HUKUM PUASA RAMADHAN DAN TAHAPAN PENSYARIATANNYA

May 2, 2018 at 11:46 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM PUASA RAMADHAN DAN TAHAPAN PENSYARIATANNYA

 

Al-Imam al-Bukhori Rahimahullah berkata :

1892 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاشُورَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ»، وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَصُومُهُ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ صَوْمَهُ

Hadits no. 1892

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Ayyub, dari Naafi’, dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa beliau berkata : “Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam puasa pada hari ‘Aasyuuraa`, dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan, puasa ‘Aasyuuraa` ditinggalkan”.

Abdullah bin Umar tidak berpuasa ‘Aasyuuraa`, kecuali jika harinya bertepatan dengan jadwal puasanya.

Hadits diatas diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 119-1126) dengan perbedaan lafadz, namun sama dalam penuturan Imam Naafi’ tentang sifat puasanya shohabi Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa.

 

Kedudukan sanadnya : Musaddad adalah ibnu Musarhid perowi yang tsiqoh lagi hafidz; Ismail adalah ibnu ‘Ulayah seorang Imam yang tsiqoh lagi hafidz; Ayyub adalah ibnu Abi Tamiimah as-Sikhtiyaaniy seorang Imam yang tsiqoh tsabat lagi hujjah; Naafi’ maula Ibnu Umar adalah seorang Imam yang masyhur yang tsiqoh lagi tsabat.

 

Maksud dari pernyataan Imam Naafi’ bahwa shohabi Jaliil Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa tidak berpuasa ‘Aasyuuraa` adalah beliau tidak melaksanakan puasa pada hari itu, melainkan jika itu bertepatan dengan hari kebiasaan puasanya, yang mengisyaratkan bahwa shohabi Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa puasa ‘Aasyuuraa` bukan puasa sunnah yang dianjurkan, demikian penjelasan dari asy-Syaikh Musthofaa al-Bughaa.

 

Al-Imam al-Bukhori Rahimahullah berkata :

1893 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، أَنَّ عِرَاكَ بْنَ مَالِكٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ عُرْوَةَ أَخْبَرَهُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا،: أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ»

telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami al-Laits, dari Yaziid bin Abi Habiib, bahwa ‘Iraak bin Maalik telah menceritakan kepadanya bahwa ‘Urwah telah mengabarinya dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha : “bahwa orang-orang Quraisy dulu berpuasa pada hari ‘Aasyuuraa` pada zaman jahiliyyah, kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memerintahkan (kaum Muslimin) berpuasa pada hari itu sampai diwajibkannya puasa Ramadhan, Beliau bersabda : “barangsiapa yang mau berpuasa ‘Aasyuuraa` maka silakan berpuasa dan barangsiapa yang mau boleh berbuka”.

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 113-1125).

 

Kedudukan sanadnya : Qutaibah bin Sa’id perowi tsiqoh tsabat; al-Laits adalah ibnu Sa’ad seorang Imam yang tsiqoh lagi tsabat; Yaziid bin Abi Habiib perowi tsiqoh; ‘Iraak bin Maalik perowi tsiqoh; Urwah adalah anak az-Zubair ibnu al-‘Awaam Rodhiyallahu ‘anhu, seorang Imam yang tsiqoh.

 

Kedua hadits diatas menunjukkan bahwa puasa ‘Aasyuuraa` pada awal-awal Islam adalah diperintahkan, yangmana para ulama berselisih pendapat apakah perintah tersebut perintah wajib atau perintah sunnah, penjelasan lebih lanjut terkait puasa ‘Aasyuuraa` insya Allah pada babnya.

 

Puasa Ramadhaan diwajibkan melalui 3 tahapan sebagaimana dijelaskan oleh para ulama kita, tentu hal ini sebagai kemudahan bagi umat Islam pada awal-awal dakwah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, sebagaimana pentahapan ini terjadi pada pengharaman minuman keras, riba dan semisalnya.

  1. Tahapan pertama adalah diberikan antara memilih berpuasa pada bulan Ramadhan atau tidak berpuasa namun menggantinya dengan memberi makan 1 orang miskin terhadap hari yang ia tidak berpuasa padanya;
  2. Puasa diwajibkan dari mulai terbit fajar sampai tenggelamnya Matahari, jika sudah tenggelam, maka boleh makan dan minum selama belum tidur, namun jika tidur, maka tidak boleh lagi makan dan minum sampai keesokan harinya lagi;
  3. Puasa diwajibkan sebagaimana yang kita alami sekarang.

 

#syarahkitabshaumminshahihbukhori

#kewajibanpuasa

#seri3

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: