatas diriwayatkan oleh beberapa Aimah hadits diantaranya adalah Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 7392, cet. Ar-Risaalah), Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” (no. 689) dan Imam Ibnu Majah dalam “Sunannya” (no. 943) serta selainnya. Ketiga Aimah diatas semua sanadnya bermuara kepada :
إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ، عَنْ جَدِّهِ حُرَيْثِ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
“Ismail bin Umayyah, dari Abi ‘Amr bin Muhammad bin ‘Amr bin Huraits dari kakeknya Huraits bin Sulaim dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : “al-Hadits”.

Memang sebagian Aimah hadits mutaqodimin menshahihkan hadits ini, seperti dinukil oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya “al-Istidzkaar” (II/281) :
وَأَمَّا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ فَكَانَا يُصَحِّحَانِ هَذَا الْحَدِيثَ
“adapun Ahmad bin Hanbal dan Ali ibnul Madiiniy, mereka berdua menshahihkan hadits ini”.
Akan tetapi tentu kita butuh kepada evidence yang sesuai dengan kaedah-kaedah dalam ilmu hadits sehingga bisa dihasilkan kesimpulan apakah hadits tersebut shahih, hasan atau bahkan dhoif.

Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini memiliki dua cacat, yaitu idhthirob (kegoncangan pada sanadnya) dan kemajhulan dua perowinya. Adapun idhthirobnya hadits ini telah ditegaskan oleh Imam ibnu ash-Sholaah, sebagai pakar ulama hadits rujukan. Bahkan beliau menjadikan hadits ini sebagai contoh hadits idhthirob dalam kitabnya yang sangat terkenal dengan nama “Mukadimah ibnu ash-Sholaah” di point ke-19 ketika menjelaskan jenis-jenis pembahasan dalam ilmu hadits.

Al-Hafidz Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya diatas telah memaparkan dengan sangat lengkap bagaimana kegoncangan sanad tersebut terjadi :
Pertama adalah terjadinya kegoncangan pada nama gurunya Ismail bin Umayyah dalam beberapa versi :
• Nama gurunya adalah Abi Muhammad bin ‘Amr bin Huraits al-‘Adzariy;
• Nama gurunya adalah Abi ‘Amr bin Muhammad bin Huraits;
• Nama gurunya adalah Abi ‘Amr bin Huraits.

Kemudian kegoncangan terjadi juga pada orang yang meriwayatkan dari Ismail bin Umayyah tersebut menjadi beberapa versi juga :
 Sebagaimana sanad yang kami sebutkan diatas;
 Dari Ismail dari syaikhnya diatas dengan ragam versinya dari bapaknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu;
 Dari Ismail dari syaikhnya diatas dari kakeknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu;
 Dari Ismail dari Bapaknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu;
 Dari Ismail dari syaikhnya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu tanpa perantara bapak atau kakeknya.

Maka kegoncangan pada sanad hadits ini sagat jelas dan idhthirob alias kegoncangan menyebabkan haditsnya menjadi dhoif.

Anggaplah kita mengikuti pendapat ulama yang meniadakan kegoncangan padanya, semisal Al Hafidz Ibnu Hajar yang berkata dalam “Bulughul Maram” (hadits no. 234) :
وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ, بَلْ هُوَ حَسَنٌ
“dan tidak benar orang yang mengklaim bahwa hadits ini mudhthorib, bahkan ini adalah hadits Hasan”.

Atau seperti Imam Abu Zur’ah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya “al-“Illal” (II/484) bahwa beliau merajihkan jalan yang benar adalah :
عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُميَّة، عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حُرَيْث، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أبي هريرة، عن النبيِّ (ص)
“dari Ismail bin Umayyah dari Abi ‘Amr bin Muhammad bin Huraits dari Bapaknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam”.

Atau perajihan Imam Daruquthni dalam “al-Illal” (X/283) bahwa jalannya adalah sama seperti diatas, tapi bapaknya diganti kakeknya.

Maka masih ada cacat berikutnya yang Al Hafidz Ibnu Hajar terluput darinya yaitu status Abu ‘Amr atau Abu Muhammad ibnu Huraits dan bapaknya atau kakeknya. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah sendiri telah menilai Abu ‘Amr ini majhul. Kemudian beliau menukil juga dalam kitabnya “Tahdziib at-Tahdziib” (XII/180-181) bahwa Imam ath-Thahawi telah menilai majhul kepada Abu ‘Amr ini dan kakeknya. Memang benar Imam Ibnu Hibban mentsiqohkan Abu ‘Amr, namun sebagaimana telah maklum beliau gampang memberikan tautsiq kepada para perowi majhul. Seandainya pun diterima maka kemajhulan bapak atau kakek Abu ‘Amr ini masih ada.

Imam Ibnu Abi Hatim dalam “al-Jarh wa at-Ta’dil” (III/262) telah menyebutkan biografi Huraits bin ‘Amaar, kakeknya Abu ‘Amr tersebut, tanpa ada komentar jarh maupun ta’dil terhadapnya, dan telah berlalu penilaian kemajhulan dari Imam ath-Thahawiy. Imam Ibnu Hibban seperti biasa memberikan pentsiqohan kepadanya.

Sebagian ulama mutaqodimin mendhoifkan hadits ini diantaranya adalah Imam ad-Daruquthni yang dengan tegas mengatakan : “لا يصح ولا يثبت” (tidak shahih dan tidak tsabit), sebagaimana dinukil oleh Al Hafidz dalam Tahdziib at-Tahdziib, begitu juga terdapat isyarat pendhoifannya juga dari Imam asy-Syafi’i dan Imam Sufyan bin Uyyainah.

Adapun nukilan penshahihan dari Imam Ahmad oleh Imam Ibnu Abdil Barr, maka perlu dilihat lebih lanjut kevalidannya. Al Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya diatas berkata :
وأحمد لم يعرف عنه التصريح بصحته، إنما مذهبه العمل بالخط، وقد يكون اعتمد على الآثار الموقوفة لا على الحديث المرفوع
“Imam Ahmad tidak diketahui bahwa beliau tegas menshahihkannya, hanyalah mazhabnya memang beramal dengan garis, mungkin saja ia berpegang dengan atsar yang mauquf bukan kepada hadits yang marfu’”.
Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab malah menukil pendhoifan Imam Ahmad terhadap hadits ini, kata beliau :
فإنه قال في رواية ابن القاسم: الحديث في الخط ضعيف.
“karena dalam riwayat ibnul Qoosim, Imam Ahmad berkata, “hadits tentang garis adalah dhoif”.
Hal senada dinukil juga oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Tahdziib, menukil dari Imam al-Kholaal yang meriwayatkan bahwa Imam Ahmad mengatakan, “hadits garis adalah dhoif”.
Dan kami juga belum mendapatkan penukilan penshahihan dari Imam Ali bin al-Madiniy, seorang pakar ilmu illalul hadits, selain dari Imam Ibnu Abdil Barr dan kevalidannya belum bisa dibuktikan secara ilmiah, mengingat terpaut jauh umur Imam Ibnu Abdil Barr dengan Imam Ibnul Madiniy dan beliau tidak menyebutkan sanad yang bisa kita nilai kevalidannya. Wallahu a’lam. Bahkan dalam riwayat Abu Dawud dalam Sunannya (no. 690) Imam Ali ibnul Madiiniy mengisyaratkan adanya kegoncangan pada hadits ini, Imam Abu Dawud berkata :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا عَلِيٌّ يَعْنِي ابْنَ الْمَدِينِيِّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ، عَنْ جَدِّهِ حُرَيْثٍ، رَجُلٍ مِنْ بَنِي عُذْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَكَرَ حَدِيثَ الْخَطِّ، قَالَ سُفْيَانُ: لَمْ نَجِدْ شَيْئًا نَشُدُّ بِهِ هَذَا الْحَدِيثَ، وَلَمْ يَجِئْ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، قَالَ: قُلْتُ لِسُفْيَانَ: إِنَّهُمْ يَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَتَفَكَّرَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ: مَا أَحْفَظُ إِلَّا أَبَا مُحَمَّدِ بْنَ عَمْرٍو، قَالَ سُفْيَانُ: قَدِمَ هَاهُنَا رَجُلٌ بَعْدَ مَا مَاتَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ فَطَلَبَ هَذَا الشَّيْخُ أَبَا مُحَمَّدٍ حَتَّى وَجَدَهُ فَسَأَلَهُ عَنْهُ فَخَلَطَ عَلَيْهِ
“telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faaris, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Madiiniy, dari Sufyaan, dari Ismail bin Umayyah, dari Abi Muhammad bin ‘Amr dari Huraits, dari kakeknya Huraits –dari bani ‘Udzrah- dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Abil Qoosim Sholallahu ‘alaihi wa Salaam lalu disebutkan hadits tentang garis.
Sufyan berkata : “kami tidak mendapatkan penguat untuk hadits ini dan tidak datang haditsnya kecuali dari jalan ini”. (Imam Ali bin al-Madiiniy) berkata : “mereka berselisih tentangnya”, maka Sufyan pun berpikir sejenak, lalu beliau berkata : “aku tidak hapal, kecuali dari Abu Muhmmad bin ‘Amr”, lanjutnya, “ada seorang yang baru datang kesini setelah wafatnya Ismail bin Umayyah, ia mencari syaikh ini yakni Abu Muhammad, lalu ia pun bertemu dengannya, lalu bertanya tentang hadits ini, lalu terjadilah ikhtilath (percampuran/perubahan hapalan) atasnya”.

Al Hafidz Ibnu Rajab Rahimahullah menemukan syahid (penguat) dari jalan shohabi Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu dalam kitabnya diatas, yang menunjukkan luasnya penelitian dan pengetahuan beliau terhadap hadits, khususnya pembahasan hadits ini, karena tidak ada yang berhasil menemukan jalan ini –fimma na’lam-, selain beliau Rahimahullah. beliau berkata :
قلت: وقد روي في الخط بين يدي المصلي حديث مرفوع من حديث انس. خرجه حمزة السهمي في ((تاريخ إستراباذ)) .
وإسناده مجهول ساقط بمرة.
“diriwayatkan hadits tentang garis didepan orang yang sholat secara marfu’ dari haditsnya Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Hamzah as-Sahmiy dalam “Taarikh Istaroobaadz”, namun sanadnya majhul, sangat lemah sekali”.

Orang kedua yang penelitiannya luas juga adalah Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaniy Rahimahullah yang menemukan syahid lainnya dari Abu Musa al-Asy’ariy Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dinukil oleh Imam Al-Albani dalam “adh-Dhoifah” (no. 5813), namun dalam sanadnya ada perowi yang bernama Abu Harun al-‘Abadiy, seorang perowi matruk, bahkan sebagian ulama menilainya sebagai pendusta. Kemudian Al Hafidz menyorongkan penguat lagi yang beliau klaim sebagai hadits mauquf dari Sa’id bin Jubair Rahimahullah, namun segera dikritik oleh Imam al-Albani bahwa yang benar adalah hadits maqtu’ bukan mauquf, karena terhenti sanadya kepada Sa’id bin Jubair, seorang Tabi’i, kemudian kalau saja mauquf belum bisa menguatkan hadits yang kita bahas ini, terlebih lagi ini adalah maqtu’, maka tentunya lebih tidak bisa menguatkannya. Dan ini menunjukkan penelitian yang luas dari Imam al-Albani yang bisa mengimbangi penelitian para hufadz hadits yang masyhur sebagai bintangnya dalam ilmu hadits ini.

Al Hafidz Ibnu Hajar juga menambah deretan ulama yang mendhoifkan hadits ini yaitu Imam al-Baghowiy dalam kitabnya “at-Talkhiish al-Habiir” (I/681). Kemudian guru Al Hafidz Ibnu Hajar sendiri yakni Al Hafidz al-‘Iraqiy (w. 806) Rahimahullah juga ketika menyebutkan contoh hadits mudhthorib dalam kitabnya “at-Tabshiiroh wa at-Tadzkirooh” (I/293), beliau mencontohkannya dengan hadits garis sutrah ini.

Kesimpulannya –wallahu a’lam- berdasarkan kaedah-kaedah dalam ilmu hadits maka pendapat yang menyatakan dhoifnya hadits ini, lebih kuat dengan bukti-bukti ilmiah yang tidak bisa terbantahkan.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: