TAKHRIJ HADITS LARANGAN PUASA SETELAH PERTENGAHAN KEDUA BULAN SYA’BAN

May 12, 2018 at 7:08 am | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS LARANGAN PUASA SETELAH PERTENGAHAN KEDUA BULAN SYA’BAN

 

Diriwayatkan oleh Shohabi Jaliil wal Masyhuur Abdur Rokhman bin Shokhr Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا

“Jika sampai pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 9707), Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” (no. 2337), Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (no. 738), Imam Nasa`i dalam “Sunan al-Kubro” (no. 2923), Imam Ibnu Majah dalam “Sunannya” (no. 1651), Imam ad-Daarimiy dalam “Sunannya” (1781), Imam Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 3589 & 3591), dan selain mereka dengan sanad yang semuanya bermuara kepada :

الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“al-‘Alaa` bin Abdir Rakhman bin Ya’quub, dari Bapaknya, dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : Al-Hadits”.

 

Kedudukan sanadnya : bapaknya al-‘Alaa` yakni Abdur Rakhman bin Ya’quub adalah perowi tsiqoh yang dijadikan hujjah oleh Imam Muslim. Adapun al-‘Alaa` sendiri para ulama berbeda pendapat dalam memberikan penilaian terhadapnya, yang dengan perbedaan inilah, kemudian timbul perbedaan dalam menshahihkan dan mendhoifkan hadits ini.

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam kitabnya “Fath al-baariy” (IV/129) mengatakan :

وَقَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ يَجُوزُ الصَّوْمُ تَطَوُّعًا بَعْدَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَضَعَّفُوا الْحَدِيثَ الْوَارِدَ فِيهِ

“mayoritas ulama membolehkan puasa tathowu’ setelah pertengahan bulan Sya’ban dan mereka mendhoifkan hadits yang datang terkait larangannya”.

 

Alasan pendhoifan mereka adalah dari segi sanad dan matan (isi) haditsnya. Adapun dari segi sanad yaitu adanya penilaian negatif dari para ulama jarh wa ta’dil terhadap perowinya yang bernama al-‘Alaa` :

  • Imam Yahya bin Ma’in sebagaimana dalam riwayat ad-Duuriy beliau menilai al-‘Alaa` sebagai : “ليس حديثه بحجة” (haditsnya bukanlah hujjah) (al-Jarh wa at-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim (VI/357);
  • Imam Abu Hatim menilainya “صالح” (Shoolih) (al-Jarh, idem);
  • Imam Abu Zur’ah menilainya, “ليس هو باقوى ما يكون” (dia tidak kuat haditsnya) (al-Jarh, VI/356);
  • Imam Abu Ahmad ibnu ‘Adiy menilainya, “ليس بالقوي” (tidak kuat) (al-Kaamil fii adh-Dhu’aafaa’ (VI/372);
  • Imam Ibnul Jauzi memasukkanya sebagai perowi dhoif dalam kitabnya “adh-Dhu’aafaa` wa al-Matrukiin” (II/187);
  • Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “al-Kaasyif” (II/105) menyetujui penilaian Imam Abu Hatim terhadapnya.
  • Dan selain mereka yang saya belum mengetahuinya.

 

Berdasarkan kelemahan pada diri al-‘Alaa` inilah, maka hadits yang kita bahas ini hukumnya dhoif alias lemah.

 

Adapun dari sisi matan (isi) hadits, maka hadits ini bertentangan dengan hadits yang masyhur dari Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anhumaa yang memberitahukan sifat puasa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pada bulan Sya’ban, diantara lafadz haditsnya adalah :

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban semua harinya” (Muttafaqun ‘alaih).

 

Kami pernah membahassebelumnya  tentang apakah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam benar-benar full berpuasa bulan Sya’ban atau sebagian besar harinya, hanya beberapa hari saja yang beliau berbuka, namun pointnya disini adalah, jika memang benar adanya larangan berpuasa mulai tanggal 16 bulan Sya’ban dan seterusnya sampai akhir Sya’ban, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang kita bahas, maka tentu ini bertentangan dengan hadits Bukhori-Muslim ini, dan tentunya Shahihain dimenangkan atas selainnya mengingat kualitas sanadnya yang telah disepakati oleh para ulama.

 

Kemudian hadits yang kita bahas juga bertentangan dengan hadits dalam Bukhori-Muslim juga dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, Rasulullaah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari, melainkan seseorang yang (terbiasa) berpuasa, maka berpuasalah.”

 

Hadits tersebut memberikan pengertian larangannya berlaku pada akhir bulan Sya’ban, jika benar larangannya sudah mulai berlaku pada pertengahan bulan Sya’ban, maka tentu hadits Shahihain ini tidak berfaedah, karena sebelumnya sudah dilarang, kecuali kalau kita kalahkan hadits yang melarangnya mulai pertengahan bulan Sya’ban, mengingat kualitas sanadnya yang lebih rendah dibandingkan dengan hadits ini.

 

Diantara deretan ulama yang melemahkan hadits ini adalah Imam Ahmad, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Abdur Rakhman bin Mahdi, Imam Baihaqi, Imam ath-Thahawi dan selain mereka.

 

Adapun sebagian ulama yang menerima hadits yang kita bahas, juga sama alasannya dari segi sanad dan jawaban mereka atas klaim adanya pertentangan isinya dengan hadits yang lain. Dari segi sanad, tidak sedikit ulama yang memberikan penilain positif kepada al-‘Alaa` ini, diantara meraka :

  • Imam Muhammad bin Umar mengomentari diri al-‘Alaa` ini, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Sa’ad dalam kitabnya “ath-Thabaqoot al-Kubraa” (hal.330) :

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ: وَصَحِيفَةُ الْعَلَاءِ بِالْمَدِينَةِ مَشْهُورَةٌ , وَكَانَ ثِقَةً كَثِيرَ الْحَدِيثِ ثَبَتًا

“Shahifah (lembaran karya tulisan) al-‘Alaa` ini masyhur di Madinah, beliau perowi tsiqoh, banyak haditsnya lagi tsabat”.

  • Imam Yahya bin Ma’in dalam kitab “Taarikhnya” berdasarkan riwayat Imam Utsman ad-Daarimiy menilai al-‘Alaa` : “لَيْسَ بِهِ بَأْس” (tidak mengapa);
  • Imam al-‘Ijliy dalam kitabnya “ats-Tsiqoot” (hal. 343) menilainya “تابعي، ثقة” (seorang Tabi’i tsiqoh);
  • Imam Ibnu Hibban juga mentsiqohkannya (lihat ats-Tsiqoot (V/247);
  • Imam Ahmad juga mentsiqohkannya sebagaimana diceritakan oleh anaknya Imam Abdullah bin Imam Ahmad (lihat al-Ma’ushuu’ah Aqwaal Imam Ahmad (III/132);
  • Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyar A’laaam an-Nubalaa`” (VI/186), memberikan penilaian shoduq kepadanya;
  • Begitu juga Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah memberikan penilain shoduq kepadanya. Seolah-olah ini sebagai upaya mengkompromikan antara yang menilainya negatif dengan yang menilainya positif.

 

Barangkali ini bisa dijadikan contoh atas penafsiran sebagian ulama terhadap penilaian Imam Tirmidzi dalam kitab Sunanya yang sering menggunakan penilaian hadits hasan shahih, yakni maknanya telah terjadi perbedaan pendapat dari kalangan para ulama, apakah ia ditsiqohkan atau kedudukannya lebih rendah dari itu, karena setelah meriwayatkan hadits yang kita bahas ini, Imam Tirmidzi berkata :

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ عَلَى هَذَا اللَّفْظِ

“Hadits Abu Huroiroh hadits hasan shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini, dengan lafadz ini”.

 

Kemudian seandainya diterima hadits yang kita bahas ini, lalu bagaimana menjawab hadits-hadits sebelumnya yang dianggap bertentangan oleh sebagian ulama, maka para ulama memberikan jawaban bahwa larangan dalam hadits ini dibawa kepada makruh bagi orang yang mulai berpuasa setelah tanggal 16 bulan Sya’ban, adapun bagi yang sudah mulai berpuasa pada awal bulan Sya’ban dan ingin meneruskannya setelah pertengahan bulan Sya’ban, maka larangan ini tidak berlaku atau bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa, misalnya Senin-Kamis, maka ketika ia mau berpuasa Senin-Kamis setelah pertengahan bulan Sya’ban, larangan ini tidak berlaku.

 

Sebenarnya al-‘Alaa` ini mendapatkan mutaba’ah yang terlewatkan dari pengamatan para Hufadz yakni diriwayatkan oleh Imam Abu Sa’id ibnul A’rabiy dalam “Mu’jamnya” (no. 1198) :

نا إِسْحَاقُ بْنُ يَحْيَى، أَخُو دَاوُدَ الدَّهَّانِ، نا مُحَمَّدُ بْنُ  عُبَيْدٍ، نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَأَفْطِرُوا

“telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Yahya saudara Dawud ad-Dahhaan, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Yahya, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Abdur Rahman bin Ya’quub dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu…”.

Muhammad bin al-Munkadir, perowi tsiqoh, dijadikan hujjah oleh Imam Bukhori-Muslim, namun untuk perowi dibawahnya, saya kesulitan menemukan biografinya.

 

Kemudian Imam ath-Thabarani dalam “Mu’jam al-Ausath” (no. 1936) juga meriwayatkan dari jalannya sampai kepada Muhammad bin al-Munkadir :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَافِعٍ قَالَ: نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُنْكَدِرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ الْحُرَقِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا انْتَصَفَ  شَعْبَانُ فَأَفْطِرُوا»

“telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Naafi’ ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ubadillah bin Abdillah al-Munkadir ia berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dari kakeknya dari Abdur Rakhman bin Ya’quub al-Huraqiy dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu…”.

Ahmad bin Muhammad ditsiqohkan oleh Ibnu Yunus; Silsilah Ubaidillah  sampai kakeknya, saya belum berhasil menemukan biografinya.

 

‘alaa kulli hal, untuk sikap dengan pertengahan menilai hadits yang kita bahas ini sebagai hadits hasan kelihatannya lebih sesuai dengan kaedah-kaedah dalam ilmu hadits. Wallahu a’lam bish-showaab.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: