HARUMNYA BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA DISISI ALLAH

May 5, 2018 at 5:43 am | Posted in fiqih | Leave a comment

HARUMNYA BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA DISISI ALLAH

 

Al-Imam al-Bukhori Rahimahullah berkata :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ

“demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dibandingkan parfum misk”.

Hadits diatas diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 165-1151).

 

Sanad hadits diatas sama dengan sanad pada hadits sebelumnya yang sudah berlalu keterangannya.

Maksud lebih harum disisi Allah adalah bahwa dengan amalan puasa yang dikerjakan oleh seorang hamba itu lebih mensucikan dirinya dan lebih mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnu Abdil Barr. Namun tidak menghalangi juga makna diatas secara hakiki, sebagai dalam riwayat Muslim (no. 163-1151) dengan lafadz :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“…sungguh mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah pada hari kiamat…”.

 

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i Rahimahullah memahami hadits diatas sebagai dalil makruhnya bersiwak setelah tengah hari sampai waktu maghrib bagi orang yang berpuasa. Beliau berkata dalam “al-Umm” (II/111) :

وَلَا أَكْرَهُ السِّوَاكَ بِالْعُودِ الرُّطَبِ وَالْيَابِسِ وَغَيْرِهِ: بُكْرَةً وَأَكْرَهُهُ بِالْعَشِيِّ لِمَا أُحِبُّ مِنْ خُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ، وَإِنْ فَعَلَ لَمْ يُفَطِّرْهُ

“aku tidak memakruhkan bersiwak dengan akar basah maupun kering dan menggunakan selainnya pada waktu pagi hari. Aku memakruhkannya pada waktu asyiy, mengingat disukainya bau mulut orang yang berpuasa. Namun jika seseorang bersiwak pada waktu itu, maka tidak sampai membatalkan puasanya”.

Al-‘Asyiy adalah waktu antara setelah zawal (tergelincirnya Matahari) sampai maghrib.

 

Dalam masalah ini seolah-olah Imam asy-Syafi’i merujuk kepada hadits tentang orang-orang yang gugur dijalan Allah ketika berjihad fii sabilillah, dimana mereka dikuburkan dalam kondisi tanpa dimandikan dengan menggunakan pakaiannya yang bersimbah darah, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ، وَالرِّيحُ رِيحُ المِسْكِ

“warnanya memang warna darah, tapi baunya adalah bau minyak misk” (Muttafaqun ‘alaih).

Kemudian beberapa ulama Syafi’iyyah memperkuat argumen Imamnya dengan sebuah hadits yang sangat gamblang akan makruhnya bersiwak setelah zawal, yakni sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam :

إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتَاكُوا بِالْغَدَاةِ وَلَا تَسْتَاكُوا بِالْعَشِيِّ فَإِنَّ الصَّائِمَ إِذَا يَبِسَتْ شَفَتَاهُ كَانَ لَهُ نُورٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“jika kalian puasa, maka bersiwaklah pada waktu pagi, jangan bersiwak pada waktu asyiy, karena orang yang berpuasa ketika kering bibirnya, maka itu akan menjadi cahaya pada hari kiamat”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan selainnya baik secara marfu’, maupun mauquf kepada Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu ‘anhu. Namun hadits ini didhoifkan oleh para ulama seperti Imam ibnul Jauzi, Al Hafidz Ibnu Hajar, Imam Nawawi dan Imam al-Albani telah mentakhrijnya secara khusus dalam “adh-Dhoifah” (no. 401).

 

Oleh sebab itu, sebagian ulama Syafi’iyyah tidak sependapat dengan Imamnya sendiri, yakni tidak dimakruhkannya bagi orang yang berpuasa bersiwak atau menggosok giginya kapan pun waktunya, baik pagi, siang maupun sore. Diantara yang berpendapat demikian adalah Al-Hafidz al-‘Iraqiy (w. 806 H) –gurunya Al Hafidz Ibnu Hajar- Rahimahumaallah dalam kitabnya “Thorh at-Tatsriib” (IV/100) :

قَالَ عُلَمَاؤُنَا السِّوَاكُ لَا يُزِيلُ الْخُلُوفَ ثُمَّ حَكَى عَنْ شَيْخِهِ الْقَاضِي بِالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى أَبِي الْحَرَمِ مَكِّيِّ بْنِ مَرْزُوقٍ قَالَ أَفَادَنَا الْقَاضِي سَيْفُ الدِّينِ بِهَا فَقَالَ السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ فَلَا يُكْرَهُ كَالْمَضْمَضَةِ لِلصَّائِمِ لَا سِيَّمَا وَهِيَ رَائِحَةٌ تَتَأَذَّى بِهَا الْمَلَائِكَةُ فَلَا تُتْرَكُ هُنَالِكَ.

“sebagian ulama kami mengatakan bahwa bersiwak tidak mengilangkan bau mulut, lalu dihikayatkan dari gurunya al-Qoodhi di Masjidil Aqsha yakni Abil Haram al-Makkiy bin Marzuuq beliau berkata, “al-Qodhi Saifuddin telah memberikan faedah kepada kami bahwa bersiwak dapat mensucikan mulut, sehingga tidak dimakruhkan, sebagaiman berkumur-kumur bagi orang yang berpuasa, terlebih lagi bau mulut tersebut mengganggu para Malaikat, sehingga tidak meninggalkan bersiwak pada kondisi seperti ini”.

 

Imam Nasa`i dalam kitabnya “Sunan al-Kubro” membuat judul bab “bersiwak bagi orang yang berpuasa pada waktu pagi dan siang/petang”, kemudian menampilkan hadits yang masyhur terkait perintah Nabi untuk bersiwak tiap kali sholat atau berwudhu. Sehingga seolah-olah Imam Nasa`i ingin mengatakan bahwa hadits tentang anjuran bersiwak umum, khususnya menjelang sholat dan tentunya tetap dibawa kepada keumumannya. Dan yang lebih memantapkan lagi bahwa bersiwak kapanpun waktunya bagi orang yang berpuasa tidak makruh adalah pendapat Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Imam al-Albani dalam kitabnya diatas dengan sanad yang memungkinkan untuk dihasankan, diriwayatkan oleh Imam ath-Thabarani dalam “Musnad Syamiyiin” (no. 2250) :

عن عبد الرحمن بن غنم قال: سألت معاذ بن جبل أأتسوك وأنا صائم؟ قال: نعم، قلت: أي النهار أتسوك؟ قال: أي النهار شئت غدوة أو عشية، قلت: إن الناس يكرهو نه عشية ويقولون إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” لخلوف الصائم أطيب عند الله من ريح المسك؟ ” فقال: سبحان الله لقد أمرهم بالسواك وهو يعلم أنه لا بد أن يكون بفي الصائم خلوف وإن استاك، وما كان بالذي يأمرهم أن ينتنوا أفواههم عمدا، ما في ذلك من الخير شيء، بل فيه شر، إلا من ابتلي ببلاء لا يجد منه بدا.

dari Abdur Rakhman bin Ghonam ia berkata, “aku pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal, apakah engkau bersiwak dalam kondisi berpuasa?”, beliau menjawab “iya”, lanjutku, “kapanpun waktu siang hari engkau bersiwak?”, jawabnya “kapan saja baik pagi atau siang jika aku mau”. Sambungku, “orang-orang banyak yang membenci bersiwak pada waktu siang/petang, mereka mengatakan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “sungguh mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dibandingkan parfum misk”. Mu’adz mengomentari : “Subhanallah sungguh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memerintahkan mereka untuk bersiwak dan mau gak mau Beliau pun mengetahui bahwa mulutnya orang yang berpuasa menimbulkan bau, sekalipun sudah bersiwak, dan tidak mungkin Beliau memerintahkan mereka membiarkan mulutnya berbau tidak sedap secara sengaja, dimana itu bukanlah kebaikan sama sekali, bahkan itu adalah kejelekan, kecuali bagi orang yang ditimpa ujian yang mau gak mau tetap ada”.

 

Jawaban senada juga diberikan oleh shohabi Jaliil Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, ketika ditanya dengan pertanyaan yang serupa, hanya saja sanad atsar Anas ini, didhoifkan oleh para ulama, diantara Imam ibnul Jauzi dan Imam Nawawi serta selainnya.

 

Khulashohnya, pendapat yang tepat bahwa bersiwak dapat dilakukan kapan saja bagi orang yang berpuasa, bahkan dianjurkan ketika bau mulutnya tidak sedap, sebagaimana keumuman petunjuk Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam dalam permasalahan siwak. Wallahu a’lam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: