HUKUM PUASA RAMADHAN DAN TAHAPAN PENSYARIATANNYA

May 2, 2018 at 4:18 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM PUASA RAMADHAN DAN TAHAPAN PENSYARIATANNYA

 

Al-Imam al-Bukhori rahimahullah berkata :

1891 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «الصَّلَوَاتِ الخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا»، فَقَالَ: أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ؟ فَقَالَ: «شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا»، فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الزَّكَاةِ؟ فَقَالَ: فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ، قَالَ: وَالَّذِي أَكْرَمَكَ، لاَ أَتَطَوَّعُ شَيْئًا، وَلاَ أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ، أَوْ دَخَلَ الجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ»

Hadits no. 1891

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja’far, dari Abi Suhail dari Bapaknya dari Thalhah bin Ubaidillah Rodhiyallahu ‘anhu bahwa pernah datang seorang Arab Badui yang telah beruban rambutnya kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, lalu ia berkata : “wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan kepadaku berupa sholat?”, Beliau menjawab : “sholat lima waktu, kecuali jika (mau mengerjakan) sholat tathowu’. Lanjutnya lagi : “beritahukan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan kepadaku berupa puasa?”, jawab Beliau : “puasa pada bulan Ramadhan kecuali, jika (mau mengerjakan) puasa tathowu’. Lanjutnya lagi : “beritahukan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan kepadaku berupa zakat?”. Lalu beliau pun memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam. Kemudian si Badui tadi berkata : “demi dzat yang telah memuliakannmu, aku tidak akan mengerjakan tathowu’ sedikitpun, dan tidak akan mengurangi apa yang telah diwajibkan Allah kepadaku. Maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengomentarinya : “ia beruntung jika jujur, atau ia akan masuk surga jika jujur”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 8-11) sama melalui Qutaibah bin Sa’id, tapi melewati jalur Anas bin Malik dari Abu Suhail dari Bapaknya dari Thalhah dan seterusnya.

 

Kedudukan sanadnya : Qutaibah bin Sa’id perowi yang tsiqoh tsabat; Ismail bin Ja’far juga Tsiqoh tsabat; Abu Suhail adalah Naafi’ bin Malik bin Abi ‘Aamir, perowi tsiqoh sekaligus Imam dalam Qiro’ah, bapaknya juga perowi yang tsiqoh yang mengambil hadits dari Shohabi Jaliil wal masyhur salah satu 10 orang yang dijamin masuk surga, yakni Thalhah bin Ubaidillah.

 

Syahid dari hadits diatas adalah lafadz “beritahukan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan kepadaku berupa puasa?”, jawab Beliau : “puasa pada bulan Ramadhan kecuali, jika (mau mengerjakan) puasa tathowu’”. Adapun tathowu’ walaupun yang segera terbayang dibenak sebagian orang adalah menunjukkan suatu amalan yang hukumnya sunnah, dalam artian dikerjakan mendapatkan pahala, kalau ditinggalkan tidak berdosa. Namun sebagian ulama memberikan penjelasan bahwa tidak mesti tathowu’ ini hukumnya sunnah. Asy-Syaikh Muhammad bin Umar bin Saalim Bazmuul Hafidzahullah menjelaskan definisi tathowu’ dalam bukunya tentang sholat tathowu’ dengan :

وفي الشرع: الزيادة على ما وجب بحق الإسلام، سواء كانت هذه الزيادة واجبة أم لا

“dalam istilah syariat adalah tambahan atas apa yang diwajibkan dengan hak Islam, sama saja apakah tambahan ini wajib atau tidak”.

Oleh sebab itu, asy-Syaikh mencontohkan bahwa sholat yang merupakan hak Islam adalah sholat lima waktu : Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Adapun selain dari sholat diatas maka itu adalah sholat tathowu’. Berdasarkan keterangan ini, maka kami katakan bahwa puasa yang merupakan hak Islam adalah puasa bulan Ramadhan, sedangkan puasa diluar itu adalah dinamakan dengan puasa tathowu’ yang tidak mesti hukumnya sunnah, seperti puasa kafarah, puasa fidyah dan semacamnya yang hukumnya adalah wajib.

 

#syarahkitabshaumminshahihbukhori

#wajibnyapuasa

#seri2

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: