PERTAHANKAN DIRIMU TETAP SEBAGAI AHLI SUNNAH

October 22, 2017 at 2:45 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

PERTAHANKAN DIRIMU TETAP SEBAGAI AHLI SUNNAH

 

Seseorang ketika jelas posisinya membela sunnah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam dan jamaah kaum muslimin, menerangkan posisinya yang memberikan loyalitas kepada ahli sunnah dan para ulamanya, dimulai dari Para Sahabat Rodhiyallahu ‘anhum, kemudian juga kepada Aimah setelahnya, mencintai para sahabat dan para ulama kaum Muslimin secara umum, dan membela manhaj ahli sunnah, maka ia adalah seorang suniy, pengikut ahli sunnah. Orang-orang semacam ini tidak boleh kita sembarangan mengeluarkan dari cakupan ahli sunnah, karena mengeluarkan seseorang dari ahli sunnah adalah berat. Imam Ahmad berkata :

إِخْرَاجُ النَّاسِ مِنَ السُّنَّةِ شَدِيدٌ

“mengeluarkan manusia dari sunnah itu berat” (atsar ini diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar Kholal dalam kitabnya “as-Sunah” (no. 513) dengan sanad shahih).

Continue Reading PERTAHANKAN DIRIMU TETAP SEBAGAI AHLI SUNNAH…

Advertisements

PARA PENGABDI KUBUR

October 19, 2017 at 11:30 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

PARA PENGABDI KUBUR

 

Imam Ibnu Abi Izzi (w. 792 H) dalam kitabnya “Syarah Akidah ath-Thahawiyyah” (1/29, cet. Muasasah ar-Risaalah) telah menjelaskan modus klasik pada ‘Ubaadul Qubur, beliau berkata :

وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ، تَارَةً يَعْتَقِدُونَ أَنَّ هَذِهِ تَمَاثِيلُ قَوْمٍ صَالِحِينَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَيَتَّخِذُونَهُمْ شُفَعَاءَ، وَيَتَوَسَّلُونَ بِهِمْ إِلَى اللَّهِ، وَهَذَا كَانَ أَصْلَ شِرْكِ الْعَرَبِ، قَالَ تَعَالَى حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ نُوحٍ: {وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا}. وَقَدْ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ، وَكُتُبِ التَّفْسِيرِ، وَقَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ وَغَيْرِهَا، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَغَيْرِهِ مِنَ السَّلَفِ، أَنَّ هَذِهِ أَسْمَاءُ قَوْمٍ صَالِحِينَ فِي قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا مَاتُوا عَكَفُوا عَلَى قُبُورِهِمْ، ثُمَّ صَوَّرُوا تَمَاثِيلَهُمْ، ثُمَّ طَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَعَبَدُوهُمْ،

“mereka tidak pernah sama sekali memiliki keyakinan bahwa berhala-berhala tersebut adalah sekutu Allah dalam penciptaan alam semesta, namun kondisi mereka adalah seperti kondisi kaum musyrikin yang ada pada umat ini dari kalangan penduduk India, Turki, Barbar dan selainnya. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut adalah orang-orang sholih dari kalangan para Nabi atau orang sholih, lalu mereka menjadikannya sebagai syafaat yang mereka bertawasul dengannya kepada Allah, ini adalah asal-muasal kesyirikan orang Arab. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman tentang kondisi kaum Nuh : Continue Reading PARA PENGABDI KUBUR…

Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah

October 15, 2017 at 12:06 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah

 

Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi : 110).

***

 

Ta’liqiy :

Imam al-Hakim meriwayatkan asbabun nuzul untuk ayat diatas dalam kitabnya “al-Mustadrok” (no. 2527, cet. DKI) dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Abbas radhiyyallahu anhu beliau berkata :

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَقِفُ الْمَوْقِفَ أُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ، وَأُرِيدُ أَنْ يُرَىَ مَوْطِنِي، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا حَتَّى نَزَلَتْ {فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ، فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا، وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف: 110]

“seorang laki-laki berkata : “wahai Rasulullah sesungguhnya aku bersikap dengan sikap ini menginginkan wajah Allah dan menginginkan juga agar dilihat kedudukanku (bagaimana ini?)”, Beliau tidak menjawab sedikit pun sampai turun Al Kahfi 110”.

Imam al-Hakim setelah meriwayatkan hadits diatas beliau berkata : “hadits ini shahih atas syarat Bukhori-Muslim, namun mereka berdua tidak meriwayatkannya”. Pernyataan beliau ini disetujui oleh Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhiish”.

Continue Reading Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah…

YAHUDI DAN NASRANI YANG TIDAK BERIMAN SETELAH DIUTUSNYA RASULULLAH DIHUKUMI KAFIR

October 14, 2017 at 9:38 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

YAHUDI DAN NASRANI YANG TIDAK BERIMAN SETELAH DIUTUSNYA RASULULLAH DIHUKUMI KAFIR

 

Imam Suyuthi dalam kitabnya “al-Luma’ fii Asbaabi Wuruud al-Hadits” (hal. 89-90, cet. Daarul Fikr) menyebutkan sebuah kisah yang melatarbelakangi sebuah hadits yang mayshur, asbabul wurudnya kata beliau diriwayatkan dalam kitab “al-Afrood” karya Imam Daruquthni dari jalan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu :

يا رسول الله رأيت رجلا من النصاري متمسكا بالانجيل ورجلا من اليهود متمسكا بالتوراة يؤمن بالله ورسوله، ثم لم يتبعك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” من سمع بي من يهودي أو نصراني ثم لم يتبعني فهو في النار “

“wahai Rasulullah aku melihat seorang Nasrani yang berpegang dengan Injil dan seorang Yahudi yang berpegang dengan Taurat, mereka berdua beriman kepada Allah dan Nabinya masing-masing, namun tidak mau mengikutimu (maka bagaimana statusnya?, pent.). Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam menjawab :

“barangsiapa yang mendengarku baik dari kalangan Yahudi atau Nasrani, kemudian mereka tidak mengikutiku, maka ia adalah penghuni neraka”. Continue Reading YAHUDI DAN NASRANI YANG TIDAK BERIMAN SETELAH DIUTUSNYA RASULULLAH DIHUKUMI KAFIR…

ASAL KATA LAFDHUL JALALAH

January 28, 2017 at 2:32 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

ASAL KATA LAFDHUL JALALAH

 

Para ulama ketika menafsirkan perkataan “اللَّهُ” (Allah) menurut tinjauan bahasa, yakni dari apakah dia isim Jaamid atau isim musytaq?. Isim jamid adalah isim yang tidak terbentuk dari kata lain, sedangan isim mustaq adalah isim yang terbentuk dari kata lain. Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah adalah isim Jaamid, Imam Ibnu Katsir menukil dari Imam Qurthubi, daftar nama-nama ulama yang berpendapat bahwa lafadz Allah adalah isim Jamid, yaitu Imam Syafi’i, Al-Khothobiy, Imamul Haromain, Al-Ghozali, dan selainnya. Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa Fakhruddin Ar-Razi termasuk ulama yang berpendapat seperti itu.

Continue Reading ASAL KATA LAFDHUL JALALAH…

BENARKAH SURAT YASIN AYAT 52 MENIADAKAN AZAB KUBUR?

December 16, 2016 at 2:44 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

BENARKAH SURAT YASIN AYAT 52 MENIADAKAN AZAB KUBUR

 

Ada sebuah kaum yang tidak meyakini adanya azab kubur, alasannya didalam Al Qur’an terdapat dalil yang menunjukkan tidak adanya azab kubur. Dalil yang mereka gunakan adalah surat Yasin ayat 52 yang bunyinya :

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

“Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya)”.

 

Sisi pendalilan mereka adalah perkataan mim marqodinaa (dari tidur kami). Maka disini mereka dibangkitkan dari kubur setelah sebelumnya mereka tidur yang berarti mereka tidak disiksa didalam kubur, seandainya disiksa didalam kubur, tentu dalam ayat ini tidak diungkapkan dalam bentuk tidur. Saya tidak ingin menuliskan tentang dalil-dalil adanya siksa kubur baik dari ayat Al Qur’an maupun sunah Nabi, karena semua itu sudah tersebar di ribuan kitab ulama kita, sehingga tinggal merujuknya kesana. Saya hanya ingin mendalami penafsiran Firman-Nya, mim marqodinaa dari para Aimah tafsir kita yang kredibel.

Continue Reading BENARKAH SURAT YASIN AYAT 52 MENIADAKAN AZAB KUBUR?…

AL QUR’AN SELURUHNYA ADALAH OBAT

November 26, 2016 at 12:01 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

AL QUR’AN SELURUHNYA ADALAH OBAT

Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim ketika ingin mengatakan Al Qur’an seluruh isinya adalah obat, beliau membawakan sebuah hadis yang cukup masyhur tentang seseorang sahabat yang terluka lalu mimpi basah yang tentu saja mengharuskannya mandi wajib, kemudian dia bertanya kepada rekan-rekannya, apakah dirinya mendapatkan keringanan agar tidak usah mandi, akan tetapi rekan-rekannya mengatakan engkau tidak mendapatkan keringanan, tetap harus mandi. maka si sahabat tersebut pun mandi, dan akibatnya lukanya bertambah parah yang akhirnya membawa kepada ajalnya. ketika hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, kontan saja Beliu marah dan mengatakan : “mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka, ketahuilah mengapa mereka tidak mau bertanya ketika tidak mengetahui, karena obat kebodohan adalah bertanya…” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya).

Hadis ini menujukkan bahwa kebodohan adalah penyakit dan obatnya adalah bertanya alias ilmu. Allah Ta’alaa berfirman :
“dan kami turunkan Al Qur’an yang menjadi obat dan rahmat bagi kaum mukminin” (QS. Al Isra : 82)
dan telah maklum bahwa semua isi Al Qur’an adalah sumber ilmu, tidak ada keraguan padanya, maka hal ini menunjukkan bahwa itu adalah obat. bukan hanya obat bagi penyakit hati seperti nifak, keraguan dan kebodohan, bahkan Al Qur’an juga adalah obat bagi badan.

(disadur dari buku Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah yang berjudul Ad-Daau wa Ad-Dawaa’, hal 5-7, cetakan Al Maktab Ats-Tsaqoofiy)

IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-

September 19, 2016 at 3:38 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment
IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL
BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-
 
Telah masyhur ayat kursi yang berbunyi :
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255).
 

Continue Reading IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-…

KITAB ZHILAALUL JANNAH DICETAK TANPA SEPENGETAHUAN IMAM AL ALBANI –RAHIMAHULLAH-?

September 17, 2016 at 3:34 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

KITAB ZHILAALUL JANNAH DICETAK TANPA SEPENGETAHUAN

IMAM AL ALBANI –RAHIMAHULLAH-?

 

Bagi penuntut ilmu yang sering merujuk kitab-kitab al-‘Alamah Muhammad Naashiruddin al-Albani, tentu buku-buku karya beliau tidak asing baginya. Diantara karya beliau yang berisi takhrij hadits adalah yang berjudul ظلال الجنة في تخريج السنة(Zhilaalul Jannah fii Takhriij as-Sunnah). Kitab beliau ini berisi takhrij hadits terhadap kitab as-Sunnah yang ditulis oleh Imam Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim (Ibnu Abi ‘Aashim, wafat 287 H), sebuah kitab yang bertemakan pokok-pokok akidah salaf.

Zhilaalul Jannah telah dicetak oleh Maktabah al-Islamiy dengan cetakan pertamakalinya terbit pada tahun 1980. Kitab ini dapat didownload pada tautan berikut : http://waqfeya.com/book.php?bid=352

Continue Reading KITAB ZHILAALUL JANNAH DICETAK TANPA SEPENGETAHUAN IMAM AL ALBANI –RAHIMAHULLAH-?…

APAKAH PARA SAHABAT MELAKUKAN TAKWIL TERHADAP AYAT-AYAT SIFAT ALLAH TABAAROKA WA TA’AALAA

September 15, 2016 at 3:24 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

APAKAH PARA SAHABAT MELAKUKAN TAKWIL TERHADAP AYAT-AYAT SIFAT ALLAH TABAAROKA WA TA’AALAA

 

Apabila pertanyaan ini diajukan, maka kita butuh jawaban kepada seorang ulama yang telah melakukan penelitian yang jeli dan telaten terhadap atsar-atsar dari para sahabat rodhiyallahu ‘anhum terkait ayat-ayat sifat. Apakah ada riwayat dari salah seorang sahabat yang mentakwil atau tidak?, karena pendapat mereka adalah pendapat yang sangat berbobot mengingat talaqi mereka yang langsung duduk di majelis manusia terbaik sepanjang zaman, Rasul kita Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam.

Continue Reading APAKAH PARA SAHABAT MELAKUKAN TAKWIL TERHADAP AYAT-AYAT SIFAT ALLAH TABAAROKA WA TA’AALAA…

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: