MENGKHUSUSKAN BERDOA PADA MALAM NISHFU SYA’BAN

May 1, 2018 at 12:40 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGKHUSUSKAN BERDOA PADA MALAM NISHFU SYA’BAN

Soal : apakah ada doa yang berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam nishfu Sya’ban dan apakah temasuk amalan sunnah menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan berkumpul di Masjid atau berdoa dengan doa tertentu dan mendekatkan diri kepada Allah?

Jawab : tidak tsabit (tetap) dalil yang shahih tentang pengkhususan malam Nishfu Sya’ban dengan suatu doa atau ibadah, maka pengkhususan dengan itu semua adalah bid’ah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :
ﻓﺈﻥ ﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ
“Maka setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

Semoga dengan pertolongan Allah kita semuanya mendapatkan taufiq, sholawat dan salam terlimpahcurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia (no. 21264).

Tertanda :
Abdul Aziz bin Abdullah Alu asy-syaikh (Ketua)
Shoolih al-Fauzaan (anggota)
Abdullah bin Ghudayaan (anggota)
Bakr Abu Zaid (anggota)

Sumber : http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=12&PageNo=1&BookID=12

Advertisements

CARA BERHUBUNGAN DENGAN PEMIMPIN SESUAI AL QUR’AN DAN SUNAH

May 1, 2018 at 12:39 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

CARA BERHUBUNGAN DENGAN PEMIMPIN SESUAI AL QUR’AN DAN SUNAH

Ini adalah inti dari bahasan buku yang ditulis oleh Doktor Abdus Salam bin Barjas ali Abdul Karim (w. 1425 H) rahimahullah. Beliau adalah murid dari ulama besar Saudi Arabia yang sudah tidak asing lagi namanya, yaitu al-‘Alamah Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz dan al-‘Alamah Muhammad bin Shoolih al-utsaimin rahimahumaallah.

Buku beliau diatas yang berjudul “Muaamalat al-Hukaam fii Dho`i al-Kitaab wa as-sunnah” adalah buku yang tidak terlalu tebal yang bersumber dari nash-nash syara’ dan berita dari para ulama Salaf yang menjelaskan tentang sesuatu yang harus diketahui oleh setiap Muslim, yaitu tentang muamalah dengan pemerintah kaum Muslim kapan pun dan dimana pun juga.

asy-syaikh membuka kitabnya setelah tahmid dengan mengatakan :
“Sesungguhnya mendengar dan taat kepada pemerintah Muslim adalah salah satu pokok dari pokok akidah Salafiyyah. Kemudian beliau menyebutkan beberapa sikap para ulama Salaf terkait sikap mereka terhadap ushul (pokok) diatas.

Buku beliau terdiri dari 8 pasal pembahasan. Pasal pertama dimulai dengan 6 kaedah seputar Imamah; pasal kedua tentang kedudukan penguasa dalam syariat Islam; pasal ketiga tentang perintah untuk senantiasa komitmen dengan jamaah; pasal keempat tentang kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa selama dalam perkara selain maksiat; pasal kelima anjuran mengingkari kemungkaran dan cara mengingkari kemungkaran penguasa; pasal keenam sabar dalam menghadapi kezhaliman penguasa; pasal ketujuh larangan mencela penguasa; sanksi bagi para pengacau dan provokator. Diakhir buku ini, asy-syaikh melampirkan surat nasehat mufti Arab Saudi pertama al-‘Alamah Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rahimahullah kepada salah seorang dai yang bersikap keliru dalam menasehati penguasa.

Singkat kata buku ini sangat menarik dan memiliki faedah yang besar, karena penjelasannya tidak terlalu panjang, penuh dengan dalil-dalil dari Kitabullah dan hadits yang shahihah, ditambah praktek nyata dari para salaf dan ulama sunnah yang sudah terkenal atas komitmennya terhadap pokok daripada pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah.
Bukunya dapat diunduh disini : http://badrweb.net/burjes_files/nbooks/0004.pdf

KATAKAN INSYA ALLAH TERHADAP APA YANG HENDAK DIPERBUAT

May 1, 2018 at 12:39 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KATAKAN INSYA ALLAH TERHADAP APA YANG HENDAK DIPERBUAT

Para ulama ushul fiqih telah menetapkan sebuah kaedah :
ﺍﻟﻨﻜﺮﺓ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻕ ﺍﻟﻨﻔﻲ ﺗﻔﻴﺪ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ
“Isim nakirah dalam konteks kalimat peniadaan, akan memberikan faedah keumuman”.

Konteks penafian ini baik secara langsung pada kalimatnya atau menggunakan kata alat bantu penafian, seperti : laisa (لَيْسَ), lan (لَنْ), atau maa nafiyah dan semacamnya.

Oleh sebab itu ketika Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَايْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا
wa laa taquulanna lisyai`in innii faa’ilun zaalika ghodaa
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, Aku pasti melakukan itu besok pagi,”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 23)
اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ ۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰۤى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا
illaaa ay yasyaaa`allohu wazkur robbaka izaa nasiita wa qul ‘asaaa ay yahdiyani robbii li`aqroba min haazaa rosyadaa
“kecuali (dengan mengatakan), Insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 24)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Maka dalam ayat diatas ada kata nakirah yakni “لِشَايْءٍ” (sesuatu) dan ia dalam konteks kalimat penafian dengan adanya adaat (kata bantu) penafian yaitu “lan”. Oleh karenanya kalimat diatas memberikan faedah keumuman, yakni ketika kita hendak melakukan suatu aktivitas baik itu aktivitas yang sedikit, maupun banyak, baik kecil maupun besar, lalu kita menjanjikan melakukannya kepada orang, melainkan hendaknya kita kaitkan dengan “insya Allah” (jika Allah menghendaki).

Al-‘Alamah Muhammad al-Amiin asy-Syinqithi dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Adhwaa`u al-Bayaan” mengatakan tentang maksud ayat diatas :
ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻧﺒﻴﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﺇﻧﻪ ﺳﻴﻔﻌﻞ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻞ ﺇﻻ ﻣﻌﻠﻘﺎ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺸﻴﺌﺔ
“Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam dalam ayat yang mulia ini untuk mengatakan, “sesungguhnya saya akan berbuat sesuatu pada masa mendatang, melainkan hendaknya dikaitkan dengan kehendak Allah Azza wa Jalla”.

Kemudian Firman-Nya “غَدًا”, maka maknanya adalah masa mendatang tidak sekedar dikhususkan untuk esok hari, karena menurut asy-syaikh asy-Syinqithi uslub bahasa arab biasa memaksudkan ghodaan untuk menunjukkan masa yang akan datang.

Kemudian dalam Firman Allah berikutnya ada petunjuk bagi orang yang lupa ketika mengatakan suatu hal bahwa ia akan mengerjakannya pada waktu mendatang, kemudian ia baru ingat bahwa dirinya belum mengucapkan “Insya Allah”, maka segera ucapkan “Insya Allah”, sekalipun ia baru ingat setahun kemudian. Allah Ta’ala berfirman :
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْت
“Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa”.

Imam ath-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan penafsiran Shohabi Jaliil Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma terhadap Firman Allah tersebut :
أن يستثني ولو إلى سنة
“Hendaknya ia beristinaa (yakni mengucapkan insya Allah) walau sudah berlalu satu tahun”.
Begitu juga penafsiran Imam Abul ‘Aaliyah -seorang tabi’i- rahimahullah bahwa ketika seorang lupa belum mengucapkan Insya Allah, maka ketika ingat segera mengucapkan Insya Allah. Pendapat ini juga dinukil dari Imam Al-Hasan al-bashri rahimahullah.

Al-Imam Ath-Thabari menambahkan bahwa ucapan “Insya Allah” ini tetap diucapkan oleh orang yang lupa, sekalipun telah berlalu waktu yang lama ketika ia ingat, hal ini sebagai penggugur dosa tatkala ia telah meninggalkan apa yang Allah mewajibkan mengucapkannya berdasarkan ayat ini.
Wallahu a’lam bishowab.

KAMUS BID’AH KARYA IMAM AL-ALBANI

May 1, 2018 at 12:38 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KAMUS BID’AH KARYA IMAM AL-ALBANI

Diantara keistimewaan karya-karya tulis Imam al-albani rahimahullah adalah selain menjelaskan kepada umat bagaimana petunjuk yang benar sesuai dengan hujjah-hujjah yang valid menurut beliau, tak lupa pula asy-syaikh al-albani memperingatkan umat dari amalan-amalan bid’ah yang tersebar di sebagian masyarakat.

Sebut saja misalnya kitab beliau “Ahkam al-Janaiz” disana beliau menjelaskan dengan rinci permasalahan seputar pengurusan jenazah lengkap dengan dalil-dalil dari Syariat kita ditambah keterangan para ulama seputar permasalahan yang dibahas. Kemudian beliau melengkapi diakhir pembahasan kitab tersebut beberapa amalan yang dianggap sebagai bid’ah-bid’ah seputar pengurusan jenazah.

Pun dalam kitab beliau yang lain yang berjudul “al-Ajwibah an-Naafi’ah ‘an As`ilah Lajnah Masjid al-Jaami’ah” yang membahas seputar hukum-hukum penyelenggaraan sholat Jum’at. Tak ketinggalan beliau diakhir kitab tersebut menyebutkan beberapa amalan yang dianggap bid’ah seputar penyelenggaraan sholat Jum’at.

Akan tetapi ketika saya membaca pengantar sebelum asy-syaikh menyebutkan point-point yang dianggap bid’ah, beliau sempat menyebutkan bahwa beliau memiliki sebuah tulisan yang berjudul “Qamus al-Bida'”, kata beliau :
وبعد أن فرغت من تلخيص الأحكام المتقدمة والتعليق عليها وتحقيقها تذكرت أن عندي مشروع تأليف كتاب باسم “قاموس البدع” فرأيت أن آخذ منه المادة المتعلقة ببدع الجمعة فأرتبها وأضمها إلى هذه الرسالة فتتم بها الفائدة
“Setelah aku menyelesaikan ringkasan berbagai hukum yang telah lalu dan komentar serta penelitian terhadapnya. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku punya tulisan yang berjudul “Qaamuus al-Bida'”, sehingga aku memandang untuk mengambil materi yang terkait dengan bid’ahnya penyelenggaraan sholat Jum’at, lalu aku urutkan dan letakkan di kitab diatas, agar sempurna faedahnya”.

Dengan adanya penyebutan kitab “Qaamuus al-Bida'” diatas yang sedang beliau kerjakan pada waktu itu, menjadikan saya penasaran apakah kitab ini sudah dirilis atau bagaimana? Karena terus terang judul kitab diatas sangat asing bagi saya sebagai salah satu dari puluhan karya tulis beliau.

Sampai kemudian saya mendapatkan keterangan dari salah seorang murid beliau yang sudah tidak asing namanya yakni asy-syaikh Mayshur Hasan Salman hafizhahullah yang menginformasikan bahwa memang kitab diatas adalah salah satu karya tulis beliau yang belum sempat diselesaikan karena ajal keburu menjemput beliau.

Namun asy-syaikh Masyhur Hasan Salman dibantu oleh salah seorang rekannya telah berusaha mengumpulkan keterangan dari Imam Al-Albani seputar amalan-amalan bid’ah yang sudah tersebar di sebagian masyarakat dalam sebuah kitab khusus yang mereka berdua memberinya judul “Qaamuus al-Bida'” juga. Kitab ini merujuk kepada 119 tulisan Imam Al-Albani, sehingga setidaknya kehadiran kitab yang dipersembahkan oleh asy-syaikh Masyhur Hasan menjadi gambaran seandainya kitab “Qaamuus al-Bida'” karya Imam al-albani selesai dirilis.
Kitabnya dapat diunduh di : http://waqfeya.com/book.php?bid=2786

MENGERJAKAN SHOLAT SUNNAH SELAIN RAWATIB KETIKA SAFAR

May 1, 2018 at 12:33 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGERJAKAN SHOLAT SUNNAH SELAIN RAWATIB KETIKA SAFAR

Al-Imam Bukhori rahimahullah setelah membahas terkait siapa saja ulama yang mengatakan tidak dikerjakannya sholat sunah rawatib pada saat safar, lalu beliau menyusulnya dengan bab :
بَابُ مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ، فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا
“Bab orang yang mengerjakan sholat sunah pada saat safar, selain setelah dan sebelum sholat fardhu”.

Al-Imam Bukhori membawakan berapa hadits yang menunjukkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sholat sunnah 8 rakaat pada waktu dhuha, sholat tahajud pada malam hari. Bahkan pada hadits ketiga yang dibawakan pada bab ini dengan sanad bersambung, dinukil juga bahwa shohabi Jaliil ibnu Umar radhiyallahu anhu melaksanakan sholat sunah diatas kendaraannya ketika safar, setelah disebutkan riwayat yang marfu’ dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa ibnu Umar radhiyallahu anhu sebelumnya yang berpendapat tidak ada sholat sunnah pada saat bersafar yang hal ini dibawa kepada sholat sunah Rawatib.

Oleh sebab itu, Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam “Fathul Bariy” (III/469) menukil dari penjelasan Imam Nawawi yang mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat terkait pelaksanaan sholat sunah ketika safar menjadi 3 pendapat, yaitu : yang melarangnya secara mutlak, yang membolehkannya secara mutlak dan yang membedakan antara sholat Rawatib dan selain rawatib. Dan kita ketahui bersama Imam Bukhori menampilkan pendapat yang ketiga.

Akan tetapi kami ingin memberikan catatan tambahan terhadap nukilan Al Hafidz diatas, bahwa sholat sunnah diatas yang dimaksud oleh Imam Nawawi adalah sholat sunah yang umum dilakukan harian, seperti sholat Dhuha, Tahajjud, Witir, dan semisalnya. Karena jika yang dimaksud sholat sunnah mutlak, maka Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” (V/197) :
ﻭﻗﺪ ﺍﺗﻔﻖ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﻟﻨﻮﺍﻓﻞ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻔﺮ
“Para ulama sepakat akan disunahkannya sholat sunah mutlak ketika safar”.

TIDAK ADA HASAD SAMA SEKALI MENYEBABKAN MASUK SURGA

May 1, 2018 at 12:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TIDAK ADA HASAD SAMA SEKALI MENYEBABKAN MASUK SURGA

Pada khutbah Jum’at kemarin, saya mendengar sang khatib membawakan sebuah kisah yang cukup masyhur yang intinya pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya bermajelis, beliau mengatakan bahwa nanti akan muncul seorang yang merupakan calon penghuni surga. Lalu tak selang berapa lama muncullah seorang laki-laki dari Anshar.

Pada keesokan harinya pada saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bermajelis beliau pun melontarkan kata yang sama dan tak berapa lama munculah laki-laki yang sama. Pun kejadian keesokan harinya sama seperti diatas. Oleh sebab itu, hal ini menimbulkan rasa penasaran dari shohabi Jaliil Abdullah bin ‘amr bin al-Ash radhiyallahu anhuma tentang amal apa gerangan, sehingga si fulan tersebut sampai diisyaratkan 3 kali oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai calon penghuni surga.

Singkat kata Abdullah bin ‘amr radhiyallahu anhuma pura-pura ada masalah dengan bapaknya sehingga beliau minta izin menginap di rumah fulan tersebut. Tentu tujuan beliau ingin mengorek informasi yang tersembunyi terkait keutamaan si fulan tersebut yang secara umum kelihatannya biasa-biasa saja tidak ada yang terlalu istimewa dibandingkan para sahabat lainnya. Namun Ibnu ‘Amr tidak melihat ada amalan istimewa yang dilakukan oleh si fulan tersebut didalam rumahnya, sehingga penasarannya belum terobati, yang akhirnya beliau berterus terang kepada si fulan bahwa dirinya tadi hanya berpura-pura saja ingin menginap di rumahnya karena ingin tahu amalan apa yang menjadikan si fulan ini istimewa, sampai sebelum Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma berpamitan hendak pulang, akhirnya si fulan memberitahu beliau barangkali inilah amalan yang hendak engkau ketahui dan dijadikan teladan, kata si fulan :
غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ
“Melainkan aku tidak ada dalam jiwaku kedengkian kepada seorang Muslim pun dan aku tidak memiliki rasa hasad atas kebaikan yang diberikan Allah kepada seorang Muslim pun”.

Hanya saja yang membuat saya murajaah kisah yang masyhur ini, karena sang khatib mengatakan bahwa kisah diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Saya merasa ketika itu, kisah ini tidak pernah dicantumkan dalam Shahihain, dan benar saja setelah dicek di rumah, kisah diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. 12697) dan para ulama hadits lainnya diluar kutubut tis’ah.

Dhohirnya sanad ini sangat shahih karena Imam Ahmad meriwayatkan dari gurunya Imam Abdur Razaq dari Imam Ma’mar dari Imam az-Zuhriy dari shohabi Jaliil Anas bin Malik radhiyallahu. Oleh sebab itu, sebagian ulama pun menshahihkan haditsnya bahkan diklaim memenuhi persyaratan Bukhori dan Muslim. Namun diantara anugerah Allah yang diberikan kepada umat ini adalah ketelitian para ulamanya dalam menisbatkan sesuatu pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Diantara mereka adalah ahli hadits yang tiada taranya pada zaman kontemporer ini, yakni Imam Muhammad Nashiruddin al-albani rahimahullah, beliau mendeteksi adanya cacat pada sanad ini, yakni dua orang perawi yaitu Syu’ab dan Uqoil meriwayatkan dari Imam az-Zuhriy bahwa ada satu perowi lagi yang mubham (tidak disebutkan namanya) antara dirinya dengan Anas bin Malik. Oleh sebab itu disinilah letak cacatnya hadits ini, sehingga asy-syaikh al-albani merevisi pendapatnya yang dulu menshahihkannya.

Cacat ini sebelumnya telah dideteksi oleh Imam Daruquthni, Imam Hamzah al-Kinaaniy, Imam Baihaqi, Imam al-Mizzi, Al Hafidz Ibnu Hajar dan selain mereka rahimahumullah. Berdasarkan hal ini kevalidan kisah ini perlu ditinjau ulang dan hukum pendhoifannya lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

PERBEDAAN KEWARGANEGARAAN, APAKAH MENGHALANGI SALING MEWARISI?

May 1, 2018 at 12:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PERBEDAAN KEWARGANEGARAAN, APAKAH MENGHALANGI SALING MEWARISI?

Asy-Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah dalam kitabnya “fiqih sunnah” (III/609) menyebutkan salah satu penghalang saling mewarisi adalah karena perbedaan kewarganegaraan. Inti dari penjelasan beliau adalah :
√ untuk seorang muslim, maka perbedaan diatas tidak menghalangi warisan;
√ Untuk non Muslim, maka ada perselisihan pendapat dikalangan ulama, apakah perbedaan kewarganegaraan menghalangi saling mewarisi atau tidak?
Menurut asy-syaikh Sayyid Sabiq, mayoritas ulama memilih pendapat bahwa perbedaan kewarganegaraan tidak menghalangi saling mewarisi.

Kemudian dalam kitab yang sangat tebal yang mencoba mengumpulkan seluruh pendapat ulama terkait fiqih Islam, yakni buku yang berjudul “al-Ma’ushuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” (III/28-29) dibahas lebih lengkap permasalah diatas, terkait mazhab fiqih mana saja yang berpendapat terhalangi atau tidak terhalangi.

Al-Muhim, khusus negara kita tercinta, maka permasalahan perbedaan kewarganegaraan tidak menjadi penghalang saling mewarisi sesama Muslim, sebagaimana hal ini tidak disebutkan dalam kompilasi hukum Islam (KHI) yang dijadikan rujukan dalam hukum acara pengadilan agama, sebagai penghalang-penghalang warisan. Begitu juga untuk non Muslim, hal diatas tidak jadi penghalang sebagaimana penjelasan praktisi hukum terhadap KUHPerdata terkait pasal warisan (http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt50ec0cf0e0fca/hak-waris-anak-yang-berstatus-wna).

Adapun khusus untuk negara Mesir, dimana asy-syaikh Sayyid Sabiq tinggal, peraturan mereka mengatakan :
واختلاف الدارين لايمنع من الارث بين المسلمين ولا يمنع بين غير المسلمين إلا إذا كانت شريعة الدار الاجنبية تمنع من توريث الاجنبي عنها
“Perbedaan kewarganegaraan tidak menghalangi warisan antara sesama Muslim dan juga tidak menghalangi sesama non Muslim, kecuali jika peraturan negara asing tersebut melarang pewarisan (antara rakyatnya) dengan warga asing”.

Kata asy-syaikh peraturan Mesir tersebut berpegang kepada pendapat Imam Hanafi yang memperlakukan seimbang dengan negara lain terkait ada tidaknya halangan antara warga negara tersebut dengan warga asing, kalau negara asing tersebut melakukan pembatasan, maka Mesir juga akan melakukan pembatasan dengan warga asing dari negara tersebut soal warisan.
Wallahu a’lam bis showab.

SELURUH MANUSIA MELAKNAT ORANG YANG MATI DIATAS KEKAFIRAN

May 1, 2018 at 12:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SELURUH MANUSIA MELAKNAT ORANG YANG MATI DIATAS KEKAFIRAN

Dalam bahasa arab kita mengenal yang dinamakan dengan taukid yang maknanya untuk menegaskan atau menguatkan. Diantara bentuk kata yang menunjukkan taukid adalah jika ditambahkan kata Ajma’iin (أَجْمَعِيْن) yang maknanya seluruhnya.

Oleh sebab itu ketika Allah berfirman dalam ayat-Nya yang mulia :
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّٰهِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
innallaziina kafaruu wa maatuu wa hum kuffaarun ulaaa`ika ‘alaihim la’natullohi wal-malaaa`ikati wan-naasi ajma’iin
“Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 161)*
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Imam ath-thabari rahimahullah dalam tafsirnya (III/261-263) membahas seputar laknat manusa, apakah memang seluruhnya atau bagaimana penafsirannya, mengingat tidak seluruh manusia beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, sehingga sangat janggal jika orang kafir melaknat diri mereka sendiri atau tokoh-tokoh kafir idolanya. Ada 3 pendapat yang beliau nukil terkait masalah ini :
1. Yang dimaksud manusia disitu adalah orang-orang yang beriman, mengingat keterangan diatas. Pendapat ini disampaikan dengan sanadnya sampai kepada Imam Qotadah dan Imam ar-Rabii’ bin Anas rahimahumallah;
2. Laknat manusia seluruhnya itu nanti terjadi pada hari kiamat. Pendapat ini bersambung sanadnya sampai kepada Imam Abul ‘Aaliyah rahimahullah;
3. Bahwasanya hal itu memang benar-benar dilakukan oleh manusia, yakni ketika manusia baik yang mukmin maupun yang kafir mengatakan laknat tuhan kepada orang-orang yang zhalim, maka tercakup didalamnya orang-orang yang mati diatas kekafiran, karena mereka adalah orang-orang yang berbuat zhalim dengan memalingkan peribatadan kepada selain Allah. Pendapat ini disampaikan secara bersanad sampai kepada Imam as-Sudiy rahimahullah dan dirajihkan oleh Imam ath-thabari.

Perajihan Imam ath-thabari ini kalau dalam metode tafsir adalah penafsiran berdasarkan tuntutan bahasa arabnya.

HUKUM BERWAQAF DI UJUNG AYAT SEKALIPUN TIDAK BAGUS MAKNANYA

May 1, 2018 at 12:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM BERWAQAF DI UJUNG AYAT SEKALIPUN TIDAK BAGUS MAKNANYA

Para ulama ketika membagi jenis-jenis waqaf ikhtiyari (pilihan) dalam membaca Al Qur’anul Kariim, mereka menyebutkan jenis yang seorang pembaca tidak boleh berhenti disitu, yakni yang dinamakan dengan waqaf al-Qobiih (jelek). Dalam rumus alamat waqaf kontemporer biasanya ditandai dengan huruf kecil “لا” diatasnya. Al-Imam Utsman Abu ‘Amr ad-Daaniy (w. 444 H) dalam kitabnya “al-Muktafiy fii al-Waqf wa al-Ibtidaa` (hal. 13) mengungkapkan waqaf jenis ini dengan istilah :
واعلم أن الوقف القبيح هو الذي لا يعرف المراد منه
“ketahuilah bahwa waqaf qabih adalah yang tidak diketahui maksud darinya” –selesai-.
Maknanya adalah ketika bacaan kita berhenti disitu, maka kalimatnya tidak sempurna.

Al-Ustadz Abu Hazm Muhsin hafizhahullah dalam bukunya “Panduan praktis tajwid” (hal. 129-130) mendefinisikan waqaf qobih (jelek) dengan “waqaf pada suatu kalimat yang tidak sempurna dzatnya yang ada kaitan sangat erat dengan kalimat setelahnya. Tandanya adalah laa (لا) hukumnya adalah tidak boleh berhenti pada tanda tersebut, ataupun memulai dengan kalimat setelahnya”. Kemudian al-Ustadz membagi waqaf ini menjadi tiga dengan menyebutkan beberapa contohnya, seperti “mudhof tanpa mudhof ilaih, maushuf tanpa sifat, artinya menjadi tidak sesuai jika berhenti, atau jika berhenti dapat merusak artinya dan semacamnya.

Akan tetapi mayoritas ulama qiroah dan tajwid menganulir waqaf qobih ini jika terjadi pada ujung ayat, artinya jika ada posisi yang seharusnya itu adalah waqaf qobih pada ujung ayat yang seharusnya tidak boleh berhenti, namun khusus dalam kondisi ujung ayat, diperbolehkan untuk berhenti. Imam Badruddin az-Zarkasy (w. 794 H) Rahimahullah dalam kitabnya “al-Burhan fii uluum al-Qur’an” (1/350) :
وَاعْلَمْ أَنَّ أَكْثَرَ الْقُرَّاءِ يَبْتَغُونَ فِي الْوَقْفِ الْمَعْنَى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ رَأْسَ آيَةٍ وَنَازَعَهُمْ فيه بعض المتأخرين في ذلك وقال هَذَا خِلَافُ السُّنَّةِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقِفُ عِنْدَ كُلِّ آيَةٍ
“ketahuilah bahwa kebanyakan ahli quraa` mencari kondisi waqaf dari segi maknanya, selama hal tersebut bukan di ujung ayat. Namun sebagian ulama mutaakhirin menyelisihi mereka dalam masalah tersebut. Ini adalah menyelisihi sunnah, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam waqaf pada setiap ayat” –selesai-.
Maksud beliau Rahimahullah yang diterangkan pada paragraph selanjutnya adalah bahwa memang ada sebagian ulama qur’an yang tetap menerapkan kaedah-kaedah waqaf tanpa memperdulikan apakah itu di ujung ayat atau tidak, jika memang seharusnya dibaca sambung, maka mereka akan meletakkan tanda “صلى” yang maknanya sebaiknya jangan berhenti, disambung lebih utama atau bahkan mereka akan tetap menerapkan tanda “لا” jika memang disitu adalah posisi waqaf qobiih. Namun Imam az-Zarkasyi sendiri merajihkan pendapat jumhur ahli qur’an, sehingga beliau berkata :
قَالَ وَهَذَا هُوَ الْأَفْضَلُ أَعْنِي الْوَقْفَ عَلَى رُءُوسِ الْآيِ وَإِنْ تَعَلَّقَتْ بِمَا بَعْدَهَا وَذَهَبَ بَعْضُ الْقُرَّاءِ إِلَى تَتَبُّعِ الْأَغْرَاضِ وَالْمَقَاصِدِ وَالْوَقْفِ عِنْدَ رُءُوسِ انْتِهَائِهَا وَاتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوْلَى
“ini adalah lebih utama yakni berhenti pada setiap ujung ayat, sekalipun masih ada kaitannya dengan ayat setelahnya. Sebagian ulama qur’an tetap menerapkan keadah-kaedah waqaf di ujung ayat, namun mengikuti sunnah lebih utama”.

Mayoritas ulama melakukan itu semua berdalil dengan hadits Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan selainnya dan dishahihkan oleh banyak ulama bahwa Ummul Mukminin Ummu salamah Rodhiyallahu ‘anha pernah berkata :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ يَقْرَأُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ثُمَّ يَقِفُ، {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، ثُمَّ يَقِفُ
“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memutus-mutus bacaannya, beliau membaca “alhamdulillahi rabbil ‘alamiin” lalu berhenti, kemudian membaca “ar-Rakhmanir Rakhiim” lalu berhenti..”.
Hadits diatas adalah lafadz Sunan Tirmidzi (no. 2927), dishahihkan oleh al-Albani. Sengaja saya pilih lafadz ini, karena sangat jelas penunjukkan akan waqafnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pada tiap ujung ayat.

Asy-Syaikh Abdullah Ali al-Maumuniy memiliki bahasan menarik terkait judul tulisan ini, yang saya jadikan rujukan utama dalam masalah ini. beliau menuliskannya dalam kitabnya yang berjudul “Fadhl ‘ilm al-waqf wa al-Ibtidaa` wa hukm al-Waqf ‘alaa Ruus al-Aayaat”. Asy-Syaikh menyebutkan beberapa nukilan dari ulama yang menerapkan waqaf (berhenti) pada tiap ujung ayat apapun kondisinya, seperti pendapatnya Imam Baihaqi, Imam ad-Daaniy, Imam Ibnul Qoyyim, Imam al-Jazariy, Imam Abu ‘Amr –salah satu Imam qiroah yang tujuh- dan selain mereka.

Akan tetapi asy-Syaikh memiliki pandangan yang menarik bagi saya yang layak dijadikan ikutan. Pertama beliau mengatakan setelah melakukan takhrij hadits Ummu Salamah dengan berbagai macam lafadz dan jalan-jalannya, bahwa hadits Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha diatas tidak menunjukkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam senantiasa berhenti di ujung ayat, seandainya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam merutinkan hal tersebut, maka tentunya akan dinukil hadits-hadits lainnya selain dari jalan Ibnu Abi Mulaikah. Maksud asy-Syaikh adalah setelah dilakukan penelitian jalan-jalan hadits terkait waqafnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam di ujung ayat, maka yang ada hanyalah melalui jalan Ibnu Abi Mulaikah tersebut, tidak ada sanad selain yang bermuara pada Imam Ibnu Abi Mulaikah (w. 117 H) –seorang Imam Tabi’iy yang tsiqoh lagi tsabit, perowinya Shahihain-.

Kemudian asy-Syaikh juga melihat pendapat sebagian ulama qur’an, sebagaimana yang disampaikan Imam az-Zarkasyi diatas yang tetap melihat posisi waqaf qobih sekalipun itu ada di ujung ayat, yang kemudian menjadikan asy-Syaikh Abdullah al-Maimuuniy memiliki kesimpulan yang layak dijadikan pendapat dalam masalah ini yakni (hal. 85) :
فمتى اشتد تعلق الآية بما بعدها لم يصح تعمد الوقف عليها حتى وإن كانت رأس آية
“kapan saja adanya keterkaitan yang sangat kuat antara ujung ayat dengan ayat setelahnya, maka tidak sah untuk sengaja berwaqaf (berhenti) padanya, sekalipun itu adalah ujung ayat”.

Asy-Syaikh memperkuat pendapatnya dengan nukilan dari Imam al-Jazariy ketika mengomentari posisi berhenti di ujung ayat surat Al Ma’un ayat ke-4 :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat”,
Imam al-Jazariy Rahimahullah dalam kitabya “an-Nasyr fii al-Qiro’ah al-‘Asyr” (II/204) berkata tentang posisi waqaf ayat diatas dan yang semisalnya :
إِذْ لَيْسَتْ وَافِيَةً بِالْقَصْدِ تَجَنُّبُ مَا لَا يَلِيقُ مِمَّا يُوهِمُ غَيْرَ الْمَعْنَى الْمُرَادِ كَمَا إِذَا وَقَفَ عَلَى قَوْلِهِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
“..yang mana tidaklah sempurna tanpa sengaja menjauhi (waqaf (berhenti)) pada sesuatu yang tidak layak yang dapat menimbulkan kesalahpahaman kalau berhenti padanya (semisal berhenti ketika membaca) “fawailul Musholliin”..”.

Oleh sebab itu, penulis secara pribadi mengikuti pendapat asy-Syaikh Abdullah al-Maimuniy bahwa untuk posisi tertentu pada ujung ayat yang memiliki keterkaitan sangat kuat –dan syarat sangat kuat inilah yang menjadi pegangan dalam masalah ini- dimana ketika bacaan kita berhenti padanya, maka akan sangat merusak atau tidak layak jika itu dinisbatkan kepada kalam Rabbunaa Azza wa Jalla –seperti ayat berhenti pada ayat ke-4 surat al-Ma’un, dalam rangka mengkompromikan hadits Ummu Salamah –atas perbedaan para ulama juga dalam menafsirkannya- dengan kaedah-kaedah yang digariskan oleh ulama ahli qur’an dalam bab waqaf pada pembahasan waqaf qobiih (jelek).
Wallahu a’lam bish showaab, wal ilmu ‘indallah.

Catatan tambahan :
Penjelasan hukum diatas adalah terkait waqaf ketika berniat melanjutkan bacaan setelahnya, adapun jika berhenti pada ayat-ayat yang posisinya waqaf sangat qobiih, dalam artian si pembaca berhenti disitu kemudian ia melakukan aktivitas lainnya, maka asy-Syaikh Abdullah al-Mumuuniy berkata :
تنبيه: قطع القراءة بكلام أو عمل أو بترك القراءة لا أعلم أحدًا من القراء يجيزه على ما يشتد تعلقه من رؤوس الآي بما بعده،…
“Memutus bacaan dengan ucapan atau aktivitas lainnya atau sudah berhenti membaca sama sekali, maka aku tidak mengetahui seorang ulama quraa` yang membolehkannya ketika adanya keterkaitan yang sangat antara ujung ayat dengan ayat setelahnya.. “.

HUKUM MENERAPKAN TANDA WAQAF

May 1, 2018 at 12:30 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM MENERAPKAN TANDA WAQAF

Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf ibnu al-jazariy rahimahullah dalam kitabnya al-Muqodimah al-Jazariyyah setelah menyebutkan jenis-jenis waqaf, lalu beliau menutup nadhomannya dalam bab tersebut :
وَلَيْسَ فِي الْقُرْآنِ مِنْ وَقْفٍ وَجَبْ … وَلاَ حَرَامٌ غَيْرَ مَا لَهُ سبب
“Tidak ada waqaf dalam Al Qur’an yang wajib diterapkan dan tidak ada juga yang haram jika berwaqaf, kecuali jika ada alasan tertentu.

Al-Alamah Zakariya al-Anshory rahimahullah ketika mensyarah pernyataan Imam al-Jazary diatas, beliau berkata :
“(Yakni) ketika seorang pembaca meninggalkan (tanda) waqaf tersebut berdosa dan melakukan waqaf (bukan pada tempatnya) berdosa….”
Kemudian maksud pengecualian jika ada alasan tertentu, menurut beliau adalah :
“Jika ada sebab yang menyebabkan keharaman, seperti jika ia sengaja waqaf pada :
وما مِنْ اِلٰهٍ
“Dan tidak ada tuhan” (QS. Al Maidah : 73)
Dan :
اِنِّي كَفَرْتُ
“Sesungguhnya aku kafir” (QS. Ibrahim : 22)
Dan semisalnya tanpa ada alasan darurat maka hukumnya haram. Namun jika tidak ada kesengajaan, maka lebih baik menjauhi waqaf pada kondisi seperti ini, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman”.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: