SEPUTAR SUJUD SAHWI MAKMUM DENGAN IMAMNYA

June 24, 2017 at 10:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SEPUTAR SUJUD SAHWI MAKMUM DENGAN IMAMNYA
kondisi makmum ketika sholat berjamaah bersama imam terkait dengan sujud sahwi maka ada beberapa keadaannya sebagai berikut :

1. Makmum dari awal sholat bersama imam, sehingga makmum mengetahui bahwa (kelupaan) Imam ditengah-tengah sholat, dalam hal ini makmum mengikuti sujud sahwinya Imam baik sebelum atau sesudah salam. 

2. Makmum masbuk, maka ada dua kondisi terkait dia mendapatkan kelupaan imam atau tidak. Jika dia bergabung bersama Imam dan qodarullah dia menjumpai kelupaan imam ditengah-tengah sholatnya. Maka jika imam sujud sahwinya sebelum salam, si masbuk mengikuti sujud sahwinya imam, kemudian setelah imam selesai salam, si masbuk melanjutkan rokaat yang ketinggalan, kemudian dia sujud sahwi lagi sebelum salam, baru salam.  Karena sujud sahwinya yang pertama tadi adalah bukan tempat sebenarnya, karena sujud sahwi itu tempatnya diakhir sholat, sedangkan si masbuk belum finish sholatnya, sujud sahwi yang pertama, hanyalah sekedar mengikuti Imamnya saja. 
Namun jika sang Imam sujud sahwinya setelah salam, maka dia tidak mengikuti, karena si masbuk tidak mungkin salam, mengingat sholatnya belum kelar. Setelah Imam salam, ia langsung menyempurnakan sholatnya, kemudian salam, baru mengerjakan sujud sahwi, lalu ditutup lagi dengan salam. 
Kondisi yang kedua si masbuq ketika bergabung bersama imam dia tidak mengalami kelupaan imam, misalnya sang Imam lupanya pada rokaat kedua, sedangkan ia baru bergabung pada rokaat ketiga. Dalam kondisi seperti ini, jika sang Imam sujud sahwinya sebelum salam, ia ikut sahwi, setelah Imam salam, ia menyempurnakan sholatnya dan tidak perlu sujud sahwi lagi, karena ia tidak mendapatkan kelupaan Imam. Sujud sahwinya tadi sekedar mengikuti imam saja. 
Adapun jika Imam sujud sahwinya setelah salam, setelah Imam salam (sebelum sujud sahwi), ia menyempurnakan solatnya (tidak ikut sujud sahwinya Imam) dan setelah salam tidak usah sujud sahwi. 
3. Terkait kelupaan yang terjadi pada diri makmum dibelakang Imam pada saat sholat berjamaah, misalnya ia lupa baca dzikir ruku’, maka jika dari awal sholat ia sudah berjamaah bersama Imam, tidak perlu ia sujud sahwi.
Namun jika posisinya sebagai masbuq, maka ia perlu sujud sahwi, baik kelupaan tadi terjadi ketika sholat dibelakang Imam atau terjadi ketika ia sedang menyempurnakan sholat setelah Imam salam, maka ia sujud sahwi. Karena sujud sahwinya tidak menyelisihi sang Imam. 
Tentu skenario diatas pasti ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tergantung mereka memandang dalil-dalil yang ada, karena rinciannya, tidak terdapat dalam nash yang shorih. 

Wallahul A’lam
Sumber : https://islamqa.info/ar/72290

TASYAHUD PADA SUJUD SAHWI YANG DIKERJAKAN SETELAH SALAM

June 24, 2017 at 10:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH ADA TASYAHUD PADA SUJUD SAHWI SETELAH SALAM
Berdasarkan penelusuran sederhana dari kitab-kitab madzhab fiqih existing, maka ada dua versi dalam madzhab mereka masing-masing terkait disyariatkannya tasyahud pada saat sujud sahwi setelah salam, ada yang menetapkan dan juga ada yang menafikannya. Sumber utama perbedaan pendapat ini adalah terkait penilaian status hadits yang dijadikan sandaran dalam bab ini. Dari penelusuran sebagian ulama terhadap dalil disyariatkannya tasyahud pada sujud sahwi, didapati ada satu buah hadits secara marfu’ riwayat Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu, lalu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu, namun masih diperselisihkan apakah marfu’ atau mauquf, dan satu buah lagi atsar mauquf dari Mughiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu ‘anhu.
Oleh karena itu, kajian terhadap status hadits dan atsar diatas sangat urgent untuk menentukan apakah hadits dan atsar tersebut dapat dijadikan hujjah sehingga menguatkan pendapat yang mengatakan disyariatkannya tasyahud, atau bahkan sebaliknya hanyalah hadits dan atsar lemah yang tidak memiliki kekuatan sebagai landasan pensyariatan.
Kita mulai dengan pembahasan status hadits marfu’ dari Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam “sunannya” (no. 1039), dan Imam Tirmidzi dalam “sunannya” (no. 395), serta selainnya. Semuanya dari jalan :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنِي أَشْعَثُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ خَالِدٍ يَعْنِي الْحَذَّاءَ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ»

“telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faaris (adz-Dzhuliy), telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin al-Mutsannaa, telah menceritakan kepadaku Asy’ats, dari Muhammad bin Siriin, dari Khoolud al-Khidzaa`a, dari Abi Qilaabah, dari Abi al-Muhallab, dari ‘Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu : bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengimami para sahabat, lalu Beliau lupa, kemudian sujud dua kali, lalu bertasyahud, lalu salam”.
Jika melihat dhohir sanadnya, maka seluruh perowinya adalah para perowi tsiqoh, sehingga beberapa ulama hadits menshahihkannya seperti Imam Ibnu Hibban dan Imam al-Hakim. Adapun Imam Tirmidzi menilainya sebagai hadits hasan ghoriib. Namun para ulama yang berkhidmat untuk mengumpulkan jalan-jalan hadits, mereka mendapati cacat yang disebut dalam istilah ulumul hadits dengan “Syadz” pada hadits ini. Yakni dalam jalan-jalan lain yang sangat banyak dari Khoolid al-Khidzaa`a dari Abi Qilaabah dan seterusnya, tidak ada tambahan tasyahud padanya. Kita ambil satu sample saja yakni jalan yang dibawakan oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 574) sebagai berikut :

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ وَهُوَ الْحَذَّاءُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ، قَالَ: «سَلَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، مِنَ الْعَصْرِ، ثُمَّ قَامَ فَدَخَلَ الْحُجْرَةَ»، فَقَامَ رَجُلٌ بَسِيطُ الْيَدَيْنِ، فَقَالَ: أَقُصِرَتِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ «فَخَرَجَ مُغْضَبًا، فَصَلَّى الرَّكْعَةَ الَّتِي كَانَ تَرَكَ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ، ثُمَّ سَلَّمَ»

“telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibroohim, telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhaab ats-Tsaqofiyy, telah menceritakan kepada kami Khoolid al-Khidzaa`a, dari Abi Qilaabah, dari Abi al-Muhallab, dari Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “Rasulullah salam pada rokaat ketiga, pada saat mengimami sholat Ashar, lalu beranjak pergi dan masuk kamarnya, lalu ada salah seorang yang tangannya panjang berkata kepada Beliau, “apakah sholat sudah diqoshor, wahai Rasulullah?”, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam keluar dalam keadaan marah, lalu melanjutkan sholat satu rokaat yang terlupakan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali sujud sahwi, kemudian salam”.
Perhatikan! Dalam riwayat Shahih Muslim tidak ada tambahan “tasyahud” setelah sujud sahwi. Kemudian yang lebih meng-clearkan lagi bahwa tambahan diatas adalah bermasalah, Imam Nasa`i telah meriwayatkan dalam “Sunan Kubro” (no. 609) dengan sanad yang sama persis dengan sanadnya Abu Dawud dan Tirmidzi :

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَشْعَثُ، هُوَ ابْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ، عَنْ عِمْرَانَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا، فَسَجَدَ ثُمَّ سَلَّمَ

Lihat! Dalam sanad ini sama sekali tidak disebutkan tasyahud setelah salam. Asy-Syaikh Nabiil bin Manshuur al-Kuwaitiy dalam kitabnya “Aniis as-Saariy” yang merupakan kitab yang khusus mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam Fathul Bari, beliau menukil pendhoifan hadits diatas dari Imam Baihaqi dan Imam Ibnu Abdil Baar. Bahkan Imam al-Hakim dalam kitabnya “al-Mustadrok” (no. 1207) telah mengisyaratkan adanya masalah tambahan yang tidak terdapat dalam riwayat lain, beliau berkata ketika menilai hadits dari jalan yang sama persis dengan Abu Dawud dan Tirmidzi :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، إِنَّمَا اتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، وَلَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ التَّشَهُّدِ لِسَجْدَتَيِ السَّهْوِ

“hadits ini Shahih sesuai dengan syarat Bukhori-Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan, hanyalah keduanya sepakat meriwayatkan dari hadits Khoolid al-khidzaa`a dari Abi Qilaabah, namun tidak disebutkan didalamnya tasyahud untuk sujud sahwi” –selesai-.
Perkataan Imam al-Hakim bahwa hadits diatas atas syarat Bukhori-Muslim kurang tepat, karena Ays’ats bin Abdul Malik hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebagai hadits mu’alaq dan Abu al-Muhallab, Imam Bukhori hanya memakainya dalam kitabnya “Adaabul Mufrod”. Kemudian perkataan beliau bahwa keduanya, tentunya yang dimaksud adalah Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits yang bertemu sanadnya sampai kepada Khoolid al-Khidzaa`a dari Abi Qilaabah, juga tidak presisi, karena faktanya jalan tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Musllim dalam Shahihnya, sedangkan Imam Bukhori tidak menyebutkan hadits ini dalam kitab shahihnya. Namun Imam al-Hakim sudah mengisyaratkan bahwa tambahan tasyahud tidak tsabit dalam kitab yang lebih shahih.
Adapun Imam al-Albani dalam kitabnya “Irwaa`u al-Gholiil” (no. 403) tanpa ragu lagi menilainya sebagai hadits dhoif yang Syadz. Kesalahan berasal dari Asy’ats, sekalipun beliau perowi yang tsiqoh, namun beliau menyelisihi perowi lainnya yang lebih tsiqoh dengan menyusupkan tambahan “Tasyahud” pada haditsnya, sehingga tambahan ini tidak diterima. Kesimpulannya hadits ‘Imroon Rodhiyallahu ‘anhu dhoif dengan sebab adanya syadz pada matan haditsnya.
Adapun hadits Abdullah bin Mas’ud baik yang marfu’ maupun yang mauquf dan atsar Mughiiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu ‘anhumaa, maka saya tidak berpanjang lebar menyebutkan takhrijnya, saya mencukupkan diri dengan penelitian asy-Syaikh Nabiil al-Kuwaity dalam kitabnya diatas, yang menukil pendhoifan haditsnya Ibnu Mas’ud dan Mughiiroh Rodhiyallahu ‘anhumaa dari Imam ibnul Mundzir yang menilai kedua riwayat tersebut tidak tsabit alias dhoif.
Jika sandaran dalil yang menunjukkan disyariatkannya tasyahud dalam sujud sahwi tidak kokoh, maka tentunya gugurlah pendapat yang mengatakan adanya tasyahud pada sujud sahwi. Sebagai faedah tambahan, saya tutup dengan penjelasan asy-Syaikh Abu Maalik Kamal bin as-Sayyid Saalim dalam kitabnya “Shahih Fiqshus Sunnah” (1/472), setelah mengatakan bahwa hadits yang kita bahas ini sebagai hadits yang Syadz dan tidak shahih, kemudian beliau menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah seputar tasyahud dalam sujud sahwi, Syaikhul Islam dalam “Majmu Fatawanya” (23/48) berkata : 

 “… sesungguhnya telah tsabit bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sujud sahwi setelah salam lebih dari satu kali, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu tatkala Beliau sholat 5 rokaat, lalu dalam hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu –yang dikenal dengan hadits Dzul Yadain-, dan juga hadits Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu… namun didalam hadits-hadits tersebut tidak ada ucapan perintah dari Beliau untuk bertasyahud setelah sujud sahwi. Tidak terdapat juga dalam hadits-hadits yang shahih yang sudah diterima bahwa Beliau bertasyahud setelah sujud sahwi. Padahal tasyahud setelah sujud sahwi (jika benar Beliau mengerjakannya –pent.) adalah sebuah perbuatan yang panjang minimal seukuran dua sujud, bahkan bisa lebih, namun kenyataan tidak dihapal dan tidak juga dijaga periwayatannya, tidak tersebar dan tidak banyak yang menukilnya, seandainya benar Beliau bertasyahud tentu akan disebutkan bahwa Beliau bertasyahud ketika sujud sahwi. Sebagai perbandingan (misalnya –pent.) penukilan riwayat ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam salam dan takbir ketika sujud dan bangkit dari sujud, ini adalah ucapan yang sebentar, sedangkan tasyahud adalah perbuatan yang lebih lama, maka bagaimana bisa yang itu dinukil, sedangkan yang ini tidak dinukil” –selesai-.
Wallahul A’lam.

DZIKIR DUDUK DIANTARA DUA SUJUD SAHWI DAN KETIKA SUJUD SAHWI

June 24, 2017 at 10:01 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

DZIKIR DUDUK DIANTARA DUA SUJUD SAHWI DAN SUJUD SAHWI
Tidak ada dalil khusus berkaitan dengan bacaan dzikir atau doa pada saat duduk diantara dua sujud sahwi dan ketika sujudnya. Maka dalam hal ini diberlakukan dzikir atau doa ketika duduk diantara dua sujud seperti normal dalam sholat biasanya, misalnya membaca : “Robbigh firli.. ”

Begitu juga ketika sujud membaca : “subhanaa robbiyal a’laa.. “.
Imam Nawawi berkata dalam “al-Majmu” :

ﺳُﺠُﻮﺩُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻮِ ﺳَﺠْﺪَﺗَﺎﻥِ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺟَﻠْﺴَﺔٌ , ﻭَﻳُﺴَﻦُّ ﻓِﻲ ﻫَﻴْﺌَﺘِﻬَﺎ ﺍﻻﻓْﺘِﺮَﺍﺵُ ، ﻭَﻳَﺘَﻮَﺭَّﻙُ ﺑَﻌْﺪَﻫُﻤَﺎ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ , ﻭَﺻِﻔَﺔُ ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺗَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻬَﻴْﺌَﺔِ ﻭَﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺻِﻔَﺔُ ﺳَﺠَﺪَﺍﺕِ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ . ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ

“Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang diselingi dengan duduk, disunahkan padanya pada (duduk diantara dua sujudnya -pent.) dengan iftirosy (seperti duduk tasyahud awal -pent.) dan duduk tawaruk (seperti duduk tasyahud akhir -pent.) setelah sujud yang kedua, lalu salam. Sifat dua sujud ini terkait bacaan dzikirnya, sama seperti dzikir sujud ketika sholat. Wallahul a’lam”.
Sumber : https://islamqa.info/ar/39399

SUJUD SAHWI SEBELUM ATAU SETELAH SALAM

June 19, 2017 at 1:17 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SUJUD SAHWI SEBELUM ATAU SETELAH SALAM

 

Sujud sahwi adalah dua sujud yang dilakukan oleh orang yang sedang sholat karena ada suatu yang tidak sesuai dalam sholatnya, karena lupa. Sujud sahwi dikerjakan pada rokaat terakhir sholatnya pada saat tasyahud akhir. Hanya saja  para ulama berbeda pendapat didalam menentukan pelaksanaannya apakah sebelum salam atau sesudah salam. Berikut rincian yang saya dapati dalam kutub fiqih dari berbagai madzhab :

  1. Sujud Sahwi dipukul rata dilaksanakan sesudah salam, baik sebabnya karena adanya penambahan maupun pengurangan. Ini adalah pendapat resmi madzhab Hanafi. Imam al-Kasaaniy berkata :

وَأَمَّا بَيَانُ مَحَلِّ السُّجُودِ لِلسَّهْوِ فَمَحَلُّهُ الْمَسْنُونُ بَعْدَ السَّلَامِ عِنْدَنَا، سَوَاءٌ كَانَ السَّهْوُ بِإِدْخَالِ زِيَادَةٍ فِي الصَّلَاةِ أَوْ نُقْصَانٍ فِيهَا

“adapun penjelasan tempat sujud sahwi, maka disunahkan dilakukan setelah salam, menurut kami (Hanafiyyin), sama saja apakah kelupaan terjadi karena penambahan atau pengurangan dalam sholat” –selesai-.[1]

 

  1. Sujud sahwi dipukul rata dilaksanakan sebelum salam. Ini adalah pendapat resmi dalam madzhab Syafi’i. Imam Yahya bin Abil Khoir asy-Syafi’i berkata :

فذهب الشافعي في عامة كتبه إلى: (أن محلَّه قبل السلام) سواءٌ كان لزيادة، أو نقصان

“Imam asy-Syaafi’i berpendapat dibeberapa kitabnya bahwa tempat sujud sahwi adalah sebelum salam, sama saja apakah karena penambahan atau pengurangan” –selesai-.[2]

 

  1. Apabila sebabnya karena pengurangan, maka sujud sahwi dilaksanakan sebelum salam. Namun jika karena penambahan, maka dikerjakan setelah salam. Ini adalah pendapat resminya madzhab Maliki. Imam ibnu Abi Zaid al-Qoiruwaaniy al-Malikiy berkata :

وَكُلُّ سَهْوٍ فِي الصَّلَاةِ بِزِيَادَةٍ فَلْيَسْجُدْ لَهُ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ السَّلَامِ …. وَكُلُّ سَهْوٍ يُنْقِصُ فَلْيَسْجُدْ لَهُ قَبْلَ السَّلَامِ

“setiap sahwi dalam sholat karena penambahan, maka sujudlah dua kali sesudah salam… setiap sahwi karena pengurangan, maka sujudlah sebelum salam” –selesai-.[3]

 

  1. Hukum asalnya sujud sahwi dilaksanakan sebelum salam, kecuali di dua tempat, yang akan dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah ketika menyebutkan pendapat resmi madzhab Hanbali, beliau berkata :

وَمَا عَدَا هَذَا مِنْ السَّهْوِ فَسُجُودُهُ قَبْلَ السَّلَامِ … إلَّا فِي الْمَوْضِعَيْنِ اللَّذَيْنِ وَرَدَ النَّصُّ بِسُجُودِهِمَا بَعْدَ السَّلَامِ، وَهُمَا إذَا سَلَّمَ مِنْ نَقْصٍ فِي صَلَاتِهِ، أَوْ تَحَرَّى الْإِمَامُ، فَبَنَى عَلَى غَالِبِ ظَنِّهِ، وَمَا عَدَاهُمَا يَسْجُدُ لَهُ قَبْلَ السَّلَامِ

“selain hal-hal berikut ketika lupa, maka sujudnya adalah sebelum salam… kecuali di dua tempat yang telah datang nash bahwa sujudnya adalah setelah salam, yaitu sudah salam namun jumlah rokaatnya masih kurang dan ketika Imam ragu-ragu (jumlah rokaatnya), lalu dia memilih persangkaan yang kuat (jumlah rokaat yang dikerjakannya). Adapun selain di dua tempat ini, maka sujud sahwinya sebelum salam” –selesai-.[4]

 

  1. Hukumnya asalnya sujud sahwi dilaksanakan sesudah salam, kecuali di dua tempat, yang dijelaskan oleh Imam ibnu Hazm sebagai perwakilan madzhab dhohiri, kata beliau :

وَسُجُودُ السَّهْوِ كُلُّهُ بَعْدَ السَّلَامِ إلَّا فِي مَوْضِعَيْنِ… مَنْ سَهَا فَقَامَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ وَلَمْ يَجْلِسْ وَيَتَشَهَّدْ… وَالْمَوْضِعُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَدْرِي فِي كُلِّ صَلَاةٍ تَكُونُ رَكْعَتَيْنِ أَصَلَّى رَكْعَةً أَوْ رَكْعَتَيْنِ؟ وَفِي كُلّ صَلَاةِ تَكُونُ ثَلَاثًا أَصَلَّى رَكْعَةً أَوْ رَكْعَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا؟ وَفِي كُلِّ صَلَاةٍ تَكُونُ أَرْبَعًا أَصَلَّى أَرْبَعًا أَمْ أَقَلَّ؟ فَهَذَا يَبْنِي عَلَى الْأَقَلِّ

“Sujud sahwi seluruhnya setelah salam, kecual di dua tempat… (yang pertama) barangsiapa yang lupa duduk tasyahud setelah sholat dua rokaat, dia langsung berdiri… (yang kedua) dia ragu-ragu apakah sudah sholat satu rokaat atau dua rokaat pada sholat yang jumlahnya dua rokaat … (dan seterusnya), lalu dia menganggap bilangan sholat yang dikerjakannya adalah yang paling kecil..” –selesai-.[5]

Dalam kedua kondisi diatas, Imam ibnu Hazm berpendapat, silakan untuk memilih apakah sujud sahwinya sebelum salam atau sesudah salam.

 

  1. Orang yang lupa bebas memilih kapan sujud sahwinya, apakah sebelum salam atau sesudah salam. Ini adalah pendapat qodiim Imam asy-Syafi’i sebagaimana dijelaskan oleh Imam Yahya bin Abil Khoir dalam keterangannya diatas.[6]

 

  1. Ini yang akan kami bahas, yakni mengikuti hadits-hadits shahih yang datang terkait sabda dan perbuatan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam dalam masalah sujud sahwi, jika Beliau sujudnya sebelum salam, maka kita katakan sujud sahwinya sebelum salam dan jika sujudnya setelah salam, maka kita tetapkan juga sujudnya setelah salam.

 

Kami akan menginventarisir hadits-hadits dalam bab ini menjadi dua bagian, yang pertama adalah yang menunjukkan bahwa sujud sahwi dikerjakan sebelum salam dan yang kedua dikerjakan setelah salam.

  1. Ahaadits yang menunjukkan sujud sahwi sebelum salam

A. Hadits Abdullah bin Buhainah Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahihain :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمُ الظَّهْرَ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ سَلَّمَ

“bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengimami sholat Dhuhur, setelah mengerjakan sholat dua rokaat, Beliau tidak duduk (tasyahud awal –pent.), namun langsung berdiri, maka para makmum pun ikut berdiri, pada saat rokaat yang terakhir, para makmum menunggu salamnya, namun ternyata Beliau bertakbir dalam kondisi duduk (tasyahud akhir –pent.), lalu sujud sebanyak dua kali sebelum salam, kemudian Beliau baru salam”.

B. Hadits Abu Sa’id al-Khudri dalam Shahih Muslim secara marfu’ :

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“jika kalian ragu dalam sholatnya, ia tidak tahu berapa rokaat sholat yang sudah dikerjakannya apakah tiga atau empat rokaat, maka buanglah keraguannya dan jadikan jumlah acuan rokaatnya adalah apa yang ia yakini, kemudian ia sujud (sahwi) dua kali sujud, sebelum salam”.

C. Hadits Abdur Rokhman bin ‘Auf Rodhiyallahu ‘anhu dalam sunan Tirmidzi dan selainnya secara marfu’ :

إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلَاثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلَاثٍ، وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“jika kalian lupa dalam sholatnya, berapa jumlah rokaat yang telah dikerjakan, apakah satu rokaat atau dua rokaat, maka asumsikan sholatnya satu rokaat, jika tidak tahu apakah dua rokaat atau tiga rokaat, maka asumsikan sholatnya dua rokaat, jika tidak tahu apakah tiga rokaat atau empat rokaat, maka asumsikan sholatnya tiga rokaat, maka sujudlah dua kali sebelum salam” (dishahihkan Imam Tirmidzi dan al-Albani).

 

  1. Ahaadits yang menunjukkan sujud sahwi setelah salam
  2. Hadits Dzul Yadain, diriwayatkan oleh Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahihain bahwa Dzul Yadain pernah mengkoreksi sholat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam yang dikerjakan Cuma dua rokaat dari yang seharusnya empat rokaat, Dzul Yadain Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقَصُرَتِ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ، فَقَالَ: «لَمْ تَقْصُرْ وَلَمْ أَنْسَ» قَالَ: فَإِنَّمَا صَلَّيْتَ رَكْعَتَيْنِ، فَقَالَ: «أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ» قَالُوا: نَعَمْ، «فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ»

“wahai Rasulullah, apakah sholat diqoshor atau engkau lupa?, Beliau menjawab : “sholat tidak diqoshor dan aku tidak lupa”. Maka lanjutnya : “engkau berarti sholat dua rokaat”, maka Rasulullah berkata kepada yang lainnya : “benarkah apa yang dikatakan Dzul Yadain?”, para jamaah menjawab : “benar”, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berdiri melanjutkan sholat dua rokaat lagi, kemudian salam, kemudian sujud (sahwi) dua kali, lalu salam”.

  1. Hadits Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahihain, namun ini adalah riwayat Muslim didalamnya :

فَإِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَمْسًا، فَانْفَتَلَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ

“sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah) telah sholat sebanyak 5 rokaat. Lalu Beliau pun berpaling ke arah kiblat, lalu sujud (sahwi) dua kali, kemudian salam”.

  1. Hadits Abdullah bin Mas’ud juga dalam Shahihain dan lafadz ini ada di Shahih Bukhori, secara marfu’ :

وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ»

“Jika kalian ragu dalam sholatnya, maka pilihlah yang benar (yang kalian yakini –pent.), kemudian ia salam, lalu sujud (sahwi) dua kali”.

 

Berdasarkan hadits-hadits diatas dapat kita tarik kesimpulan, kapan sujud sahwi dikerjakan sebelum atau sesudah salam.

 

Sujud sahwi dikerjakan sebelum salam jika kondisinya sebagai berikut :

  1. Jika ada kekurangan pada sholatnya, misalnya lupa tidak tasyahud awal.
  2. Jika ragu-ragu jumlah rokaatnya, kemudian ia mengambil option memilih yang paling kecil jumlahnya. Misal ia ragu-ragu apakah sudah sholat dua rokaat atau tiga rokaat, maka ia mengambil asumsi dua rokaat, karena yang ini sudah pasti benar.

 

Adapun sujud sahwi yang dikerjakan sesudah salam, maka untuk kondisi sebagai berikut :

  1. Jika ada penambahan dalam sholatnya, misalnya ia sholat Maghrib empat rokaat. Termasuk didalamnya jika ia sholat Dhuhur misalnya yang seharusnya jumlahnya empat rokaat, namun ia lupa baru dua rokaat sudah salam, maka berarti disini ia menambahi salam, karena setelah ia ingat atau diingatkan, ia harus melengkapi kekurangan dua rokaatnya lagi, kemudian ia salam, dan setelahnya sujud sahwi.
  2. Jika ia ragu-ragu jumlah rokaatnya, namun ia mengambil asumsinya yang ia yakini. Misal ia ragu-ragu apakah sudah sholat dua rokaat atau tiga rokaat, lalu ia mengambil asumsi yang ia yakini bahwa rokaatnya adalah tiga rokaat, maka sujud sahwinya setelah salam, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu yang ada di Shahih Bukhori. Namun kita temukan juga dalam hadits Abu Sa’id Rodhiyallahu ‘anhu di Shahih Muslim, sujud sahwinya sebelum salam, maka mudah-mudahan dalam perkara ini ada pilihan, sujud sahwinya sebelum atau sesudah salam.

 

Jika dalam satu kali kesempatan sholat terjadi dua kali kelupaan (sahwu) dimana satu kelupaan adalah penyebab ia sujud sahwi sebelum salam dan satu kelupaan lagi adalah untuk sujud sahwi setelah salam, maka kata al-‘Alamah Ibnu Utsaimin, ambil saja sujud sahwi sebelum salam. Misalnya seorang sholat Dhuhur, pada rokaat yang kedua ia lupa tasyahud awal, dimana berarti ia harus sujud sahwi sebelum salam, kemudian pada rokaat ketiga ia duduk tasyahud, karena menyangka itu adalah rokaat yang kedua, lalu ia ingat atau diingatkan, dimana berarti ada penambahan dalam sholatnya, yang seharusnya jatah sujud sahwinya adalah setelah salam. Berdasarkan apa yang disampaikan oleh al-‘Alamah Ibnu Utsaimian dalam kasus diatas sujud sahwinya adalah sebelum salam. Wallahul A’lam.[7]

 

[1] Badaai’u ash-Shonaai’u (1/172, cet. DKI).

[2] Al-Bayaan fii Madzhab al-Imam asy-Syafi’i (2/346, cet. Daarul Minhaaj).

[3] Al-Fawaakih ad-Dawaaniy ‘alaa Risaalah ibnu Abi Zaid al-Qoiruwaaniy (1/216-217, cet. Daarul Fikr).

[4] Al-Mughni (2/17-18, cet. Maktabah al-Qoohiroh).

[5] Al-Muhalla bil Atsaar (3/84).

[6] Al-Bayaan (2/346).

[7] Lihat Risaalah fii Sujuud as-Sahwi, karya Ibnu Utsaimin.

AROMA ASYA’IROH DALAM FATHUL BARI

June 18, 2017 at 12:54 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AROMA ASYA’IROH DALAM FATHUL BARI
Kitab Fathul Bari adalah kitab monumental karya Imam besar kaum Muslimin, yaitu al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolany -Rahimahullah-. Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Shahih Bukhori, yang waktu penyusunannya memakan waktu kurang lebih selama 25 tahun. 
Namun tidak ada gading yang tak retak, sayang penulisnya dalam masalah-masalah akidah tertentu jatuh kepada kesalahan yang menyelisihi akidah salaful ummah. Diantara Kesalahan yang di highlight oleh ulama kita adalah terkaiat takwilan dalam bab sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Lajnah Daimah pernah berfatwa terkait sikap yang sebaiknya dilakukan oleh kaum muslimin, sehubungan dengan kesalahan yang terjadi pada diri ulama kibarnya. Teks fatwanya sebagai berikut :

ﺭﺍﺑﻌًﺎ : ﻣﻮﻗﻔﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺒﺎﻗﻼﻧﻲ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﺃﺑﻲ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻭﺃﺑﻲ ﺯﻛﺮﻳﺎ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻭﺃﻣﺜﺎﻟﻬﻢ ﻣﻤﻦ ﺗﺄﻭﻝ ﺑﻌﺾ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻭ ﻓﻮﺿﻮﺍ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ ﻣﻌﻨﺎﻫﺎ – ﺃﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﻧﻈﺮﻧﺎ ﻣﻦ ﻛﺒﺎﺭ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻣﺔ ﺑﻌﻠﻤﻬﻢ ﻓﺮﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺣﻤﺔ ﻭﺍﺳﻌﺔ ﻭﺟﺰﺍﻫﻢ ﻋﻨﺎ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ، ﻭﺃﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻭﺍﻓﻘﻮﺍ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﻭﻥ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺷﻬﺪ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﻟﺨﻴﺮ، ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﻄﺄﻭﺍ ﻓﻴﻤﺎ ﺗﺄﻭﻟﻮﻩ ﻣﻦ ﻧﺼﻮﺹ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﻭﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﻓﻴﻪ ﺳﻠﻒ ﺍﻷﻣﺔ ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻮﺍﺀ ﺗﺄﻭﻟﻮﺍ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﺍﻟﺬﺍﺗﻴﺔ ﻭﺻﻔﺎﺕ ﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺃﻡ ﺑﻌﺾ ﺫﻟﻚ .

ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ . ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ، ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ  

“Sikap kita kepada Abu Bakar al-Baqilaaniy, Baihaqi,  Ibnul Jauzi,  Nawawi, Ibnu Hajar dan yang semisalnya dari para ulama yang mentakwil sebagian sifat-sifat Allah atau mentafwidhnya (abstain dalam itsbat) adalah kami melihat mereka sebagai ulama besar kaum muslimin, yangmana Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin berkat ilmu mereka -semoga Allah memberikan Rahmat kepada mereka dengan Rahmat yang luas dan balasan yang sebaik-baiknya- dan mereka adalah ahlu sunah dalam perkara yang bersesuaian dengan para sahabat dan Aimah Salaf 3 generasi pertama, yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan testimoni bahwa mereka berada dalam kebaikan. Namun mereka terjatuh pada kekeliruan ketika mentakwil nash-nash sifat, yang menyelisihi salaful umah dan Aimah Sunah, sama saja baik penyelewengannya dalam masalah sifat dzatiyyah, sifat af’aal atau sebagiannya” -selesai-. 

(http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=1&PageID=880).
Untuk mengetahui diantara bentuk takwilan yang mirip dengan apa yang dilakukan asya’roh pada kitab fathul bari, tentunya bisa kita langsung baca dan ditelusuri pada beberapa tempat dalam kitab tersebut,  ketika penulisnya,  Al-Hafidz Ibnu Hajar mensyarah nash-nash terkait dengan sifat-sifat Allah. Dan Alhamdulillah, sebagian ulama telah melakukan penitian terhadap Fathul Bari, kemudian memberikan catatan sebagai bentuk koreksi terhadap apa yang disampaikan oleh penulis -Jazakumullah khoiron-. 
Diantara ulama tersebut adalah al-Imam Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz -Rahimahullah-. beberapa cetakan kitab Fathul Bari telah dilengkapi dengan catatan dari beliau. Kemudian Alhamdulillah asy-syaikh Abdullah bin Muhammad ad-Duwaisy telah mengumpulkan catatan-catatan Imam bin Baz terhadap Fathul Bari dalam sebuah buku tersendiri yang berjudul “ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻘﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻟﻠﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ”, bagi yang ingin memilikinya bisa diunduh pada link berikut : http://majles.alukah.net/t101012/
Contohnya Al-Hafidz ibnu Hajar mentakwil sifat Mahabbah Allah dengan “iradah bits Tsawaab” (kehendak untuk memberikan pahala). Maka kemudian asy-syaikh bin Baz memberikan catatan, bahwa takwil ini tidak benar dan yang tepat menurut Ahlus sunnah bahwa Allah disifati dengan Mahabbah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak boleh disamakan dengan mahabbah makhluk-Nya. 
Ta’liq Asy-Syaikh bin Baz sebenarnya tidak hanya terkait masalah akidah Asma wa Shifat saja, namun juga masalah Fiqih dan selainnya sebagaimana yang bisa pembaca lihat pada kitab yang kami isyaratkan diatas. Akan tetapi catatan yang dibuat oleh asy-Syaikh bin Baz belum mencakup seluruh kitab fathul bari. Upaya ini kemudian dilanjutkan oleh murid beliau yang bernama asy-syaikh DR. Ali bin Abdul Aziz asy-Syibl, namun fokusnya hanya mengkoreksi beberapa penyelewengan akidah dalam Fathul Bari yang beliau tuangkan dalam buku yang berjudul “ﺍﻟﺘﻨﺒﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺎﺕ ﺍﻟﻌﻘﺪﻳﺔ ﻓﻲ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ”. Kitab ini bisa diunduh disini : https://www.almeshkat.net/book/590
Bagi yang ingin lebih luas lagi mengetahui bagaimana manhaj Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam masalah akidah yang dituangkan dalam bukunya “Fathul Bari”, baik yang positif maupun negatifnya ketika dibandingkan dengan akidah salaf, maka dapat mengkaji kitab yang berjudul “ﻣﻨﻬﺞ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻣﻦ ﺧﻼﻝ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ” yang asalnya adalah sebuah tesis S2 Muhammad Ishaq. Didalam tesisnya, penulis menetapkan bahwa manhaj Al-Hafidz ibnu Hajar dalam mensyarah Sifat-sifat Allah menempuh metode ahli takwil (hal. 725). Tesis tersebut dapat anda miliki dengan mengunduhnya disini : http://waqfeya.com/book.php?bid=1521.
Point pentingnya adalah bahwa kesalahan atas nama apapun tetaplah sebuah kesalahan yang tidak bisa dibenarkan sekedar hanya itu berasal dari ulama besar, maka kesalahannya tetap kita tinggalkan dan kebenaran yang lebih banyak darinya bisa kita ambil faedahnya. Semoga Allah mengampuni kesalahan para Aimah kita dan juga dosa-dosa kita semuanya. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

MENGAMBIL PENDAPAT YANG LEBIH BERHATI-HATI

June 18, 2017 at 12:53 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGAMBIL PENDAPAT YANG LEBIH BERHATI-HATI
Bagi yang mempejari ilmu fiqih, tentu sudah terbiasa dengan terjadinya perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam suatu pembahasan. Kemudian banyak para ulama memberikan konsep didalam menyikapi atau beramal ketika menghadapinya. Salah seorang guru kami menginformasikan bahwa gurunya juga sudah mengembangkan konsep dengan apa yang disebut sebagai fiqih ikhtiyaath. Yaitu mengambil pendapat yang lebih berhati-hati. 
Saya lupa untuk menanyakan di kitab mana sang guru sudah membahas konsep ini secara detail, namun memang kenyataannya ada beberapa ulama kontemporer yang sudah meng-eksplore konsep ini dan menyusunnya secara sistematis agar menjadi bahan kajian bagi pecinta ilmu fiqih. Salah satu yang bisa dijadikan referensi adalah kitab yang berjudul “al-‘Amalu bil Ikhtiyaath fii al-Fiqhi al-Islamiy” karya Muniib bin Mahmuud Syaakir. Kitabnya dapat didownload di link berikut : http://waqfeya.com/book.php?bid=9478
Sedikit gambaran tentang konsep fiqih ikhtiyaath ini, misalnya ketika terjadi perselisihan pendapat apakah sebuah amalan itu wajib atau sunnah, maka dikerjakan saja amalan tersebut, karena tentunya dia sudah aman posisinya, seandainya ternyata yang benar memang diwajibkan, daripada dia berasumsi sunnah dalam artian tidak dikerjakan tidak masalah, namun ternyata itu diwajibkan, sehingga dia berdosa karena meninggalkannya. Adapun jika ternyata hanya sekedar sunah, tentu dia tidak rugi, karena berbuat amal ketaatan Allah tidak akan menyia-nyiakannya. 
Pun sama ketika ada perselisihan pendapat apakah hukumnya haram atau makruh, maka cari amannya dia tinggalkan saja amalan tersebut dengan asumsi kurang lebih sama dengan point diatas. 
Para ulama sebelumnya ada yang menggunaka istilah “khuruj minal khilaf” (keluar dari perselisihan) dan istilah-istilah lainnya yang pointnya hampir semakna dengan yang dibahas disini. Tentunya disana ada beberapa penjelasan yang perlu dirinci, sebagai klarifikasi apakah dalam semua permasalahan yang debatable, konsep ini harus diterapkan atau ada batasan dan aturannya. Penjelasan yang komprehensif bisa langsung dirujuk kepada kutub ulama yang fokus membahas tentang konsepsi fiqih ikhtiyaath,  dan ini bukanlah pembahasan yang baru dalam kutub ushul fiqih ulama sebelumnya, hanya saja ulama kontemporer menyajikan dengan lebih sistematis dan lebih luas, menginventarisir qoul ulama seputar masalah ini. 
Bagi tholabul ilmu fiqih, akan terbiasa ketika mendengarkan kajian fiqih, dimana gurunya menawarkan solusi fiqih ikhtiyaath untuk mengatasi polemik yang terjadi diseputaran masalah fiqhiyyah.

MEMBACA BASMALAH DITENGAH SURAT

June 18, 2017 at 12:51 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM MEMBACA BASMALAH DI TENGAH SURAT
Para ulama telah sepakat dianjurkannya membaca “Basmalah” diawal setiap surat, kecuali surat At Taubah. Adapun membaca Basmalah ditengah surat, misalnya seseorang selesai membaca Al Baqoroh sampai ayat 100, kemudian pada kesempatan berikutnya dia akan melanjutkan membaca ayat ke 101 dan seterusnya, apakah dianjurkan baginya membaca basmalah lagi? 
Mayoritas ulama ahli qiroah dan ulama fiqih membolehkannya. Imam Ahmad pernah ditanya tentang hukum membaca Basmalah ditengah surat, beliau menjawab “laa ba’saa” (tidak mengapa), bahkan dinukil dari Imam Syafi’i, beliau me-mustahab-kannya (mensunahkannya). Sebagian ulama mengatakan bahwa yang tepat ketika memulai bacaan dari tengah surat adalah dengan ta’awudz, sebagaimana dikatakan al-‘Alamah bin Baz dalam fatawanya :

ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺒﺪﺍﺀﺓ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻟﺘﻌﻮﺫ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ ﻳﻜﻔﻲ، ﻭﺇﻥ ﺳﻤﻰ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﻟﻜﻦ ﻳﻜﻔﻲ ﺍﻟﺘﻌﻮﺫ؛ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻞ ﻭﻋﻼ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ ‏( 98 ‏) ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻨﺤﻞ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻣﻦ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻳﺘﻌﻮﺫ ﻭﻳﻜﻔﻲ، ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻬﺎ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﻌﻮﺫ ﻭﻳﺴﻤﻲ ﺟﻤﻴﻌﺎً

“Adapun jika dia memulai membacanya ditengah surat maka diawali dulu dengan ta’awudz… ini sudah mencukupi, namun jika dia menambahi Basmalah pun tidak mengapa, namun sebenarnya cukup dengan ta’awudz saja, sebagaimana Firman Allah :

فَاِذَا  قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 98).

… adapun ketika mulai dari awal surat, maka membaca ta’awudz dan Basmalah.. ”

(http://www.binbaz.org.sa/noor/2362).
Begitu juga pendapat para ulama qiroah, mereka mengatakan tidak ada larangan untuk membaca Basmalah ketika melanjutkan bacaan ditengah surat dalam kasus ini. Imam asy-Syatibi berkata dalam thoriqnya :

ﻭﻻﺑُﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﺑﺘﺪﺍﺋﻚ ﺳﻮﺭﺓً ﺳﻮﺍﻫﺎ، ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺟﺰﺍﺀ ﺧﻴَّﺮ ﻣﻦ ﺗﻼ

“Harus membaca Basmalah pada saat engkau mulai bacaan diawal surat, kecuali (surat At Taubah). Adapun ditengah surat, maka ini adalah pilihan (silakan) untuk membacanya”.

(http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=4446).
Namun sebagian ulama qiroah sangat menganjurkan membaca Basmalah ditengah surat, ketika bacaan anda berawal dari ayat yang dhomir (kata petunjuknya) merefer kepada Allah. Misal anda nanti akan mulai membaca ayat ke-47 dari surat Al Fussilat :

اِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۗ  

“Kepada-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat itu dikembalikan (QS. Fussilat 41: Ayat 47).

Maka ketika anda mencukupkan diri dengan hanya membaca ta’awudz :

ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ الرجيم 

Lalu dilanjut : اِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ

Maka ketika diterjemahkan artinya kurang lebih : “aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, Kepada-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat itu dikembalikan”.
Shuf!, seolah-olah kata ganti “Nya” mengacu kepada setan yang terkutuk, tentu ini akan sangat berbahaya sekali, oleh karenanya membaca Basmalah dalam kondisi seperti ini sangat ditekankan sekali. Para ulama qiroah berkata :

ﻭَﻳَﺘَﺄَﻛَّﺪُ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺳﻴﻘﺮﺃﻫﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﺿﻤﻴﺮٌ ﻳﻌﻮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ 

“Sangat dianjurkan sekali mengawalinya dengan Basmalah ketika ayat yang hendak engkau baca setelah Basmalah, dhomirnya kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”

(https://islamqa.info/ar/21722).

TA’QIIB DALAM SHOLAT TARAWIH

June 16, 2017 at 9:27 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’QIIB DALAM SHOLAT TARAWIH
Ada sebuah fenomena yang terjadi di sebagian masjid kaum muslimin yang mengadakan sholat tarawih pada 10 hari terakhir menjadi dua shift. Shift pertama misalnya dikerjakan 10 rokaat, kemudian nanti pada sepertiga malam terakhir dikerjakan lagi 10 rokaat. Semuanya dikerjakan secara berjamaah. 
Istilah ini masyhur dalam madzhab Hanbali yang dinamakan dengan at-Ta’qiib. Ada dua pendapat yang masyhur yang dinukil dari Imam Ahmad dan para ulama lainnya terkait masalah ta’qiib ini :

1. Hukumnya makruh, jika mereka mengadakan sholat sunah berjamaah lagi setelah selesai mengerjakan sholat tarawih dan witir pada kesempatan pertama. Misalnya sholat tarawih dan witir secara berjamaah telah dikerjakan setelah sholat isya. Kemudian pada sepertiga malam akhir diadakan lagi sholat malam secara berjamaah. Imam Ahmad memakruhkannya sebagaimana dinukil oleh al-‘Alamah Muhammad ibnul Hakam dan dari kalangan ulama kontemporer oleh al-‘Alamah ibnu Utsaimin. Dalil mereka adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺍﺟﻌﻠﻮﺍ ﺁﺧﺮ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺑﺎﻟﻠَّﻴﻞ ﻭﺗﺮًﺍ

“Jadikan akhir sholat malam kalian itu adalah sholat witir”.

Sisi pendalilan bahwa ta’qiib diatas dihukumi makruh, karena ketika mereka sudah sholat tarawih dan witir, kemudian mereka sholat malam lagi, maka berarti sholat witirnya tidak menjadi sholat terakhir baginya. 

Kemudian telah datang pendapat aimah kita yang memakruhkannya dari Imam Said bin al-Musayyib, Hasan al-bashri, dan Qotadah Rahimahumullahu. 

Solusinya bagi orang yang terlanjur melakukan sholat tarawih dan witir bersama Imam, kemudian dia ingin melaksanakan sholat malam pada sepertiga malam akhir, maka dia melakukannya di rumah atau sendiri, sebagaimana telah datang fatwa dari Anas bin Malik dalam Mushonaf ibnu Abi Syaibah, ketika ditanya tentang ta’qiib pada Bulan Ramadhan :

ﻓﺄﻣﺮﻫﻢ ﺃﻥ ﻳُﺼﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ‏

“Beliau memerintahkan mereka untuk sholat (sendiri-sendiri -pent.) di rumah”.
2. Tidak makruh sama sekali, alias boleh secara mutlak. Ini dinukil juga dari Imam Ahmad dan dianggap sebagai pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Hanbali, adapun qoul yang pertama yang memakruhkannya, maka itu dianggap sebagai qoul qodiim. 

Dalilnya adalah perkataan Anas bin Malik radhiyallahu anhu :

ﻣﺎ ﻳﺮﺟﻌﻮﻥ ﺇﻻ ﻟﺨﻴﺮ ﻳﺮﺟﻮﻧﻪ، ﺃﻭ ﻟﺸﺮ ﻳﺤﺬﺭﻭﻧﻪ ‏

“Tidaklah mereka kembali (untuk sholat lagi secara berjamaah -pent.), kecuali karena mengharapkan kebaikan atau agar menghindari kejelekan” (HR. Ibnu Abi Syaibah). 

Al-‘Alamah ibnu Utsaimin dalam “asy-Syarh al-Mumti'” menyanggah pendapat penulis “Zaadul Mustaqni'” yang mengatakan ta’qiib dalam bentuk diatas tidaklah makruh secara mutlak. Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan seandainya atsar mauquf Anas bin Malik radhiyallahu anhu yang dijadikan dalil oleh beliau shahih (yang benar atsar ini dhoif -pent.), maka dia bercanggah dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang marfu’ yakni untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat malam seseorang. 

Kemudian al-‘Alamah ibnu Utsaimin memberikan bentuk at-Ta’qiib yang tidak makruh, yakni sholat witir pada shift pertama diakhirkan nanti pada shift kedua yang dikerjakan pada akhir malam. Kata beliau :

لكن لو أنَّ هذا التَّعقيبَ جاء بعد التَّراويح وقبل الوِتر، لكان القول بعدم الكراهة صحيحاً، وهو عمل النَّاس اليوم في العشر الأواخر من رمضان، يُصلِّي النَّاس التَّراويح في أول الليل، ثم يرجعون في آخر الليل، ويقومون يتهجَّدون

“Namun jika mereka melakukan ta’qiib ini setelah sholat tarawih dan (menangguhkan) witirnya, maka pendapat yang mengatakan tidak makruhnya ta’qiib tersebut adalah benar. Inilah yang dilakukan orang-orang pada hari ini, pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan. Mereka sholat tarawih pada awal malam, kemudian kembali lagi nanti pada akhir malam, mengerjakan sholat tahajud (lalu ditutup dengan witir -pent.).
So, apa yang dilakukan disebagian masjid tersebut, memiliki sandaran dari para ulama, terutama dibahas lebih rinci dalam madzhab Hanbali. Wallahul A’lam.

SURAT TERBUKA KEPADA IBNUL JAUZI

June 16, 2017 at 9:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SURAT TERBUKA KEPADA IMAM IBNUL JAUZI
Para tholabul ilmi tentu mengenal nama beliau. Salah seorang ulama besar yang mengusai multi disiplin ilmu dalam islam. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir, ahli hadits, ahli sejarah, ahli fiqih dan pakar dalam cabang-cabang ilmu lainnya. Imam ibnul Jauzi (w. 597 H) memiliki ucapan yang Indah, sehingga beliau dikenal sebagai juru nasehat. 
Namun sayangnya dalam masalah akidah tentang Asmaa dan shifat Allah, beliau mengikuti pendapat yang menyelisihi Imamnya yang beliau menisbatkan diri kepadanya, yakni beliau sebagai seorang Hanbali. Bahkan beliau melakukan kritikan keras kepada tokoh-tokoh ulama hanbali yang mengusung akidah salaf, seperti kepada qodhi Abu Ya’laa. 
Hal inilah yang membuat resah sebagian ulama Hanabilah. Diantara mereka adalah Ishaq bin Ahmad al-‘Altsiy (W.  634 H), salah seorang Faqih dan Zahid, terkenal sebagai ulama yang getol melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya “Dzail Thobaqoot al-Hanabilah” menyebutkan bahwa al-‘Altsiy pernah menulis surat kepada Imam ibnul Jauzi untuk mengingatkan beliau atas sikap dan pendapatnya terkait masalah akidah. Di awal suratnya beliau berkata :

ﻣﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻏﺎﻧﻢ ﺍﻟﻌﻠﺜﻲ، ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ، ﺣﻤﺎﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻳﺎﻩ ﻣﻦ ﺍﻻﺳﺘﻜﺒﺎﺭ ﻋﻦ ﻗﺒﻮﻝ ﺍﻟﻨﺼﺎﺋﺢ، ﻭﻭﻓﻘﻨﺎ ﻭﺇﻳﺎﻩ ﻻﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ، ﻭﺑﺼﺮﻧﺎ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ، ﻭﻻ ﺣﺮﻣﻨﺎ ﺍﻻﻫﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻠﻔﻈﺎﺕ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ، ﻭﺃﻋﺎﺫﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﻤﺤﻤﺪﻳﺔ . ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ…

“Dari.. Al-‘Altsiy kepada Ibnul Jauzi, semoga Allah menjaga kami dari dirinya dari menyombongkan diri menerima nasehat, memberikan taufik-Nya kepada kami dan kepadanya untuk mengikuti Salafus Sholih, memperlihatkan sunah yang lurus, tidak mengharamkan kepada kita petunjuk nabawiyyah, melindungi kita dari berbuat bid’ah dalam syariat muhammadiyah, dan tidak membutuhkan bid’ah tersebut… “.
Diakhir suratnya beliau dengan tegas memperingatkan Imam ibnul Jauzi :

ﻭﺇﺫﺍ ﺗﺄﻭﻟﺖَ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻐﺔ، ﻭﺳﻮﻏﺘﻪ ﻟﻨﻔﺴﻚ، ﻭﺃﺑﻴﺖَ ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ، ﻓﻠﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ – ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻭﺣﻪ – ﻓﻼ ﻳﻤﻜﻨﻚ ﺍﻻﻧﺘﺴﺎﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻬﺬﺍ، ﻓﺎﺧﺘﺮ ﻟﻨﻔﺴﻚ ﻣﺬﻫﺒﺎً، ﺇﻥ ﻣُﻜﻨﺖ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ…

“Jika engkau masih saja mentakwil shifat (Allah) dari lafadznya, dan engkau merasa harus melakukan itu, serta menolak nasehat, maka ini semua bukanlah madzhab Imam besar Ahmad bin Hanbal -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Tidak mungkin lagi engkau menisbatkan dirimu kepadanya dengan sebab tersebut, siakan pilih untuk dirimu sebuah madzhab yang engkau merasa nyaman dengannya.. “.
Isi lengkap surat terbuka ini dapat dilihat di :

http://www.mobile.alamralawal.com/showContent.php?p=kawal&i=13
al-‘Altsiy mengkritik Imam ibnu Jauzi dengan menukilkan pendapat-pendapatnya yang dianggap menyimpang dan dikitab mana itu ditemukan dalam deretan karya-karya Imam ibnul Jauzi. 
Ada 6 point utama kritikan al-‘Altsiy (http://majles.alukah.net/t117301/) dalam suratnya ini :

1. Imam ibnul Jauzi tidak beradab ketika mensifati malaikat dengan hamba Allah yang Saadzijah (naif);

2. Tuduhan Imam ibnul Jauzi bahwa Ahlus sunnah tidak paham sifat-sifat Allah. 

3. Pendapatnya terkait qiyas dalam masalah Sifat-sifat Allah. 

4. Taklidnya beliau kepada ulama yang sesat dalam masalah Sifat Rabbunaa. 

5. Jatuhnya beliau dalam mentahrif (merubah) Sifat Allah. 

6. Takwil beliau terhadap sifat Allah.

WANITA SHOLAT TARAWIH DI MASJID ATAU DI RUMAH

June 16, 2017 at 9:25 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MANA YANG LEBIH UTAMA BAGI WANITA PADA 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN, SHOLAT TARAWIH SENDIRI DI RUMAH ATAU BERJAMAAH DI MASJID
Al-‘Alamah Sholih al-Fauzaan berfatwa :

“Sholatnya seorang wanita di rumah itu lebih utama di rumah dalam seluruh kondisi, baik sholat fardhu, maupun sholat nafilah. Namun jika dia sholat di Masjid baik sholat fardhu maupun sholat tarawih, maka ini boleh. 
Terkait dengan lailatul qodar, yakni pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan, maka waktunya tidak ditentukan persisnya, orang-orang bersungguh-sungguh beribadah pada malam itu agar mendapatkannya, yakni ketika lailatul qadar datang, mereka dalam kondisi sedang melakukan amal sholih. 
Adapun sholatnya wanita di rumah, maka ini lebih utama dalam seluruh kondisi,  baik pada 10 hari terakhir Ramadhan, atau sebelumnya dan sesudahnya. Namun jika mereka mau sholat di masjid baik pada 10 hari terakhir atau sepanjang malam bulan Ramadhan, maka ini diperbolehkan. 
=============================

Teks fatwa :

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ‏( 1 /349 ‏)

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ : ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻟﻠﻤﺮﺃﺓ : ﺃﻥ ﺗﺼﻠﻲ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﻣﻨﻔﺮﺩﺓ ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺟﻤﺎﻋﺔ؟

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ، ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ ﻭﺍﻟﻨﻮﺍﻓﻞ ، ﻭﺇﻥ ﺻﻠﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﺃﻭ ﺗﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﺬﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ .

ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ؛ ﻓﻬﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻟﻜﻦ ﻟﻴﺴﺖ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ ﺍﻟﺘﺤﺪﻳﺪ ، ﻭﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺘﺤﺮﻳﺎً ﻟﻬﺎ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀﺕ ﻓﻬﻮ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ .

ﻓﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ، ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺃﻭ ﻗﺒﻠﻬﺎ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻫﺎ ، ﻭﺇﻥ ﺟﺎﺀﺕ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﺸﻬﻮﺭ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ .
Sumber : http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=57952

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: