SETIAP YANG BERKEYAKINAN SEBUAH SEBAB YANG TIDAK DITUNJUKKAN OLEH SYAR’I MAUPUN QODARI, MAKA IA TERJATUH KEDALAM KESYIRIKAN

April 29, 2018 at 11:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SETIAP YANG BERKEYAKINAN SEBUAH SEBAB YANG TIDAK DITUNJUKKAN OLEH SYAR’I MAUPUN QODARI, MAKA IA TERJATUH KEDALAM KESYIRIKAN

Para ulama ketika berkhidmat terhadap agama ini, mereka mencoba menghadirkan metode atau cara yang mempermudah kaum muslimin dalam menerapkannya. Salah satu metode tersebut adalah dengan membuat kaedah-kaedah dalam beberapa cabang ilmu-ilmu islam. Kaedah-kaedah ini menjadi semacam tools yang mempermudah kita, karena seperti rumus besar yang bisa diterapkan kedalam beberapa permasalahan yang dicakupinya.

Para ulama fiqih membuat kaedah-kaedah fiqih, para ulama bahasa membuat kaedah-kaedah nahwu, shorof, balaghah dan sejenisnya dan seterusnya. Kaedah-kaedah tersebut terkadang berasal dari nash syar’iyyah, seperti kaedah “لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ” yang merupakan potongan dari hadits yang masyhur. Namun kebanyakan kaedah adalah berasal dari istiqra` (pengamatan) terhadap nash-nash syariat lalu oleh ulama kita disimpulkan menjadi sebuah kaedah yang bisa diberlakukan umum, seperti kaedah fiqih yang masyhur “al-masyaqoh tajlibu at-taisir” (kesulitan itu mendatangkan kemudahan).

Begitu juga dalam masalah akidah, para ulama membuat kaedah-kaedah yang bertujuan sebagai tools dalam mempermudah penerapannya dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kajian-kajian terkait. Diantara kaedah tersebut adalah judul dalam tulisan diatas.

Kaedah diatas, yang saya lihat banyak disebutkan berulang kali oleh asy-syaikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin dalam karya tulis beliau maupun fatwa-fatwanya. Kemudian saya melihat salah seorang ulama saudi, yakni asy-syaikh Waliid bin Raasyid as-Saidaan hafizhahullah menulis sebuah buku yang sangat bermanfaat yang berisi kaedah-kaedah dalam bab akidah, kitabnya dapat didownload disini : http://www.alsaeedan.com/book/33.

Kaedah diatas dijelaskan cukup lengkap oleh asy-syaikh di jilid pertama halaman 240-249. Inti dari penjelasan kaedah diatas adalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menurunkan sebab baik berupa sebab syar’i maupun sebab qodariy dan sebagian penjelasan dari dua sebab tersebut dapat melihat tulisan kami terdahulu : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=424089631336707&id=100012070207276.

Oleh sebab itu, jika seorang berkeyakinan bahwa sebab itu sendiri yang mendatangkan kemanfaatan atau dapat menolak kemudharatan, maka ia terjatuh kedalam syirik akbar. Namun jika ia berkeyakinan bahwa sebab (yang tidak syar’i atau qodariy) hanya sekedar sababiyyah saja, sedangkan yang mendatang manfaat dan mudhorot adalah Allah, maka ini adalah syirik asghar (kecil). Penjelasannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengkaitkan sebab dengan musababnya, sedangkan sebab syari’iyyah hanya diketahui melalui jalan Wahyu (Al Qur’an dan hadits), oleh sebab itu jika seorang berkeyakinan bahwa sesuatu itu adalah sebab tanpa landasan syar’i, maka ia telah menempatkan dirinya sebagai pembuat syariat dan ia berbicara tanpa ilmu yang ini adalah haran dan tidak diperbolehkan, karena sebab syar’i terkait dengan musababnya adalah perkara ghoib yang tidak bisa terlihat kasat mata, dan ketika ia berani mengklaim bahwa itu adalah sebab tanpa landasan syar’i, maka berarti ia telah mengklaim mengetahui ilmu ghoib. Oleh sebab itu, meyakini sebuah sebab tanpa landasan syar’i mengantarkannya kepada kesyirikan dan kaedahnya sesuatu yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan maka itu adalah syirik asghar.

Maka orang yang memakai gelang jimat dengan keyakinan itu adalah sebab, jika ia masih berkeyakinan bahwa yang memberi manfaat dan menolak mudhorat adalah Allah, sedangkan gelang jimat hanya sekedar sebab saja, maka ia terjatuh dalam syirik asghar, karena Allah tidak pernah menurunkan gelang jimat tersebut sebagai sebab. Namun jika ia berkeyakinan gelang jimat tersebut yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan maka ia terjatuh kedalam syirik akbar.

Contoh lain adalah ruqyah syar’iyah, dalam hadits dikatakan :
ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ ‏
“Tidak mengapa menggunakan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan padanya” (HR. Muslim).
Maka jika seorang berkeyakinan bahwa ruqyah ini sendiri yang mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, maka ia terjatuh kedalam kesyirikan, namun jika ia berkeyakinan bahwa itu adalah sekedar sebab, sedangkan tetap yang mendatangkan manfaat adalah Allah, maka ini tidak mengapa, bahkan bisa menjadi wajib karena syariat mengijinkannya untuk menolak mudharat.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: