BERKURBAN ALA MADZHAB DHOHIRI

August 17, 2017 at 3:34 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BERKURBAN ALA MADZHAB DHOHIRI
Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) pembawa bendera madzhab dhohiri, beliau berkata dalam kitabnya “al-Muhalla” (masalah no. 977 vol. 6 hal 29-30, cet. Daarul Fikr) :

ﻭَﺍﻟْﺄُﺿْﺤِﻴَّﺔُ ﺟَﺎﺋِﺰَﺓٌ ﺑِﻜُﻞِّ ﺣَﻴَﻮَﺍﻥٍ ﻳُﺆْﻛَﻞُ ﻟَﺤْﻤُﻪُ ﻣِﻦْ ﺫِﻱ ﺃَﺭْﺑَﻊٍ، ﺃَﻭْ ﻃَﺎﺋِﺮٍ، ﻛَﺎﻟْﻔَﺮَﺱِ، ﻭَﺍﻟْﺈِﺑِﻞِ، ﻭَﺑَﻘَﺮِ ﺍﻟْﻮَﺣْﺶِ، ﻭَﺍﻟﺪِّﻳﻚِ، ﻭَﺳَﺎﺋِﺮِ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥِ ﺍﻟْﺤَﻠَﺎﻝِ ﺃَﻛْﻠُﻪُ، ﻭَﺍﻟْﺄَﻓْﻀَﻞُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺎ ﻃَﺎﺏَ ﻟَﺤْﻤُﻪُ ﻭَﻛَﺜُﺮَ ﻭَﻏَﻠَﺎ ﺛَﻤَﻨُﻪُ .

“berkurban itu boleh dengan seluruh hewan yang dapat dimakan dagingnya, baik hewan berkaki empat atau unggas, misalnya berkurban dengan Kuda, Unta, Sapi, Keledai, Ayam, dan seluruh unggas lainnya yang dagingnya halal dimakan. Namun yang terbaik adalah yang paling bagus, banyak dan mahal dagingnya” -selesai-.
Dalil yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hazm adalah 2 atsar dari Bilal dan Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhumaa. Kedua atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Imam Abdur Rozaq dalam kitab “al-Mushonaf”. Yang pertama Imam Abdur Rozaq menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Suwaid bin Ghoflah beliau berkata :

ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺑِﻠَﺎﻟًﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ‏« ﻣَﺎ ﺃُﺑَﺎﻟِﻲ ﻟَﻮْ ﺿَﺤَّﻴْﺖُ ﺑِﺪِﻳﻚٍ

“aku mendengar Bilaal rodhiyallahu ‘anhu berkata, “aku tidak peduli, seandainya aku berkurban dengan seekor Ayam Jantan”.
Adapun atsar Ibnu Abbas, Imam Abdur Rozaq menulis sanadnya sampai kepada Abu Ma’syar :

ﻋَﻦْ ﺭَﺟُﻞٍ، ﻣَﻮْﻟًﻰ ﻟِﺎﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﺭْﺳَﻠَﻨِﻲ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺃَﺷْﺘَﺮِﻱ ﻟَﻪُ ﻟَﺤْﻤًﺎ ﺑِﺪِﺭْﻫَﻤَﻴْﻦِ، ﻭَﻗَﺎﻝَ : ‏« ﻗُﻞْ ﻫَﺬِﻩِ ﺿَﺤِﻴَّﺔُ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ »

“dari seorang laki-laki –Maula ibnu Abbas- beliau berkata : “Ibnu Abbas mengutusku untuk membeli daging seharga 2 dirham, lalu beliau berkata : “katakanlah ini adalah kurban dari Ibnu Abbas”.
Sekalipun pendapat Imam Ibnu Hazm menyelisi jumhur ulama, namun beberapa ulama kontemporer seperti DR. Sa’aduddiin al-Hilali, dosen Fiqih perbandingan universitas al-Azhar, Mesir pernah memfatwakan kebolehan menyembelih ayam bagi orang-orang miskin pada hari kurban. Fatwa ini didukung oleh DR. Abdul Hamiid, mantan ketua lajnah fatwa Al Alzhar, alasannya untuk mempermudah kaum Muslimin. Lihat beritanya disini :

http://www.youm7.com/story/2015/9/20
bahkan ada seorang ikhwan di forum multaqo ahlu hadits mendengar DR. Umar Abdul Kaafiy dalam ceramahnya mengatakan bahwa Imam Abu Yusuf –sahabatnya Imam Abu Hanifah – pernah hendak berkurban dengan seekor ayam jantan.

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-26152.html
monggo bagi yang dananya terbatas, barangkali mau mengaplikasikan madzhab dhohiri….

Advertisements

KHISYU’ DALAM SHOLAT BUKANLAH RUKUN

August 17, 2017 at 3:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KHUSYU DALAM SHOLAT BUKANLAH RUKUN
Khusyu’ yaitu menghadirkan hati didalam sholat itu dianjurkan menurut mayoritas ulama, sholat tidak batal dan tidak perlu diulangi jika tidak khusyu’.  (http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=178795)
Imam Nawawi dalam “al-Majmu” (4/102) berkata :

يستحب الخشوع في الصلاة والخضوع وتدبر قراءتها وأذكارها وما يتعلق بها والإعراض عن الفكر فيما لا يتعلق بها فإن فكر في غيرها وأكثر من الفكر لم تبطل صلاته لكن يكره سواء كان فكره في مباح أو حرام كشرب الخمر

“Dianjurkan untuk khusyu’ dan menundukkan diri didalam sholat, merenungi bacaan dan dzikir serta hal-hal yang berkaitan dengan sholat. Menjauhi memikirkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan sholat. 

Jika ia memikirkan sesuatu diluar sholat dan banyak berpikir, tidaklah membatalkan sholat, namun hal tersebut dimakruhkan, sama saja ia memikirkan sesuatu yang sifatnya mubah atau yang haram seperti minum minuman keras…”
Dalilnya adalah hadits Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan pakaian yang ada tandanya. Kemudian beliau bersabda:

ﺷَﻐَﻠَﺘْﻨِﻲْ ﺃَﻋْﻼَﻡُ ﻫﺬِﻩِ، ﺍِﺫْﻫَﺒُﻮْﺍ ﺑِﻬَـﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑِﻲْ ﺟَﻬْﻢٍ، ﻭَﺃْﺗُﻮْﻧِـﻲْ ﺑِﺄَﻧْﺒِﺠَﺎﻧِﻴَّﺔِ .

“Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku. Bawalah ia ke Abu Jahm dan bawakan aku anbijaniyyah (pakaian tebal dari wol yang tidak ada tandanya).” (Muttafaqun alaih). 
Sisi pendalilannya memikirkan sesuatu diluar sholat, tidak membatalkan sholat, karena dalam hadits diatas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sempat terpikirkan baju yang memiliki tanda tersebut.

MELUNASI HUTANG YANG SUDAH LAMA 5

August 17, 2017 at 3:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUTANGNYA PULUHAN TAHUN LALU, APAKAH MELUNASINYA DENGAN JUMLAH NOMINAL YANG SAMA? 

Bagian 5 (selesai) 
5. Pendapat kelima, masing-masing pihak mengadakan musyawarah jika nilai jualnya terjadi perubahan yang signifikan. Dicarikan titik temu bersama antara yang menghutangi dan yang berhutang, sampai ditemukan nilai yang disepakati dalam pelunasan hutangnya. 
Pendapat yang kelima ini dirajihkan oleh asy-syaikh Muhammad bin Shoolih al-Munajid. Kami pun condong kepada pendapat ini, karena lebih aplikatif dalam prakteknya. Misalnya ketika orang tua kita wafat, kemudian seperti biasa diumumkan kalau ada sangkut paut terkait hutang piutang dengan yang wafat agar diselesaikan. Bisa jadi ternyata yang wafat punya hutang puluhan tahun silam, tentu kalau dibayar dengan jumlah nominal yang sama, bisa jadi pihak yang menghutangi akan keberatan, akan tetapi jika dikonversikan dengan nilai jualnya, pun pihak keluarga keberatan, sehingga musyawarah mufakat dilakukan untuk mencapai nilai yang adil antar kedua belah pihak. 
Demikian pembahasan terkait hutang uang yang bisa jadi dengan berlalunya waktu terjadi perubahan yang sangat significant. Seandainya terjadi deadlock dan perkaranya dibawa ke pengadilan di negeri ini, mungkin pendapat kedua/ketiga yang akan diterapkan, yaitu pelunasan dengan memperhitungkan nilai jualnya pada waktu pelunasan, sebagaimana diisyaratkan dalam pasal 1756 kuh perdata :

“Utang yang timbul karena peminjaman uang, hanya terdiri dan sejumlah uang yang digariskan dalam perjanjian. Jika sebelum utang dilunasi nilai mata uang naik atau turun, atau terjadi perubahan dalam peredaran uang yang lalu, maka pengembalian uang yang dipinjam itu harus dilakukan dengan uang yang laku pada waktu pelunasannya sebanyak uang yang telah dipinjam, dihitung menurut nilai resmi pada waktu pelunasan itu”.
Akan tetapi karena prinsip pinjam-meminjam didasari atas ta’awanun alaal birri wa Taqwa, tentunya jalan musyawarah seharusnya dikedepankan terlebih dahulu, terlebih lagi jika yang berhutang dalam kondisi kesulitan melunasi hutangnya, karena barangsiapa yang memberikan kelonggaran dalam menghutangi, Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan pahala yang besar :

ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﻈَﺮَ ﻣُﻌْﺴِﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻭَﺿَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻇَﻠَّﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻰ ﻇِﻠِّﻪِ

“ Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah. ” (HR. Muslim no. 3006).
ﻣﻦ ﺃﻧﻈﺮ ﻣﻌﺴﺮًﺍ ﻓﻠﻪ ﺑﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﺻﺪﻗﺔ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺤﻞ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﺈﺫﺍ ﺣﻞ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﺄﻧﻈﺮﻩ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺑﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺜﻼﻩ ﺻﺪﻗﺔ

“ Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan, dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya .” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86 mengatakan bahwa hadits ini shohih )

(https://rumaysho.com/149-mudahkanlah-orang-yang-berutang-padamu.html). 
Wallahul a’lam.

MENCUCI KEDUA TELAPAK TANGAN SEBELUM BERWUDHU

August 17, 2017 at 3:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENCUCI KEDUA TELAPAK TANGAN SEBELUM BERWUDHU
Imam Syafi’i dalam “al-Umm” (1/39) berkata :

وأحب غسل اليدين قبل إدخالهما الإناء للوضوء للسنة لا للفرض

“aku menyukai (baca mensunahkan) mencuci kedua telapak tangan sebelum dimasukkan ke bejana yang digunakan untuk berwudhu, karena sunah bukan karena wajib”.
Dalilnya adalah hadits shahihain dari Abu Hurairoh secara marfu’ : 

ﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻧَﻮْﻣِﻪِ ، ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻐْﻤِﺲْ ﻳَﺪَﻩُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻧَﺎﺀِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻐْﺴِﻠَﻬَﺎ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺭِﻱ ﺃَﻳْﻦَ ﺑَﺎﺗَﺖْ ﻳَﺪُﻩُ

“Jika kalian bangun tidur, maka janganlah mencelumkan tangannya ke bejana, sebelum mencucinya sebanyak tiga kali, karena ia tidak tahu dimana tangannya bermalam”.
Sisi pendalilan Imam Syafi’i bahwa Allah ketika memerintahkan wudhu, maka dimulai dari membasuh wajah, tidak disebutkan membasuh kedua telapak tangan disana dalam ayat tentang wudhu (surat Al Maidah ayat 6), maka membasuh kedua telapak tangan adalah sunah. 
Kemudian beliau merinci terkait kondisi  seseorang yang tetap mencelumkan tangannya ke bejana, tanpa mencuci kedua telapak tangannya :

1. Jika seorang tidak yakin tangannya tidak ada najis atau ragu-ragu, lalu ia mencelumkan kedua tangannya ke bejana, maka air wudhunya tidak ada masalah, tidak terpengaruh kesuciannya. Namun makruh hukumnya melakukan hal ini. 

2. Jika tangannya menyentuh najis, maka jika ia mencelumkan di bejana yang airnya kurang dari dua kulah, air wudhunya menjadi bermasalah harus dibuang dan tidak bisa dipakai buat berwudhu. Namun jika lebih dari dua kullah, tidak ada masalah, selama najis yang ada ditangannya tidak mempengaruhi air tersebut. 
Imam Nawawi dalam “al-Majmu” (1/349) menambahkan :

وإن تيقن طهارة يده فوجهان الصحيح منهما انه بالخياران شاء غسل ثم غمس وإن شاء غمس ثم غسل لأن كراهة الغمس عند الشك إنما كانت للخوف من النجاسة وقد تحققنا عدم النجاسة

“Jika ia yakin kesucian tangannya, maka ada dua versi pendapat (dalam madzhab Syafi’i), yang rajih ia diberikan pilihan, jika mau mencuci tangannya, baru mencelupkannya ke bejana atau jika mau mencelupkan dulu baru mencucinya, karena yang dimakruhkan ketika mencelupkan adalah jika ragu-ragu kahwatir ada najis yang menempel di tangannya, sedangkan dalam case ini, sudah terverifikasi tidak adanya najis pada tangannya”.
Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (No. 24) menukil pendapat lain tentang hukum mencuci kedua telapak tangan setelah bangun tidur :

وقال أحمد بن حنبل: إذا استيقظ من الليل فأدخل يده في وضوئه قبل أن يغسلها فأعجب إلي أن يهريق الماء» وقال إسحاق: «إذا استيقظ من النوم بالليل أو بالنهار فلا يدخل يده في وضوئه حتى يغسلها»

“Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika seorang bangun tidur malam, lalu ia mencelupkan tangannya sebelum dicuci, maka aku menyukai agar ia membuang air tersebut”.

Imam Ishaq bin Rohawaih berkata : “Jika seorang bangun tidur malam atau tidur siang, maka janganlah ia masukan kedalam air wudhunya, sebelum dicuci terlebih dahulu”.
Adapun terkait hukum mencuci kedua telapak tangan ketika mulai berwudhu, maka Imam Nawawi berkomentar (1/350) :

وأما أصل غسل الكفين فسنة بلا خلاف

“Adapun hukum mencuci kedua telapak tangan itu sendiri pada asalnya adalah sunah, tanpa ada perbedaan pendapat”.
Sebelumnya hal tersebut dinyatakan oleh Imam ibnul Mundzir sebagai ijma ulama dalam kitabnya “al-Ijma” (hal. 34) :

 ﺃﺟﻤﻊ ﻛﻞ ﻣَﻦ ﻧﺤﻔﻆ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻏﺴْﻞ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﻨﺔ، ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻬﺎ، ﻭﻫﻮ ﺑﺎﻟﺨﻴﺎﺭ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﻣﺮﺓ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﻣﺮﺗﻴﻦ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺛﻼﺛًﺎ، ﺃﻱ ﺫﻟﻚ ﺷﺎﺀ ﻓﻌﻞ، ﻭﻏﺴﻠﻬﻤﺎ ﺛﻼﺛًﺎ ﺃﺣﺐُّ ﺇﻟﻲَّ

“Para ulama yang saya hapal sepakat bahwa mencuci kedua telapak tangan pada permulaan wudhu adalah sunah, dianjurkan untuk dilaksanakan dan boleh baginya membasuhnya sesuai yang ia kehendaki, baik satu kali atau kalau mau dua kali atau kalau mau tiga kali. Yang tiga kali lebih aku sukai… “.

MELUNASI HUTANG YANG SUDAH LAMA 4

August 17, 2017 at 3:30 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUTANG PULUHAN TAHUN LALU, APAKAH MELUNASINYA DENGAN JUMLAH YANG SAMA? 

Bagian 4
4. Pendapat keempat adalah turunan dari pendapat pertama. Mereka membedakan waktu perubahannya. Jika fluktuasi nilai jual terjadi masih dalam jangka waktu sebelum jatuh tempo pelunasan, maka si penghutang hanya wajib mengembalikan senilai nominal hutangnya. 

Namun jika terjadinya fluktuasi setelah jatuh tempo pelunasan, dimana si penghutang sengaja menunda-nunda pelunasan -padahal ia mampu-, maka si penghutang harus melunasinya dengan nilai jual pada hari pelunasan. 
Madzhab ini didukung oleh asy-syaikh Abdulah bin Manii’ dan DR. Yusuf Mahmuud Qosim dan ulama lainnya. Dalil mereka adalah seperti pendapat pertama untuk perubahan nilai jual yang terjadi sebelum jatuh tempo, sedangkan untuk perubahan setelah jatuh tempo berdasarkan hadits Shahihain :

ﻣَﻄْﻞُ ﺍﻟْﻐَﻨِﻲِّ ﻇُﻠْﻢٌ ‏

“Orang kaya yang menunda-nunda pembayaran hutang adalah suatu kezhaliman”.
Hal ini dilakukan sebagai sanksi atas kezhalimannya dalam melunasi hutang, yang mana ia sengaja menuda-nundanya, padahal ada dana yang cukup untuk melunasinya.

BERSIWAK

August 17, 2017 at 3:30 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BERSIWAK
Imam Syafi’i dalam “al-Umm” (1/39) berkata :

في هذا دليل على أن السواك ليس بواجب وأنه اختيار

“Dalam hal ini menunjukkan bahwa bersiwak tidaklah wajib, namun sekedar pilihan (untuk melakukannya -pent.)”.
Bersiwak sangat dianjurkan pada saat bau mulut berubah, seperti ketika bangun dari tidur, setelah makan dan minum serta ketika hendak sholat. Kata Imam Syafi’i, masih dihalaman yang sama :

 ومن تركه وصلى فلا يعيد صلاته ولا يجب عليه وضوء.

“Barangsiapa yang tidak bersiwak, lalu sholat maka tidak perlu mengulangi sholatnya dan tidak wajib mengulangi wudhunya”.
Imam ibnu Hazm dalam “al-Muhalla” berkata (1/423) :

السواك مستحب، ولو أمكن لكل صلاة لكان أفضل

“Bersiwak itu sunah, seandainya memungkinkan untuk bersiwak tiap kali sholat, maka ini lebih utama”.
Dalilnya hadits Abu Huroiroh radhiyallahu anhu secara marfu’ :

ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺃَﻥْ ﺃَﺷُﻖَّ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ، ﻟَﺄَﻣَﺮْﺗُﻬُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﻛُﻞِّ ﺻَﻠَﺎﺓٍ ﺑِﻮُﺿُﻮﺀٍ 

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak tiap kali hendak sholat pada saat berwudhu” (HR. Ahmad dan selainnya, dihasankan al-albani).
Kata Imam Syafi’i :

لأنه لو كان واجبا لأمرهم به شق عليهم أو لم يشق

“Karena seandainya bersiwak wajib tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan memerintahkan umatnya baik mereka merasa berat atau tidak”.

BERWUDHU KARENA MEMANDIKAN JENAZAH 3

August 17, 2017 at 3:29 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU 

Bagian 3 Yang Diperselisihkan Membatalkan Wudhu, namun Yang Rajih tidak Membatalkannya

Seri 10C (akhir)  – Memandikan dan Membawa Jenasah
Adapun perkara kedua yakni masalah membawa jenazah, apakah wajib wudhu atau tidak, berikut pembahasannya :

1. Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” berkata :

“adapun sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “Barangsiapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah”. Maka aku tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena membawa jenazah dan tidak juga pendapat yang menganjurkannya. Aku berkata : ‘namun bersamaan dengan adanya hadits ini, maka tidak masalah untuk mengamalkannya, dan wudhu yang dimaksud disini ditafsirkan dengan mencuci kedua tangan, sebagaimana diambil faedah dari Sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “sesungguhnya mayit kalian, meninggal dalam keadaan suci” (Al Hadits). Karena menyentuh sesuatu yang suci tidak mengharuskan untuk mencuci kedua tangan, maka dalam masalah membawa jenazah, mencuci kedua tangan adalah sunnah ibadah, yang mana jika dalam membawa jenazah tersebut bersentuhan langsung dengan badannya, sebagaimana konteks sabda Nabi tersebut” -selesai-.
Alhamdulillah kami menemukan ucapan ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena membawa jenazah. Imam Thohawi dalam “Hasiyyah ‘alaal Maroqiy” (2/82) berkata :

ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻣﻦ ﺣﻤﻠﻪ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ ﺃﺧﺬ ﺑﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﺄﻭﺟﺒﻪ ﻓﻴﻨﺪﺏ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺧﺮﻭﺟﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻭﻋﻤﻼ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ

“sabdanya : “Barangsiapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah”. Imam Ahmad berdalil dengan hadits ini, maka beliau mewajibkannya. (Imam Thohawi) berpendapat, hal tersebut adalah disunnahkan saja untuk keluar dari perselisihan dan mengamalkan hadits ini” -selesai-.
Bahkan Al Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan adanya pendapat ulama yang memasukkan membawa jenazah sebagai pembatal wudhu, dimana beliau memasukan hadits ini dalam kitabnya “Bulughul Marom” di bab “Pembatal-pembatal wudhu”.
Ibnu Rusydi dalam “Bidayatul Mujtahid” (1/36) juga mengisyaratkan adanya sekelompok ulama yang mewajibkan wudhu karena membawa jenazah, kata beliau :

ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ : ﻭﻗﺪ ﺷﺬ ﻗﻮﻡ ﻓﺄﻭﺟﺒﻮﺍ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻣﻦ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻓﻴﻪ ﺃﺛﺮ ﺿﻌﻴﻒ : ﻣﻦ ﻏﺴﻞ ﻣﻴﺘﺎ، ﻓﻠﻴﻐﺘﺴﻞ، ﻭﻣﻦ ﺣﻤﻠﻪ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ .

“masalah yang ketujuh, suatu kaum telah berpendapat ganjil, mereka mewajibkan wudhu bagi orang yang membawa jenazah, (berdalil) dengan atsar lemah : “Barangsiapa yang memandikan mayit hendaknya mandi dan barangsiapa yang membawanya, hendaknya berwudhu” -selesai-.
Apa yang dikatakan Ibnu Rusydi bahwa sekelompok ulama tersebut ganjil, maka tidak benar, karena shahihnya atsar tersebut dan tidak salah bagi seseorang berpendapat dengan dhohirnya hadits.
2. Dhahirnya hadits ini memberikan faedah wajibnya wudhu karena membawa jenazah, sekalipun ini dikatakan pendapat yang ganjil, karena tidak diketahuinya ulama baik salaf maupun muta’akhirin yang berpendapat dengannya. Namun kami berpandangan bahwa lafadz perintah “hendaknya wudhu” pada hadits ini, tidak menunjukan wajib, dengan alasan sebagai berikut :

1. Definisi suatu amalan dikategorikan sebagai kewajiban adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Abdul Wahhab Kholaf dalam kitabnya

“Ilmu Ushul Fiqih” :

“Wajib secara istilah adalah sesuatu yang dituntut oleh pembuat syariat untuk mengerjakannya kepada mukallaf dengan tuntutan yang pasti. Indikasinya menunjukan atas kepastian mengerjakannya, sebagaimana jika bentuk kalimat tuntutannya itu sendiri menunjukan atas kepastian, atau menunjukan kepastian mengerjakannya akan berakibat hukuman jika meninggalkannya, atau adanya tanda indikasi syariat lainnya” -selesai-.
Dari definisi ini, maka perintah dalam hadits ini tidak pasti yang konsekuensinya adalah wajib, karena sekalipun hadits ini dapat dijadikan hujjah, namun tidak sedikit juga Aimah yang melemahkannya, maka lebih baik kalau perintah ini dibawa kepada sunnah. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syaroh Mumti’” berkata :

“mereka berkata : ‘hadits ini terdapat perintah didalamnya, perintah pada asalnya adalah wajib, namun ketika ada sesuatu kedhoifan padanya, maka tidak bisa tegak kepastian padanya. Hal ini dibangun berdasarkan kaedah “bahwa larangan jika terdapat pada hadits dhoif, maka bukan untuk pengharaman, begitu juga perintah, jika terdapat pada hadits dhoif, maka bukan untuk mewajibkan, karena konsekuensi larangan atau perbuatan butuh kepada dalil yang melepaskan dari pembebanan, yang mengharuskan beribadah dengannya. Kaedah ini, diungkapkan oleh Ibnu Muflih dalam “An-Nukat ‘alaal Muharror” di bab mauqif Imam dan Makmum. Yang dimaksud adalah haditsnya bukan dhoif yang parah, namun ada kemungkinan shahih, sehingga mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan larangan, karena kehati-hatian dan kehati-hatian tidak mewajibkan mengerjakan atau meninggalkannya” -selesai-.
2. Sebagian ulama mengatakan, kemungkinan yang dimaksud berwudhu ketika membawa mayat adalah hal tersebut dilakukan dalam rangka wudhu untuk sholat jenazah, karena konteks kalimatnya mengisyaratkan hal tersebut, yakni setelah mayat dimandikan dan dikafani, maka sebelum dikuburkan, dilakukan sholat jenazah, sehingga bagi siapa yang akan turut mengantarkan jenazah tersebut, hendaknya ia berwudhu lalu ikut menyolatkannya sebagai fardhu kifayah. Imam Majduddin Ibnu Taimiyyah berkata dalam

“Muntaqol Akhbaar” berkata :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ : ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺣَﻤْﻠَﻪُ ﻭَﻣُﺘَﺎﺑَﻌَﺘَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﺿَّﺄْ ﻣِﻦْ ﺃَﺟْﻞِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“Sebagian ulama berkata : ‘maknanya barangsiapa yang membawa dan mengikuti jenazah, maka hendaknya berwudhu karena untuk mengerjakan sholat jenazah” -selesai-.
Imam Ibnu Hazm dalam “Al Muhallaa” meriwayatkan :

“Kami meriwayatkan dengan sanad yang disebutkan kepada Hammaad bin Salamah dari Ayyub As-Sikhtiyaaniy dari Muhammad bin Siriin ia berkata : ‘aku bersama Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dalam jenazah, maka ketika kami masuk masjid, lalu Abdullah masuk ke rumahnya untuk berwudhu, lalu keluar ke masjid. Ia berkata kepadaku : ‘apa engkau tidak berwudhu?’, aku berkata : ‘tidak’. Ia berkata : ‘Umar bin Khothob dan kholifah setelahnya, jika mereka sholat jenazah, lalu hendak melakukan sholat wajib, mereka berwudhu, hingga salah seorang diantara mereka dalam masjid meminta air dalam baskom, lalu berwudhu darinya” -selesai-.
Kemudian Imam Ibnu Hazm berkomentar :

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻭﺿﻮﺀﻫﻢ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻻﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺣﺪﺙ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻈﻦ ﺑﻬﻢ ﺇﻻ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻨﻪ ﺍﻟﺘﻲ ﺫﻛﺮﻧﺎ، ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺗﻜﻔﻰ .

“tidak bisa dibawa maknanya wudhu mereka sebagai hadats, karena sholat jenazah dan tidak boleh menyangka bahwa yang mereka lakukan tidak lain dan tidak bukan karena mengikuti sunah yang telah kami sebutkan, maka mengikuti sunah mencukupinya” -selesai-.
Maksudnya adalah wudhu karena membawa jenazah adalah sunah yang diamalkan oleh Kholifah sahabat Rodhiyallahu ‘Anhum.
3. Dalam riwayat Imam Tirmidzi dalam

“Sunannya” (no. 1009) yang dishahihkan Imam Al Albani, lafadznya :

ﻣِﻦْ ﻏُﺴْﻠِﻪِ ﺍﻟْﻐُﺴْﻞُ ﻭَﻣِﻦْ ﺣَﻤْﻠِﻪِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀُ

“Karena memandikan mayat, ia mandi dan karena membawanya, ia berwudhu”.
Dalam lafadz ini, terdapat isyarat sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Majduddin, bahwa ia melakukan wudhu untuk sholat jenazah, bukan semata-mata karena membawa jenazah.
Kita tutup pembahasan ini dengan fatwa dari DR. Abdullah Faqiih dalam “Fatawaa syabkah Islamiyyah” (no. 55003) :

“ Soal : Apakah terdapat hadits dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam masalah mandi setelah pulang dari menguburkan mayit? Jazakumullah khoir.

Jawab : segala puji bagi Allah, sholawat dan salam terlimpah curahkan kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, kepada keluarganya dan para sahabatnya, Amma Ba’du :

Kami belum pernah melihat hadits dan juga atsar yang menunjukan perintah mandi setelah pulang dari penguburan, yang ada hanyalah perintah mandi karena memandikan mayat dan berwudhu karena membawanya. Dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “barangsiapa yang memandikan mayat, maka hendaknya mandi dan barangsiapa yang membawanya, hendaknya berwudhu”.

Mandi karena memandikan mayat itu dianjurkan menurut mayoritas ulama, bukan wajib. Demikian juga berwudhu karena membawanya. Dalam “’Aunul Maubud syaroh Sunan Abi Dawud, Imam Al Khothoobiy berkata : ‘aku tidak mengetahui seorang fuqoha pun yang mewajibkan mandi karena memandikan mayat dan tidak juga mewajibkan wudhu karena membawanya, yang mendekatinya bahwa perintah dalam hal ini adalah disunahkan saja. Sabdanya, barangsiapa yang membawa jenazah, hendaknya berwudhu, maka dikatakan maksudnya adalah wudhu tersebut dilakukan karena akan melakukan sholat jenazah untuk mayit tersebut, Wallahu A’lam. -Selesai-.

Berdasarkan hal ini, maka perintah wudhunya adalah sebelum membawa jenazah sampai ke tempat sholat,  bukan wudhu setelah membawanya (dari tempat sholat ke tanah pekuburan-pent.), dhohir makna tersebut dengan dalil riwayat dari Imam Tirmidzi : “karena memandikan mayat, ia mandi dan karena membawanya, ia berwudhu”. Wallahu A’lam”.

BERWUDHU KARENA MEMANDIKAN JENAZAH 2

August 17, 2017 at 3:29 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

Bagian 3 Yang Diperselisihkan Membatalkan Wudhu, Namun yang Rajih Tidak Membatalkannya

Seri 10B – Memandikan dan Membawa Jenasah
Kemudian setelah kita tetapkan keshahihan hadits yang menunjukan perintah Nabi shallallahu alaihi wa kepada orang yang memandikan mayat, maka ulama yang berpendapat bahwa perintah tersebut adalah sunnah, berdasarkan keterangan berikut :

1. Hadits dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻰ ﻏَﺴْﻞِ ﻣَﻴِّﺘِﻜُﻢْ ﻏُﺴْﻞٌ ﺇِﺫَﺍ ﻏَﺴَّﻠْﺘُﻤُﻮﻩُ ، ﺇِﻧَّﻪُ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻃَﺎﻫِﺮٌ ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻨَﺠِﺲٍ ، ﻓَﺤَﺴْﺒُﻜُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﻐْﺴِﻠُﻮﺍ ﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ

“Tidak wajib bagi kalian ketika memandikan mayat untuk mandi karena seorang Muslim itu suci dan seorang Muslim tidak najis, cukup bagi kalian mencuci tangannya saja” (HR. Baihaqi).
Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Baihaqi berkata :

ﻫَﺬَﺍ ﺿَﻌِﻴﻒٌ } . ﺝ { ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﻞَ ﻓِﻴﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺑِﻰ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻇُﻦُّ ، ﻭَﺭُﻭِﻯَ ﺑَﻌْﻀُﻪُ ﻣِﻦْ ﻭَﺟْﻪٍ ﺁﺧَﺮَ ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻣَﺮْﻓُﻮﻋًﺎ

“ini adalah lemah. Kemungkinan ada pada rowi Abi Syaibah, menurut dugaanku, diriwayatkan oleh sebagian ulama dari sisi lain dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu secara marfu’” -selesai-.
Namun Al Hafidz Ibnu Hajar menyanggah penilaian pendhoifan Imam Baihaqi ini, sebagaimana dinukil oleh Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam”, kata beliau :

ﻭَﺗَﻌَﻘَّﺒَﻪُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ؛ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺒَﻴْﻬَﻘِﻲُّ : ﻫَﺬَﺍ ﺿَﻌِﻴﻒٌ ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﻞُ ﻓِﻴﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺑِﻲ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ : ﺃَﺑُﻮ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ﻫُﻮَ ﺇﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮِ ﺑْﻦِ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ” ، ﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲّ ؛ ﻭَﻭَﺛَّﻘَﻪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻓَﻮْﻗَﻪُ ﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺑِﻬِﻢْ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱُّ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺎﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﺣَﺴَﻦٌ ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻤْﻊِ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻓِﻲ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ” ، ﺇﻥَّ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮَ ﻟِﻠﻨَّﺪْﺏِ

“Penulis (Ibnu Hajar) mengkritik Imam Baihaqi yang berkata : “ini adalah lemah. Kemungkinan ada pada rowi Abi Syaibah”. Ibnu hajar berkata : ‘Ibrohim bin Abi Bakar bin Syaibah dijadikan hujjah oleh Nasa’I dan ditsiqohkan oleh para ulama, sedangkan rowi yang diatasnya, dijadikan hujjah oleh Bukhori, sampai pada perkataannya, bahwa hadits ini hasan. Lalu Al Hafidz berkata, dalam mengkompromikan antara perintah dalam hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, bahwa perintah dalam hadits tersebut adalah sunnah” -selesai-.
2. Hadits Abdullah bin Abi Bakr, bahwa ia berkata :

ﺃَﻥَّ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَ ﺑِﻨْﺖَ ﻋُﻤَﻴْﺲٍ ﻏَﺴَّﻠَﺖْ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﺍﻟﺼِّﺪِّﻳﻖَ ﺣِﻴﻦَ ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻓَﺴَﺄَﻟَﺖْ ﻣَﻦْ ﺣَﻀَﺮَﻫَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﺇِﻧِّﻰ ﺻَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻭَﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻡٌ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﺒَﺮْﺩِ ﻓَﻬَﻞْ ﻋَﻠَﻰَّ ﻣِﻦْ ﻏُﺴْﻞٍ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻻَ

“bahwa Asmaa’ binti ‘Umais memandikan Abu Bakar Ash-Shidiiq ketika beliau wafat, lalu beliau keluar dan bertanya kepada orang yang hadir dari kalangan Muhajirin, beliau berkata : ‘aku sedang puasa dan pada hari ini sangat dingin sekali, apakah wajib bagi saya berwudhu?’. Mereka menjawab : ‘tidak wajib’”. (HR. Malik).
Bisa jadi ulama yang berpendapat wajibnya mandi, akan mengatakan bahwa Asmaa’ diberikan keringanan karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk mandi, sehingga gugurlah kewajiban kepadanya. Selain itu juga kisah ini tidak shahih, Imam Al Albani dalam

“Tamaamul Minnah” berkata :

ﻳﻮﻫﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﺼﺔ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺍﻹﺳﻨﺎﺩ ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ ﻻﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻓﺈﻥ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﻓﻲ ” ﺍﻟﻤﻮﻃﺄ ” ‏( 1 / 222 – 223 ‏) ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺃﻥ ﺃﺳﻤﺎﺀ ﺑﻨﺖ ﻋﻤﻴﺲ ﻏﺴﻠﺖ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺣﻴﻦ ﺗﻮﻓﻲ ﺛﻢ ﺧﺮﺟﺖ . . ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﻛﻤﺎ ﻗﺪ ﻳﺘﻮﻫﻢ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺣﺰﻡ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﻭﻫﻮ ﺛﻘﺔ ﺇﻣﺎﻡ ﻣﻦ ﺷﻴﻮﺥ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﺪﺭﻙ ﺃﺳﻤﺎﺀ ﺑﻨﺖ ﻋﻤﻴﺲ ﻓﺈﻥ ﻭﻓﺎﺗﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺳﻨﺔ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻭﻭﻻﺩﺓ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺪ ﺳﻨﺔ ﺳﺘﻴﻦ ﻛﻤﺎ ﻳﺴﺘﻔﺎﺩ ﻣﻦ ” ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ ” ﻭﻏﻴﺮﻩ

“terpahami disini bahwa kisah ini shahih sanadnya, namun sebenarnya tidak seperti itu, karena terjadi keterputusan sanad didalamnya, karena Imam Malik yang meriwayatkan hadits ini dalam “Al Muwatho (1/222-223), dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa Asmaa binti ‘Umais….dst.

Abdullah bin Abi Bakar ini bukan anaknya Abu Bakar Rodhiyallahu anhu, sebagaimana yang dipahami, namun beliau adalah Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm Al Anshori, perowi tsiqoh termasuk gurunya Imam Malik, namun beliau tidak pernah bertemu Asmaa’ Rodhiyallahu anha, karena Asmaa’ wafat sebelum tahun 50 H, sedangkan Abdullah dilahirkan setelah tahun 60 H, sebagaimana yang terdapat dalam “At-Tahdziib” dan selainnya” -seesai-.
Baiklah, namun kami masih memiliki satu hadits lagi yang menunjukan tidak wajibnya mandi, karena memandikan jenazah, yaitu

3. Hadits Ibnu Umar Rodhiyallahu anhuma, beliau berkata :

ﻛُﻨَّﺎ ﻧُﻐَﺴِّﻞُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻓَﻤِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞْ ﻭَﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞْ

“Kami (para sahabat) memandikan mayat, diantara kami ada yang mandi dan ada juga yang tidak” (HR. Daruquthni dan Al Khothib)

Hadits ini dishahihkan Al Hafidz, kata Imam Shon’ani :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ : ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ، ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣَﺎ ﺟُﻤِﻊَ ﺑِﻪِ ﺑَﻴْﻦَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚِ .

“sanadnya shahih dan ini yang paling bagus dalam mengkompromikan hadits-hadits dalam masalah ini” -selesai-.
Imam Al Albani dalam beberapa kitabnya juga menshahihkannya, beliau berkata dalam “Ahkamul Janaiz” (masalah no. 31) setelah menshahihkan hadits perintah mandi, karena memandikan mayat (hadits Abu Huroiroh) :

ﻭﻗﺎﻝ : ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺍﻻﻣﺮ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻟﻢ ﻧﻘﻞ ﺑﻪ ﻟﺤﺪﻳﺜﻴﻦ

“dhohirnya perintah menunjukan kewajiban, (seandainya) tidak dinukil 2 buah hadits” -selesai-.
Kemudian Imam Al Albani menyebutkan 2 buah hadits yaitu haditsnya Ibnu Abbas yang menunjukan cukup mencuci tangan saja dan hadits Ibnu Umar ini, dan kedua hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani.
Berdasakan pemaparan diatas, maka pendapat yang terpilih adalah mandi karena memandikan mayat, maksimalnya hukumnya adalah sunnah, dianjurkan untuk dikerjakan. Pendapat ini dirajihkan juga oleh Imam ibnu Qudamah dalam “al-Mughni” yang mana beliau berkata (1/141) :

وقال أبو الحسن التميمي: لا وضوء فيه. وهذا قول أكثر الفقهاء وهو الصحيح إن شاء الله؛ لأن الوجوب من الشرع. ولم يرد في هذا نص، ولا هو في معنى المنصوص عليه، فبقي على الأصل

“Abul Hasan at-Tamiimiy berkata, “tidak perlu berwudhu karena memandikan mayat”. Ini adalah pendapatnya kebanyakan fuqoha, dan ini yang rajih Insya Allah, karena kewajiban itu berlandaskan syariat, dan tidak ada nash terkait hal ini, begitu juga tidak ada makna tersirat dari nash-nash yang menyinggungnya, sehingga tetap pada hukum asalnya (tidak batal wudhunya -pent.)”.
Bersambung insya Allah….

MELUNASI HUTANG YANG SUDAH LAMA 3

August 17, 2017 at 3:28 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUTANG PULUHAN TAHUN LALU, APAKAH DILUNASI DENGAN JUMLAH YANG SAMA? 

Bagian 3
3. Pendapat ketiga sebenarnya merupakan turunan dari pendapat kedua, hanya saja bedanya madzhab ini membedakan apakah selisih nilai jualnya banyak atau sedikit. 

Jika selisihnya sedikit maka diabaikan dan si penghutang cukup mengembalikan nominal dengan jumlah yang sama, dalam contoh kasus sebelumnya maka si B cukup melunasi 1 juta rupiah kepada si A. 

Namun jika selisihnya besar, maka berlakukan seperti pendapat kedua, yaitu si B membayar nilai jualnya, dalam contoh kasus diatas si B membayar 2 juta rupiah. 
Penentuan berapa batasan selisih yang dianggap besar, terjadi ikhtilaf dalam madzhab ini, ada yang mengatakan seperlima, sepertiga, setengah dan seterusnya. Asy-Syaikh Muhammad Sholih al-Munajid mendukung nilai sepertiga sebagai batasan disebut banyak,  berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang wasiat : “Sepertiga itu banyak”. Sehingga dalam contoh kasus diatas jika selisihnya 330 ribu keatas, maka si penghutang wajib melunasi sejumlah nilai jualnya pada saat pelunasan, namun jika selisihnya kurang dari itu, si B cukup membayar 1 juta saja, sebagaimana jumlah pada saat ia menghutang kepada si A. 
Madzhab ini dianut oleh kalangan ulama kontemporer seperti : DR. Naziih Hamaad, DR. Rofiif al-Mishriy dan ulama lainnya. 
Dalil mereka sebenarnya sama dengan dalil madzhan kedua, hanya saja mereka membedakan jika selisih nilai jualnya kecil maka tidak dianggap, alasannya adalah :

1. Karena selisih yang kecil dimaafkan dalam beberapa permasalahan di syariat kita. 

2. Selisih kecil biasanya diikutkan kepada sesuatu yang mendekatinya, dalam hal ini ia lebih dekat kepada pelunasan hutang sesuai dengan jumlah nominal pada saat menerima hutang. 
Bersambung Insya Allah…

KITAB FIQIH YANG TOP

August 17, 2017 at 3:27 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺳﻴﺮ ﺃﻋﻼﻡ ﺍﻟﻨﺒﻼﺀ ﻓﻲ ﺗﺮﺟﻤﺔ ﺍﺑﻦ ﺣﺰﻡ : ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﻋﺰّ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﺑﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡ – ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺪَ ﺍﻟﻤُﺠْﺘَﻬِﺪﻳﻦ – : ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻓِﻲ ﻛُﺘُﺐِ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡ ﻓِﻲ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ ﻣِﺜْﻞ‏( ﺍﻟﻤﺤﻠَّﻰ ‏) ﻻﺑْﻦِ ﺣَﺰْﻡ، ﻭَﻛِﺘَﺎﺏ‏( ﺍﻟﻤُﻐﻨِﻲ ‏) ﻟِﻠﺸَّﻴْﺦِ ﻣُﻮَﻓَّﻖ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ .

ﻗُﻠْﺖُ : ﻟَﻘَﺪْ ﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﻋﺰّ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ . ﻭَﺛَﺎﻟِﺜﻬُﻤَﺎ : ‏( ﺍﻟﺴُّﻨَﻦ ﺍﻟﻜَﺒِﻴْﺮ ‏) ﻟِﻠﺒﻴﻬﻘِﻲ .ﻭَﺭَﺍﺑﻌﻬَﺎ : ‏( ﺍﻟﺘّﻤﻬﻴﺪ ‏) ﻻﺑْﻦِ ﻋﺒﺪِ ﺍﻟﺒﺮ .

ﻓَﻤَﻦْ ﺣﺼَّﻞ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﻭِﻳْﻦ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﺫﻛﻴَﺎﺀ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ، ﻭَﺃَﺩﻣﻦَ ﺍﻟﻤُﻄَﺎﻟﻌَﺔ ﻓِﻴْﻬَﺎ، ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟﻌَﺎﻟِﻢ ﺣَﻘّﺎً . ﺍ . ﻫـ

“Imam Dzahabi dalam “Siyar A’lamin Nubalaa” berkata terkait biografi Imam ibnu Hazm :

“Asy-Syaikh Izzuddin bin Abdis Salam menilai Imam ibnu Hazm sebagai salah seorang mujtahid, lalu beliau berkata : “aku tidak melihat dalam kitab-kitab islam dalam ilmu semisal “al-Muhalla” ibnu Hazm dan “al-Mughni” karya asy-syaikh Muwafiquddin”.

aku (Imam Adz-Dzahabi) berkata : “sungguh benar asy-syaikh Izzuddin. Kemudian (tambahan dari Imam Adz-Dzahabi sendiri) yaitu yang ketiga, “Sunan Kubro” Imam Baihaqi dan yang keempat “At-Tamhiid” Imam ibnu Abdil Barr, barangsiapa yang mempelajari kitab-kitab diatas, maka ia adalah mufi yang cerdas, dan barangsiapa yang studyholic mentelaah kitab-kitab diatas ia akan menjadi alim yang sejati”.

(http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=31664&page=3).

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: