PERBEDAAN KEWARGANEGARAAN, APAKAH MENGHALANGI SALING MEWARISI?

May 1, 2018 at 12:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PERBEDAAN KEWARGANEGARAAN, APAKAH MENGHALANGI SALING MEWARISI?

Asy-Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah dalam kitabnya “fiqih sunnah” (III/609) menyebutkan salah satu penghalang saling mewarisi adalah karena perbedaan kewarganegaraan. Inti dari penjelasan beliau adalah :
√ untuk seorang muslim, maka perbedaan diatas tidak menghalangi warisan;
√ Untuk non Muslim, maka ada perselisihan pendapat dikalangan ulama, apakah perbedaan kewarganegaraan menghalangi saling mewarisi atau tidak?
Menurut asy-syaikh Sayyid Sabiq, mayoritas ulama memilih pendapat bahwa perbedaan kewarganegaraan tidak menghalangi saling mewarisi.

Kemudian dalam kitab yang sangat tebal yang mencoba mengumpulkan seluruh pendapat ulama terkait fiqih Islam, yakni buku yang berjudul “al-Ma’ushuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” (III/28-29) dibahas lebih lengkap permasalah diatas, terkait mazhab fiqih mana saja yang berpendapat terhalangi atau tidak terhalangi.

Al-Muhim, khusus negara kita tercinta, maka permasalahan perbedaan kewarganegaraan tidak menjadi penghalang saling mewarisi sesama Muslim, sebagaimana hal ini tidak disebutkan dalam kompilasi hukum Islam (KHI) yang dijadikan rujukan dalam hukum acara pengadilan agama, sebagai penghalang-penghalang warisan. Begitu juga untuk non Muslim, hal diatas tidak jadi penghalang sebagaimana penjelasan praktisi hukum terhadap KUHPerdata terkait pasal warisan (http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt50ec0cf0e0fca/hak-waris-anak-yang-berstatus-wna).

Adapun khusus untuk negara Mesir, dimana asy-syaikh Sayyid Sabiq tinggal, peraturan mereka mengatakan :
واختلاف الدارين لايمنع من الارث بين المسلمين ولا يمنع بين غير المسلمين إلا إذا كانت شريعة الدار الاجنبية تمنع من توريث الاجنبي عنها
“Perbedaan kewarganegaraan tidak menghalangi warisan antara sesama Muslim dan juga tidak menghalangi sesama non Muslim, kecuali jika peraturan negara asing tersebut melarang pewarisan (antara rakyatnya) dengan warga asing”.

Kata asy-syaikh peraturan Mesir tersebut berpegang kepada pendapat Imam Hanafi yang memperlakukan seimbang dengan negara lain terkait ada tidaknya halangan antara warga negara tersebut dengan warga asing, kalau negara asing tersebut melakukan pembatasan, maka Mesir juga akan melakukan pembatasan dengan warga asing dari negara tersebut soal warisan.
Wallahu a’lam bis showab.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: