KEHARAMAN BUNGA BANK BERDASARKAN IJTIHAD KOLEKTIF PARA ULAMA ISLAM SELURUH DUNIA

June 21, 2018 at 2:35 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

KEHARAMAN BUNGA BANK BERDASARKAN IJTIHAD KOLEKTIF PARA ULAMA ISLAM SELURUH DUNIA

beberapa ulama kontemporer menyuarakan kembali budaya berijtihad dalam menggali hukum-hukum Islam, dimana mereka meyakini bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka seiring perkembangan zaman. Sebagian ulama mencoba memperkuat ijtihad ini dengan mengusulkan sebuah ide yang bernama ijtihad Jama’iy (kolektif), yakni ijtihad ini tidak dilakukan oleh orang per orang, tapi secara kolektif kemudian mereka berkumpul dan bermusyawarah untuk menghasilkan keputusan-keputusan hukum didalam menghadapi tantang zaman terkait hukum-hukum fiqih masalah kekinian, sebagai pegangan kaum muslimin.

Salah seorang ulama kontemporer yang bernama Abdul Majid menulis sebuah buku yang berisi pembahasan secara komperehensif terkait tema ijtihad Jama’iy, yang berjudul “al-Ijtihaad al-Jamaa’iy fii at-Tasyrii’ al-Islaamiy”. Kitabnya dapat didownload disini : http://waqfeya.com/book.php?bid=11566.

Salah satu praktek dari penerapan Ijtihad jamaa’iy tersebut adalah seperti apa yang diprakarsai oleh lembaga Majma’ al-Buhuuts al-Islamiyyah, Raabithah al-‘Aalam al-Islamiy dan sejenisnya.

Terkait dengan tema tulisan, maka Majma’ al-Buhuuts al-Islamiyyah telah mengadakan musyawarah di Kairo, Mesir dengan dihadiri oleh para ulama fiqih dari 35 negara Islam pada bulan Muharam tahun 1385 H, dengan menghasilkan beberapa keputusan diantaranya :
√ ﺍﻟﻔﺎﺋﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻘﺮﻭﺽ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺑﺎ ﻣﺤﺮﻡ…
“Manfaat atas berbagai jenis pinjaman seluruhnya adalah riba yang diharamkan…”;
√ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﺮﺑﺎ ﻭﻗﻠﻴﻠﻪ ﺣﺮﺍﻡ…
“Banyak atau sedikitnya riba, tetap haram… “;
√… ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻹﻗﺮﺍﺽ ﻧﻈﻴﺮ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻛﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﻣﻼﺕ ﺍﻟﺮﺑﻮﻳﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﺤﺮﻣﺔ
“…seluruh jenis pinjaman yang mengambil manfaat, semuanya termasuk transaksi ribawiyyah dan itu diharamkan”.

Kemudian al-Majma’ al-fiqh al-islami dibawah naungan Raabithah al-‘Aalam al-Islamiy, bermusyawarah pada 12-19 Rajab 1406 H, dengan menghasilkan beberapa keputusan sebagai berikut :
√ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻛﺎﻓﺔ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻬﻮﺍ ﻋﻤﺎ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻌﺎﻣﻞ ﺑﺎﻟﺮﺑﺎ، ﺃﺧﺬﺍً ﺃﻭ ﻋﻄﺎﺀً ….
“Wajib bagi setiap muslim secara totalitas berhenti dari sesuatu yang dilarang Allah Ta’aalaa berupa bertransaksi dengan riba, baik mengambil atau memberinya… ”
√ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﻟﻪ ﺍﻟﺘﻌﺎﻣﻞ ﻣﻊ ﻣﺼﺮﻑ ﺇﺳﻼﻣﻲ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﺎﻣﻞ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺼﺎﺭﻑ ﺍﻟﺮﺑﻮﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺍﺧﻞ ﺃﻭ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ…
“Diharamkan bagi setiap muslim yang mudah baginya bertransaksi dengan lembaga keuangan Islamiy untuk bertransaksi dengan lembaga keuangan ribawi baik didalam maupun diluar negeri… “.
√ ﻛﻞ ﻣﺎﻝ ﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﻔﻮﺍﺋﺪ ﺍﻟﺮﺑﻮﻳﺔ ﻫﻮ ﻣﺎﻝ ﺣﺮﺍﻡ ﺷﺮﻋﺎً…
“Apa yang datang dari jalan manfaat ribawiyyah , maka itu adalah harta haram secara syariat… “.

Kemudian lembaga ini mengadakan musyawarah pada tanggal 10-16 Rabi’ul Awwal 1406 H, lalu menghasilkan beberapa keputusan sebagai berikut :
√ ﺇﻥ ﻛﻞ ﺯﻳﺎﺩﺓ ‏( ﺃﻭ ﻓﺎﺋﺪﺓ ‏) ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪَّﻳﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﺣﻞ ﺃﺟﻠﻪ، ﻭﻋﺠﺰ ﺍﻟﻤﺪﻳﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﻓﺎﺀ ﺑﻪ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﺗﺄﺟﻴﻠﻪ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ‏( ﺃﻭ ﺍﻟﻔﺎﺋﺪﺓ ‏) ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺮﺽ ﻣﻨﺬ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻌﻘﺪ : ﻫﺎﺗﺎﻥ ﺍﻟﺼﻮﺭﺗﺎﻥ ﺭﺑﺎً ﻣﺤﺮﻡ ﺷﺮﻋﺎً.
“Sesungguhnya setiap tambahan (manfaat) atas (penagguhan) hutang yang jatuh tempo, pada saat si kreditur tidak mampu membayarnya tepat pada waktunya, demikian juga tambahan (atau manfaat) atas hutang sejak awal akadnya (dijanjikan), maka keduanya adalah bentuk riba (yang pertama riba nasi`ah dan yang kedua riba fadhl, -pent.) yang diharamkan secara syariat” -salesai-.

Sumber ijtihad jama’i diatas dari : https://ar.islamway.net/fatwa/18506/هل-فوائد-البنوك-تعتبر-من-نوعا-من-أنواع-الربا

asy-syaikh Abdul Majid dalam bukunya diatas membahas tentang kehujjahan ijtihad jama’iy ini dengan berbagai pandangan, dan pointnya ijtihad ini tentunya adalah lebih kuat dari ijtihad pribadi atau fatwa perorangan, bahkan seandainya ijtihad jama’iy didukung oleh keputusan ulil amri, maka tingkat kehujjahannya menyeluruh kepada kaum muslimin dibawah pemerintahannya.

Oleh sebab itu, disamping dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits tentang keharaman riba, maka pengharaman bunga bank dan yang semisalnya telah disampaikan oleh para ulama Islam dari berbagai penjuru negeri yang telah mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mengeluarkan fatwa bersama yang dapat dijadikan pedoman bagi setiap Muslim yang mengharapkan perjumpaan yang baik dengan Rabb-Nya yang amat keras Siksa-Nya, namun Maha Penyayang dan Pemaaf bagi hamba-hamba-nya yang mau bertaubat.
Wallahu a’lam.

Abu Sa’id Neno Triyono

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: