DURARUL BAHIYYAH – Bab 9B Ilaa

October 14, 2017 at 9:48 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9B Ilaa

Yaitu seorang suami bersumpah kepada seluruh istrinya atau sebagian istrinya untuk tidak mendekatinya (menggaulinya). Jika ia memberikan batas waktu untuk tidak mendekatinya kurang dari 4 bulan, maka ia menjauhi istrinya sampai batas waktunya habis[1]. Namun jika ia tidak memberikan batas waktu –atau waktunya lebih dari 4 bulan-, diberikan pilihan baginya setelah habis waktu (4 bulan) antara ia kembali kepada istrinya atau menceraikannya[2].

========== Continue Reading DURARUL BAHIYYAH – Bab 9B Ilaa…

Advertisements

KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH

October 14, 2017 at 12:38 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

 

Perceraian diperbolehkan[1] yang berasal dari seorang laki-laki yang telah mukallaf dan tidak dalam kondisi terpaksa[2]. Percaraian terjadi, sekalipun hanya bercanda[3]. Perceraian ditujukan kepada istri yang dalam kondisi suci sebelum “digauli”[4]. Perceraian tidak boleh dilakukan kepada istri yang sedang haidh yang tadinya suci atau kepada istri yang hamil pada saat melahirkan. Diharamkan menjatuhkan talak, selain dalam kondisi diatas[5], adapun terkait jatuhnya talak yang diucapkan lebih dari satu kali tanpa diselingi rujuk terlebih dahulu, maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama dan pendapat yang rajih, tidak jatuh talaknya[6].

Continue Reading KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH…

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

June 26, 2017 at 11:01 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

 

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur bahwa pahala sholat Jama’ah berkali lipat dibandingkan jika mengerjakan sholat sendirian. Disebutkan 25 atau 27 derajat sesuai dengan perbedaan riwayat yang datang. Namun ada sebuah hadits riwayat Abu Huroiroh -Rodhiyallahu ‘anhu- yang cukup menarik minat saya untuk dijadikan catatan, yang lafadznya :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “sholat seorang laki-laki secara berjamaah (pahalanya) berkali lipat dibandingkan sholat (sendirian) di rumahnya dan pasarnya sebanyak 25 derajat. Yang demikian itu jika ia berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidaklah ia keluar, kecuali karena sekedar bertujuan untuk sholat, tidaklah satu langkah yang dilakukannya, kecuali akan diangkat derajatnya dan akan dihapus kesalahannya. Jika ia sholat, maka Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat sholatnya, mereka berkata : “Ya Allah berikan sholawat kepadanya, Ya Allah rahmatilah ia… kalian senantiasa (dianggap) sedang sholat selama menunggu waktu ditunaikannya sholat”.  (Muttafaqun ‘alaih).

Continue Reading MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN…

Larangan Menggabungkan Pernikahan

February 22, 2017 at 5:01 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

Larangan Menggabungkan Pernikahan

Yang dimaksud dengan menggabungkan pernikahan adalah seseorang menikahi wanita dan juga menikahi saudara perempuan kandungnya (kakak/adik wanitanya) dalam kondisi si wanita masih berstatus sebagai istrinya.
Hal ini diharamkan oleh Rabbunaa Azza wajalla sebagaimana tertera dalam ayat 23 surat An Nisaa’ :
Allah SWT berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ …
وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ
“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu…
dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau…”
(QS. An-Nisa’: Ayat 23)
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menambahkan haramnya menggabungkan pernikahan wanita dan bibinya, baik bibi dari pihak ayah (‘ammah), maupun bibi dari pihak ibu (kholah).
Abu hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
ﻟَﺎ ﻳُﺠْﻤَﻊُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﻋَﻤَّﺘِﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﺧَﺎﻟَﺘِﻬَﺎ
“Janganlah menggabungkan menikahi wanita dengan ‘ammahnya dan juga kholahnya” (muttafaqun alaih).
*Hukumnya*
Imam ibnul Mundzir mengatakan para ulama sepakat mengharamkan penggabungan pernikahan sebagaimana diatas, hanya ahlu bid’ah dari kalangan Rofidhoh dan khowarij yang tidak mengharamkannya.
*Hikmah Pengharamannya*
1. Bisa menimbulkan permusuhan antar saudara
2. Bisa memutus tali silaturahmi.

Referensi : https://islamqa.info/ar/147367

IMAM SYAFI’I SALAH MENULIS AYAT?

January 28, 2017 at 8:57 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

IMAM SYAFI’I SALAH MENULIS AYAT?

 

Al-‘Alamah Ahmad Syaakir –Rahimahulah- telah menghasilkan banyak karya didalam berkhidmat men-tahqiq kitab-kitab yang bisa dianggap sebagai ­At-Turats Islami (warisan Islam). Diantara kerja keras beliau adalah mempersembahkan tahqiq terhadap kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H), yang dianggap sebagai kitab pertama yang membicarakan tema seputar ushul Fiqih. Diantara point yang ingin saya tampilkan, bahwa asy-Syaikh Ahmad Syakir menemukan kesalahan Imam Asy-Syafi’i, dalam berdalil dengan Kitabullah di kitab Ar-Risalah tersebut. Kemudian beliau sangat bersemangat sekali didalam menjelaskan masalah ini.

 

Koreksi Asy-Syaikh Ahmad Syakir tersebut, bisa kita lihat di kitab Ar-Risaalah (hal. 73-75 pada catatan kaki, cetakan Matba’ah Musthofa Al-Baabi Al-Halabiy, edisi pertama tahun 1357 H). Pada pembahasan bab “Fardhullahi fii Kitaabihi Ittibaa’a Sunatiy Nabiyihi”. Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan surat An Nisa` ayat 171, ketika beliau berkata : Continue Reading IMAM SYAFI’I SALAH MENULIS AYAT?…

HUKUM MENDOAKAN KEJELEKAN KEPADA PEMERINTAH YANG DHOLIM

January 11, 2017 at 1:02 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MENDOAKAN KEJELEKAN KEPADA PEMERINTAH YANG DHOLIM

 

Seorang pemimpin yang dholim baik kepemimpinannya bersifat skala kecil, seperti pemimpin rumah tangga, sampai kepada skala yang lebih luas yakni pemimpin negara, maka ketika berbuat dholim kepada yang dipimpinnya masuk kedalam keumuman larangan perbuatan dholim. Dan Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam Kitab-Nya melaknat orang-orang yang dholim, Firman-Nya :

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Huud : 18).

 

Kemudian orang-orang yang merasa didholimi, syariat memberikan keringanan untuk mendoakan kejelakan kepada orang-orang yang berbuat dholim kepadanya. Hal ini diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam Firman-Nya :

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa` : 148).

 

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya menukil penafsiran Aimah tafsir dari kalangan sahabat, yakni Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu yang berkata :

لَا يُحِبُّ اللَّهُ أَنْ يَدْعُوَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَظْلُومًا، فَإِنَّهُ قَدْ أُرْخِصَ لَهُ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ، وَذَلِكَ قَوْلُهُ: {إِلا مَنْ ظُلِمَ} وَإِنْ صَبَرَ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ.

“Allah tidak menyukai seseorang mendoakan (kejelekan) kepada orang lain, kecuali jika orang tersebut adalah korban kedzholiman, maka ia diberi keringanan untuk mendoakan (kejelakan) kepada orang yang mendholiminya, oleh karena itu Allah Berfirman { kecuali oleh orang yang dianiaya}. Namun jika ia bersabad, maka itu lebih baik baginya”.

Continue Reading HUKUM MENDOAKAN KEJELEKAN KEPADA PEMERINTAH YANG DHOLIM…

Dimana Mendapatkan Buku-Buku Fiqih Madzhab Ahli Hadits?

January 11, 2017 at 3:24 am | Posted in fiqih | Leave a comment

Dimana Mendapatkan Buku-Buku Fiqih Madzhab Ahli Hadits?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

أما البخاري ، وأبو داود ، فإمامان في الفقه من أهل الاجتهاد .
وأما مسلم ؛ والترمذي ؛ والنسائي ؛ وابن ماجه ؛ وابن خزيمة ؛ وأبو يعلى ؛ والبزار ؛ ونحوهم ؛ فهم على مذهب أهل الحديث ، ليسوا مقلدين لواحد بعينه من العلماء ، ولا هم من الأئمة المجتهدين على الإطلاق ، بل هم يميلون إلى قول أئمة الحديث كالشافعي ؛ وأحمد ؛ وإسحاق ، وأبي عبيد ؛ وأمثالهم ” انتهى من ” مجموع الفتاوى ” (20/40) .

“adapun imam Bukhori dan Imam Abu Dawud adalah 2 Imam yang dalam masalah fiqih sebagai seorang mujtahid. sedangkan Imam Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’laa, Al Bazaar dan semisalnya, mereka semuanya diatas madzhab ahli hadits, mereka bukan orang yang taklid terhadap madzhab tertentu, namun mereka juga bukan ulama mujtahid secara mutlak. namun mereka mengambil kepada pendapat salah satu Aimah hadits, seperti Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Ubaid dan semisalnya”. Continue Reading Dimana Mendapatkan Buku-Buku Fiqih Madzhab Ahli Hadits?…

PENGOBATAN ALA NABI

January 1, 2017 at 1:08 am | Posted in fiqih | Leave a comment

PENGOBATAN ALA NABI

 

Perlu diketahui bahwa pengobatan yang dilakukan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam ada 3 macam :

  1. Hal tersebut sebagai mukjizat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, oleh karena sifatnya sebagai mukjizat, maka hal tersebut adalah kekhususan dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam yang tidak disyariatkan bagi umatnya untuk mengikutinya. Misalnya kisah pada saat perang Khoibar, dimana Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam meludahi kedua mata Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu yang pada waktu itu menderita sakit mata, dan seketika itu juga langsung sembuh. Haditsnya diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shahihnya.
  2. Pengobatan atau obat-obatan yang diberikan Nabi kepada orang yang sedang sakit, sebagai pengalaman Beliau sebagai seorang manusia. Ini pun termasuk kategori yang tidak disyariatkan bagi umatnya untuk mengikutinya. Prof. DR. Abdul Wahab Kholab dalam buku Ilmu Ushul Fiqih ketika berbicara tentang kehujjahan as-Sunah bagi umat Islam, dalam point nomor dua terkait perkataan dan perbuatan yang bersumber dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, beliau berkata :

وما صدر عنه بمقتضى الخبرة الإنسانية والحذق والتجارب في الشئون الدنيوية من اتِّجار، أو زراعة، أو تنظيم جيش، أو تدبير حربي، أو وصف دواء لمرض، أو أمثال هذا، فليس تشريعا أيضا لأنه ليس صادرا عن رسالته، وإنما هو صادر عن خبرته الدنيوية، وتقديره الشخصي

“apa yang bersumber dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sekedar sebagai pengamatan kemanusian, kecakapan atau pengalamannya dalam perkara-perkara keduniaan, seperti masalah perdagangan, pertanian, pengaturan tentara, menyusun strategi perang, atau saran obat bagi orang yang sakit dan semisalnya, maka ini juga bukanlah pensyariatan kepada umatnya, karena tidak bersumber dari Risalah, namun itu semua bersumber dari pengamatannya terhadap masalah keduniaan dan takdirnya sebagai seorang manusia” –selesai-.

Jenis pengobatan yang kedua ini pun tidak menjadi syariat bagi umatnya, sebagaimana penjelasan Profesor diatas.

  1. Pengobatan yang datangnya dari Nash wahyu ilahiyyah, maka inilah yang disyariatkan kepada umatnya, seperti pengobatan dengan makan Habbatus Sauda, sebagaimana Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلَّا مِنَ السَّام

”Sesungguhnya pada habbatussauda’ terdapat obat untuk segala macam penyakit, kecuali kematian” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Para ulama biasanya memberikan istilah untuk hal seperti ini dengan nama “Ath-Thibbu An-Nabawiy”.

 

MENIUP MINUMAN PANAS BIAR LEKAS DINGIN

December 26, 2016 at 5:00 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENIUP MINUMAN PANAS BIAR LEKAS DINGIN

 

Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الْإِنَاءِ، أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

“Rasulullah melarang untuk bernafas didalam bejana atau meniup-niupnya” (HR. 3 ahli hadits, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

 

Tapi permasalahannya minuman tersebut sangat panas dan kita sedang diburu-buru untuk meminumnya, apakah diperbolehkan meniup-niupnya agar lekas dingin, Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Sholihin berkata :

إلا أن بعض العلماء استثنى من ذلك ما دعت الحاجة إليه كم لو كان الشراب حارا ويحتاج إلى السرعة فرخص في هذا بعض العلماء ولكن الأولى ألا ينفخ حتى لو كان حارا إذا كان حارا وعنده إناء آخر فإنه يصبه في الإناء ثم يعيده مرة ثانية حتى يبرد

“kecuali sebagian ulama mengecualikan jika memang ada kebutuhan (untuk meniupnya) seperti jika minuman tersebut panas dan ia butuh segera meminumnya, maka sebagian ulama memberinya keringanan (untuk meniup-niupnya), namun yang lebih bagus seadainya ia punya wadah lain, lalu air panas tersebut dituang ke wadah lain tersebut, kemudian diulangi lagi dituang ke wadah sebelum (begitu seterusnya) sampai minuman tersebut menjadi dingin”.

 

Qultu : kalau mbah saya dulu, jika cucunya ingin minum kopi / teh panas, maka kopi yang ada didalam cangkir dituang sedikit kedalam pising (biasanya untuk tatakan cangkir) dan dalam waktu yang sekejap airnya menjadi tidak begitu panas, baru diminumkan ke cucu-cucunya.

WAKTU MUHMAL

December 26, 2016 at 3:58 am | Posted in fiqih | Leave a comment
WAKTU MUHMAL
 
Dalam mazhab hanafiy ada istilah terkait dengan waktu sholat yang disebut dengan waktu muhmal secara leterlueck artinya adalah waktu yang diabaikan untuk mengerjakan sholat, atau bahasa gampangnya adalah waktu jeda antara dua sholat. Menurut mereka waktu muhmal tersebut adalah antara waktu sholat Subuh dengan sholat dhuhur, yakni karena akhir waktu Subuh adalah setelah terbit matahari dan awal waktu Dhuhur adalah setelah matahari tergelincir dari zawwalnya. Waktu muhmal ini sepakat para ulama dalam menetapkannya. Adapun waktu muhmal lainnya yakni waktu antara Dhuhur dan Ashar, karena menurut Hanafiyyah akhir waktu dhuhur adalah pada saat panjangan bayangan benda sama dengan panjang bendanya, sedangkan awal waktu Ashar –disisi mereka- yaitu ketika panjangan bayangan benda 2 kali dari panjang bendanya, sehingga terjadi jeda antara waktu panjang bayangan 1 kali bendanya sampai panjang bayangan benda 2 kali panjang bendanya, ini yang dimaksud dengan waktu muhmal kedua bagi mereka.
 
Dan Imam Al-Kasaaniy juga membagi info kepada kita bahwa dalam madzhab Syafi’i akhir waktu Isya adalah sampai sepertiga malam dalam kondisi normal dan sampai tengah malam dalam kondisi safar, sedangkan hanafiyyah menetapkan waktu sholat Isya sampai terbit fajar shidiq alias sampai tiba awal waktu sholat Subuh. Berdasarkan hal ini Syafi’iyyah memiliki waktu muhmal antara akhir Isya sampai dengan awal waktu Subuh.
 
(Badai’u Ash-Shonaai’u juz. 1 hal. 561 & 570, cet. DKI)
Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: