MENJAMAK SHOLAT TANPA ADA UDZUR

April 10, 2018 at 3:17 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT TANPA ADA UDZUR

 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

مَنْ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَقَدْ أَتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الكَبَائِرِ

“barangsiapa yang menjamak dua sholat, tanpa udzur, maka ia telah mendatangi pintu dari pintu-pintu dosa besar”.

Continue Reading MENJAMAK SHOLAT TANPA ADA UDZUR…

Advertisements

DEFINISI QOSHOR

April 10, 2018 at 1:22 am | Posted in fiqih | Leave a comment

Definisi Qoshor

 

Qoshor secara etimologi adalah lawan kata dari “الطُّولِ” (panjang)[1]. Adapun dalam penggunaan syariat sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

{فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلواةِ} (النِّسَاء: 101)

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)” (QS. An Nisaa` : 101).

Imam Abu Manshuur al-Azhariy (w. 370 H) Rahimahullah mengatakan dalam kitabnya “Tahdziib al-Lughoh”[2] :

“yakni sholat Zhuhur dikerjakan dua rakaat, demikian juga Ashar dan Isya. Adapun Maghrib dan sholat Subuh, maka tidak diqishor. Adapun secara bahasa maka boleh untuk mengatakan :

قَصَرَ الصَّلَاة وأقصرَها وقصَّرَها

 

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w. 204 H) Rahimahullah berkata :

وَلَا اخْتِلَافَ أَنَّ الْقَصْرَ إنَّمَا هُوَ فِي ثَلَاثِ صَلَوَاتٍ: الظُّهْرِ، وَالْعَصْرِ، وَالْعِشَاءِ وَذَلِكَ أَنَّهُنَّ أَرْبَعٌ فَيُصَلِّيهِنَّ رَكْعَتَيْنِ وَلَا قَصْرَ فِي الْمَغْرِبِ وَلَا الصُّبْحِ

“tidak ada perbedaan bahwa mengqoshor sholat itu hanya ada pada 3 sholat, yaitu : Zhuhur, Ashar dan Isya. Yakni 4 rakaat pada asalnya, kemudian diqoshor menjadi 2 rakaat. Tidak ada qoshor pada sholat Maghrib dan Shubuh”[3].

========

catatan kaki :

[1] Ibnul Mandhuur (w. 711 H), “Lisaan al-‘Arab” (V/95, Pen. Daar ash-Shoodir, Beirut, cet ke-3, 1414 H)

[2] Abu Manshuur al-Azhariy, “Tahdziib al-Lughoh” (VIII/278, pen. Daar Ihyaa`u at-Turots, Beirut, cet ke-1, 2001)

[3] Asy-Syafi’i, “al-Umm” (I/208, pen. Daar Ma’rifah, Beirut, 1990 M)

MENJAMAK SHOLAT KARENA ADA SUATU KEPERLUAN

April 4, 2018 at 1:13 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA ADA SUATU KEPERLUAN

 

Sebagian ulama memandang bolehnya menjamak sholat karena ada suatu kebutuhan. Al-‘Alamah Abu Bakar al-Husainiy dalam kitabnya “Kifaayah al-Akhyar” (hal. 140-141) berkata :

بل ذهب جمَاعَة من الْعلمَاء إِلَى جَوَاز الْجمع فِي الْحَضَر للْحَاجة لمن لَا يَتَّخِذهُ عَادَة وَبِه قَالَ أَبُو إِسْحَاق الْمروزِي وَنَقله عَن الْقفال وَحَكَاهُ الْخطابِيّ عَن جمَاعَة من أَصْحَاب الحَدِيث وَاخْتَارَهُ ابْن الْمُنْذر من أَصْحَابنَا وَبِه قَالَ أَشهب من أَصْحَاب مَالك وَهُوَ قَول ابْن سِرين وَيشْهد لَهُ قَول ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنْهُمَا أَرَادَ أَن لَا يحرج أمته حِين ذكر أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم (جمع بِالْمَدِينَةِ بَين الظّهْر وَالْعصر وَالْمغْرب وَالْعشَاء من غير خوف وَلَا مطر) فَقَالَ سعيد بن جُبَير لم فعل ذَلِك فَقَالَ لِئَلَّا يحرج أمته فَلم يعلله بِمَرَض وَلَا غَيره وَاخْتَارَ الْخطابِيّ من أَصْحَابنَا أَنه يجوز الْجمع بالوحل فَقَط وَالله أعلم

“bahkan sebagian ulama berpendapat bolehnya menjamak sholat pada waktu hadir (tidak sedang bepergian) karena adanya suatu keperluan selama hal tersebut tidak dijadikan kebiasaan. Ini adalah pendapatnya Abu Ishaq al-Marwaziy, sebagaimana dinukil dari al-Qofaal dan al-Khothoobiy menceritakan pendapat ini dari sejumlah ulama hadits dan menjadi pilihan pendapatnya Ibnul Mundzir dari kalangan madzhab kami, juga menjadi pendapatnya Asyhab dari kalangan Malikiyyah serta ini adalah pendapatnya Ibnu Siriin. Dalil mereka adalah ucapan Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa, “bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tidak ingin memberatkan umatnya”, tatkala beliau ditanya alasan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjamak sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah, bukan karena takut ataupun karena hujan. (HR. Muslim). Continue Reading MENJAMAK SHOLAT KARENA ADA SUATU KEPERLUAN…

MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT

March 28, 2018 at 11:46 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT

 

Al-Imam Abu Muhammad ibnu Qudamah al-Maqdisiy (w. 620 H) Rahimahullah dalam kitabnya yang sangat bermanfaat untuk mengetahui fiqih Imam Ahmad dan juga sering diselingi dengan pendapat dari ulama lainnya, menuliskan suatu pasal khusus tentang orang yang sakit yang diperbolehkan untuk menjamak sholat (juz 2 hal. 205, cet. Maktabah al-Qoohiroh), kata beliau :

“orang sakit yang diperbolehkan menjamak adalah yang disifati dengan adanya kesulitan dan kelemahan, jika mengerjakan sholat pada waktunya. Al-Atsram berkata, pernah ditanyakan kepada Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal), “orang yang sakit bolehkah menjamak dua sholat?”, beliau menjawabnya, “aku berharap (tidak mengapa) jika ia merasa lemah dan ia tidak mampu kecuali mengerjakannya dengan menjamaknya”.

Continue Reading MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT…

APAKAH SAFAR JARAK PENDEK BOLEH MENJAMAK SHOLAT

March 26, 2018 at 3:50 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

APAKAH SAFAR JARAK PENDEK BOLEH MENJAMAK SHOLAT?

 

Al-Imam Yahya bin Syarof an-Nawawiy (w. 676 H) Rahimahullah dalam kitabnya “Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaaj” (5/219, cet. Daar al-Ma’rifah, Beirut) membuka sebuah wacana pembahasan terkait bolehnya menjamak sholat untuk safar jarak dekat. Kata beliau Rahimahullah :

وَفِي جَوَازِهِ فِي السَّفَرِ الْقَصِيرِ قَوْلَانِ لِلشَّافِعِيِّ أَصَحُّهُمَا لَا يَجُوزُ فِيهِ الْقَصْرُ

“dan tentang kebolehan menjamak sholat pada perjalanan pendek, maka ada dua pendapat dari Imam Syafi’i, yang paling benar adalah tidak boleh padanya menjamak untuk jarak dekat”.

  Continue Reading APAKAH SAFAR JARAK PENDEK BOLEH MENJAMAK SHOLAT…

MENJAMAK SHOLAT KARENA MELAKUKAN SAFAR

March 22, 2018 at 4:12 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA MELAKUKAN SAFAR

 

Telah dimaklumi bahwa sholat lima waktu yang diwajibkan, memiliki waktu-waktu tertentu yang telah digariskan oleh syariat dan setiap muslim yang sudah mendapatkan pembebanan diharuskan menunaikan sholat-sholat tersebut sesuai dengan waktunya atau dengan kata lain pelaksanaan sholat pada waktu yang telah ditetapkan adalah salah satu syarat sah dan diterimanya sholat seseorang.

 

Namun dengan kemurahan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’alaa memberikan keringanan pada moment-moment tertentu, beberapa sholat tersebut dapat digabungkan atau istilahnya menjamak sholat. Asy-Syaikh Abu Malik Kamaal Hafidzahullah dalam kitabnya “Shahih Fiqh as-Sunnah” (1/491) mendefinisikan menjamak dua sholat dengan mengerjakan sholat Dhuhur dan Ashar atau sholat Maghrib dan Isya’ dalam waktu salah satu keduanya, baik menggabungkan pada waktu sholat yang pertawa (jamak taqdiim, pent.) maupun pada waktu sholat yang kedua (jamak ta`khiir, pent.).

Continue Reading MENJAMAK SHOLAT KARENA MELAKUKAN SAFAR…

APAKAH RASULULLAH Sholallahu ‘alaihi wa Salaam SELALU MENGAKHIRKAN SHOLAT ISYA?

February 10, 2018 at 2:32 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

APAKAH RASULULLAH Sholallahu ‘alaihi wa Salaam SELALU MENGAKHIRKAN SHOLAT ISYA?

 

Barangkali munculnya pertanyaan ini adalah lahir dari pemahamannya terhadap lafadz “Kaana” terkait berita bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melaksanakan sholat Isya pada akhir waktu. Misalnya dalam riwayat Imam Bukhori secara mu’alaq (1/117) dari Abu Barzah Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

وَقَالَ أَبُو بَرْزَةَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَخِّرُ العِشَاءَ»

“adalah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengakhirkan sholat Isya”.

Continue Reading APAKAH RASULULLAH Sholallahu ‘alaihi wa Salaam SELALU MENGAKHIRKAN SHOLAT ISYA?…

HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI

November 22, 2017 at 2:41 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI

 

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pernah bersabda :

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ

“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melaknat laki-laki yang kewanita-wanitaan dan wanita yang kelaki-lakian. Beliau bersabda : “keluarkan orang-orang seperti itu dari rumah-rumah kalian” (HR. Bukhori).

Continue Reading HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI…

BACAAN I’TIDAL “MIL U” ATAU “MIL A”

November 21, 2017 at 3:09 pm | Posted in fiqih, Hadits | Leave a comment

BACAAN I’TIDAL “MIL`U” ATAU “MIL`A”

 

Telah masyhur dzikir ketika I’tidal yaitu :

للَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Allahumma robbanaa lakal hamdu mil-assamawaati wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu

artinya: “Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memiliinya, hanyalah dari-Mu kekayaan itu” (HR. Muslim no. 471).

Continue Reading BACAAN I’TIDAL “MIL U” ATAU “MIL A”…

Bab 9D Li’an

November 12, 2017 at 12:29 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9D Li’an

 

إذا رمى الرجل امرأته بالزنا، ولم تقرّ بذلك، ولا رجع عن رميه؛ لاعنها، فيشهد الرجل أربع شهادات بالله إنه لمن الصادقين، والخامسة أن لعنة الله عليه إن كان من الكاذبين، ثم تشهد المرأة أربع شهادات بالله إنه لمن الكاذبين، والخامسة أنّ غضب الله عليها إن كان من الصادقين، وإذا كانت حاملاً أو كانت قد وضعت؛ أدخل نفي الولد في أيمانه، ويفرِّق الحاكم بينهما، وتحرم عليه أبداً، ويُلحق الولد بأمه فقط، ومن رماها به، فهو قاذف.

“jika seorang suami menuduh istrinya dengan zina[1], namun tidak ada yang memperkuatnya dan sang suami tidak mau mencabut tuduhannya begitu juga istrinya, maka sang suami bersaksi dengan empat kali persaksian dengan bersumpah demi Allah bahwa ia adalah termasuk orang yang jujur dan pada sumpahnya yang kelima ia mengatakan laknat Allah ditimpakan atasnya jika ia termasuk orang yang berdusta, kemudian sang istri bersumpah dengan empat kali sumpah, “demi Allah bahwa suaminya adalah termasuk orang yang berdusta” dan yang sumpahnya yang kelima, ia mengatakan, kemurkaan Allah ditimpakan kepadanya jika ia termasuk orang yang berdusta[2].

Continue Reading Bab 9D Li’an…

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: