PINTU SURGA DIBUKA PADA BULAN RAMADHAN

May 13, 2018 at 2:04 am | Posted in fiqih, Hadits | Leave a comment

PINTU SURGA DIBUKA PADA BULAN RAMADHAN

 

Al-Imam al-Bukhori Rahimahullah berkata :

1898 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ»

Hadits no. 1898

“telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja’far, dari Abi Suhail, dari Bapaknya, dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “jika telah datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafadz yang lebih panjang dalam “Shahihnya” (no. 1-1079).

Continue Reading PINTU SURGA DIBUKA PADA BULAN RAMADHAN…

Advertisements

ORANG KAFIR MASUK ISLAM DAN KAITANNYA DENGAN PUASA RAMADHAN

May 13, 2018 at 12:13 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ORANG KAFIR MASUK ISLAM DAN KAITANNYA DENGAN PUASA RAMADHAN

Yang kita bahas kali ini adalah orang kafir asli, bukan orang kafir murtad yang sebelumnya pernah masuk islam. Yakni bagaimana hukumnya orang kafir yang masuk Islam, terkait dengan puasa Ramadhan, menurut penjelasan para ulama kita. Ada beberapa kondisi sebagai berikut :
1. Ketika orang Kafir masuk Islam, maka tahun-tahun sebelumnya yang dihitung mulai dari usia baligh sampai ia masuk Islam, apakah wajib baginya mengqodho puasa yang ditinggalkan selama ini?
Jawabannya adalah tidak wajib baginya menqodho. Diantara dalilnya adalah :
√ Al-Kitab :
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
قُلْ لِّـلَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِنْ يَّنْتَهُوْا يُغْفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ ۚ وَاِنْ يَّعُوْدُوْا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْاَوَّلِيْنَ
qul lillaziina kafaruuu iy yantahuu yughfar lahum maa qod salaf, wa iy ya’uuduu fa qod madhot sunnatul-awwaliin
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi) sungguh, berlaku (kepada mereka) Sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu (dibinasakan).” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 38)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com;
√ as-sunnah :
Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu yang menceritakan kisahnya ketika masuk Islam, beliau Radhiyallahu anhu berkata:
… ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡَ ﻓِﻰ ﻗَﻠْﺒِﻲ ﺃَﺗَﻴْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﺍﺑْﺴُﻂْ ﻳَﻤِﻴْﻨَﻚَ ﻓَـْﻸُﺑَﺎﻳِﻌْﻚَ . ﻓَﺒَﺴَﻂَ ﻳَﻤِﻴْﻨَﻪُ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻘَﺒَﻀْﺖُ ﻳَﺪِﻯ ﻗَﺎﻝَ )) ﻣَﺎ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﻋَﻤْﺮُﻭ ؟ (( ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ : ﺃَﺭَﺩْﺕُ ﺃَﻥْ ﺃَﺷْﺘَﺮِﻁَ ﻗَﺎﻝَ )) ﺗَﺸْﺘَﺮِﻁُ ﺑِﻤَﺎﺫَﺍ ؟ (( ﻗُﻠْﺖُ : ﺃَﻥْ ﻳُﻐْﻔَﺮَﻟِﻰ . ﻗَﺎﻝَ )) ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻥَّ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡَ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻪُ؟ ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻬِﺠْﺮَﺓَ ﺗَﻬْﺪِﻡُ ﻣَﺎﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻬَﺎ؟ ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺤَﺞَّ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ؟ ))
“… Ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku berkata, ‘Bentangkanlah tanganmu, aku akan berbai’at kepadamu.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membentangkan tangan kanannya. Dia (‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu) berkata, ‘Maka aku tahan tanganku (tidak menjabat tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Ada apa wahai ‘Amr?’ Dia berkata, ‘Aku ingin meminta syarat!’ Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah syaratmu?’ Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’” (HR. Muslim).
√ al-Ijma :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar al-Haitsami dan as-Sarbiiniy rahimahumullah menukil adanya ijma akan hal tersebut.

2. Ketika orang kafir tersebut masuk Islam pada tengah-tengah bulan Ramadhan. Misalnya Ramadhannya 30 hari, lalu si kafir masuk Islam pada tanggal 15 Ramadhan. Maka ada dua hal yang dibahas oleh para ulama, yang pertama apakah wajib baginya mengerjakan puasa Ramadhan pada hari berikutnya, yakni tanggal 16 sampai selesai Ramadhan?. Jawabannya para ulama telah berijma wajibnya mu’alaf tersebut untuk berpuasa pada sisa-sisa hari bulan Ramadhan yang ia jumpai. Ijma ini dinukil oleh Imam Ibnu Qudamah dan Syaukani rahimahumullah.

Yang kedua adalah apakah wajib baginya mengqodho puasa mulai dari tanggal 1 sampai 15 Ramadhan dalam case kita ini pada saat sang mualaf masuk Islam pada tengah-tengah bulan? Mazhab fiqih yang empat dan sebagian ulama salaf bersepakat bahwa sang mualaf tidak perlu mengqodho puasanya diatas. Dalilnya adalah sebagaimana penjelasan pada point pertama.

3. Jika si kafir masuk Islamnya misalnya pada siang hari pada tanggal 15 Ramadhan. Maka apakah wajib baginya meneruskan sisa harinya setelah masuk Islam untuk berpuasa? Mayoritas ulama yakni Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan satu sisi dari Syafi’iyyah serta ini adalah pilihan Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah, Syaukani dan Ibnu Utsaimin rahimahumullah, berpendapat wajib baginya berpuasa meneruskan sisa siangnya sampai Maghrib.

Diantara dalilnya adalah :
√ al-kitab :
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ
fa man syahida mingkumusy-syahro falyashum-h,
“..barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah…” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com
Sisi pendalilanya : ketika si kafir masuk Islam, maka pada hari itu berarti ia menyaksikan bulan Ramadhan, yang kini sudah diwajibkan kepadanya.

√ as-sunnah :
ﻋَﻦْ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍْﻷَﻛْﻮَﻉِ ﺭَﺿِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦْ ﺃَﺳْﻠَﻢَ ﺃَﻥْ ﺃَﺫِّﻥْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻢْ ﺑَﻘِﻴَّﺔَ ﻳَﻮْﻣِﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻢْ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ
[ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ]
“Dari Salamah Ibn al-Akwa‘ radhiyallahu anhu ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan seseorang dari Bani Aslam agar mengumumkan kepada masyarakat bahwa barang siapa yang sudah terlanjur makan hendaklah berpuasa pada sisa hari itu, dan barang siapa yang belum makan hendaklah berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyura’. [HR al-Bukhari].
Sisi pendalilannya : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya berpuasa, walapun sudah ada yang makan sebelumnya, tatkala diperintahkan puasa kepada umat Islam, karena dahulu puasa asyura diperintahkan sebelum diwajibkannya bulan Ramadhan.

Kemudian terkait puasanya yang dimulai pada tengah hari, apakah diwajibkan untuk mengqodho puasa hari tersebut?
Jawabannya tidak harus mengqodhonya, ini adalah pendapatnya Hanafiyyah, Malikiyyah, pendapat yang shahih dari Syafi’iyyah, satu pendapat dari Imam Ahmad dan menjadi pilihan Imam Ibnul Mundzir, Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah, ibnu Hazm dan ibnu Utsaimin.

Salah satu dalilnya adalah hadits Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu anhu diatas, dimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintahkan yang sudah makan pada awal siang untuk melanjutkan puasanya sampai Maghrib.

Tambahan :
Point yang ketiga ini, diterapkan juga kepada orang-orang yang pada awalnya tidak memenuhi syarat sahnya puasa, kemudian pada tengah hari syaratnya terpenuhi. Misal anak kecil yang baligh pada tengah hari dan semisalnya.
Wallahu a’lam

Sumber utama : https://dorar.net/feqhia/2632

Abu Sa’id Neno Triyono®

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: