HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI

November 22, 2017 at 2:41 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI

 

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pernah bersabda :

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ

“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melaknat laki-laki yang kewanita-wanitaan dan wanita yang kelaki-lakian. Beliau bersabda : “keluarkan orang-orang seperti itu dari rumah-rumah kalian” (HR. Bukhori).

Continue Reading HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI…

Advertisements

BACAAN I’TIDAL “MIL U” ATAU “MIL A”

November 21, 2017 at 3:09 pm | Posted in fiqih, Hadits | Leave a comment

BACAAN I’TIDAL “MIL`U” ATAU “MIL`A”

 

Telah masyhur dzikir ketika I’tidal yaitu :

للَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Allahumma robbanaa lakal hamdu mil-assamawaati wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu

artinya: “Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memiliinya, hanyalah dari-Mu kekayaan itu” (HR. Muslim no. 471).

Continue Reading BACAAN I’TIDAL “MIL U” ATAU “MIL A”…

Bab 9D Li’an

November 12, 2017 at 12:29 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9D Li’an

 

إذا رمى الرجل امرأته بالزنا، ولم تقرّ بذلك، ولا رجع عن رميه؛ لاعنها، فيشهد الرجل أربع شهادات بالله إنه لمن الصادقين، والخامسة أن لعنة الله عليه إن كان من الكاذبين، ثم تشهد المرأة أربع شهادات بالله إنه لمن الكاذبين، والخامسة أنّ غضب الله عليها إن كان من الصادقين، وإذا كانت حاملاً أو كانت قد وضعت؛ أدخل نفي الولد في أيمانه، ويفرِّق الحاكم بينهما، وتحرم عليه أبداً، ويُلحق الولد بأمه فقط، ومن رماها به، فهو قاذف.

“jika seorang suami menuduh istrinya dengan zina[1], namun tidak ada yang memperkuatnya dan sang suami tidak mau mencabut tuduhannya begitu juga istrinya, maka sang suami bersaksi dengan empat kali persaksian dengan bersumpah demi Allah bahwa ia adalah termasuk orang yang jujur dan pada sumpahnya yang kelima ia mengatakan laknat Allah ditimpakan atasnya jika ia termasuk orang yang berdusta, kemudian sang istri bersumpah dengan empat kali sumpah, “demi Allah bahwa suaminya adalah termasuk orang yang berdusta” dan yang sumpahnya yang kelima, ia mengatakan, kemurkaan Allah ditimpakan kepadanya jika ia termasuk orang yang berdusta[2].

Continue Reading Bab 9D Li’an…

BAB 9C DZHIHAR

November 11, 2017 at 7:03 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9C Zhihar

 

وهو قول الزوج لامرأته: أنت عليّ كظهر أمي، أو: ظاهرتك، أو نحو ذلك؛ فيجب عليه قبل أن يمسّها أن يُكفِّر بعتق رقبة، فإن لم يجد فليُطعم ستين مسكيناً، فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين: ويجوز للإمام أن يُعينه من صدقات المسلمين؛ إذا كان فقيراً لا يقْدر على الصوم، وله أن يصرف منها لنفسه وعياله، وإذا كان الظِّهار مُؤقّتاً؛ فلا يرفعه إلا انقضاء الوقت، وإذا وطئ قبل انقضاء الوقت – أو قبل التكفير -؛ كفّ حتى يُكفِّر في المطلق، أو ينقضي وقت المؤقَّت.

Yaitu ucapan seorang suami kepada istrinya, “engkau bagiku, seperti punggung ibuku”, atau ia mengucapkan, “punggungmu seperti punggung ibuku”, atau ucapan yang semisal dengannya[1]. Continue Reading BAB 9C DZHIHAR…

October 27, 2017 at 11:04 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9B Ilaa

 

Yaitu seorang suami bersumpah kepada seluruh istrinya atau sebagian istrinya untuk tidak mendekatinya (menggaulinya). Jika ia memberikan batas waktu untuk tidak mendekatinya kurang dari 4 bulan, maka ia menjauhi istrinya sampai batas waktunya habis[1]. Namun jika ia tidak memberikan batas waktu –atau waktunya lebih dari 4 bulan-, diberikan pilihan baginya setelah habis waktu (4 bulan) antara ia kembali kepada istrinya atau menceraikannya[2].

==============

Ta’liqiy :

[1] Berdasarkan hadits Ummu Salamah dalam Shahihain dan ini lafadz Bukhori :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آلَى مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا، فَلَمَّا مَضَى تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا، غَدَا أَوْ رَاحَ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّكَ حَلَفْتَ أَنْ لاَ تَدْخُلَ شَهْرًا، فَقَالَ: «إِنَّ الشَّهْرَ يَكُونُ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ يَوْمًا»

“bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam pernah meng-Iilaa` sebagian istrinya selama satu bulan, tatkala berlalu 29 hari, Beliau pada pagi atau sore harinya kembali menggauli istrinya tersebut. Maka ada yang mengatakan kepada Beliau : “engkau telah bersumpah untuk tidak menggauli istrimu selama satu bulan (sedangkan sekarang baru 29 hari)?”. Rasulullah menjawab : “sesungguhnya satu bulan itu terkadang jumlahnya 29 hari”.

 

[2] Berdasarkan Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dalam surat Al Baqoroh ayat 226 & 227 :

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (226) وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (227)

“kepada orang-orang yang meng-Iilaa` istrinya diberi tangguh selama 4 (empat) bulan lamanya. Keudian jika mereka kembali kepada istrinya, Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Namun jika mereka bertekad untuk menceraikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

HUKUM MENULIS NOVEL ISLAMI

October 23, 2017 at 2:27 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MENULIS NOVEL ISLAMI

Novel yang dimaksud disini adalah novel fiksi, namun isinya sarat dengan dakwah Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana hukum membuat novel seperti itu, diharamkan atau diperbolehkan?. Pada tulisan kali ini, saya akan menukil fatwa dua ulama kibar hadzal ashr (zaman ini), yang mana satu ulama mengharamkannya secara mutlak dan yang satu lagi membolehkannya dengan perinciannya.

Soal : apakah diperbolehkan menulis novel/cerpen jika tujuannya untuk dakwah, dimana diketahui bahwa novel tersebut adalah karangan fiksi yang bukan kisah sebenarnya?

Jawaban :
Menulis cerita fiksi tidak boleh, berdusta itu tidak boleh..berdusta itu tidak boleh, janganlah menulis cerita kecuali kisah-kisah yang shahih dalam Al Qur’an maupun hadits atau kisah nyata yang diyakini kebenarannya, kerena kejujuran itu..kejujuran adalah sesuatu yang menjadi pegangan dan dibangun diatasnya serta dipercayai ceritanya.
Adapun jika seseorang mengetahui bahwa novel tersebut fiksi dan tidak benar-benar terjadi realitasnya, maka tidak bisa dipercaya…sesuatu yang tidak bisa dipercaya maka tidak dibutuhkan oleh dakwah.
Dakwah itu –walhamdulillah- telah tercukupi dengan Kitab dan sunah…tercukupi dengan sunnah dengan metode dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Maka engkau berdakwalah dengan menggunakan metode Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam :  Continue Reading HUKUM MENULIS NOVEL ISLAMI…

DURARUL BAHIYYAH – Bab 9B Ilaa

October 14, 2017 at 9:48 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9B Ilaa

Yaitu seorang suami bersumpah kepada seluruh istrinya atau sebagian istrinya untuk tidak mendekatinya (menggaulinya). Jika ia memberikan batas waktu untuk tidak mendekatinya kurang dari 4 bulan, maka ia menjauhi istrinya sampai batas waktunya habis[1]. Namun jika ia tidak memberikan batas waktu –atau waktunya lebih dari 4 bulan-, diberikan pilihan baginya setelah habis waktu (4 bulan) antara ia kembali kepada istrinya atau menceraikannya[2].

========== Continue Reading DURARUL BAHIYYAH – Bab 9B Ilaa…

KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH

October 14, 2017 at 12:38 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

 

Perceraian diperbolehkan[1] yang berasal dari seorang laki-laki yang telah mukallaf dan tidak dalam kondisi terpaksa[2]. Percaraian terjadi, sekalipun hanya bercanda[3]. Perceraian ditujukan kepada istri yang dalam kondisi suci sebelum “digauli”[4]. Perceraian tidak boleh dilakukan kepada istri yang sedang haidh yang tadinya suci atau kepada istri yang hamil pada saat melahirkan. Diharamkan menjatuhkan talak, selain dalam kondisi diatas[5], adapun terkait jatuhnya talak yang diucapkan lebih dari satu kali tanpa diselingi rujuk terlebih dahulu, maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama dan pendapat yang rajih, tidak jatuh talaknya[6].

Continue Reading KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH…

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

June 26, 2017 at 11:01 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

 

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur bahwa pahala sholat Jama’ah berkali lipat dibandingkan jika mengerjakan sholat sendirian. Disebutkan 25 atau 27 derajat sesuai dengan perbedaan riwayat yang datang. Namun ada sebuah hadits riwayat Abu Huroiroh -Rodhiyallahu ‘anhu- yang cukup menarik minat saya untuk dijadikan catatan, yang lafadznya :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “sholat seorang laki-laki secara berjamaah (pahalanya) berkali lipat dibandingkan sholat (sendirian) di rumahnya dan pasarnya sebanyak 25 derajat. Yang demikian itu jika ia berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidaklah ia keluar, kecuali karena sekedar bertujuan untuk sholat, tidaklah satu langkah yang dilakukannya, kecuali akan diangkat derajatnya dan akan dihapus kesalahannya. Jika ia sholat, maka Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat sholatnya, mereka berkata : “Ya Allah berikan sholawat kepadanya, Ya Allah rahmatilah ia… kalian senantiasa (dianggap) sedang sholat selama menunggu waktu ditunaikannya sholat”.  (Muttafaqun ‘alaih).

Continue Reading MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN…

Larangan Menggabungkan Pernikahan

February 22, 2017 at 5:01 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

Larangan Menggabungkan Pernikahan

Yang dimaksud dengan menggabungkan pernikahan adalah seseorang menikahi wanita dan juga menikahi saudara perempuan kandungnya (kakak/adik wanitanya) dalam kondisi si wanita masih berstatus sebagai istrinya.
Hal ini diharamkan oleh Rabbunaa Azza wajalla sebagaimana tertera dalam ayat 23 surat An Nisaa’ :
Allah SWT berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ …
وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ
“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu…
dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau…”
(QS. An-Nisa’: Ayat 23)
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menambahkan haramnya menggabungkan pernikahan wanita dan bibinya, baik bibi dari pihak ayah (‘ammah), maupun bibi dari pihak ibu (kholah).
Abu hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
ﻟَﺎ ﻳُﺠْﻤَﻊُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﻋَﻤَّﺘِﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﺧَﺎﻟَﺘِﻬَﺎ
“Janganlah menggabungkan menikahi wanita dengan ‘ammahnya dan juga kholahnya” (muttafaqun alaih).
*Hukumnya*
Imam ibnul Mundzir mengatakan para ulama sepakat mengharamkan penggabungan pernikahan sebagaimana diatas, hanya ahlu bid’ah dari kalangan Rofidhoh dan khowarij yang tidak mengharamkannya.
*Hikmah Pengharamannya*
1. Bisa menimbulkan permusuhan antar saudara
2. Bisa memutus tali silaturahmi.

Referensi : https://islamqa.info/ar/147367

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: