HUKUM BERPUASA SUNNAH SATU BULAN PENUH

May 1, 2018 at 12:28 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM BERPUASA SUNNAH SATU BULAN PENUH

Al-Imam Bukhori rahimahullah dalam kitab “Shahihnya” menurunkan sebuah bab dengan judul “bab puasa Sya’ban”. Dibawah bab ini beliau mengeluarkan dua buah hadits berikut :
√ no. 1969 :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ ”
“…..Aisyah radhiyallahu anha berkata : …aku tidak melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak melihat Beliau banyak berpuasa padanya selain bulan Sya’ban”.
Diriwayatkan Juga oleh Muslim (no. 2714).

√ no. 1970 :
حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، حَدَّثَتْهُ قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ”
“….Aisyah radhiyallahu anha berkata : “Nabi shalallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban, Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya”.

Dari kedua hadits ini, maka seolah-olah ada pertentangan berita dari Aisyah radhiyallahu anha terkait sifat puasa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada bulan Sya’ban. Di hadits pertama (no. 1969) dinukil bahwa Rasulullah berpuasa tidak full satu bulan penuh pada bulan Sya’ban, namun hanya menunjukkan sebagian besar hari pada bulan tersebut beliau berpuasa. Sedangkan di hadits berikutnya (no. 1970) seolah-olah Nabi berpuasa sya’ban satu bulan penuh.

Hadits yang kedua dikuatkan juga oleh hadits Ummu Salamah radliyallaahu anha -ummul mukminin- yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 736) :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الجَعْدِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: «مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ»
“…dari Ummu Salamah radliyallaahu anha : ‘aku tidak melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut, selain bulan Sya’ban dan Ramadhan”.
Hadits ini dihasankan Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam al-albani rahimahumallah.

Menyikapi kontradiksi yang terjadi apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memang berpuasa satu bulan penuh pada bulan Sya’ban atau tidak? Imam Nawawi dan Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahumaallah menawarkan tiga opsional penyelesaiannya :
1. Yang dimaksud dengan satu bulan penuh adalah sebagian besarnya, sehingga hadits yang pertama menafsirkan hadits yang kedua. Imam Tirmidzi dalam Sunannya diatas, setelah membawakan dua buah jenis hadits tentang puasa Sya’ban, lalu beliau membawakan penafsiran Imam Abdullah bin al-mubarak rahimahullah, kata beliau :
وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ المُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ فِي هَذَا الحَدِيثِ، هُوَ جَائِزٌ فِي كَلَامِ العَرَبِ، إِذَا صَامَ أَكْثَرَ الشَّهْرِ أَنْ يُقَالَ: صَامَ الشَّهْرَ كُلَّهُ، وَيُقَالُ: قَامَ فُلَانٌ لَيْلَهُ أَجْمَعَ، وَلَعَلَّهُ تَعَشَّى وَاشْتَغَلَ بِبَعْضِ أَمْرِهِ، كَأَنَّ ابْنَ المُبَارَكِ قَدْ رَأَى كِلَا الحَدِيثَيْنِ مُتَّفِقَيْنِ، يَقُولُ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُ أَكْثَرَ الشَّهْرِ
“Diriwayatkan dari ibnul Mubarak bahwa beliau berkomentar tentang hadits ini : “dalam bahasa arab jika seorang berpuasa pada sebagian besar bulan, boleh dikatakan dia berpuasa sebulan lamanya. Misalnya dikatakan, “si fulan shalat sepanjang malam”, padahal mungkin saja dia diselingi makan malam dan melakukan kesibukan lain”.
(Imam Tirmidzi) menanggapi, “seolah-olah ibnul Mubarak melihat bahwa kedua hadits ini sama dan maknanya adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan puasa pada sebagian besar bulan”.
2. Dikompromikan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada tahun ini berpuasa Sya’ban satu bulan dan pada tahun lainnya berpuasa sebagian besar bulannya. Ini dibela oleh Imam ath-Thibi, karena lafadz hadits “kullahu” adalah sebagai ta’kid (penguat) yang menghilangkan adanya kesan majaz. Pendapat ini juga didukung oleh asy-syaikh bin Baz rahimahumaallah.
3. Maksudnya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkadang berpuasa pada awal Sya’ban, pada tahun berikutnya pada akhir Sya’ban dan tahun berikutnya lagi pada tengah Sya’ban.

Oleh sebab itu, jika seorang mengikuti pendapat yang kedua, maka tentunya hukumnya tidak mengapa berpuasa satu bulan penuh pada bulan Sya’ban dan bulan lain diqiyaskan dengannya, kecuali pada hari-hari terlarang berpuasa, yaitu 2 hari Raya dan hari-hari tasyrik (kecuali dalam kondisi tertentu).

Akan tetapi judul bab berikutnya yang diturunkan oleh Imam Bukhori setelah bab diatas, patut direnungkan dan menjadi pilihan pendapat yang terbaik dalam masalah ini, beliau memberi judul babnya :
بَابُ مَا يُذْكَرُ مِنْ صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِفْطَارِهِ
“Bab tentang yang disebutkan dari sifat Puasa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berbukanya”.

Di bab ini, al-imam menurunkan 3 buah hadits, namun saya nukilkan hadits pertamanya saja (no. 1971) karena sudah mewakili :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «مَا صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا كَامِلًا قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ»
“وَيَصُومُ حَتَّى يَقُولَ القَائِلُ: لاَ وَاللَّهِ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى يَقُولَ القَائِلُ: لاَ وَاللَّهِ لاَ يَصُومُ ”
“….dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata : “tidaklah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh selain bulan Ramadhan…. “.
Haditsnya diriwayatkan juga oleh Imam Muslim.

Maka dari hadits diatas menunjukkan tarjih dari permasalahan bab sebelumnya, sekaligus juga isyarat tentang hukum berpuasa satu bulan penuh secara umum diluar Sya’ban dan Ramadhan, bahwa diantara petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah tidak melakukan puasa full satu bulan dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: