Hukum Taklifiy – Mahdzhuur

November 6, 2017 at 4:10 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Hukum Taklifiy – Mahdzhuur

 

Imamul Haramain berkata :

والمحظور مَا يُثَاب على تَركه ويعاقب على فعله

“dan al-Mahdzhuur adalah apa yang diberikan pahala bagi yang meninggalkannya dan diberikan hukuman bagi yang mengerjakannya”.

***

Continue Reading Hukum Taklifiy – Mahdzhuur…

Advertisements

Mukadimah Waraqaat

October 30, 2017 at 3:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

 

Mukadimah

Imamul Haramain (w. 478 H) berkata :

بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم

هَذِه وَرَقَات تشْتَمل على فُصُول من أصُول الْفِقْه وَذَلِكَ مؤلف من جزأين مفردين أحدهما: الأصول والثاني الفقه

[ini adalah lembaran-lembaran yang berisi pasal-pasal dari (pembahasan) ilmu Ushul Fiqih. (Ushul Fiqih ini) terdiri dari dua bagian yang masing-masing berdiri sendiri, yang pertama Ushul dan yang kedua Fiqih].

*** Continue Reading Mukadimah Waraqaat…

BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT

October 28, 2017 at 4:10 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT

 

Tadi secara tidak sengaja membaca buku Yasin dan pada halaman pertamanya, si penyusun mengatakan diriwayatkan dalam Sunan Darimi dengan sanad yang shahih sampai kepada ‘Athoo` bin Abi Rabaah bahwa beliau berkata :

بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَرَأَ يس فِي صَدْرِ النَّهَارِ، قُضِيَتْ حَوَائِجُهُ»

“telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “barangsiapa yang membaca surat Yasin pada permulaan pagi, maka segala hajatnya akan dipenuhi”.

Continue Reading BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT…

MENJAWAB TITIPAN SALAM

October 19, 2017 at 12:39 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENJAWAB TITIPAN SALAM
Diantara petunjuk Nabi adalah ketika ada orang yang membawakan titipan salam kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan membalas salam orang menitipkan tadi dan juga kepada orang yang dititipi salam. Sebagaimana dalam kitab as-Sunan :

“Seorang menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa bapaknya titip salam untuknya, maka Beliau menjawab :

“Salam juga (dariku) kepadamu dan kepada Bapakmu”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Nasai dalam sunan al-kubro. 

Didhoifkan oleh asy-syaikh Syu’aib Arnauth. 

Al Hafidz ibnu hajar dalam kitabnya “Fathul Bari” (syarah hadits no.  5898) setelah membawakan hadits ini beliau mengambil kesimpulan hukum :

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺒﻠﻎ 

“Disunahkan untuk menjawab salam juga kepada pembawa (pesannya)”

​APAKAH BINATANG DIBANGKITKAN JUGA PADA HARI KIAMAT? 

August 17, 2017 at 3:37 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH BINATANG DIBANGKITKAN JUGA PADA HARI KIAMAT? 
Imam al-Aluusiy dalam kitab tafsirnya yang berjudul “ﺭﻭﺡ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ” ketika menafsirkan Firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat At-Takwir ayat ke-5 :

وَاِذَا الْوُحُوْشُ  حُشِرَتْ 

“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,”.
Al-Imam berkomentar (30/52) :

“Tidak ada dalam bab (dibangkitkannya hewan pada hari kiamat -pent.) itu nash baik dari Kitab dan Sunnah yang bisa ditafsirkan bahwa selain manusia dan jin, seperti hewan akan dikumpulkan pada hari kiamat, hadits Muslim dan Tirmidzi, sekalipun itu shahih namun bukanlah terkait dengan tafsir dari ayat ini, bisa jadi itu adalah kinayah (simbolik) dari keadilan yang sempurna. Pendapat inilah yang aku (Imam al-Aluusiy) condong padanya, walaupun aku tidak memastikan kesalahan orang yang berpendapat (dibangkitkannya hewan pada hari kiamat), karena mereka memiliki sandaran yang layak dijadikan hujjah secara global. Wallahul a’lam -selesai-. 
Apa yang dirajihkan oleh Imam al-Aluusiy bertentangan dengan pendapat Imam Ibnu Jarir ath-thabari, beliau berkata dalam tafsirnya (ayat terakhir surat An-Nabaa’):

وقوله: (ويقول الكافر ياليتني كنت ترابا) يقول تعالى ذكره: ويقول الكافر يومئذ تمنيا لما يلقى من عذاب الله الذي أعده لأصحابه الكافرين به، يا ليتني كنت ترابا كالبهائم التي جعلت ترابا.

“Firman Allah Subhanahu wa ta’ala : {orang-orang kafir berkata, “seandainya aku menjadi tanah”}.

Allah menyebutkan ucapan orang kafir pada hari (pembalasan) yang berharap ketika menghadapi azab Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang kafir, seandainya aku (orang kafir) menjadi tanah, sebagaimana binatang yang dijadikan tanah” -selesai-. 
Kemudian Imam ath-thabari menyampaikan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa binatang juga akan dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari kiamat. 

إذا كان يوم القيامة، مد الأديم، وحشر الدواب والبهائم والوحش، ثم يحصل القصاص بين الدواب، يقتص للشاة الجماء من الشاة القرناء نطحتها، فإذا فرغ من القصاص بين الدواب، قال لها: كوني ترابا، قال: فعند ذلك يقول الكافر: يا ليتني كنت ترابا “.

“Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang, hewan liar, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga ditegakkan keadilan Allah, untuk memindahkan tanduk dari hewan hewan bertanduk ke yang tidak bertanduk (lalu dilakukan qishas). Kemudian Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah tanah.” Di saat itulah orang kafir mengatakan, “Andai aku jadi tanah.” (HR. Hakim 3231 dan dishahihkan ad-Dzahabi).
Binatang tersebut dibangkitkan bukan untuk dihisab amalnya, karena mereka bukan mukallaf (yang terkena beban syariat), tapi untuk menunjukkan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan, sampaipun kedzholiman yang dilakukan oleh binatang. 

ﻟَﺘُﺆَﺩُّﻥَّ ﺍﻟﺤُﻘُﻮﻕَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺎﺩَ ﻟِﻠﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟﺠَﻠْﺤَﺎﺀِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟﻘَﺮْﻧَﺎﺀِ ‏

“Benar-benar hak itu akan ditunaikan kepada yang berhak pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan membalas kambing yang bertanduk (HR. Muslim). 
Jadi sebagian ulama berpendapat bahwa hewan juga akan dibangkitkan pada hari kiamat, namun setelah Allah memberikan kesempatan kepada para binatang untuk saling mengqishosh, lalu Allah menjadikan mereka debu, sehingga orang-orang kafir berharap menjadi seperti binatang pada saat itu, agar mereka lenyap tidak menerima siksaan yang Sudah dipersiapkan bagi mereka, akibat kekafirannya. 
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menyampaikan pendapat yang kedua terkait potongan paling akhir dari ayat ke-40 surat An-Nabaa’, beliau berkata :

وقيل: إنما يود ذلك حين يحكم الله بين الحيوانات التي كانت في الدنيا، فيفصل بينها بحكمه العدل الذي لا يجور، حتى إنه ليقتص للشاة الجماء من القرناء. فإذا فرغ من الحكم بينها قال لها: كوني ترابا، فتصير ترابا. فعند ذلك يقول الكافر: {يا ليتني كنت ترابا} أي: كنت حيوانا فأرجع إلى التراب. وقد ورد معنى هذا في حديث الصور المشهور  وورد فيه آثار عن أبي هريرة، وعبد الله بن عمرو، وغيرهما.

“Menurut pendapat lain, sesungguhnya orang kafir itu berkhayal demikian hanyalah setelah ia menyaksikan peradilan Allah, pada saat menghukumi antara hewan-hewan terhadap kejadian-kejadian yang telah dilakukannya ketika di dunia dengan sesamanya. Maka Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-Nya yang Maha-adil yang tidak ada kecurangan sedikit pun, sehingga kambing yang tidak bertanduk disuruh membalas terhadap kambing yang bertanduk yang dahulu sewaktu di dunia pernah menanduknya. Apabila peradilan telah dilakukan terhadap mereka, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu tanah!” Maka semuanya kembali menjadi tanah. Dan saat itulah orang kafir berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: {“Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.} (An-Naba: 40).

Yaitu mereka berkeinginan seperti hewan, yang dikembalikan menjadi tanah. Hal yang semakna telah disebutkan di dalam hadis sangkakala yang terkenal, sebagaimana telah disebutkan pula dalam asar-asar yang bersumber dari Abu Hurairah, dan Abdullah ibnu Amr serta selain keduanya”.

​BERSERIKAT DALAM HEWAN KURBAN

August 17, 2017 at 3:36 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BERSERIKAT DALAM HEWAN KURBAN
Yang masyhur bahwa untuk Unta dan Sapi dapat ditanggung oleh 7 orang untuk dijadikan kurban. Jadi ada 7 orang yang urunan untuk membeli satu ekor Sapi atau Unta untuk dijadikan hewan kurban. Bahkan jika dari 7 orang tersebut meniatkan bagian dari Sapi atau Unta yang disembelih tersebut untuk selain kurban, misalnya ada yang meniatkan untuk bayar fidyah atau untuk kurban karena haji (al-Hadyu) atau malah sekedar ingin menikmati dagingnya, maka diperbolehkan karena kedudukannya seolah-olah masing-masing mereka membeli seekor kambing, sehingga masing-masing dapat meniatkan bagian dari Sapi atau Unta yang disembelih, sebagaimana jika mereka masing-masing menyembelih Kambing. Ini adalah faedah dari perkataan Imam al-Muzani dalam Mukhtashornya (hal 392-Daarul Ma’rifah, Beirut dengan cetakan yang digabungkan bersama al-Umm Imam Syafi’i dan kitab Mukhtashor berada di Juz yang ke-8 nya). Beliau berkata :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻧَﺤَﺮَ ﺳَﺒْﻌَﺔٌ ﺑَﺪَﻧَﺔً ﺃَﻭْ ﺑَﻘَﺮَﺓً ﻓِﻲ ﺍﻟﻀَّﺤَﺎﻳَﺎ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺖٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﺃَﻭْ ﺷَﺘَّﻰ ﻓَﺴَﻮَﺍﺀٌ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻳُﺠْﺰِﻱ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻣُﻀَﺤِّﻴًﺎ ﻭَﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻣُﻬْﺪِﻳًﺎ ﺃَﻭْ ﻣُﻔْﺘَﺪِﻳًﺎ ﺃَﺟْﺰَﺃَ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺳُﺒُﻊَ ﻛُﻞِّ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﻣَﻘَﺎﻡَ ﺷَﺎﺓٍ ﻣُﻨْﻔَﺮِﺩَﺓٍ، ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺑِﻨَﺼِﻴﺒِﻪِ ﻟَﺤْﻤًﺎ ﻟَﺎ ﺃُﺿْﺤِﻴَّﺔً ﻭَﻟَﺎ ﻫَﺪْﻳًﺎ

Jika 7 orang menyembelih seekor Unta atau Sapi untuk korban atau al-Hadyu (korban kerena haji) baik mereka dari satu anggota keluarga atau lain keluarga, maka sama saja sah kurbannya, sekalipun sebagian ada yang meniatkan untuk kurban, sebagian lagi ada yang untuk hadyu atau fidyah, maka itu cukup. Karena 7 orang tersebut seolah-olah masing-masingnya berkurban seekor Kambing sendiri-sendiri. Demikian juga seadainya ada sebagian yang menginginkan dagingnya, bukan sebagai kurban atau hadyu, (maka sah kurban temannya yang lain –pent.) -selesai-.
Kemudian Imam Nawawi menegaskan bahwa berserikatnya 7 orang untuk berkurban satu ekor Unta atau Sapi adalah pendapatnya mayoritas ulama, kata beliau dalam al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab (8/398-Cet. Daarul Fikr) :

ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻙَ ﺳَﺒْﻌَﺔٌ ﻓِﻲ ﺑَﺪَﻧَﺔٍ ﺃَﻭْ ﺑَﻘَﺮَﺓٍ ﻟِﻠﺘَّﻀْﺤِﻴَﺔِ ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺑَﻴْﺖٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﺃَﻭْ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗِﻴﻦَ ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﻠَّﺤْﻢَ ﻓَﻴُﺠْﺰِﺉُ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻤﺘﻘﺮﺏ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺃﺿﺤﻴﺔ ﻣﻨﺬﻭﺭﺓ ﺃﻭ ﺗَﻄَﻮُّﻋًﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺬْﻫَﺒُﻨَﺎ ﻭَﺑِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻭَﺩَﺍﻭُﺩ ﻭَﺟَﻤَﺎﻫِﻴﺮُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺇﻟَّﺎ ﺃَﻥَّ ﺩَﺍﻭُﺩ ﺟَﻮَّﺯَﻩُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻄَﻮُّﻉِ ﺩُﻭﻥَ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐِ ﻭَﺑِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﺇﻥْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗِﻴﻦَ ﺟَﺎﺯَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎﻟِﻚٌ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺍﻟِﺎﺷْﺘِﺮَﺍﻙُ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪَﺓِ

Boleh untuk berserikat 7 orang untuk satu ekor Unta atau Sapi, sama saja apakah mereka dari satu keluarga atau beda keluarga atau sebagian hanya menginginkan dagingnya, semua itu sah dan sama saja apakah sembelihan ini nadzar atau sunnah. Ini adalah madzhab kami (Syafi’ iyyah-pent.) dan pendapatnya Ahmad, Dawud dan mayoritas ulama, kecuali Dawud hanya membolehkan jika itu adalah sembelihan sunnah bukan wajib.

Sebagian Malikiyyah dan Abu Hanifah berpendapat jika yang berserikat tadi beda keluarga maka baru sah. Adapun Malik berpendapat tidak boleh berserikat secara mutlak, sebagaimana tidak bolehnya berserikat dalam satu ekor Kambing -selesai-.
Dalil madzhab kami (syafi’iyyah) adalah :

1. Hadits Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 1318-cet. Daaru Ihyaa’ it Turots) bahwa beliau Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

ﻧَﺤَﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﺎﻡَ ﺍﻟْﺤُﺪَﻳْﺒِﻴَﺔِ ﺍﻟْﺒَﺪَﻧَﺔَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ، ﻭَﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ

Kami menyembelih bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada tahun Hudaibiyyah, satu ekor unta dari 7 orang dan satu ekor Sapi dari 7 orang.

2. Masih dari Jaabir Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim juga, bahwa beliau Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

ﺧَﺮَﺟْﻨَﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣُﻬِﻠِّﻴﻦَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺞِّ : ‏« ﻓَﺄَﻣَﺮَﻧَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﻧَﺸْﺘَﺮِﻙَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺑِﻞِ ﻭَﺍﻟْﺒَﻘَﺮِ، ﻛُﻞُّ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﻣِﻨَّﺎ ﻓِﻲ ﺑَﺪَﻧَﺔٍ »

Kami pergi bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam keadaan bertalbiyyah untuk haji, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam memerintahkan kami untuk berserikat dalam satu ekor Unta atau Sapi, setiap 7 orang satu ekor Unta.

3. Kemudian Imam Nawawi menukil perkataan Imam Baihaqi yang berkata :

ﻭَﺭَﻭَﻳْﻨَﺎ ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲٍّ ﻭَﺣُﺬَﻳْﻔَﺔَ ﻭَﺃَﺑِﻲ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِﻱِّ ﻭَﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ‏( ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓُ ﻋَﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ )

Kami meriwayatkan dari Ali, Khudzaifah, Abu Mas’ud al-Anshoriy dan Aisyah Rodhiyallahu ‘anhum bahwa mereka berkata : “sapi dari 7 orang”.
Imam Syafi’I dalam al-Umm (2/244-cet. Daarul Ma’ rifah) mengatakan :

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺃَﻗَﻞَّ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﺃَﺟْﺰَﺃَﺕْ ﻋَﻨْﻬُﻢْ

Tidak sah (satu ekor Unta atau Sapi-pent.) untuk lebih dari 7 orang, adapun jika kurang dari 7 orang maka tetap sah -selesai-.
Bahkan Imam Shon’ani dalam Subulus Salam menukil klaim Ibnu Rusydi bahwa terjadi ijma tidak boleh berserikat lebih dari 7 orang, ash-Shon’ani berkata :

ﻭَﺍﺩَّﻋَﻰ ﺍﺑْﻦُ ﺭُﺷْﺪٍ ﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻙَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨُّﺴُﻚِ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ

Ibnu Rusydi mengklaim bahwa telah terjadi ijma (kesepakatan ulama) bahwa tidak boleh berserikat dalam penyembelihan lebih dari 7 orang -selesai-.
Namun klaim Ijma ini batil, karena telah dinukil bahwa untuk Unta bisa disembelih dari urunan 10 orang. Dalilnya adalah sebagai berikut :

1. Hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam

Sunannya (1501) dan selainnya dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam Al Albani bahwa Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻲ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﺤَﻀَﺮَ ﺍﻷَﺿْﺤَﻰ ﻓَﺎﺷْﺘَﺮَﻛْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺒَﻘَﺮَﺓِ ﺳَﺒْﻌَﺔً، ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺒَﻌِﻴﺮِ ﻋَﺸَﺮَﺓً

Kami bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam sebuah perjalan, lalu kami menjumpai hari raya kurban, maka kami berserikat 7 orang untuk satu ekor sapi dan 10 orang untuk satu ekor Unta.

2. Hadits Rufa’I bin Khudaij Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam

Shahihnya (no. 2507) dan Imam Muslim juga dalam Shahihnya (no. 1968) bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

ﺛُﻢَّ ﻋَﺪَﻝَ ﻋَﺸْﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ ﺑِﺠَﺰُﻭﺭٍ

Lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menyamakan 10 ekor kambing dengan satu ekor Unta.
Imam Syaukani ketika menjelaskan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa untuk Unta bisa 10 orang, beliau berkomentar :

ﻓِﻴﻪِ ﺩَﻟِﻴﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺒَﺪَﻧَﺔَ ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﺿْﺤِﻴَّﺔِ ﻋَﻦْ ﻋَﺸَﺮَﺓٍ

Ini dalil bahwa Unta dalam penyembelihan bisa untuk 10 orang -selesai-.
Sebelum Imam Syaukani, salah satu pembesar ulama pada zamannya yaitu Imam Ishaq bin Rohawiyyah juga berkata yang sama, sebagaimana dinukil oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, kata Imam Tirmidzi :

ﻭﻗَﺎﻝَ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕُ : ﻳُﺠْﺰِﺉُ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﺍﻟﺒَﻌِﻴﺮُ ﻋَﻦْ ﻋَﺸَﺮَﺓٍ ﻭَﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺑِﺤَﺪِﻳﺚِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ

Ishaq berkata : ‘sah juga kurban satu ekor sapi dari 10 orang berhujjah dengan hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu’ -selesai-.
Adapun Kambing maka yang rajih hanya berlaku untuk satu orang tidak boleh lebih. Imam Nawawi dalam al-Majmu berkata :

ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﺍﻟﺸَّﺎﺓُ ﻋَﻦْ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﻭَﺍﺣِﺪٍ

Kambing sah untuk satu orang dan tidak sah untuk lebih dari satu orang -selesai-.
Begitu juga apa yang dikatakan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, kata beliau :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ : ﻟَﺎ ﺗُﺠْﺰِﻱ ﺍﻟﺸَّﺎﺓُ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗَﻮْﻝُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺍﻟﻤُﺒَﺎﺭَﻙِ، ﻭَﻏَﻴْﺮِﻩِ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ

Sebagian ulama berkata : ‘tidak sah kambing, kecuali untuk satu orang saja, ini adalah pendapatnya Abdullah bin Mubarok dan selainnya -selesai-.

PERMISALAN MUNAFIQIN DI SURAT AL BAQOROH 1

August 17, 2017 at 3:35 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PERMISALAN MUNAFIQIN DI AWAL-AWAL SURAT AL BAQOROH

bagian 1 Membeli Kesesatan dengan Harga Petunjuk
Allah Subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan orang Munafik di ayat ke-16 dari surat Al Baqarah :

{أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ}

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
Dalam ayat ini terdapat permisalan sikap orang munafik terkait petunjuk dan kesesatan seperti layaknya transaksi jual beli, mereka membeli kesesatan dengan harga petunjuk yang mereka memiliki. Terhadap permisalan ini, ada beberapa versi dari penjelasan ulama kita :

1. Maksudnya si munafik itu mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk. Ini versi yang disebutkan oleh Imam as-Sudiy, ahli tafsir klasik. 

2. Imamul Mufasirin Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu memberikan tafsiran : “Munafiqin adalah mereka yang membeli kekufuran dengan keimanan”.

3. Menurut Imam Mujahid makna yang dimaksud adalah pada mulanya mereka beriman, kemudian kafir. 

4. Imam Qotadah memberikan komentar : “mereka lebih menyukai kesesatan daripada hidayah (petunjuk)”. 

Pendapat Qatadah ini mirip dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْناهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمى عَلَى الْهُدى

Dan adapun kaum Samud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. (Fushshilat 17).
Kemudian Imam Ibnu Katsir membuat resume dari tafsiran  Aimah diatas untuk amstal yang sedang kita bahas :

أن المنافقين عدلوا عن الهدى إلى الضلال، واعتاضوا عن الهدى بالضلال

“orang-orang munafik itu menyimpang dari jalan petunjuk dan menempuh jalan kesesatan, mereka menukar hidayah dengan kesesatan”.
Kemudian maksud dari permisalan :

فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ

“maka tidaklah beruntung perniagaannya”

Yakni apa yang mereka lakukan membarter kesesatan dengan petunjuk adalah suatu transaksi yang tidak menguntungkan sama sekali. 
Sumber : Tafsir Ibnu Katsir.

PENTINGNYA BELAJAR ILMU AMTSAL FIIL QUR’AN

August 17, 2017 at 3:34 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PENTINGNYA BELAJAR ILMU AMTSAL FIIL QUR’AN
Bagi orang yang ingin mengkaji Al Qur’an, maka jangan sampai terlewatkan baginya untuk memahami maksud dari permisalan yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan didalam Al Qur’an. Sebagian ulama salaf berkata :

 ﺇﺫﺍ ﻣﺮ ﺑﻲ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻠﻢ ﺃﻓﻬﻤﻪ ﻋﺰﻳﺖ ﻧﻔﺴﻲ

“Jika aku melewati permisalan dalam Al Qur’an, namun aku tidak paham maksudnya, maka aku berusaha menelusuri (penjelasannya) sebisa mungkin”.
Lalu ada yang menanyakan, “kok bisa?”, ia menjawab : “karena berarti aku bukan orang yang berilmu”. Si penanya berkata,  “bagaimana penjelasannya?”. Jawabnya : “bukankah Allah berfirman :

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۚ  وَمَا  يَعْقِلُهَاۤ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.”

(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 43).

Maka dalam ayat diatas menunjukkan bahwa aku bukanlah orang yang berilmu jika aku tidak paham permisalan dalam Al Qur’an sebagaimana yang dimaksud. 

(http://www.albahre.com/publish/article_5180.php).

BERKURBAN ALA MADZHAB DHOHIRI

August 17, 2017 at 3:34 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BERKURBAN ALA MADZHAB DHOHIRI
Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) pembawa bendera madzhab dhohiri, beliau berkata dalam kitabnya “al-Muhalla” (masalah no. 977 vol. 6 hal 29-30, cet. Daarul Fikr) :

ﻭَﺍﻟْﺄُﺿْﺤِﻴَّﺔُ ﺟَﺎﺋِﺰَﺓٌ ﺑِﻜُﻞِّ ﺣَﻴَﻮَﺍﻥٍ ﻳُﺆْﻛَﻞُ ﻟَﺤْﻤُﻪُ ﻣِﻦْ ﺫِﻱ ﺃَﺭْﺑَﻊٍ، ﺃَﻭْ ﻃَﺎﺋِﺮٍ، ﻛَﺎﻟْﻔَﺮَﺱِ، ﻭَﺍﻟْﺈِﺑِﻞِ، ﻭَﺑَﻘَﺮِ ﺍﻟْﻮَﺣْﺶِ، ﻭَﺍﻟﺪِّﻳﻚِ، ﻭَﺳَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥِ ﺍﻟْﺤَﻠَﺎﻝِ ﺃَﻛْﻠُﻪُ، ﻭَﺍﻟْﺄَﻓْﻀَﻞُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺎ ﻃَﺎﺏَ ﻟَﺤْﻤُﻪُ ﻭَﻛَﺜُﺮَ ﻭَﻏَﻠَﺎ ﺛَﻤَﻨُﻪُ .

“berkurban itu boleh dengan seluruh hewan yang dapat dimakan dagingnya, baik hewan berkaki empat atau unggas, misalnya berkurban dengan Kuda, Unta, Sapi, Keledai, Ayam, dan seluruh unggas lainnya yang dagingnya halal dimakan. Namun yang terbaik adalah yang paling bagus, banyak dan mahal dagingnya” -selesai-.
Dalil yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hazm adalah 2 atsar dari Bilal dan Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhumaa. Kedua atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Imam Abdur Rozaq dalam kitab “al-Mushonaf”. Yang pertama Imam Abdur Rozaq menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Suwaid bin Ghoflah beliau berkata :

ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺑِﻠَﺎﻟًﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ‏« ﻣَﺎ ﺃُﺑَﺎﻟِﻲ ﻟَﻮْ ﺿَﺤَّﻴْﺖُ ﺑِﺪِﻳﻚٍ

“aku mendengar Bilaal rodhiyallahu ‘anhu berkata, “aku tidak peduli, seandainya aku berkurban dengan seekor Ayam Jantan”.
Adapun atsar Ibnu Abbas, Imam Abdur Rozaq menulis sanadnya sampai kepada Abu Ma’syar :

ﻋَﻦْ ﺭَﺟُﻞٍ، ﻣَﻮْﻟًﻰ ﻟِﺎﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﺭْﺳَﻠَﻨِﻲ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺃَﺷْﺘَﺮِﻱ ﻟَﻪُ ﻟَﺤْﻤًﺎ ﺑِﺪِﺭْﻫَﻤَﻴْﻦِ، ﻭَﻗَﺎﻝَ : ‏« ﻗُﻞْ ﻫَﺬِﻩِ ﺿَﺤِﻴَّﺔُ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ »

“dari seorang laki-laki –Maula ibnu Abbas- beliau berkata : “Ibnu Abbas mengutusku untuk membeli daging seharga 2 dirham, lalu beliau berkata : “katakanlah ini adalah kurban dari Ibnu Abbas”.
Sekalipun pendapat Imam Ibnu Hazm menyelisi jumhur ulama, namun beberapa ulama kontemporer seperti DR. Sa’aduddiin al-Hilali, dosen Fiqih perbandingan universitas al-Azhar, Mesir pernah memfatwakan kebolehan menyembelih ayam bagi orang-orang miskin pada hari kurban. Fatwa ini didukung oleh DR. Abdul Hamiid, mantan ketua lajnah fatwa Al Alzhar, alasannya untuk mempermudah kaum Muslimin. Lihat beritanya disini :

http://www.youm7.com/story/2015/9/20
bahkan ada seorang ikhwan di forum multaqo ahlu hadits mendengar DR. Umar Abdul Kaafiy dalam ceramahnya mengatakan bahwa Imam Abu Yusuf –sahabatnya Imam Abu Hanifah – pernah hendak berkurban dengan seekor ayam jantan.

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-26152.html
monggo bagi yang dananya terbatas, barangkali mau mengaplikasikan madzhab dhohiri….

KHISYU’ DALAM SHOLAT BUKANLAH RUKUN

August 17, 2017 at 3:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KHUSYU DALAM SHOLAT BUKANLAH RUKUN
Khusyu’ yaitu menghadirkan hati didalam sholat itu dianjurkan menurut mayoritas ulama, sholat tidak batal dan tidak perlu diulangi jika tidak khusyu’.  (http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=178795)
Imam Nawawi dalam “al-Majmu” (4/102) berkata :

يستحب الخشوع في الصلاة والخضوع وتدبر قراءتها وأذكارها وما يتعلق بها والإعراض عن الفكر فيما لا يتعلق بها فإن فكر في غيرها وأكثر من الفكر لم تبطل صلاته لكن يكره سواء كان فكره في مباح أو حرام كشرب الخمر

“Dianjurkan untuk khusyu’ dan menundukkan diri didalam sholat, merenungi bacaan dan dzikir serta hal-hal yang berkaitan dengan sholat. Menjauhi memikirkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan sholat. 

Jika ia memikirkan sesuatu diluar sholat dan banyak berpikir, tidaklah membatalkan sholat, namun hal tersebut dimakruhkan, sama saja ia memikirkan sesuatu yang sifatnya mubah atau yang haram seperti minum minuman keras…”
Dalilnya adalah hadits Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan pakaian yang ada tandanya. Kemudian beliau bersabda:

ﺷَﻐَﻠَﺘْﻨِﻲْ ﺃَﻋْﻼَﻡُ ﻫﺬِﻩِ، ﺍِﺫْﻫَﺒُﻮْﺍ ﺑِﻬَـﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑِﻲْ ﺟَﻬْﻢٍ، ﻭَﺃْﺗُﻮْﻧِـﻲْ ﺑِﺄَﻧْﺒِﺠَﺎﻧِﻴَّﺔِ .

“Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku. Bawalah ia ke Abu Jahm dan bawakan aku anbijaniyyah (pakaian tebal dari wol yang tidak ada tandanya).” (Muttafaqun alaih). 
Sisi pendalilannya memikirkan sesuatu diluar sholat, tidak membatalkan sholat, karena dalam hadits diatas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sempat terpikirkan baju yang memiliki tanda tersebut.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: