MUSAFIR MENJAMAK TA`KHIR MENDAPATI SHOLAT JAMAAH ISYA, APAKAH IA IKUT ISYA DULU BARU MAGHRIB?

April 20, 2018 at 10:01 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MUSAFIR MENJAMAK TA`KHIR MENDAPATI SHOLAT JAMAAH ISYA, APAKAH IA IKUT ISYA DULU BARU MAGHRIB?

Permasalahan yang kita bahas adalah terkait sebuah case dimana seorang yang bersafar melakukan jamak ta`khir antara Maghrib dan Isya pada waktu Isya. Qodarullah ia singgah di masjid untuk menunaikan sholat sambil istirahat, dan mendapati sholat Isya berjamaah, maka pertanyaannya adalah apakah ia mengikuti Imam mengerjakan sholat Isya atau ia ikut tapi mengerjakan sholat Maghrib 3 rakaat?

Para ulama fiqih telah membahas hal ini dalam kajian mereka terhadap syarat-syarat menjamak sholat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dipersyaratkan tertib ketika MENJAMAK sholat dalam jamak taqdim, dalam artian misalnya ia MENJAMAK Maghrib dan Isya pada waktu maghrib, maka ia mengerjakan Maghrib dahulu, baru kemudian Isya, jika tidak seperti ini, maka tidak sah MENJAMAK sholatnya.

Penulis kitab “al-Maushuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” (15/287) mengatakan :
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْقَائِلِينَ بِجَوَازِ الْجَمْعِ إِلَى أَنَّهُ يُشْتَرَطُ لِجَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ:
أَوَّلُهَا: الْبُدَاءَةُ بِالأُْولَى مِنَ الصَّلاَتَيْنِ كَالظُّهْرِ وَالْمَغْرِبِ لأَِنَّ الْوَقْتَ لَهَا وَالثَّانِيَةَ تَبَعٌ لَهَا وَالتَّابِعُ لاَ يَتَقَدَّمُ عَلَى مَتْبُوعِهِ، فَلَوْ صَلَّى الْعَصْرَ قَبْل الظُّهْرِ أَوِ الْعِشَاءَ قَبْل الْمَغْرِبِ لَمْ يَصِحَّ الظُّهْرُ فِي الصُّورَةِ الأُْولَى، وَلاَ الْعِشَاءُ فِي الثَّانِيَةِ، وَعَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَهَا بَعْدَ الأُْولَى إِذَا أَرَادَ الْجَمْعَ
“Mayoritas ulama fiqih berpendapat bolehnya MENJAMAK sholat dan dipersyaratkan untuk jamak taqdim dengan 4 syarat berikut :
1. Memulai sholat pertama dari dua sholat yang dijamak tersebut, misalnya mulai sholat Zhuhur dulu atau Maghrib dulu, karena ini adalah waktu baginya, sedangkan sholat yang kedua adalah mengikutinya, sehingga pengikut tidak mendahului yang diikutinya.
Seandainya seorang sholat Ashar sebelum Zhuhur atau Isya sebelum Maghrib, maka tidak sah sholat zhuhurnya (ini mungkin salah cetak, harusnya sholat asharnya) pada kasus jamak yang pertama atau tidak sah sholat Isyanya pada kasus jamak yang kedua. Oleh sebab itu ia harus mengulangi sholat-sholat tadi setelah mengerjakan sholat yang pertama (pada jamak taqdim) jika ia ingin MENJAMAK sholatnya”.

Adapun pada kondisi jamak ta’khir, maka para ulama fiqih berbeda pendapat : sebagian ulama tetap mempersyaratkan tertib, oleh sebab itu jawaban dari pertanyaan dalam judul, ia harus mengerjakan sholat Maghrib 3 rakaat dibelakang Imam, tidak boleh ia mengikuti sholat Isyanya Imam. Adapun masalah beda niat telah dijelaskan oleh para ulama akan kebolehannya, diantaranya adalah al-Imam asy-syafi’i rahimahullahu dalam kitabnya “al-Umm” telah membahas satu pasal tersendiri dalam kitabus Sholat “Ikhtilaaf Niyat al-Imaam wa al-Ma`muum” (I/257, cetakan Syirkat al-quds).

Al-‘Alamah Ibnu Utsaimin dalam kitabnya “asy-Syarh al-Mumti'” (IV/402) setelah menegaskan bahwa mayoritas ulama fiqih Hanbali tetap tidak menggugurkan persyaratan tertib dalam jamak ta`khir. Kemudian asy-syaikh menjelaskan kasus kita ini dengan jelas, kata beliau :
مثال ذلك: رجل كان ناوياً جمع تأخير، ثم دخل المسجد ووجد ناساً يصلّون العشاء فدخل معهم بنية العشاء، ولما انتهى من العشاء صلّى المغرب، نقول: صلاة العشاء لا تصح؛ لأنه قدمها على المغرب، والترتيب شرط فيصلّي العشاء مرة ثانية والمغرب صحيحة، ومعنى قولنا: لا تصح، أي: لا تصح فرضاً تبرأ به الذمة، ولكنها تكون نفلاً يثاب عليه.
“Misalnya seorang berniat jamak ta`khir, lalu masuk masjid dan mendapati jamaah sedang sholat Isya, lalu ia bergabung bersama mereka dengan niat melaksanakan sholat Isya, lalu selesai isya-nan mengerjakan sholat Maghrib, maka kami katakan sholat Isyanya tidak sah, karena ia mendahului maghrib, sedangkan tertib adalah syarat. Oleh karenanya ia sholat Isya kedua kalinya lagi, adapun Maghribnya adalah sah. Dan maksud ucapan kami tidak sah, adalah tidak sah kewajiban yang dibebankan kepadanya, namun itu menjadi sholat sunah yang berpahala” -selesai-.

Namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa untuk jamak takhir, syarat tertib tidak berlaku. Imam Nawawi dalam kitabnya “minhaaj ath-Thaalibin” (hal. 46) mengatakan :
وإذا أخر الأولى لم يجب الترتيب والموالاة ونية الجمع على الصحيح
“Jika sholat pertama diahirkan (jamak ta`khir), maka tidak wajib tertib, muwaalah dan niat, menurut pendapat yang shahih”.

Ulama yang lebih senior dari beliau, yakni Imam al-Baghowi (w. 516 H) pun telah menjelaskan akan kebolehan tidak tertib dalam kitabnya “at-Tahdziib fii al-Fiqhi al-imam asy-syafi’i” (II/316) dan ini adalah wajh (salah satu pendapat Syafi’iyyah) yang paling benar daripada wajh lainnya yang tidak membolehkan. Alasannya sholat yang pertama pada kondisi jamak ta`khir adalah pengikut dari sholat kedua yang memang waktunya. Syafi’iyyah menyamakannya dengan qodho bagi sholat yang terluput sehingga habisnya waktu sholat yang terluput dan masuknya ia ke waktu sholat lainnya, boleh dikerjakan setelah waktu sholat yang menjadi jadwalnya.

Diantara ulama kontemporer yang menyatakan bahwa tertib dalam jamak ta`khir tidak wajib adalah Fadhiltus Syaikh Masyhuur Hasan Salman hafizhahullah, beliau berkata dalam salah satu fatwanya :
ﻻﺳﻴﻤﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺘﻴﻦ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺳﻨﺔ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻭﻁ ﻷﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ
“..Terlebih lagi bahwa tertib diantara dua sholat yang dijamak pada jamak ta`khir adalah sunnah, bukan merupakan syarat sholat, karena waktunya adalah waktu sholat kedua..”. (https://ar.islamway.net/fatwa/30877/جمع-بين-المغرب-والعشاء-جمع-تأخير-فأيهما-يصلي-أولا).

Sehingga berdasarkan pendapat yang kedua, ia bergabung sholat Isya berjamaah, lalu baru sholat maghrib ketika berniat menjamaknya. Pendapat kedua lebih applicable dilaksanakan di masyarakat yang asing dengan pendapat pertama, karena dengan berhentinya atau menunggunya seorang penjamak sholat Maghrib pada rakaat ketiga pada pelaksanaan sholat Isya berjamaah, akan menimbulkan keresahan pada jamaah lainnya yang merasa aneh dengan apa yang dilakukannya. Namun jika nyaman dengan pendapat pertama maka hal seperti itu tidak diperhitungkan. Masalah ini adalah khilafiyyah mu’tabar yang tidak ada nash shorih yang menjadi hakim dalam menyelesaikannya.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: