REZEKI ANAK SHOLIH

February 11, 2018 at 1:57 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

REZEKI ANAK SHOLIH

Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad an-Ni’mah -Khothib masjid Muhammad bin Abdul Wahab- menegaskan dalam salah satu khutbah Jum’at nya :
أن بر الوالدين يفتح أبواب الرزق والسعادة وطول العمر ويمنع البلاء والمصائب
“Bahwa berbakti kepada kedua orang tua bisa membuka pintu-pintu Rizki, kebahagian, panjang umur, terhalang dari ujian dan musibah-musibah”.

Kemudian asy-syaikh menjelaskannya dalam khutbahnya tersebut. Diantara dalil yang beliau sitir adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
ﻻ ﻳَﺠْﺰِﻱ ﻭَﻟَﺪٌ ﻭَﺍﻟِﺪَﻩُ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳَﺠِﺪَﻩُ ﻣَﻤْﻠُﻮﻛًﺎ ﻓَﻴَﺸْﺘَﺮِﻳَﻪُ ﻓَﻴُﻌْﺘِﻘَﻪُ
“Tidak akan seorang anak membalas jasa orang tuanya kecuali jika ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu membelinya dan memerdekakannya”.

Ini artinya sebenarnya balas Budi seorang anak kepada orang tuanya tidak bisa sebanding dengan jasa orang tuanya yang telah membesarkannya.
(http://islam.assawsana.com/pages.php?newsid=6065).

Dalil yang menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua akan dilapangkan rizkinya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺴَﻂَ ﻟَﻪُ ﻓﻲ ﺭِﺯْﻗِﻪِ ، ﺃَﻭْ ﻳُﻨْﺴَﺄَ ﻟَﻪُ ﻓﻲ ﺃَﺛَﺮِﻩِ ، ﻓَﻠْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ‏
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya atau ditangguhkan ajalnya, maka hendaknya untuk menyambung tali silaturahmi” (Muttafaqun alaih).

Dalam lafadz al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-hakim :
ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﻤِﺪَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﻋُﻤُﺮِﻩِ ﻭَﻳُﻮَﺳِّﻊَ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺭِﺯْﻗِﻪِ ﻭَﻳَﺪْﻓَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﻴْﺘَﺔَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ
“Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya oleh Allah, diluaskan rizkinya, dan dihindarkan dari su’ul khotimah, maka hendaknya bertakwa kepada Allah dan menyambung tali silaturahmi”.

Advertisements

AKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT (Bagian 02)

February 8, 2018 at 12:43 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT
(Bagian 02)

Imam Abu asy-Syaikh (w. 369 H) meriwayatkan dalam kitabnya “Akhlaq an-Nabiy wa Adaabuhu” (no. 811), sebagaimana disinggung oleh asy-Syaikh Nabiil Hafidzahullah dengan sanadnya sebagai berikut :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ دَاوُدَ بْنِ مَنْصُورٍ، نَا عُثْمَانُ بْنُ خُرَّزَاذَ، نَا الْعَبَّاسُ بْنُ عُثْمَانَ الرَّاهِبِيُّ، نَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رَوَّادٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ
“….dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُصُّ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam biasa memotong kukunya pada hari Jum’at”.

Semua perowinya tsiqoh, namun disini ada al-Waliid bin Muslim seorang perowi yang banyak melakukan tadlis taswiyyah, sehingga haditsnya dapat diterima oleh sebagian ulama hadits ketika ia menjelaskan aktivitas periwayatannya dan dalam sanad ini al-Waliid tidak menjelaskannya karena beliau meriwayatkan dengan ‘an’anah, sehingga sanad ini dhoif.

Bahkan yang mendukung kedhoifannya, hadits diatas yang shahih diriwayatkan secara mauquf dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana ditulis sanadnya oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya “as-Sunan al-Kubro” (no. 5964) :
أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ الْحَسَنِ، وَأَبُو زَكَرِيَّا بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ هُوَ الْأَصَمُّ، ثنا بَحْرُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ: قُرِئَ عَلَى ابْنِ وَهْبٍ: أَخْبَرَكَ حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْأَشَجِّ، عَنْ نَافِعٍ،
“….dari Naafi’ bahwa :
أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ، ” كَانَ يُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ وَيَقُصُّ شَارِبَهُ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ ”
Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu biasa memotong kukunya dan memangkas kumisnya setiap hari Jum’at”.

Para perowi dalam sanad diatas semuanya tsiqoh, kecuali Bakr bin Umar, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, Bakr ini adalah Imam Masjid Jaami di Mesir pada waktu itu dan dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim, sehingga al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam adz-Dzahabi memberinya penilaian shoduq untuknya, yang mengisyaratkan bahwa haditsnya adalah hasan.

Namun dalam riwayat Imam Bukhori di kitabnya “al-Adaab al-Mufrood” (no. 1258) bahwa Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu biasa memotong Kukunya tiap tanggal 14 malam tiap bulannya, sebagai berikut :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي رَوَّادٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يُقَلِّمُ أَظَافِيرَهُ فِي كُلِّ خَمْسَ عَشْرَةَ لَيْلَةً، وَيَسْتَحِدُّ فِي كُلِّ شَهْرٍ
“dari Naafi, bahwa Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu biasa memotong kukunya pada tiap tanggal 14 malam dan membatasinya tiap bulannya”.

Pentahqiq kitab diatas, yakni Imam al-Albani memberikan penilaian shahih untuk atsar ini, sekaligus juga menunjukkan riwayat yang marfu’ dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu sebagaimana diatas tidaklah shahih. Wallahu a’lam.

Bersambung Insya Allah…

​APAKAH ADA SAHABAT YANG TERLIBAT DIDALAM PEMBUNUHAN TERHADAP UTSMAN BIN ‘AFFAN? 

February 2, 2018 at 9:52 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH ADA SAHABAT YANG TERLIBAT DIDALAM PEMBUNUHAN TERHADAP UTSMAN BIN ‘AFFAN? 


ada seorang yang berkomentar di blog kami bahwa shohabi Jaliil ‘Ammar bin Yassar radhiyallahu anhu terlibat pembunuhan terhadap Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Maka secara refleks saya langsung menanggapi bahwa ini adalah komentar yang sangat ngawur sekali. 
Para ulama islam yang memiliki kredibilitas yang tinggi dalam sejarah, telah memastikan tidak ada satu orang pun sahabat Nabi radhiyallahu anhum yang terlibat didalam pembunuhan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. 
asy-syaikh Muhammad al-Munajid menginformasikan kepada kita sebagian pernyataan ulama diatas, diantaranya :

1. Imam ibnu Katsir berkata :

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺃﺳﻠﻤﻪ ﻭﺭﺿﻲ ﺑﻘﺘﻠﻪ : ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺼﺢ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺃﻧﻪ ﺭﺿﻲ ﺑﻘﺘﻞ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺑﻞ ﻛﻠﻬﻢ ﻛﺮﻫﻪ ، ﻭﻣﻘﺘﻪ ، ﻭﺳﺐَّ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻪ .”

ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ” ‏( 7 / 221 ‏) 

“Adapun yang disebutkan sebagian orang bahwa ada beberapa sahabat yang Ridho dengan pembunuhan Utsman, maka ini tidak valid dari salah seorang sahabat pun bahwa mereka Ridho dengan pembunuhan beliau, bahkan faktanya mereka tidak suka, marah dan mengecam pelakunya”.

2. Imam Nawawi berkata :

” ﻭﻟﻢ ﻳﺸﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﻗﺘﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺷﺮﺡ ﻣﺴﻠﻢ ” ‏( 15 / 148 ‏) 

“Tidak satu orang sahabat pun yang berserikat dalam pembunuhan Utsman”.

3. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad berkata :

” ﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺷﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﻗﺘﻞ ﻋﺜﻤﺎﻥ ” .

ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺷﺮﺡ ﺳﻨﻦ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ” ‏( ﺷﺮﻳﻂ ﺭﻗﻢ 239 ‏) 

“Kami tidak mengetahui satu orang sahabat pun yang terlibat didalam pembunuhan Utsman “.
Intinya adalah bahwa tidak ada satu orang sahabat Rasulullah yang terlibat didalam pembunuhan Utsman, bahkan mereka mengecam keras pembunuhan tersebut dan terjadilah apa yang terjadi dari rentetan peristiwa-peristiwa sejarah setelah finah pembunuhan Utsman bin Affan secara zalim. 
Terdapat sebuah karya tulis yang menarik dari salah seorang dosen sejarah Universitas Islam Madinah yakni DR. Muhammad bin Abdillah al-Ghobbaan, terkait peristiwa seputar pembunuhan Utsman. Beliau menguji riwayat-riwayat yang menggambarkan fitnah ini, disertai kritikan terhadap validitasnya. Kitab ini bahkan menurut info asy-syaikh al-Munajid pernah didiskusikan secara ilmiah dengan al-‘Alamah Muhammad Nashiruddin al-albani rahimahullah. 
Bagi yang ingin menelaah kitab diatas dapat memilikinya dengan mengunduhnya di : http://waqfeya.com/book.php?bid=1103
Adapun Informasi lengkap asy-syaikh al-Munajid diatas, dapat dilihat di : https://islamqa.info/ar/239015

January 9, 2018 at 12:14 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Kitab Bersuci

Bab 1   
Terjemahan :
Akhbaronaa Ar Robii’ bin Sulaiman ia berkata, akhbaronaa Imam Syafi’I rohimahulloh beliau berkata : Allah berfirman : {Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu} (QS. Al Maidah (5) : 6). Ayat ini menjelaskan kepada (kaum Mukminin) yang diajak bicara bahwa cucian mereka hanyalah dengan menggunakan air, kemudian ayat ini juga menjelaskan bahwa mencuci itu dengan air. adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh kaum mukminin yang diajak bicara bahwa air yang dimaksud disini adalah air yang Allah ciptakan yang belum dikontaminasi oleh manusia. Air tersebut adalah umum mencakup air hujan, air sungai, air sumur, air telaga, air laut yang sangat asin, semuanya dapat digunakan untuk bersuci baik untuk berwudhu maupun mandi. Dhohirnya Al Qur’an menunjukkan bahwa semua air tersebut suci, termasuk air laut dan selainnya. Telah diriwayatkan dari Nabi tentang air laut yang sesuai dengan dhohir Al Qur’an, namun dalam sanadnya terdapat perowi yang tidak dikenal.

 
Ta’liqiy :
Yang dimaksud oleh Imam Syafi’I adalah bahwa asal dari air yang Allah ciptakan baik yang diturunkan dari langit atau yang dipancarkan diatas muka bumi adalah suci. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
p 56 1R oL 8. CL . A   > 28 7D..,>1+.
“dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS. Al Furqoon (25) : 48).
Dan sabda Nabi  :
tL>”.u &6 rs76/. 1 q 56 1R 9L . D 4 =

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajisinya”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, dishahihkan oleh Imam Ahmad).
Yang dimaksud oleh Imam Syafi’I bahwa ada hadits yang sesuai kandungannya dengan Ayat diatas adalah hadits tentang air laut, didalam sanadnya terdapat perowi yang tidak beliau kenal yaitu Said bin Salamah dan Al Mughiroh bin Abi Burdah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya dan Imam Adz-Dzhahabi dalam Talkhisnya terhadap Mustadrok Imam Al Hakim. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut yang akan disampaikan oleh Imamunaa Syafi’I

 8 5G+ W`   z     kXT    x yY     :  8 )*  M      H #   –         5w^  – v  8     (“#$ %     ) Q      =    5    / :  Z$    + &  –   @ ^ m7   )*   g   5Z/ &7-   “h    / G    | &   W     H   {  )•  W€ 8  5     5G ”    + &  –   @ ^ m7     Z$  J\   L • gh5 7$  7% – &    gh5(  ~$ L T   8 )  Z    7#8+  J\   ” &   8
Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, Akhbaronaa Malik dari Shofwan bin Saliim dari Sa’id bin Salamah dari keluarga Ibnul Azraq, bahwa Al Mughiroh bin Abi Bardah dari bani Ad Daar mengabarkan, bahwa ia mendengar Abu Huroiroh berkata : ‘seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah . ‘wahai Rasulullah kami biasa mengarungi lautan, bekal air kami sedikit, jika kami gunakan untuk berwudhu, kami akan kehausan, apakah kami dapat berwudhu dengan air laut?. Maka Nabi bersabda : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”.

 

Ta’liqiy :
Riwayat ini shahih, dishahihkan oleh sejumlah ulama seperti Imam Bukhori sebagaimana diceritakan oleh Imam Tirmidzi, berkata Imam Tirmidzi : saya bertanya

 
kepada Muhammad bin Ismail Al Bukhori tentang hadits ini, Beliau berkata : Hadits Shohih. (Subulus Salam 1/20). Kemudian Imam Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata : ‘Ini adalah Hadits Hasan Shohih’. Imam Ibnu Khuzaimah beliau memasukkan hadits ini dalam shohihnya, Imam Ibnu Abdil Bar, Imam Mundziri, Imam Ibnu Mandah, dan Imam Al Baghowi (lihat Talkhis Khabir 1/10).
Adapun dua orang perowi yang dikatakan oleh Imam Syafi’I sebagai perowi yang majhul, berikut adalah biografi kedua perowi tersebut :
1. Sa’id bin Salamah Al Makhzumi dari Bani Al Azroq, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot (6/364), begitu juga Imam Nasa’I mentsiqohkannya (lihat Tahdizbut Tahzdib no. 67).
2. Al Mughiroh bin Abi Burdah (w. >100 H) ada yang mengatakan namanya Ibnu Abdulloh bin Al Mughiroh bin Abi Burdah ada yang mengatakan lagi namanya adalah Abdulloh bin Al Mughiroh bin Abi Burdah, telah berlalu penilaian Majhul dari Imam Syafi’I, dan yang benar beliau tidak majhul dikarenakan sejumlah rowi tsiqoh meriwayatkannya dan dalam Tarikh Ya’qub bin Sufyan dari Yahya bin Bukair dari Al Laits ia berkata : ‘pada tahun seratus Al Mughiroh bin Abi Burdah berangkat menjadi tentara perang ke Afrika’, Berkata Abdulloh bin Abi Sholih : ‘saya bersama Al Mughiroh pada peperangan di konstatinopel, dan beliau adalah seorang yang banyak shodaqoh, setiap orang yang meminta tidak pernah ditolak, Bahkan Imam Ali bin Madini memastikan bahwa Al Mughiroh bin Abi Burdah dari Bani Abdud Daar mendengar dari Abu Huroiroh dan tidaklah ia mendengar darinya kecuali hadits ini. Imam Abu Dawud pun menilainya : Ma’ruf (dikenal), kemudian beliau juga mendapatkan penilaian tsiqoh dari Imam Nasa’I dan Imam Ibnu Hibban (lihat Tahdzibul kamal serta Tahdzibut Tahdzib).

–   / G z  – ”   w   H7G z  –    5ƒ H #  – – ,/,#   H\- – H ‚   G   = (“#$ %   ) ” W  R d$  J\   W   / „  8 ”    + &  – @ ^ m7  

Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, Akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Abdul Aziz bin Umar dari Sa’id bin Tsaubaan dari Abi Hind Al Faroosiy dari Abu Huroiroh dari Nabi Beliau bersabda : “Barangsiapa yang air laut tidak mau digunakan untuk bersuci, maka Allah tidak akan mensucikanya”.

 
Ta’liqiy :
Riwayat didhoifkan oleh Imam Al Albani dalam “Dhoif Jaami’us Shoghiir” (no.
5843).

L 8+ Q/;  ‡ ƒ +  `    8 L 8 )  L 5 + H #B   V +  & $ Y=  5 R Y+ M  † &   … „  8  5 R L T  )F$ (“#$ %     ) H/y  – H ‚     G   =       M   (“#$ %     ) L T  ‰s7( Y   7  +   7       R &  L T   Y  ˆ 8 kE+  ˆ 8 &  gh5 /+ &  )  X $ L T  &   ˆ /    &7-   “h     Š      –   &     –
Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, setiap air itu suci selama tidak bercampur dengan najis. Tidak ada alat yang dapat digunakan untuk bersuci selain air dan debu. (Kesucian ini tidak berbeda) sama saja baik ia air dingin , air salju yang membeku, air (panas) yang dipanaskan atau tidak dipanaskan (secara sengaja), karena air suci dan api juga suci tidak membuat air menjadi najis.
Imam Syafi’I berkata, akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Zaid bin Aslam dari Bapaknya bahwa Umar bin Khothob memasak air, lalu mandi dan berwudhu menggunakan air tersebut.

Ta’liqiy :
hadits ini dishahihkan oleh Imam Daruquthni, Al Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Al Albani, dengan mempertimbangkan penguat-penguanya. Karena Ibrohim bin Muhammad guru Imam Syafi’I ini, dilemahkan oleh para ulama seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Ibnul Mubarok, Imam Ibnu Ma’in, Imam Yahya bin Sa’id Al Qohthon, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Hibban, Imam Al Hakim, Imam Daruquthni dan selainya. Namun Imam Syafi’I banyak berhujjah dengan riwayatnya, mungkin beliau beranggapan bahwa celaan ulama jarh wa ta’dil kepadanya adalah disebabkan keyakinan yang ada pada dirinya, karena Ibrohim ini sebagaimana disifati Imam Ahmad sebagai Qodariy, Mu’taziliy dan Jahmiy semua musibah ada padanya. Sedangkan dalam ilmu hadits kemungkinan Imam Syafi’I berpendapat ia seorang yang jujur. Wallohu a’lam.

– H\- M H^ – H ‚   G   = (“#$ %   ) Q    M *  8 Y= ‰ %T  L T  W    Y+ (“#$ %   ) Œ    ‹ 5/ & = :   + ‰ %T  L T       EY  W F/ – H\-    * – k ,   z 

 

Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, aku tidak membenci air Musyamas (yang dipanaskan dengan sinar matahari) kecuali dari sisi kesehatan. Imam Syafi’I berkata, akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Shodaqoh bin Abdullah dari Abuz Zubair dari Jaabir bin Abdullah bahwa Umar membenci mandi menggunakan air yang dipanaskan dengan sinar matahari lalu berkata, hal ini dapat menyebabkan penyakit kusta.

Ta’liqiy :
Hadits ini selain berasal dari riwayat mauquf Umar Ibnul Khothob, juga datang secara marfu’ dari Aisyah dan Anas bin Malik . Namun semua jalan-jalannya lemah. Sejumlah ulama melemahkan hadits-hadits berkaitan dengan bab ini seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, Imam Al Albani dan selainnya, bahkan Imam Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan bahwa hadits-hadits tentang ini lemah semuanya berdasarkan kesepakatan ahli hadits.
Sebenarnya Imam Syafi’I telah mengisyaratkan kelemahan riwayat ini, karena beliau tidak suka menggunakan air Musyamas bukan karena hadits ini, namun karena menurut beliau, air tersebut dapat menyebabkan penyakit, maka beliau memandangnya dari sisi kesehatan. Akan tetapi pendapat yang kuat bahwa air itu tetap suci dan dugaan air tersebut dapat menyebabkan penyakit telah dikonfirmasi oleh Imam Ibnu Qudamah dalam “Al Mughni” dengan perkataannya :
< . AŽ  “2$ pk2ƒDg(. v2.132 1 5?$< >#/. 1 > 6 A1 rQ•  )>G1< > -. “2.F6 +.
“dinukil dari para dokter bahwa mereka tidak mengetahui air musyamas dapat menyebabkan kemudhorotan”.
Begitu juga Imam Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan :
& $ MG   Y & g ’,“   5B $ ‘u & $ L \RY  – •\•/ „+ & G F )^ Y ‰ %T    3G  8 )BJ$
“kesimpulannya bahwa air Musyamas tidak ada dasar pe-makruh-annya dan tidak ada ketetapan dari para dokter sedikit pun, maka yang benar dan pasti bahwa air tersebut tidak makruh”.
Dalam tempat lain masih dalam kitab yang sama, Imam Nawawi berkata :
5G MG   Y &  5  “ + `+ `+ H  + Mw 7  z + v 8 QG38+ :”#$ %  ’d  5G 8+ M g  T V WHZ #  8 3 $
ˆT
“ini adalah yang kami yakini dalam masalah ini berkaitan pendapat Imam syafi’I dimana madzhab Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan Dawud (dhohiri) serta Jumhur bahwa air musyamas tidak makruh sebagaimana pendapat yang terpilih”.

 

W B –  8 8g$ ’ ” ‰s7  S= ‰s7      7 + ‰ % + &    ‰s7 Y= ‰s7/ Y+      @ – L T (“#$ %    ) @ –  Z/ Y & Y  5 R  5F/ Y • + Y c +; `  * L 8 v 3 +  5 R  5F/ d$ WkE + ` +  su L 8  8  5 8`N +,*  — 5 v 3 + 3  H  *+ 3  )Bw8 L 8+ 3   su L 8+ ` + L 8 –#• L 8 :&   Z/ S= L 8    3G  8 H  + L 8+ ˜   L 8  Z/ WkE ‘u ‘= M$ hY  Y= L T    & –  Z/ Y 3G  Y  5 R  F/ „ L 8 &78  B – $  u   3  + 3G  8 › “% gh5 /   ™,š d$ 3 + 3   su L 8+ ` + L 8  Z/    )Bw8
Terjemahan :
Al Imam berkata, Air itu tetap diatas kesuciannya, tidaklah ia menjadi najis kecuali jika najis mencampurinya. Sinar matahari dan api bukanlah benda najis. Hanyalah najis sesuatu yang diharamkan (Syariat). Adapun apa yang dimanfaatkan oleh manusia, seperti air pohon, air bunga, air kismis atau yang semisalnya, maka tidak dapat digunakan untuk bersuci. Demikian juga air yang berasal dari jasad manusia yang sudah meninggal dunia, tidak dapat digunakan untuk bersuci. Karena jenis air diatas tidak disebut secara mutlak sebagai air. Hanyalah ia dinamakan air dengan maksud yang disandarkan kepada bendanya, seperti air pohon, air bunga dan semisalnya. Dan air adalah benda yang terpisah, demikian juga jasad dan seperti orang yang menebang suatu bunga kemudian menggunakan zat wanginya, lalu memanfaatkan airnya, maka ini juga tidak dapat digunakan untuk bersuci, karena ini tidak dapat disebut sebagai air mutlak, melainkan harus disebut dengan sesuatu yang disandarkan kepadanya. Maka dikatakan air Kirsyi, air Mufshol (kismis) kedudukannya seperti air bunga, air pohon dan semisalnya. Maka semua itu tidak dapat digunakan untuk berwudhu (bersuci).
Ta’liqiy :
Imam Syafi’I disini membagi air menjadi 3 jenis yaitu :
1. Air Mutlak, yaitu air yang masih tetap dalam penciptaannya, maka ia suci dan mensucikan.
2. Air yang bercampur dengan najis dan merubah salah satu sifat air yaitu bau, warna dan rasanya. Maka air tersebut berubah menjadi najis. Telah datang hadits yang menunjukan hal ini yaitu sabda Beliau :

 
&6 rs76/. 1 9L . D 4 = } . 4. +. 2&>1.- 6&4  @4^. 2&4  ? 56 .    :    6&>7-. 6&4  .”2h. r”22G \D. 1M.8 8?. “<1 > .-.+ KL . D } r”2Z. >\D.2+. ¡  2( . 561 6&1wA#.h.+ • >&.* 8. 6 > 6&.*. > 1 { 2&<>51+. &2 >#1R+. &2ž< @1-. .Q11E .8 4= • tL>”.u { & $2 ?‹6H>J.( ¢M. s.7<. • &6>51 >+1 • &6 >#1R >+1 • &6ž< . A.X.( D = 4= q 56 1R

“Dari Abu Umamah Al Bahiliy ia berkata, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang menajiskannya, kecuali jika merubah bau, rasa dan warnanya”. (HR. Ibnu Majah dan didhoifkan oleh Imam Abu Hatim)
Dalam riwayat Baihaqi, Nabi bersabda : “Air itu suci, kecuali jika berubah bau, rasa dan warnanya dengan najis yang jatuh kepadanya”.
Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” mengomentari hadits ini dengan perkataannya :
. 4. .+ 2&>1.- 6&4  @4^. r”<\A7  > .- l+>. 6/ • p <s.  1 &6>51 +1> &6ž< >+1 CL . D 6 >#1R . A.X.( 1;= 6&A1 > 28 •D  .8 : 0″2#2$ A%    .+ 1 CL 7D•2.> 2 2M./ +<. 6¤ 2#>Ž(. 6` . 6 D +. . &2w 2#>Ž(. @1-. 1 5?ƒrHJ6. D .I1wA( : 0™<+5A7.    .+ . 6&1D•28 n/2HJD. ?)>G1 •<\D•6/ 1 ¢&>*.+ > 28 ”    . . 2 DF6J< < >51ZD @1-. KL . 16#D  2 >s6/ >H1 ?.` ./r,  W23G. > 2F1+. • 1M.- .Ž6  ¥D< n/2H. “2$ .•.\1ƒ >H1 6&A<~1$ • n/2HJD. <)>^1 56. $1 pž< +1> p>51 +1> p >#1R &16 c>. AX1.$ M¦. s.. & $2 •>#1. +. 1;= k2•1FD. +. ) 21ZD L9 . D 4 1 @1-. LK . 16#D . . >*1 : ” < 23>76 D 6 > ?`. /r,.  W23G. 1 • &2$ ^>+1. H6. 1 . AX.(. 8. M2. s.. @1-. )? 2AH  56G. ¨6 . >*<~D $1 § ‰<sq.
“Imam Syafi’I berkata : ‘aku tidak berpendapat bahwa air jika berubah rasa, bau dan warnanya (karena najis) itu berubah menjadi najis, berdasarkan hadits dari Nabi karena haditsnya tidak kuat menurut ulama hadits’. Imam Nawawi berkata : ‘Para ulama ahli hadits sepekat atas kedhoifanya’. Yang dimaksud dengan riwayat dhoif adalah riwayat pengecualiannya, bukan asal hadits, karena telah shahih dalam hadits sumur Budhoah, namum tambahan inilah yang disepekati ulama tentang hukumnya (yaitu dhoif)’. Imam Ibnul Mudzir berkata : ‘para ulama sepakat bahwa air yang sedikit atau banyak jika jatuh najis kepadanya, lalu merubah salah satu sifatnya yaitu, rasa, warna atau baunya maka air tersebut najis. Maka ijma ulama adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya, bukan berdasarkan riwayat tambahan ini”.
3. Air yang Muqoyyad (yang terikat), yakni ia tidak disebut nama air, kecuali harus disandarkan kepada sesuatu, seperti air bunga, air buah dan semisalnya. Atau air mutlak yang telah hilang kemutlakannya karena tercampuri dengan benda suci lainnya, kemudian mendominasinya, seperti air kopi, air teh dan semisalnya. Hukumnya air tersebut suci, tapi tidak dapat digunakan untuk bersuci.

​SHOLAT SUNAH BENCANA ALAM

December 15, 2017 at 6:45 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SHOLAT SUNAH BENCANA ALAM
Sebagian ulama mensunahkan dilaksanakannya sholat ketika bencana alam, dengan tatacara seperti pelaksanaan sholat gerhana. Diantara mereka yang berpendapat seperti itu adalah sebagian ulama Syafi’iyyah, Hanabilah dan selainnya. Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dirajihkan oleh Al-‘Alamah Ibnu Utsaimin.
Dalil mereka adalah perbuatan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu yang pernah melaksanakan sholat karena terjadi gempa bumi sewaktu beliau berada di Bashroh. Imam Abdur Rozaq dalam Al-Mushonaf (no. 4929) dan Imam Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro (no. 6382) meriwayatkan juga dari jalannya sampai kepada Imam Abdur Rozaq, kemudian Imam Abdur Rozaq menulis jalannya sebagai berikut :

عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، وَعَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّهُ صَلَّى فِي الزَّلْزَلَةِ بِالْبَصْرَةِ

“dari Ma’mar, dari Qotadah, dari ‘Aashim Al-Ahwal, dari Abdullah bin Al-Harits, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah sholat karena gempa bumi di Bashroh…”.

Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

هَكَذَا صَلَاةُ الْآيَاتِ

“demikian tatacara sholat Al-Ayaat”

Yakni beliau melakukan tatacara sholat sebagaimana tatacara sholat gerhana, dan memang dalam beberapa riwayat, para sahabat menyebut sholat gerhana dengan sholat Al-Ayaat, yakni sholat yang dilakukan karena terjadi tanda-tanda alam. Atsar Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Barangkali Ibnu Abbas memahami bahwa jika terjadi tanda-tanda alam yang jarang terjadi, seperti gerhana, maka disyariatkan sholat padanya, dan kebetulan sewaktu beliau di Bashroh terjadi gempa bumi, dan beliau memahami ini adalah tanda alam juga yang menjadi sebab disyariatkannya sholat.
Memang benar bahwa tidak dinukil dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam pernah melaksanakan sholat bencana, namun ulama-ulama diatas memahami bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak melaksanakan sholat tersebut, karena memang pada zamannya tidak pernah terjadi bencana alam, seperti gempa, letusan gunung berapi dan semisalnya. Imam Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya At-Tamhiid memastikan bahwa pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah terjadi gempa bumi.
Berdasarkan alasan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak pernah melaksanakan sholat karena gempa bumi misalnya, maka sebagian ulama memandang tidak disyariatkannya sholat pada waktu itu, sebagaimana ini dikatakan oleh Imam Syafi’I dan dirajihkan juga oleh Al-‘Alamah Ibnu Baz.
Wallahul A’lam, kami memandang ada keluasan dalam masalah ini, karena cakupan makna sholat gerhana sebagai sholat yang dilakukan karena sebab terjadinya tanda-tanda alam yang tidak seperti biasanya, dimana datangnya gerhana pada waktu itu adalah sesuatu yang menakutkan, sehingga sangat dianjurkan untuk berlindung kepada Allah sebagai Tuhan yang layak untuk dimintai perlindungan dan tempat segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dan peristiwa gempa bumi dan yang semisalnya adalah peristiwa yang menakutkan yang layak bagi seorang hamba untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’alaa. Wallahul A’lam.

Hukum Taklifiy – Mahdzhuur

November 6, 2017 at 4:10 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Hukum Taklifiy – Mahdzhuur

 

Imamul Haramain berkata :

والمحظور مَا يُثَاب على تَركه ويعاقب على فعله

“dan al-Mahdzhuur adalah apa yang diberikan pahala bagi yang meninggalkannya dan diberikan hukuman bagi yang mengerjakannya”.

***

Continue Reading Hukum Taklifiy – Mahdzhuur…

Mukadimah Waraqaat

October 30, 2017 at 3:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

 

Mukadimah

Imamul Haramain (w. 478 H) berkata :

بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم

هَذِه وَرَقَات تشْتَمل على فُصُول من أصُول الْفِقْه وَذَلِكَ مؤلف من جزأين مفردين أحدهما: الأصول والثاني الفقه

[ini adalah lembaran-lembaran yang berisi pasal-pasal dari (pembahasan) ilmu Ushul Fiqih. (Ushul Fiqih ini) terdiri dari dua bagian yang masing-masing berdiri sendiri, yang pertama Ushul dan yang kedua Fiqih].

*** Continue Reading Mukadimah Waraqaat…

BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT

October 28, 2017 at 4:10 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT

 

Tadi secara tidak sengaja membaca buku Yasin dan pada halaman pertamanya, si penyusun mengatakan diriwayatkan dalam Sunan Darimi dengan sanad yang shahih sampai kepada ‘Athoo` bin Abi Rabaah bahwa beliau berkata :

بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَرَأَ يس فِي صَدْرِ النَّهَارِ، قُضِيَتْ حَوَائِجُهُ»

“telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “barangsiapa yang membaca surat Yasin pada permulaan pagi, maka segala hajatnya akan dipenuhi”.

Continue Reading BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT…

MENJAWAB TITIPAN SALAM

October 19, 2017 at 12:39 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENJAWAB TITIPAN SALAM
Diantara petunjuk Nabi adalah ketika ada orang yang membawakan titipan salam kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan membalas salam orang menitipkan tadi dan juga kepada orang yang dititipi salam. Sebagaimana dalam kitab as-Sunan :

“Seorang menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa bapaknya titip salam untuknya, maka Beliau menjawab :

“Salam juga (dariku) kepadamu dan kepada Bapakmu”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Nasai dalam sunan al-kubro. 

Didhoifkan oleh asy-syaikh Syu’aib Arnauth. 

Al Hafidz ibnu hajar dalam kitabnya “Fathul Bari” (syarah hadits no.  5898) setelah membawakan hadits ini beliau mengambil kesimpulan hukum :

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺒﻠﻎ 

“Disunahkan untuk menjawab salam juga kepada pembawa (pesannya)”

​APAKAH BINATANG DIBANGKITKAN JUGA PADA HARI KIAMAT? 

August 17, 2017 at 3:37 pm | Posted in Tulisan Lainnya | 2 Comments

APAKAH BINATANG DIBANGKITKAN JUGA PADA HARI KIAMAT? 
Imam al-Aluusiy dalam kitab tafsirnya yang berjudul “ﺭﻭﺡ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ” ketika menafsirkan Firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat At-Takwir ayat ke-5 :

وَاِذَا الْوُحُوْشُ  حُشِرَتْ 

“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,”.
Al-Imam berkomentar (30/52) :

“Tidak ada dalam bab (dibangkitkannya hewan pada hari kiamat -pent.) itu nash baik dari Kitab dan Sunnah yang bisa ditafsirkan bahwa selain manusia dan jin, seperti hewan akan dikumpulkan pada hari kiamat, hadits Muslim dan Tirmidzi, sekalipun itu shahih namun bukanlah terkait dengan tafsir dari ayat ini, bisa jadi itu adalah kinayah (simbolik) dari keadilan yang sempurna. Pendapat inilah yang aku (Imam al-Aluusiy) condong padanya, walaupun aku tidak memastikan kesalahan orang yang berpendapat (dibangkitkannya hewan pada hari kiamat), karena mereka memiliki sandaran yang layak dijadikan hujjah secara global. Wallahul a’lam -selesai-. 
Apa yang dirajihkan oleh Imam al-Aluusiy bertentangan dengan pendapat Imam Ibnu Jarir ath-thabari, beliau berkata dalam tafsirnya (ayat terakhir surat An-Nabaa’):

وقوله: (ويقول الكافر ياليتني كنت ترابا) يقول تعالى ذكره: ويقول الكافر يومئذ تمنيا لما يلقى من عذاب الله الذي أعده لأصحابه الكافرين به، يا ليتني كنت ترابا كالبهائم التي جعلت ترابا.

“Firman Allah Subhanahu wa ta’ala : {orang-orang kafir berkata, “seandainya aku menjadi tanah”}.

Allah menyebutkan ucapan orang kafir pada hari (pembalasan) yang berharap ketika menghadapi azab Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang kafir, seandainya aku (orang kafir) menjadi tanah, sebagaimana binatang yang dijadikan tanah” -selesai-. 
Kemudian Imam ath-thabari menyampaikan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa binatang juga akan dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari kiamat. 

إذا كان يوم القيامة، مد الأديم، وحشر الدواب والبهائم والوحش، ثم يحصل القصاص بين الدواب، يقتص للشاة الجماء من الشاة القرناء نطحتها، فإذا فرغ من القصاص بين الدواب، قال لها: كوني ترابا، قال: فعند ذلك يقول الكافر: يا ليتني كنت ترابا “.

“Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang, hewan liar, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga ditegakkan keadilan Allah, untuk memindahkan tanduk dari hewan hewan bertanduk ke yang tidak bertanduk (lalu dilakukan qishas). Kemudian Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah tanah.” Di saat itulah orang kafir mengatakan, “Andai aku jadi tanah.” (HR. Hakim 3231 dan dishahihkan ad-Dzahabi).
Binatang tersebut dibangkitkan bukan untuk dihisab amalnya, karena mereka bukan mukallaf (yang terkena beban syariat), tapi untuk menunjukkan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan, sampaipun kedzholiman yang dilakukan oleh binatang. 

ﻟَﺘُﺆَﺩُّﻥَّ ﺍﻟﺤُﻘُﻮﻕَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺎﺩَ ﻟِﻠﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟﺠَﻠْﺤَﺎﺀِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟﻘَﺮْﻧَﺎﺀِ ‏

“Benar-benar hak itu akan ditunaikan kepada yang berhak pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan membalas kambing yang bertanduk (HR. Muslim). 
Jadi sebagian ulama berpendapat bahwa hewan juga akan dibangkitkan pada hari kiamat, namun setelah Allah memberikan kesempatan kepada para binatang untuk saling mengqishosh, lalu Allah menjadikan mereka debu, sehingga orang-orang kafir berharap menjadi seperti binatang pada saat itu, agar mereka lenyap tidak menerima siksaan yang Sudah dipersiapkan bagi mereka, akibat kekafirannya. 
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menyampaikan pendapat yang kedua terkait potongan paling akhir dari ayat ke-40 surat An-Nabaa’, beliau berkata :

وقيل: إنما يود ذلك حين يحكم الله بين الحيوانات التي كانت في الدنيا، فيفصل بينها بحكمه العدل الذي لا يجور، حتى إنه ليقتص للشاة الجماء من القرناء. فإذا فرغ من الحكم بينها قال لها: كوني ترابا، فتصير ترابا. فعند ذلك يقول الكافر: {يا ليتني كنت ترابا} أي: كنت حيوانا فأرجع إلى التراب. وقد ورد معنى هذا في حديث الصور المشهور  وورد فيه آثار عن أبي هريرة، وعبد الله بن عمرو، وغيرهما.

“Menurut pendapat lain, sesungguhnya orang kafir itu berkhayal demikian hanyalah setelah ia menyaksikan peradilan Allah, pada saat menghukumi antara hewan-hewan terhadap kejadian-kejadian yang telah dilakukannya ketika di dunia dengan sesamanya. Maka Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-Nya yang Maha-adil yang tidak ada kecurangan sedikit pun, sehingga kambing yang tidak bertanduk disuruh membalas terhadap kambing yang bertanduk yang dahulu sewaktu di dunia pernah menanduknya. Apabila peradilan telah dilakukan terhadap mereka, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu tanah!” Maka semuanya kembali menjadi tanah. Dan saat itulah orang kafir berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: {“Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.} (An-Naba: 40).

Yaitu mereka berkeinginan seperti hewan, yang dikembalikan menjadi tanah. Hal yang semakna telah disebutkan di dalam hadis sangkakala yang terkenal, sebagaimana telah disebutkan pula dalam asar-asar yang bersumber dari Abu Hurairah, dan Abdullah ibnu Amr serta selain keduanya”.

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: