ANTARA MURJIAH DENGAN IMAM ABU HANIFAH RAHIMAHULLAH

May 31, 2018 at 11:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ANTARA MURJIAH DENGAN IMAM ABU HANIFAH RAHIMAHULLAH

Al-Imam Abu Hanifah dalam kitabnya “al-fiqh al-Akbar” (66-68, Daar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubraa), menjelaskan perbedaan keyakinan yang dianutnya dengan keyakinannya Murji’ah, beliau berkata :
وَلَا نقُول إِن الْمُؤمن لَا تضره الذُّنُوب وَلَا نقُول إِنَّه لَا يدْخل النَّار وَلَا نقُول إِنَّه يخلد فِيهَا وَإِن كَانَ فَاسِقًا بعد ان يخرج من الدُّنْيَا مُؤمنا وَلَا نقُول إِن حَسَنَاتنَا مَقْبُولَة وسيئاتنا مغفورة كَقَوْل المرجئة
وَلَكِن نقُول من عمل حَسَنَة بِجَمِيعِ شرائطها خَالِيَة عَن الْعُيُوب الْمفْسدَة وَلم يُبْطِلهَا بالْكفْر وَالرِّدَّة والأخلاق السَّيئَة حَتَّى خرج من الدُّنْيَا مُؤمنا فَإِن الله تَعَالَى لَا يضيعها بل يقبلهَا مِنْهُ ويثيبه عَلَيْهَا وَمَا كَانَ من السَّيِّئَات دون الشّرك وَالْكفْر وَلم يتب عَنْهَا صَاحبهَا حَتَّى مَاتَ مُؤمنا فَإِنَّهُ مُؤمن فِي مَشِيئَة الله تَعَالَى إِن شَاءَ عذبه بالنَّار وَإِن شَاءَ عَفا عَنهُ
“kami tidak mengatakan bahwa dosa-dosa tidak membahayakan seorang mukmin. Kami tidak mengatakan bahwa seorang mukmin tidak akan masuk neraka. Kami tidak mengatakan bahwa seorang mukmin akan kekal didalam neraka, sekalipun ia adalah orang fasik, selama ia mati dalam keadaan seorang mukmin. Kami juga tidak mengatakan bahwa kebaikan kami pasti diterima, sementara dosa kami pasti diampuni, seperti yang dikatakan orang murji’ah.

Akan tetapi, kami mengatakan orang yang mengerjakan kebaikan dengan sempurna dan tidak membatalkannya dengan kekafiran, kemurtadan, dan kejahatan, lalu ia mati sebagai seorang mukmin, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalnya, Dia akan menerimanya dan membalasnya. Sedangkan seorang mukmin yang melakukan dosa selain kesyrikan dan kekafiran yang belum bertobat hingga dia mati dalam keadaan sebagai seorang mukmin, maka ia ada dalam kehendak Allah, jika mau Dia akan menyiksanya dengan neraka, dan jika mau Dia akan mengampuninya” -selesai-.

Asy-syaikh Abdul Aziz asy-Syinawi dalam tulisannya tentang biografi Imam Abu Hanifah, mengomentari pernyataan diatas :
“Ungkapan diatas sama persis dengan apa yang telah kami nukil dari kitab “al-Intiqa'” dan “al-Manaqib”, kendati yang ini lebih gamblang. Maka jelaslah pemisahan antara pendapat Abu Hanifah dalam masalah irja'” -selesai-.

Kemudian asy-syaikh asy-Syinawiy berkesimpulan dengan mantap :
“Dan menurut hemat penulis (yakni asy-syaikh, pent.), Abu Hanifah bukan termasuk murji’ah. Namun jika yang disebut penganut murji’ah adalah orang yang meyakini setiap orang fasik sebagai orang beriman, Allah bisa jadi mengampuni sebagian pelaku dosa, dan dia bebas untuk mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya, maka Abu Hanifah memang penganut murji’ah. Dan dalam kondisi seperti ini, bukan Abi Hanifah saja yang termasuk penganut murji’ah, tapu juga seluruh fuqaha dan ahli hadits”.

Prof. DR. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya “Taarikh al-Madzaahib al-Islamiyyah” tatkala membahas isu tuduhan murji’ah kepada Imam Abu Hanifah, maka beliau menukil pernyataan asy-Syahrastaniy rahimahullah yang berkata :
“Sungguh Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya telah dinamai murji’ah. Sebabnya barangkali karena Abu Hanifah pernah berkata, “Iman adalah pembenaran dengan hati”, Imam tidak bertambah dan berkurang”. Mereka beranggapan bahwa sang Imam menomorduakan amal. Bagaimana mungkin tokoh ini berfatwa untuk meninggalkan amal, padahal beliau sangat mementingkan amal perbuatan.
Sebab yang lain barangkali karena ia berbeda paham dengan Qadariyyah dan mu’tazilah yang muncul pada fase awal, sementara Mu’tazilah menamakan semua orang yang tidak sepaham dengan mereka dalam al-qadar dengan murji’ah” -selesai-.

Kemudian asy-syaikh Muhammad Abu Zahrah berpendapat bahwa sebaiknya pemberian sifat murji’ah dijauhkan dari para tokoh ulama sehingga tidak disamakan dengan mereka (murji’ah sebenarnya) yang membolehkan segala-galanya.

Na’am kami setuju dengan pendapat asy-Syaikh, yang juga disetujui oleh asy-syaikh Abdul Aziz asy-Syinawi yang mengatakan :
“Yang benar, pada akhirnya sekte murji’ah lebih dekat dengan permisivisme yang membuka peluang sangat lebar orang-orang fasik guna melakukan kefasikannya, hingga Imam Zaid bin Ali mengatakan, “aku berlepas diri dari sekte murji’ah yang mendorong orang-orang fasik melakukan kejahatannya” -selesai-.

Dan tentu Imam Abu Hanifah dan juga tokoh-tokoh ulama lainnya sangat jauh dari keterkaitannya dengan sekte sesat murji’ah ahlu bid’ah, bagaimana tidak?, para tokoh ulama kita tersebut adalah orang-orang yang terdepan dalam amal sholih dan mereka adalah orang-orang yang giat menasehati kaum muslimin agar banyak melakukan amal sholih dan menjauhi kemaksiatan dalam fatwa, pengajaran dan karya-karya tulis mereka. Wallahu a’lam.

Abu Sa’id Neno Triyono®

Advertisements

MUSAFIR MENGIMAMI SHOLATNYA ORANG MUKIM

May 29, 2018 at 9:37 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MUSAFIR MENGIMAMI SHOLATNYA ORANG MUKIM

 

Seorang musafir boleh menjadi Imam sholat bagi yang mukim, sebagaimana perkataan Imam Syaukani dalam “Nailul Author” (III/199) :

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ ائْتِمَامِ الْمُقِيمِ بِالْمُسَافِرِ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ كَمَا فِي الْبَحْرِ

“dan hadits ini menunjukkan atas bolehnya seorang mukim bermakmum dibelakang musafir, ini adalah disepakati sebagaimana dalam Al-Bahr”.

Continue Reading MUSAFIR MENGIMAMI SHOLATNYA ORANG MUKIM…

MUSAFIR BERMAKMUM DIBELAKANG IMAM YANG MUKIM

May 28, 2018 at 2:16 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MUSAFIR BERMAKMUM DIBELAKANG IMAM YANG MUKIM

Keadaan seorang Musafir terkait masalah bermakmum kepada Imam yang mukim tidak terlepas dari 2 kondisi berikut :
1. Ia sholat bermakmum dari awal bersama dengan imam yang mukim. Pada kondisi ini ada perselisihan yang ringan, sebagai berikut :
A. Pendapat pertama mengatakan si musafir wajib menyempurnakan sholatnya (artinya ia tidak mengqoshor sholatnya –pent.), ini adalah pendapatnya Imam yang empat, dan kebanyakan ulama. Asy-Syafi’i dan Ibnu Abdil Bar bahkan menukil adanya ijma (kesepakatan) ulama tentang hal tersebut. Mereka berdalil dengan hadits-hadits berikut ini :
√ Dari Musa bin Salamah ia berkata :
“kami bersama dengan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu di Mekkah, lalu beliau berkata : “jika kami bersama kalian (yang mukim) kami sholat 4 rokaat, namun jika kami kembali dalam perjalanan, kami sholat 2 rokaat, lalu Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata :
تلك سنة أبى القاسم صلى الله عليه وسلم
“Itu adalah sunahnya Abil Qosim (Muhammad) sholallahu alaihi wa salam (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dan dihasankan oleh al-Arnauth);

√ Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu pernah ditanya : “kenapa seorang musafir jika sholat sendirian, ia sholat 2 rokaat –yakni qoshor- dan jika sholat dibelakan Imam (yang mukim) ia menyempurnakan sholatnya?, jawab Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu :
تلك السنة
“Itu adalah sunnah”;

√ Imam Muslim meriwayatkan dari Naafi’ ia berkata :
كان ابن عمر إذا صلى مع الإمام صلاها أربعاً، وإذا صلَّى وحده صَلاَّها ركعتين
“Ibnu Umar rodhiyallahu anhu jika sholat bersama Imam, ia sholat 4 rokaat, sedangkan jika sholat sendiri ia sholat 2 rokaat (pada waktu safar –pent.);

√ Imam Malik meriwayatkan dari Naafi’ bahwa Ibnu Umar tinggal di Mekkah selama 10 malam, ia senantiasa mengqoshor sholatnya, kecuali jika ia sholat bersama Imam, maka ia sholat seperti sholatnya Imam.

B. Pendapat kedua mengatakan wajib baginya untuk mengqoshor, ini adalah pendapatnya Imam Ibnu Hazm, beliau berdalil sebagai berikut :
√ Yang wajib bagi musafir adalah qoshor, sama saja apakah ia sholat sendirian, menjadi makmum ataupun menjadi Imam;

√ Diqiyaskan kepada orang yang mukim, jika ia sholat dibelakang musafir, maka wajib baginya menyempurnakan sholat, tidak boleh baginya qoshor, karena yang diwajibkan baginya adalah menyempurnakan sholat, demikian juga musafir jika sholat dibelakang orang yang mukim, wajib baginya qoshor, karena yang diwajibkan baginya adalah qoshor.

C. Pendapat ketiga mengatakan boleh baginya qoshor, ini adalah pendapatnya Imam Ishaq bin Rahawaih, beliau berdalil dengan dalil yang hampir mirip dengan dalilnya pendapat yang kedua.

2. (Kondisi kedua) Musafir bermakmum kepada yang mukim di tengah-tengah pelaksanaan sholat, maka hal ini tidak terlepas dari 2 kondisi :
¶ Yang pertama ia mendapati satu rokaat atau lebih bersama Imam, maka hukumnya adalah seperti pendapat yang yang diawal;

¶ Yang kedua, ia mendapati kurang dari 1 rokaat, maka terjadi perselisihan diantara yang mengatakan wajibnya menyempurnakan sholat atas 2 pendapat :
# Pendapat pertama mengatakan tetap wajib untuk menyempurnakannya, ini adalah pendapatnya Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah;

# Pendapat yang kedua mengatakan boleh baginya qoshor, ini adalah pendapatnya Malikiyyah.

Kami tidak melihat dalil kedua pendapat diatas secara khusus, mungkin ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama berdalil dengan dalil-dalil yang telah lalu. Masalah ini dibangun –wallahu A’lam- diatas permasalah kapan seorang dianggap mendapatkan jama’ah. Mayoritas ulama berpendapat jama’ah didapatkan jika ia mendapatkan bagian apapun dalam sholat, berbeda dengan Malikiyyah yang mengatakan bahwa jama’ah tidak didapatkan kecuali dengan minimal mendapatkan 1 rokaat sholat. Dan tarjih dalam masalah ini menentukan pentarjihan dalam masalah yang kita bahas.

Catatan :
Perincian masalah diatas yakni musafir bermakmum dengan imam yang mukim ditengah-tengah sholat, adalah khusus jika musafir mengetahui atau kuat dugaan bahwa Imamnya mukim, sebagaimana kalau ia sholat di masjid penduduk setempat. Adapun jika ia mengetahui bahwa imam tersebut musafir juga atau kuat dugaannya seperti itu, seperti jika ia sholat di masjid yang merupakan persinggahan bagi musafir pada umumnya, atau ia ragu terkait hal tersebut, boleh baginya untuk mengqoshor, karena hukum asal bagi musafir adalah qoshor, maka hal tersebut tidak memalingkannya dari hukum asal. Wallahu A’lam.

Penulis : Naashir bin Abdur Rokhman bin Naashir
Sumber : http://www.feqhweb.com/vb/archive/index.php/t-5933.html

Tambahan penerjemah :
Catatan diatas menurut kami adalah jika musafir mendapatkan 2 rokaat atau kurang dari 2 rokaat dan ia tidak tahu apakah imamnya musafir atau mukim pada saat ia sholat di masjid tempat persinggahan, namun jika ia mendapatkan 3 rokaat, maka sudah dapat dipastikan bahwa sang Imam melaksanakan sholat yang 4 rokaat, sehingga musafir harus menambah 1 rokaat yang ketinggalan, menurut pendapat yang mengatakan musafir harus mengikuti sholatnya orang yang mukim, alias wajib menyempurnakannya. Wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh Abu Sa’id Neno Triyono®

YANG PALING MULIA DISISI ALLAH ADALAH YANG PALING BERTAKWA

May 27, 2018 at 3:41 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

YANG PALING MULIA DISISI ALLAH ADALAH YANG PALING BERTAKWA

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al Hujurat: 13).

Al-Imam ath-thabari rahimahullah mengomentari ayat diatas dengan menafsirkannya :
إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian wahai manusia disisi Rabb kalian, adalah orang yang paling menjaga diri (bertakwa), dengan menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan, bukan orang-orang yang paling besar rumahnya dan paling banyak keluarganya”.

Beberapa ulama tafsir menyebutkan sabab nuzul bagi ayat diatas, namun riwayat sababun nuzul yang berhasil diinvetarisir oleh asy-syaikh Salim bin Ied dan Asy-Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr dalam kitabnya “al-Istii’aab fii Bayaan al-Asbaab” semuanya dhoif, sehingga sengaja tidak kami tampilkan.

Al-Imam Ibnu Katsir memberikan keterangan tambahan penguat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya, misalnya hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَكْرَمُ؟ قَالَ: “أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ”
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, “siapakah manusia yang paling mulia?”, Beliau menjawab : “yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa” (HR. Bukhori).

Oleh sebab itu, dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi suku dan ras, masing-masing orang dapat menjadi yang paling mulia disisi Allah, selama ia mampu meningkatkan iman dan takwa. Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu anhu :
فَإِنَّكَ لَسْتَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى
“Sesungguhnya engkau tidak lebih baik dari yang berkulit Merah dan tidak juga yang berkulit hitam, melainkan jika engkau mampu mengunggulinya dalam ketakwaan” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

Dan momentum Ramadhan kali ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan ketakwaan kita, karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Abu Sa’id Neno Triyono

ORANG-ORANG YANG SHOLIH-LAH SEBAGAI AHLI WARIS BUMI INI

May 27, 2018 at 9:41 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ORANG-ORANG YANG SHOLIH-LAH SEBAGAI AHLI WARIS BUMI INI

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 105)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang bumi yang dimaksud dalam ayat ini, apakah bumi yang kita pijak ini?

Al-Imam ath-thabari dalam kitab Tafsirnya meriwayatkan pendapat dari Shohabi Jalil Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, Imam Sa’id bin Jubair, Abul ‘Aliyah, Mujahid, al-A’masy, Ibnu Zaid dan selainnya rahimahumullah bahwa yang dimaksud dengan bumi diatas adalah surga nanti di akhirat.

Sementara itu Shohabi Ibnu Abbas dalam riwayat lain mengatakan bahwa bumi itu adalah dunia ini, yakni daerah-daerah yang dikuasai oleh orang kafir kelak akan diwariskan kepada umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Sedangkan pendapat ketiga mengatakan itu adalah tanah suci Palestina, sebagaimana dikatakan oleh ibnu as-Saa’ib.

Imam Ibnu Katsir merajihkan pendapat pertama bahwa yang dimaksud adalah tanah surga, sebagaimana Firman-Nya juga :
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَوْرَثَنَا الْاَرْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَـنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ ۚ فَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ
“Dan mereka berkata, Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 74)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Asy-Syaikh Nawawi al-Bantani rahimahullah dalam kitab tafsirnya “Marooh Labiid” merajihkan pendapat kedua, bahwa itu adalah tanah yang dikuasai oleh kufar, kemudian ditaklukkan oleh kaum Muslimin sebagai ketetapan dari Allah untuk memenangkan agamanya dan memulikan kaum muslimin.

Al-‘Alamah as-sa’di rahimahullah dalam tafsirnya Juga sependapat dengan pendapat yang kedua dan ini didukung oleh Firman Allah :
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur 24: Ayat 55)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Pesan pentingnya adalah marilah kita menjadi orang sholih dan mendidik orang sekitar kita menjadi orang sholih, sehingga bangkitlah keshalihan berjamaah, sehingga kita semua layak menjadi ahli waris baik di negeri yang kita pijak ini atau nanti di akhirat kelak. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin.

Abu Sa’id Neno Triyono

MUSAFIR YANG KEMBALI KE KAMPUNG HALAMANNYA PADA SIANG HARI, DAN WANITA HAIDH YANG SUCI PADA SIANG HARI, WAJIBKAH BERPUASA SISA HARINYA SAMPAI MAGHRIB?

May 27, 2018 at 8:01 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MUSAFIR YANG KEMBALI KE KAMPUNG HALAMANNYA PADA SIANG HARI, DAN WANITA HAIDH YANG SUCI PADA SIANG HARI,

WAJIBKAH BERPUASA SISA HARINYA SAMPAI MAGHRIB?

 

Gambarannya adalah seorang musafir mengambil rukhshoh untuk berbuka, namun pada siang hari ia sudah sampai ke kampung halamannya, sehingga jadilah ia mukim pada kondisi tersebut. Maka pertanyaannya adalah apakah ia wajib berpuasa pada sisa harinya sampai Maghrib? Atau sudah tidak wajib lagi, karena pada awal siang ia sudah dalam kondisi berbuka?

Continue Reading MUSAFIR YANG KEMBALI KE KAMPUNG HALAMANNYA PADA SIANG HARI, DAN WANITA HAIDH YANG SUCI PADA SIANG HARI, WAJIBKAH BERPUASA SISA HARINYA SAMPAI MAGHRIB?…

APAKAH PENUNTUT ILMU BOLEH MENERIMA ZAKAT MAL?

May 26, 2018 at 4:32 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

APAKAH PENUNTUT ILMU BOLEH MENERIMA ZAKAT MAL?

 

Syariat telah memberikan petunjuk yang jelas tentang siapa sajakah yang berhak menerima zakat dalam Surat At-Taubah ayat ke-60 :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Continue Reading APAKAH PENUNTUT ILMU BOLEH MENERIMA ZAKAT MAL?…

WAJIBNYA BERAMAL DENGAN HADITS AHAD YANG SHAHIH

May 26, 2018 at 11:32 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WAJIBNYA BERAMAL DENGAN HADITS AHAD YANG SHAHIH

Keterangan tentang wajibnya beramal dengan hadits ahad tidak hanya didapatkan dalam kitab-kitab ilmu hadits, namun juga menjadi domain dalam kitab-kitab ushul fiqih, misalnya kitab ushul fiqih yang berjudul “al-Luma’ fii Ushul al-fiqh”, karya al-imam Abu Ishaq Ibrahim asy-Syairaaziy (393 – 476 H) yang dikenal dengan julukan Fairuuz Aabaadiy asy-syafi’i.

Dalam kitabnya tersebut (hal. 105, cet. DKI) beliau mengatakan :
“Adapun dalil atas wajibnya beramal dengan hadits ahad, diantaranya adalah dari sisi Syar’i bahwa para Sahabat Radhiyallahu anhum mengacu kepada khobar Ahad dalam masalah-masalah hukum, Umar merujuk kepada haditsnya Hamalu bin Malik radhiyallahu anhu tentang diyat Janin….” -selesai-.

Dalam pernyataannya diatas, al-imam Abu Ishaq asy-Syairaaziy selain berhujjah dengan perbuatan Umar radhiyallahu anhu, beliau juga berhujjah dengan sahabat besar lainnya, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Sehingga disini pun kita menemukan dalil kembali kepada pemahaman salaf dalam memahami nash-nash syariah, termasuk juga pembakuan kaedah-kaedahnya dan penerapannya.
Wallahu Ta’ala a’lam.

Abu Sa’id Neno Triyono

HUKUM BERPUASA TATKALA BERSAFAR

May 26, 2018 at 6:21 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM BERPUASA TATKALA BERSAFAR

Al-‘Alamah Muhammad Nashiruddin al-albani rahimahullah menyimpulkan suatu hukum terkait bagaimana bagusnya apakah tetap berpuasa ketika safar atau berbuka saja, beliau berkata :
“Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa tidak boleh berpuasa dalam safar, tatkala puasanya membahayakannya. Atas hal inilah dibawa sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut :
ليس من البر الصيام في السفر
“Bukanlah termasuk kebaikan berpuasa ketika safar”.
Dan sabdanya :
أولئك هم العصاة
“Mereka (yang tetap berpuasa) adalah orang-orang yang bermaksiat”.

Adapun selain kondisi tersebut, maka ia bebas memilih, kalau mau ia berpuasa dan jika ingin berbuka silahkan”.

(Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (VI/186))

Diterjemahkan oleh Abu Sa’id Neno Triyono®

TURUNNYA HUJAN ADALAH WAKTU MUSTAJAB DIKABULKANNYA DOA

May 25, 2018 at 11:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TURUNNYA HUJAN ADALAH WAKTU MUSTAJAB DIKABULKANNYA DOA

Shohabi Jaliil Sahal bin Sa’ad radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ : الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ
“Dua waktu yang tidak ditolak berdoa padanya, yaitu berdoa ketika panggilan sholat dan ketika turun hujan” (HR. Al-Hakim dan selainnya, dishahihkan oleh Imam al-hakim, disetujui oleh Imam adz-dzahabi dan dihasankan al-albani).

Suatu hari pernah turun hujan pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan itu adalah hujan yang pertamakali turun pada tahun itu, maka shohabi jaliil Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata :
أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى»
”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “ Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian? ” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan .” (HR. Muslim).

Asy-syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi rahimahullah berkata :
ومعناه أن المطر رحمة وهي قريبة العهد بخلق الله تعالى لها فيتبرك بها
“Maknanya bahwa hujan itu adalah Rahmat, karena baru saja diciptakan Allah Ta’ala, sehingga Beliau bertabaruk dengannya”.

Imam al-Munawi rahimahullah dalam kitabnya “Faidh al-qodiir” (III/240) mengomentari hadits diatas :
دعاء من هو تحت المطر لا يرد أو قلما يرد فإنه وقت نزول الرحمة لا سيما أول قطر السنة
“Doanya orang yang sedang mengalami turun hujan, tidak tertolak atau jarang sekali tertolak (artinya mustajab, pent.), karena waktu turunnya adalah Rahmat terlebih pada awal pertama kali turun pada tahun tersebut”.

Abu Sa’id Neno Triyono®

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: