TIDAK MENGERJAKAN SHOLAT SUNAH RAWATIB KETIKA SAFAR

April 20, 2018 at 9:59 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TIDAK MENGERJAKAN SHOLAT SUNAH RAWATIB KETIKA SAFAR

Al-Imam Bukhori rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab “Shahihnya” :
بَابُ مَنْ لَمْ يَتَطَوَّعْ فِي السَّفَرِ دُبُرَ الصَّلاَةِ وَقَبْلَهَا
“Bab barangsiapa yang tidak melaksanakan sholat Sunnah ketika safar sesudah dan sebelum sholat (Fardhu)”.

Beliau menurunkan dua buah hadits yang keduanya dari shohabi Jaliil Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa yang menunjukkan Nabi dan para khulafaur Rasyidin tidak mengerjakan Sholat sunah rawatib.

Hadits pertama (no. 1101) lafalnya :
صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ فِي السَّفَرِ، وَقَالَ اللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ إِسْوَةٌ حَسَنَةٌ)
“aku menemani Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan sholat sunah ketika safar. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Sungguh telah ada suritauladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah” (QS. Al Ahzab : 21).
Hadits pertama diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 689).

Kemudian hadits berikutnya (no. 1102) bunyinya :
صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
“aku menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Beliau tidak menambahi dalam rakaatnya, selain sholat dua rokaat, demikian juga ketika menemani safar bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu anhum”.

Dalam bab ini, Imam Bukhori ingin menjelaskan mazhab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa ketika safar seseorang tidak mengerjakan sholat Rawatib, karena sholat wajibnya saja diqoshor. Al-Imam Nasaa`i agaknya sependapat dengan ini, karena beliau sama menurunkan dua buah hadits diatas dengan lafadz yang lebih sempurna dan memberikan judul bab :
تَرْكُ التَّطَوُّعِ فِي السَّفَرِ
“Meninggalkan sholat sunah ketika safar”.

Lafadz hadits kedua yang terdapat dalam shahih bukhori diatas (no. 1102) diriwayatkan oleh Imam Nasaa`i dengan lafadz yang lebih lengkap (no. 1458) dengan jalannya sampai ke Hafsh bin ‘Aashim beliau berkata :
كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِي سَفَرٍ، فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى طِنْفِسَةٍ لَهُ فَرَأَى قَوْمًا يُسَبِّحُونَ، قَالَ: مَا يَصْنَعُ هَؤُلَاءِ؟ قُلْتُ: يُسَبِّحُونَ، قَالَ: لَوْ كُنْتُ مُصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَهَا لَأَتْمَمْتُهَا، «صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ»، وَأَبَا بَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ، وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ كَذَلِكَ
“aku pernah pergi safar bersama Ibnu Umar radhiyallahu anhu, lalu Beliau sholat Zhuhur dan Ashar dua rokaat, kemudian beliau berpaling ke alas tempat duduknya, Beliau melihat orang-orang mengerjakan sholat sunah (rawatib), beliau berkata : “apa yang dilakukan orang-orang itu?”, aku menjawab : “mereka mengerjakan sholat sunnah”. Maka beliau menanggapi : “seandainya aku mengerjakan sholat qobliyyah dan ba’diyyah, tentu aku akan menyempurnakan sholat wajibku” kemudian lanjutnya : …(sama seperti lafadz Bukhori).

Kemudian dalam hadits diatas Ibnu Umar radhiyallahu anhu tidak menyebutkan kholifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, hal ini kemungkinan setelah Ali radhiyallahu anhu dibaiat menjadi kholifah beliau pindah ke Kufah dan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahan Islam pada waktu itu, sedangkan Ibnu Umar radhiyallahu anhu tidak turut kesana menemaninya, sebagaimana dijelaskan oleh penulis “Faidhul Baariy Syarah Shahih Bukhori”.

Akan tetapi mayoritas ulama memahaminya berbeda dengan Ibnu Umar radhiyallahu anhu, sebagaimana diinformasikan oleh Prof. DR. Muhammad Na’im dalam kitabnya “Maushuu’ah Masaa`il al-Jumhuur” (I/216) bahwa tetap dianjurkan melaksanakan sholat sunnah ketika safar.

Barangkali salah satu alasan jumhur ulama adalah sebuah atsar Hasan al-bashri yang diriwayatkan dalam Mushonaf Ibnu Abi Syaibah (no. 3844) :
وَافَقْنَا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ فَكَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْفَرِيضَةِ وَبَعْدَهَا، يَعْنِي فِي السَّفَرِ
“kami mendapati para Sahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mereka sholat (sunnah) sebelum dan sesudah Sholat wajib dalam safarnya”.

Oleh sebab itu Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (II/218) mengkompromikannya dengan mengatakan hadit Ibnu Umar menujukkan tidak mengapa meninggalkan sholat rawatib, sedangkan hadits Hasan al-bashri menunjukkan tidak mengapa mengerjakan sholat rawatib.

Diantara ulama kontemporer yang mendukung ditinggalkannya sholat rawatib secara mutlak adalah al-‘Alamah bin Baz sebagaimana dalam fatwanya (https://binbaz.org.sa/fatwas/12291/حكم-اداء-السنن-الرواتب-في-السفر).

Namun asy-syaikh bin Baz mengecualikan sholat qobliyyah Subuh karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika muqim maupun ketika safar berdasarkan penuturan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha dalam shahihain.

Adapun sholat sunnah lainnya seperti Dhuha dan tahajud serta sholat sunah secara mutlak, maka dibahas oleh Imam Bukhori di bab selanjutnya.
Wallahu a’lam bish showaab.

#mazhabfiqihimambukhori
#sholatsunahrawatibketikasafar

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: