HUKUM SUJUD KEPADA PENGHUNI KUBUR

May 5, 2018 at 9:26 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

HUKUM SUJUD KEPADA PENGHUNI KUBUR

 

Tatkala Shohabi Jaliil Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘anhu baru pulang dari Yaman, tiba-tiba beliau bersujud kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam ketika masuk menemuinya, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun heran dengan kelakuan sahabatnya tersebut, setelah Mu’adz Rodhiyallahu ‘anhu menerangkan alasannya melakukan hal tersebut, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda kepadanya :

فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“janganlah kalian melakukannya, karena sesungguhnya seandainya saya diperbolehkan memerintahkan seorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

 

Para ulama menggolongkan sujud yang dilakukan oleh Shohabi Jaliil Mu’adz Rodhiyallahu ‘anhu diatas adalah sebagai sujud penghormatan, sebagaimana disampaikan oleh Imam ath-Thibiy Rahimahullah yang dinukil oleh penulis kitab ‘Aunul Ma’bud”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah pernah berkata dalam kitab yang disusun sebagai kumpulan fatwa darinya yakni “Majmu al-Fatawaa” (IV/361) :

السُّجُودُ عَلَى ضَرْبَيْنِ سُجُودُ عِبَادَةٍ مَحْضَةٍ وَسُجُودُ تَشْرِيفٍ. فَأَمَّا الْأَوَّلُ فَلَا يَكُونُ إلَّا لِلَّهِ

“Sujud itu ada dua macam : sujud ibadah murni dan sujud penghormatan. Adapun yang pertama, maka tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah”.

 

Ulama yang lebih senior dari beliau, yakni Imam Ibnu Hazm azh-Zhohiriy (w. 456 H) Rahimahullah dalam kitabnya “al-Fahshl fii al-Millal” (II/129) pun membagi sujud menjadi dua, kata beliau :

وَلَا خلاف بَين أحد من أهل الْإِسْلَام فِي أَن سجودهم لله تَعَالَى سُجُود عبَادَة ولآدم سُجُود تَحِيَّة وإكرام

“tidak ada perselisihan pendapat dikalangan ulama Islam bahwa sujudnya Malaikat kepada Allah Ta’aalaa adalah sujud ibadah dan sujudnya mereka kepada Adam alaihis salam adalah sebagai sujud penghormatan dan pemulian”.

 

Adapun bentuk sujud yang pertama yakni sujud ibadah, maka tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah, karena hukumnya adalah syirik besar alias membawa kepada kekufuran, sebagaimana Firman-Nya :

لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah” (QS. Fushilaat : 37).

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya ketika mengomentari ayat diatas, beliau berkata :

وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ فَمَا تَنْفَعُكُمْ عِبَادَتُكُمْ لَهُ مَعَ عِبَادَتِكُمْ لِغَيْرِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

“Janganlah kalian mempersekutukannya, sehingga tidak bermanfaat tatkala kalian beribadah kepada Allah, namun beribadah juga kepada selainnya, karena Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan dengannya”.

 

Adapun sujud jenis kedua yakni sujud dalam rangka penghormatan kepada selain Allah, maka telah dilakukan oleh para malaikat kepada Bapak kita Nabiyullah Adam alaihis salam dan juga telah dilakukan oleh umat-umat sebelum kita, seperti sujudnya Nabiyullah Ya’qub alaihis salam dan anak-anaknya kepada Nabiyullah Yusuf alaihis salam. Sekalipun ada penafsiran berbeda dari sebagian ulama bahwa yang dimaksud dengan sujudnya Nabi Ya’quub dan saudara-saudaranya Nabi Yusuf itu adalah sujud syukur dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada Nabi Yusuf. Kemudian para ulama menjelaskan bahwa sujud jenis kedua ini, telah diharamkan dalam syariat kita –berdasarkan penafsiran bahwa sujudnya Malaikat kepada Adam dan sujudnya Nabi Ya’qub dan anak-anaknya kepada Nabi Yusuf, memang itu sebagai sujud penghormatan-. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya memberikan komentar atas kasus ini, kata beliau :

وَقَدْ كَانَ هَذَا سَائِغًا فِي شَرَائِعِهِمْ إِذَا سلَّموا عَلَى الْكَبِيرِ يَسْجُدُونَ لَهُ، وَلَمْ يَزَلْ هَذَا جَائِزًا مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى شَرِيعَةِ عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَحُرِّمَ هَذَا فِي هَذِهِ الْمِلَّةِ، وجُعل السُّجُودُ مُخْتَصًّا بِجَنَابِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

 “hal tersebut adalah suatu hal yang biasa dalam syariat mereka, tatkala mereka memberi penghormatan kepada para pembesarnya, mereka bersujud kepadanya dan senantiasa hal tersebut diperbolehkan dari mulai Nabi Adam sampai syariatnya Nabi Isa alaihis salam. Lalu diharamkan hal tersebut dalam agama ini, dan dijadikan sujud ini khusus dipersembahkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa”.

 

Yang diperbincangkan dilakangan ulama adalah apakah hukum asal dari sujud jenis kedua ini, ketika dilakukan seorang Muslim adalah kesyrikan atau kekafiran? Atau tidak sampai derajat kesyrikan jika niatnya hanya sekedar penghormatan saja?. Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Munajid dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa mayoritas ulama menghukumi hanya haram tidak sampai ke tingkat kesyirikan. Tulisan asy-Syaikh lahir dari pertanyaan yang dikemukakan oleh si penanya bahwa Imam adz-Dzahabi Rahimahullah memiliki perincian terkait hukum seorang Muslim yang sujud kepada kuburnya Nabi dalam kitabnya “Mu’jam asy-Syuyuukh al-Kabiir” (I/73-73), kata beliau :

أَلا تَرَى الصَّحَابَةُ فِي فَرْطِ حُبِّهِمْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالُوا: أَلا نَسْجُدُ لَكَ؟ فَقَالَ: «لا» فَلَوْ أَذِنَ لَهُمْ لَسَجَدُوا لَهُ سَجُودَ إِجْلالٍ وَتَوْقِيرٍ، لا سُجُودَ الْمُسْلِمِ لِقَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سَبِيلِ التَّعْظِيمِ وَالتَّبْجِيلِ لا يُكَفَّرُ بِهِ أَصْلا، بَلْ يَكُونُ عَاصِيًا فَلْيَعْرِفْ أَنَّ هَذَا مَنْهِيٌّ عَنْهُ، وَكَذَلِكَ الصَّلاةُ إِلَى الْقَبْرِ.

“tidakkah engkau melihat bahwa para sahabat amat mencintai Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, mereka sampai mengatakan : “tidakkah kami layak sujud kepada engkau?”, Beliau Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjawab : “tidak”. Seandainya Rasulullah membolehkan mereka untuk sujud, niscaya para sahabat akan sujud kepada Beliau, sebagai bentuk penghormatan dan pemulian kepadanya, oleh sebab itu seorang Muslim tidak boleh sujud kepada kuburan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam dalam rangka mengagungkan dan menghormatinya, sekalipun tidak dikafirkan pada asalnya, namun ia telah berbuat maksiat. Maka ketahuilah bahwa hal tersebut dilarang begitu juga sholat kepada kuburan”.

 

Perincian Imam adz-Dzahabi dikecualikan oleh asy-Syaikh Abdur Razaq ‘Afiifi rahimahullah yang dinukil oleh Ahmad bin Ali dalam tesis S2-nya yang berjudul “Manhaaj asy-Syaih Abdur Razaq ‘Afiifiy wa Juhuduhu fii Taqriir al-‘Aqiidah” (hal, 239) :

وإذا تقرر كون السجود لغير الله تعالى شركاً بالله تعالى، فينبغي أن نفرق بين سجود العبادة، وسجود التحية، فأما سجود العبادة فقد سبق الحديث عنه، وأما سجود التحية فقد كان سائغاً في الشرائع السابقة، ثم صار محرماً على هذه الأمة، والتسليم والإجلال لله وحده هو من التوحيد الذي اتفقت عليه دعوة الرسل، وإن صُرف لغيره فهو شرك وتنديد، ولكن لو سجد أحدهم لأب أو عالم ونحوهما، وقصده التحية والإكرام فهذه من المحرمات التي دون الشرك، أما إن قصد الخضوع والقربة والذلّ له فهذا من الشرك، ولكن لو سجد لشمس أو قمر أو قبر، فمثل هذا السجود لا يتأتى إلا عن عبادة وخضوع وتقرّب فهو سجود شركي  

“jika telah ditetapkan bahwa sujud kepada selain Allah adalah menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’alaa, maka hendaknya dibedakan antara sujud ibadah dengan sujud tahiyat. Adapun sujud ibadah maka telah berlalu haditsnya, adapun sujud tahiyyat maka itu adalah kebiasan yang berlaku pada syariat sebelumnya, kemudian diharamkan atas umat ini. Penghormatan dan pemulian hanyalah untuk Allah semata dan ini adalah perkara tauhid yang telah disepakati dalam dakwah para Rasul, jika hal tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan dan membuat tandingan, namun jika kalian sujud kepada bapaknya atau gurunya dan yang semisalnya, niatnya adalah penghormatan, maka ini haram namun tidak sampai kesyirikan, adapun jika niatnya untuk merendahkan diri, mendekatkan diri dan menghinakan diri kepadanya, maka ini adalah syirik. Namun seandainya ia sujud kepada Matahari, bulan atau kuburan, maka sujud semacam ini, tidaklah dilakukan melainkan itu adalah bentuk ibadah, ketundukan dan pendekatan diri, maka ini adalah sujud syirik”.

 

Alaa kulli hal, sujud kepada kuburan telah tegas adanya larangan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam atasnya dalam beberapa haditsnya baik secara umum maupun secara khusus, misalnya hadits Shohabi Qois bin Sa’ad Rodhiyallahu ‘anhu yang memiliki kasus seperti Shohabi Mu’adz tatkala melihat didaerah yang dikunjunginya, banyak orang-orang yang sujud kepada para ketuanya, kemudian beliau merasa bahwa para sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berhak untuk melakukan sujud kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, namun Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda kepadanya :

«أَرَأَيْتَ لَوْ مَرَرْتَ بِقَبْرِي أَكُنْتَ تَسْجُدُ لَهُ؟» قَالَ: قُلْتُ: لَا، قَالَ: «فَلَا تَفْعَلُوا، لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ»

“bagaimana pendapatmu, seandainya engkau melewati kuburan, apakah engkau akan sujud kepadanya?, aku menjawab, “tidak”, lalu Rasulullah melanjutkan, “jangan lakukan itu….”. (HR. Abu Dawud, dihasankan sanadnya khusus tambahan sujud kepada kuburan, oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth, adapun asal hadits ini adalah shahih lighoirihi).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: