ANTARA MURJIAH DENGAN IMAM ABU HANIFAH RAHIMAHULLAH

May 31, 2018 at 11:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ANTARA MURJIAH DENGAN IMAM ABU HANIFAH RAHIMAHULLAH

Al-Imam Abu Hanifah dalam kitabnya “al-fiqh al-Akbar” (66-68, Daar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubraa), menjelaskan perbedaan keyakinan yang dianutnya dengan keyakinannya Murji’ah, beliau berkata :
وَلَا نقُول إِن الْمُؤمن لَا تضره الذُّنُوب وَلَا نقُول إِنَّه لَا يدْخل النَّار وَلَا نقُول إِنَّه يخلد فِيهَا وَإِن كَانَ فَاسِقًا بعد ان يخرج من الدُّنْيَا مُؤمنا وَلَا نقُول إِن حَسَنَاتنَا مَقْبُولَة وسيئاتنا مغفورة كَقَوْل المرجئة
وَلَكِن نقُول من عمل حَسَنَة بِجَمِيعِ شرائطها خَالِيَة عَن الْعُيُوب الْمفْسدَة وَلم يُبْطِلهَا بالْكفْر وَالرِّدَّة والأخلاق السَّيئَة حَتَّى خرج من الدُّنْيَا مُؤمنا فَإِن الله تَعَالَى لَا يضيعها بل يقبلهَا مِنْهُ ويثيبه عَلَيْهَا وَمَا كَانَ من السَّيِّئَات دون الشّرك وَالْكفْر وَلم يتب عَنْهَا صَاحبهَا حَتَّى مَاتَ مُؤمنا فَإِنَّهُ مُؤمن فِي مَشِيئَة الله تَعَالَى إِن شَاءَ عذبه بالنَّار وَإِن شَاءَ عَفا عَنهُ
“kami tidak mengatakan bahwa dosa-dosa tidak membahayakan seorang mukmin. Kami tidak mengatakan bahwa seorang mukmin tidak akan masuk neraka. Kami tidak mengatakan bahwa seorang mukmin akan kekal didalam neraka, sekalipun ia adalah orang fasik, selama ia mati dalam keadaan seorang mukmin. Kami juga tidak mengatakan bahwa kebaikan kami pasti diterima, sementara dosa kami pasti diampuni, seperti yang dikatakan orang murji’ah.

Akan tetapi, kami mengatakan orang yang mengerjakan kebaikan dengan sempurna dan tidak membatalkannya dengan kekafiran, kemurtadan, dan kejahatan, lalu ia mati sebagai seorang mukmin, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalnya, Dia akan menerimanya dan membalasnya. Sedangkan seorang mukmin yang melakukan dosa selain kesyrikan dan kekafiran yang belum bertobat hingga dia mati dalam keadaan sebagai seorang mukmin, maka ia ada dalam kehendak Allah, jika mau Dia akan menyiksanya dengan neraka, dan jika mau Dia akan mengampuninya” -selesai-.

Asy-syaikh Abdul Aziz asy-Syinawi dalam tulisannya tentang biografi Imam Abu Hanifah, mengomentari pernyataan diatas :
“Ungkapan diatas sama persis dengan apa yang telah kami nukil dari kitab “al-Intiqa'” dan “al-Manaqib”, kendati yang ini lebih gamblang. Maka jelaslah pemisahan antara pendapat Abu Hanifah dalam masalah irja'” -selesai-.

Kemudian asy-syaikh asy-Syinawiy berkesimpulan dengan mantap :
“Dan menurut hemat penulis (yakni asy-syaikh, pent.), Abu Hanifah bukan termasuk murji’ah. Namun jika yang disebut penganut murji’ah adalah orang yang meyakini setiap orang fasik sebagai orang beriman, Allah bisa jadi mengampuni sebagian pelaku dosa, dan dia bebas untuk mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya, maka Abu Hanifah memang penganut murji’ah. Dan dalam kondisi seperti ini, bukan Abi Hanifah saja yang termasuk penganut murji’ah, tapu juga seluruh fuqaha dan ahli hadits”.

Prof. DR. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya “Taarikh al-Madzaahib al-Islamiyyah” tatkala membahas isu tuduhan murji’ah kepada Imam Abu Hanifah, maka beliau menukil pernyataan asy-Syahrastaniy rahimahullah yang berkata :
“Sungguh Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya telah dinamai murji’ah. Sebabnya barangkali karena Abu Hanifah pernah berkata, “Iman adalah pembenaran dengan hati”, Imam tidak bertambah dan berkurang”. Mereka beranggapan bahwa sang Imam menomorduakan amal. Bagaimana mungkin tokoh ini berfatwa untuk meninggalkan amal, padahal beliau sangat mementingkan amal perbuatan.
Sebab yang lain barangkali karena ia berbeda paham dengan Qadariyyah dan mu’tazilah yang muncul pada fase awal, sementara Mu’tazilah menamakan semua orang yang tidak sepaham dengan mereka dalam al-qadar dengan murji’ah” -selesai-.

Kemudian asy-syaikh Muhammad Abu Zahrah berpendapat bahwa sebaiknya pemberian sifat murji’ah dijauhkan dari para tokoh ulama sehingga tidak disamakan dengan mereka (murji’ah sebenarnya) yang membolehkan segala-galanya.

Na’am kami setuju dengan pendapat asy-Syaikh, yang juga disetujui oleh asy-syaikh Abdul Aziz asy-Syinawi yang mengatakan :
“Yang benar, pada akhirnya sekte murji’ah lebih dekat dengan permisivisme yang membuka peluang sangat lebar orang-orang fasik guna melakukan kefasikannya, hingga Imam Zaid bin Ali mengatakan, “aku berlepas diri dari sekte murji’ah yang mendorong orang-orang fasik melakukan kejahatannya” -selesai-.

Dan tentu Imam Abu Hanifah dan juga tokoh-tokoh ulama lainnya sangat jauh dari keterkaitannya dengan sekte sesat murji’ah ahlu bid’ah, bagaimana tidak?, para tokoh ulama kita tersebut adalah orang-orang yang terdepan dalam amal sholih dan mereka adalah orang-orang yang giat menasehati kaum muslimin agar banyak melakukan amal sholih dan menjauhi kemaksiatan dalam fatwa, pengajaran dan karya-karya tulis mereka. Wallahu a’lam.

Abu Sa’id Neno Triyono®

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: