APAKAH TETAP DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM KETIKA MASUK RUMAH, SEKALIPUN SEDANG TIDAK ADA PENGHUNINYA?

May 9, 2018 at 5:28 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

APAKAH TETAP DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM KETIKA MASUK RUMAH, SEKALIPUN LAGI TIDAK ADA PENGHUNINYA?

 

Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri” (QS. An Nuur : 61)

 

Al-Imam ath-Thabari Rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan beberapa pendapat ulama terkait maksud memberikan salam kepada diri sendiri ketika masuk rumah. Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa maknanya, ketika masuk rumah dan tidak ada penghuninya, maka ucapkanlah salam dengan lafadz :

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“salam kepada kami dan kepada para hamba Allah yang sholih”.

Diantara mereka yang mengatakan hal tersebut adalah Shohabi Jaliil Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dari jalan :

حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: أخبرني عمرو بن الحارث، عن بكير بن الأشجّ عن نافع أن عبد الله كان إذا دخل بيتا ليس فيه أحد، قال: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

 “telah menceritakan kepadaku Yunus ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab ia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Amr bin al-Haarits, dari Bukair bin al-Asyaji dari Naafi’ bahwa Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu ketika memasuki rumah yang tidak ada orang didalamnya, beliau mengucapkan : “salam kepada kami dan kepada para hamba Allah yang sholih”.

 

Yunus adalah ibnu Abdil A’laa, perowi tsiqoh; Abdullah bin Wahab, Imam yang tsiqoh; Amru adalah seorang Imam yang tsiqoh juga; Bukair juga Imam yang tsiqoh; Naafi’, Imam yang masyhur. Sehingga sanad riwayat ini shahih tanpa diragukan lagi.

 

Kemudian Imam Bukhori dalam “al-Adab al-Mufrod” (no. 1055) dan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” (no. 25835) keduanya meriwayatkan dengan sanadnya bermuara kepada :

هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ: إِذَا دَخَلَ الْبَيْتَ غَيْرَ الْمَسْكُونِ فَلْيَقُلِ: السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

 “Hisyam bin Sa’ad dari Naafi’ dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu …”.

 

Hisyam bin Sa’ad, dinilai shoduq oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dan Imam adz-Dzahabi. Barangkali hal inilah yang menyebabkan Imam al-Albani menghukuminya dengan hasan dalam ta’liqnya terhadap kitab Imam Bukhori diatas.

 

Imam Bukhori dan Imam Ibnu Abi Syaibah memberikan judul bab untuk hadits diatas dengan lafadz yang semakna yakni apa yang dilakukan ketika seorang memasuki rumah yang tidak penghuninya disitu. Al-‘Alamah Abdur Rahman bin Naashir as-Sa’diy Rahimahullah memberikan penjelasan yang bagus terkait tafsir ayat diatas, menggunakan kaedah dalam ilmu ushul fiqih yang berlaku juga dalam ilmu tafsir, kata beliau :

{فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا} نكرة في سياق الشرط، يشمل بيت الإنسان وبيت غيره، سواء كان في البيت ساكن أم لا فإذا دخلها الإنسان {فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ}

Maka apabila kamu memasuki suatu rumah”, (buyuutaan) adalah nakirah dalam konteks kalimat syarat (itu memberikan faedah keumuman-pent.), sehingga mencakup rumah manusia, maupun ruman selainnya (Masjid misalnya, pent), sama saja apakah rumahnya ada penghuninya, maupun kosong. Apabila seorang masuk ke rumah tersebut “maka hendaknya kalian memberikan salam kepada diri kalian sendiri”.

 

Adapun memberi salam kepada rumah yang kebetulan sedang ada penghuninya, maka ini sudah ma’ruf, disyariatkannya memberikan salam kepada mereka. Dan lafadz “anfusakum (diri kalian sendiri)” pada ayat itu, mencakup muslim lainnya juga, karena seorang Muslim dan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh dan makna inilah yang dirajihkan oleh Imam ath-Thabari.

 

Kesimpulannya, berdasarkan kaedah ushul tafsir yang disampaikan oleh asy-Syaikh as-Sa’diy diatas dan diperkuat oleh pendapat beberapa ulama tafsir dari kalangan sahabat dan para Tabi’in, maka judul tulisan diatas terjawab, bahwa disyariatkan juga memberikan salam ketika hendak memasuki rumah, sekalipun sedang tidak ada penghuninya atau memang rumah kosong dan termasuk didalamnya masjid, sebagai rumah Allah.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: