SELURUH MANUSIA MELAKNAT ORANG YANG MATI DIATAS KEKAFIRAN

May 1, 2018 at 12:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SELURUH MANUSIA MELAKNAT ORANG YANG MATI DIATAS KEKAFIRAN

Dalam bahasa arab kita mengenal yang dinamakan dengan taukid yang maknanya untuk menegaskan atau menguatkan. Diantara bentuk kata yang menunjukkan taukid adalah jika ditambahkan kata Ajma’iin (أَجْمَعِيْن) yang maknanya seluruhnya.

Oleh sebab itu ketika Allah berfirman dalam ayat-Nya yang mulia :
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّٰهِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
innallaziina kafaruu wa maatuu wa hum kuffaarun ulaaa`ika ‘alaihim la’natullohi wal-malaaa`ikati wan-naasi ajma’iin
“Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 161)*
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Imam ath-thabari rahimahullah dalam tafsirnya (III/261-263) membahas seputar laknat manusa, apakah memang seluruhnya atau bagaimana penafsirannya, mengingat tidak seluruh manusia beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, sehingga sangat janggal jika orang kafir melaknat diri mereka sendiri atau tokoh-tokoh kafir idolanya. Ada 3 pendapat yang beliau nukil terkait masalah ini :
1. Yang dimaksud manusia disitu adalah orang-orang yang beriman, mengingat keterangan diatas. Pendapat ini disampaikan dengan sanadnya sampai kepada Imam Qotadah dan Imam ar-Rabii’ bin Anas rahimahumallah;
2. Laknat manusia seluruhnya itu nanti terjadi pada hari kiamat. Pendapat ini bersambung sanadnya sampai kepada Imam Abul ‘Aaliyah rahimahullah;
3. Bahwasanya hal itu memang benar-benar dilakukan oleh manusia, yakni ketika manusia baik yang mukmin maupun yang kafir mengatakan laknat tuhan kepada orang-orang yang zhalim, maka tercakup didalamnya orang-orang yang mati diatas kekafiran, karena mereka adalah orang-orang yang berbuat zhalim dengan memalingkan peribatadan kepada selain Allah. Pendapat ini disampaikan secara bersanad sampai kepada Imam as-Sudiy rahimahullah dan dirajihkan oleh Imam ath-thabari.

Perajihan Imam ath-thabari ini kalau dalam metode tafsir adalah penafsiran berdasarkan tuntutan bahasa arabnya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: