SYIRIK KECIL APAKAH MASUK DIBAWAH KEHENDAK ALLAH?

April 20, 2018 at 9:58 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SYIRIK KECIL APAKAH MASUK DIBAWAH KEHENDAK ALLAH?

Mengawali pembahasan ini kami sebutkan beberapa point yang sudah masyhur dikalangan ahlus sunnah terkait masalah-masalah akidah :
• Pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin yang bertauhid yang belum bertaubat dari dosa besarnya tersebut, maka ia berada dibawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’alaa, jika mau Allah akan mengazabnya terlebih dahulu di neraka sekedar ukuran dosanya, namun ia tidak kekal di neraka selama-lamanya, dan jika mau Allah akan mengampuninya, sehingga tidak merasakan siksa neraka terlebih dahulu;
• Syirik terbagi menjadi dua : Syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan kekal di neraka selama-lamanya dan syirik kecil, yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam dan tidak kekal di neraka;
• Syirik Akbar adalah dosa besar yang paling besar, dan ia adalah dosa yang tidak masuk kedalam kehendak Allah seperti dosa besar lainnya, dalam artian Allah tidak mengampuni pelaku syirik besar yang mati dalam keadaan tidak bertaubat dari kesyirikannya. Imam ath-Thabari Rahimahullah ketika menafsirkan surat An-Nisaa` ayat ke-48 mengatakan :
وقد أبانت هذه الآية أنّ كل صاحب كبيرة ففي مشيئة الله، إن شاء عفا عنه، وإن شاء عاقبه عليه، ما لم تكن كبيرة شركًا بالله
“ayat ini menjelaskan bahwa setiap pelaku dosa besar dibawah kehendak Allah, jika mau Dia akan mengampuninya dan jika berkehendak Dia akan mengazabnya terlebih dahulu, selama dosa besarnya bukan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’alaa”.

Yang akan menjadi pembahasan kita adalah apakah syirik kecil seperti bersumpah atas nama selain Allah, memakai jimat untuk menolak bala` dengan keyakinan itu adalah sebab, sedangkan Allah yang menolak kemudhorotannya, namun jika pemakai jimat berkeyakinan jimatnya itu sendiri yang memberikan manfaat dan menolak mudhorot, maka ia terjatuh kedalam syirik besar –na’udzubillahi min dzalik-, kemudian riya, sum’ah serta contoh-contoh lainnya yang telah dibahas oleh para ulama kita. Terhadap syirik kecil seperti itu, apakah ia masuk kedalam cakupan ayat 48 surat An-Nisaa` atau disamakan dengan dosa besar lainnya?. Allah berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisaa` : 48).

Jika syirik kecil masuk pada cakupan ayat diatas, ini artinya pelaku syirik yang tidak bertaubat sampai dicabut ajalnya, maka ia akan disiksa di neraka terlebih dahulu sesuai kadar kesyirikannya, namun tidak kekal selama-lamanya, karena syirik kecil tidak menyebabkan kekal pelakunya. Adapun jika dimasukkan kedalam dosa besar sama seperti lainnya, maka pelakunya yang belum bertaubat, berada dibawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini mencakup syirik kecil juga. Diantara dalil yang mereka gunakan adalah ayat diatas. Sisi pendalilannya adalah pada lafadz “لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ” an–yusyroka, an adalah huruf nashbin dan setelahnya ditakwil sebagai masdhar “Syirkaan” i’rabnya, maf’ul bih (obyek) untuk “yaghfiru” sehingga perkiraan kalimatnya adalah “laa yaghfiru syirkaan” (tidak mengampuni kesyrikan). Mashdar “syirkaan” tersebut dalam bentuk nakirah, sehingga dalam kaedah ushul tafsir bahwa “nakirah fii siyaqin naafi, tufiidul Umum” (kata nakirah dalam konteks kalimat peniadaan, memberikan faedah atas keumumannya). Sehingga kita katakan untuk ayat ini maknanya adalah sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan (apapun jenisnya) dan Allah akan mengampuni dosa selain dari kesyirikan. Oleh sebab itu syirik kecil masuk dalam cakupan ayat ini, yang tentunya sangat mengkhawatirkan bahwa amalan syirik kecil yang dilakukan oleh seseorang sampai dibawa mati dan belum bertaubat, Allah tidak akan mengampuninya dan akan dimasukkan kedalam neraka-Nya –na’udzu billah min dzaalik-, sekalipun kemudiab pelakunya tidak kekal di neraka, berbeda dengan dosa besar lainnya yang ada kemungkinan Allah akan mengampuninya jika dibawa sampai mati.

Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa ayat ini umum, namun yang dimaksud adalah khusus, yakni hanya mencakup syirik besar saja. Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka” (QS. Al Maidah : 72).
Dalam ayat ini konteksnya juga umum “man yusrik billah” (barangsiapa yang berbuat kesyirikan), namun ia dikhususkan dengan syirik besar, karena Firman Allah berikutnya “diharamkan surga dan tempatnya di neraka”, ini berlaku kepada syirik besar, karena pelaku syirik kecil jika diskenariokan disiksa di neraka, ia tidak diharamkan untuk masuk kedalam surga setelahnya, yakni tidak kekal di neraka selama-lamanya. Sehingga berdasarkan pendapat kedua ini, syirik kecil disamakan statusnya dengan dosa-dosa besar, dimana pelakunya yang membawanya sampai mati dan belum bertaubat, maka dibawah kehendak Allah, jika mau Dia akan menyiksanya di neraka dan jika berkehendak, Dia akan mengampuninya.

Namun apapun pendapat yang benar dalam masalah diatas, tetap saja tidak boleh dianggap enteng perbuatan syirik, apalagi jika itu syirik besar, karena ayat dalam surat An Nisaa` diatas, memang umum berdasarkan kaedah-kaedah bahasa arab dan ilmu-ilmu penafsiran Al Qur`an. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita tetap mempelajari masalah tauhid dan menjauhkan diri dari kesyirikan sampai ajal menjemput dan memperbanyak bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa yang kita lakukan dengan taubatan nasuha, karena sebesar dan seberat apapun dosa, termasuk didalamnya syirik besar, maupun kekafiran, apalagi dosa dibawahnya, Allah pasti akan mengampuninya jika seorang hamba mau bertaubat kepada-Nya, sebagaimana Firman-Nya :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53).

Catatan :
Tulisan ini banyak mengambil faedah dari penjelasan fadhilatusy Syaikh Shoolih bin Abdil Aziz Alu Syaikh di : https://m.youtube.com/watch?v=fiFRM3WIq8Y

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: