​APAKAH ADA SAHABAT YANG TERLIBAT DIDALAM PEMBUNUHAN TERHADAP UTSMAN BIN ‘AFFAN? 

February 2, 2018 at 9:52 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH ADA SAHABAT YANG TERLIBAT DIDALAM PEMBUNUHAN TERHADAP UTSMAN BIN ‘AFFAN? 


ada seorang yang berkomentar di blog kami bahwa shohabi Jaliil ‘Ammar bin Yassar radhiyallahu anhu terlibat pembunuhan terhadap Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Maka secara refleks saya langsung menanggapi bahwa ini adalah komentar yang sangat ngawur sekali. 
Para ulama islam yang memiliki kredibilitas yang tinggi dalam sejarah, telah memastikan tidak ada satu orang pun sahabat Nabi radhiyallahu anhum yang terlibat didalam pembunuhan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. 
asy-syaikh Muhammad al-Munajid menginformasikan kepada kita sebagian pernyataan ulama diatas, diantaranya :

1. Imam ibnu Katsir berkata :

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺃﺳﻠﻤﻪ ﻭﺭﺿﻲ ﺑﻘﺘﻠﻪ : ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺼﺢ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺃﻧﻪ ﺭﺿﻲ ﺑﻘﺘﻞ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺑﻞ ﻛﻠﻬﻢ ﻛﺮﻫﻪ ، ﻭﻣﻘﺘﻪ ، ﻭﺳﺐَّ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻪ .”

ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ” ‏( 7 / 221 ‏) 

“Adapun yang disebutkan sebagian orang bahwa ada beberapa sahabat yang Ridho dengan pembunuhan Utsman, maka ini tidak valid dari salah seorang sahabat pun bahwa mereka Ridho dengan pembunuhan beliau, bahkan faktanya mereka tidak suka, marah dan mengecam pelakunya”.

2. Imam Nawawi berkata :

” ﻭﻟﻢ ﻳﺸﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﻗﺘﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺷﺮﺡ ﻣﺴﻠﻢ ” ‏( 15 / 148 ‏) 

“Tidak satu orang sahabat pun yang berserikat dalam pembunuhan Utsman”.

3. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad berkata :

” ﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺷﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﻗﺘﻞ ﻋﺜﻤﺎﻥ ” .

ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺷﺮﺡ ﺳﻨﻦ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ” ‏( ﺷﺮﻳﻂ ﺭﻗﻢ 239 ‏) 

“Kami tidak mengetahui satu orang sahabat pun yang terlibat didalam pembunuhan Utsman “.
Intinya adalah bahwa tidak ada satu orang sahabat Rasulullah yang terlibat didalam pembunuhan Utsman, bahkan mereka mengecam keras pembunuhan tersebut dan terjadilah apa yang terjadi dari rentetan peristiwa-peristiwa sejarah setelah finah pembunuhan Utsman bin Affan secara zalim. 
Terdapat sebuah karya tulis yang menarik dari salah seorang dosen sejarah Universitas Islam Madinah yakni DR. Muhammad bin Abdillah al-Ghobbaan, terkait peristiwa seputar pembunuhan Utsman. Beliau menguji riwayat-riwayat yang menggambarkan fitnah ini, disertai kritikan terhadap validitasnya. Kitab ini bahkan menurut info asy-syaikh al-Munajid pernah didiskusikan secara ilmiah dengan al-‘Alamah Muhammad Nashiruddin al-albani rahimahullah. 
Bagi yang ingin menelaah kitab diatas dapat memilikinya dengan mengunduhnya di : http://waqfeya.com/book.php?bid=1103
Adapun Informasi lengkap asy-syaikh al-Munajid diatas, dapat dilihat di : https://islamqa.info/ar/239015

Advertisements

HAL YANG MENYEBABKAN BERWUDHU LAGI KARENA YANG KELUAR DARI KEMALUAN DAN DUBUR

January 16, 2018 at 2:21 pm | Posted in Syarah al-Ijma | Leave a comment

Al-Imam berkata :

“(yang ketiga), para ulama bersepakat bahwa keluarnya tahi dari dubur dan keluarnya kencing dari kemaluan, begitu juga berlaku pada wanita, lalu keluarnya mani, keluar angin dari dubur (kentut), dan hilangnya akal dengan cara apapun, maka semua itu adalah hadats yang dapat membatalkan kesucian dan mewajibkannya berwudhu lagi”.

 

Intisari penjelasan asy-Syaikh :

  • Dalil batalnya keluarnya tahi dari dubur adalah Firman Allah Azza wa Jalla :

“atau kembali dari tempat buang air (kakus)” (QS. Al Maidah : 6).

  • Adapun kencing dan keluarnya mani maka ini sudah ma’ruf dapat membatalkan wudhu, baik yang terjadi pada laki-laki maupun perempuan.
  • Adapun keluarnya angin, maka yang disepakati para ulama yang dapat membatalkan wudhu adalah yang keluar dari dubur, adapun yang keluar dari kemaluan, maka yang rajih tidak membatalkan wudhu.
  • Hilangnya akal dapat berupa sebagai berikut :
  • Karena tidur yang pulas
  • Pingsan
  • Gila
  • Mabuk

Semua hilangnya akal karena alasan diatas adalah membatalkan wudhu.

  • Adapun tidur yang ringan, seperti mengantuk yakni ia masih dapat merasakan kondisi sekitarnya, maka menurut sebagian ulama hal ini tidak membatalkan wudhu, berdasarkan hadits :

الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ، فَمَنْ نَامَ، فَلْيَتَوَضَّأْ

“mata itu pengikat dubur, maka barangsiapa yang tidur, hendaknya berwudhu” (HR. Ibnu Majah, dihasankan al-Albani).

BOLEH MELAKUKAN SHOLAT APA SAJA SELAMA MASIH DALAM KONDISI SUCI

January 15, 2018 at 10:39 pm | Posted in Syarah al-Ijma | Leave a comment

Al-Imam berkata :

“(Yang kedua), para ulama bersepakat bahwa barangsiapa yang telah dalam kondisi bersuci untuk sholat, maka ia boleh melakukan sholat yang ia kehendaki selama dalam kondisi bersuci, sampai ia berhadats yang dapat membatalkan bersucinya”.

****

 

Intisari penjelasan asy-Syaikh :

  • Dalilnya adalah surat Al Maidah ayat 6 diatas, dimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa memerintahkan orang yang hendak sholat untuk berwudhu terlebih dahulu dan perintah ini adalah umum untuk semua sholat.

Kemudian perbuatan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam yang pernah melakukan beberapa sholat pada saat penaklukkan kota Mekkah dengan satu wudhu. Dari Buraidah Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلَّى الصَّلَوَاتِ يَوْمَ الْفَتْحِ بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ

“bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sholat beberapa sholat pada hari penaklukkan Mekkah dengan satu wudhu” (HR. Muslim).

SYARAH IJMA – THAHARAH 1

January 12, 2018 at 7:23 pm | Posted in Syarah al-Ijma | Leave a comment

SYARAH KITABUL IJMA IMAM IBNUL MUNDZIR

Disaripatikan dari Penjelasan asy-Syaikh Wahid Abdus Salam Baliy

 

Kitab Thaharah

 

Al-Imam al-Mujtahid ibnul Mundzir Rahimahullah (al-Imam)  berkata :

“(Yang pertama) Para ulama bersepakat bahwa tidak sah sholat, kecuali dalam keadaan suci, jika seseorang mampu melakukannya”.

 

Intisari penjelasan asy-Syaikh Wahib Abdus Salam Baliy (asy-Syaikh) Hafidzahullah :

  • Thaharah (bersuci) adalah kegiatan mengangkat hadats dan menghilangkan najis
  • Al-Imam tidak mengatakan sholat tidak sah tanpa wudhu saja, namun lebih umum dari itu yang diungkapkan dengan kata thaharah (bersuci), karena boleh jadi seseorang tidak mendapatkan air atau tidak bisa menggunakan air, karena sakit atau alasan syar’i lainnya, sehingga ia bertayamum untuk sholatnya.
  • Diantara dalil ijma ini adalah :

Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Maidah : 6).

Hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam :

لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak akan menerima sholat kalian ketika berhadats, sampai berwudhu” (Muttafaqun ‘alaih).

#seri01

January 9, 2018 at 12:14 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Kitab Bersuci

Bab 1   
Terjemahan :
Akhbaronaa Ar Robii’ bin Sulaiman ia berkata, akhbaronaa Imam Syafi’I rohimahulloh beliau berkata : Allah berfirman : {Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu} (QS. Al Maidah (5) : 6). Ayat ini menjelaskan kepada (kaum Mukminin) yang diajak bicara bahwa cucian mereka hanyalah dengan menggunakan air, kemudian ayat ini juga menjelaskan bahwa mencuci itu dengan air. adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh kaum mukminin yang diajak bicara bahwa air yang dimaksud disini adalah air yang Allah ciptakan yang belum dikontaminasi oleh manusia. Air tersebut adalah umum mencakup air hujan, air sungai, air sumur, air telaga, air laut yang sangat asin, semuanya dapat digunakan untuk bersuci baik untuk berwudhu maupun mandi. Dhohirnya Al Qur’an menunjukkan bahwa semua air tersebut suci, termasuk air laut dan selainnya. Telah diriwayatkan dari Nabi tentang air laut yang sesuai dengan dhohir Al Qur’an, namun dalam sanadnya terdapat perowi yang tidak dikenal.

 
Ta’liqiy :
Yang dimaksud oleh Imam Syafi’I adalah bahwa asal dari air yang Allah ciptakan baik yang diturunkan dari langit atau yang dipancarkan diatas muka bumi adalah suci. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
p 56 1R oL 8. CL . A   > 28 7D..,>1+.
“dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS. Al Furqoon (25) : 48).
Dan sabda Nabi  :
tL>”.u &6 rs76/. 1 q 56 1R 9L . D 4 =

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajisinya”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, dishahihkan oleh Imam Ahmad).
Yang dimaksud oleh Imam Syafi’I bahwa ada hadits yang sesuai kandungannya dengan Ayat diatas adalah hadits tentang air laut, didalam sanadnya terdapat perowi yang tidak beliau kenal yaitu Said bin Salamah dan Al Mughiroh bin Abi Burdah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya dan Imam Adz-Dzhahabi dalam Talkhisnya terhadap Mustadrok Imam Al Hakim. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut yang akan disampaikan oleh Imamunaa Syafi’I

 8 5G+ W`   z     kXT    x yY     :  8 )*  M      H #   –         5w^  – v  8     (“#$ %     ) Q      =    5    / :  Z$    + &  –   @ ^ m7   )*   g   5Z/ &7-   “h    / G    | &   W     H   {  )•  W€ 8  5     5G ”    + &  –   @ ^ m7     Z$  J\   L • gh5 7$  7% – &    gh5(  ~$ L T   8 )  Z    7#8+  J\   ” &   8
Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, Akhbaronaa Malik dari Shofwan bin Saliim dari Sa’id bin Salamah dari keluarga Ibnul Azraq, bahwa Al Mughiroh bin Abi Bardah dari bani Ad Daar mengabarkan, bahwa ia mendengar Abu Huroiroh berkata : ‘seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah . ‘wahai Rasulullah kami biasa mengarungi lautan, bekal air kami sedikit, jika kami gunakan untuk berwudhu, kami akan kehausan, apakah kami dapat berwudhu dengan air laut?. Maka Nabi bersabda : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”.

 

Ta’liqiy :
Riwayat ini shahih, dishahihkan oleh sejumlah ulama seperti Imam Bukhori sebagaimana diceritakan oleh Imam Tirmidzi, berkata Imam Tirmidzi : saya bertanya

 
kepada Muhammad bin Ismail Al Bukhori tentang hadits ini, Beliau berkata : Hadits Shohih. (Subulus Salam 1/20). Kemudian Imam Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata : ‘Ini adalah Hadits Hasan Shohih’. Imam Ibnu Khuzaimah beliau memasukkan hadits ini dalam shohihnya, Imam Ibnu Abdil Bar, Imam Mundziri, Imam Ibnu Mandah, dan Imam Al Baghowi (lihat Talkhis Khabir 1/10).
Adapun dua orang perowi yang dikatakan oleh Imam Syafi’I sebagai perowi yang majhul, berikut adalah biografi kedua perowi tersebut :
1. Sa’id bin Salamah Al Makhzumi dari Bani Al Azroq, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot (6/364), begitu juga Imam Nasa’I mentsiqohkannya (lihat Tahdizbut Tahzdib no. 67).
2. Al Mughiroh bin Abi Burdah (w. >100 H) ada yang mengatakan namanya Ibnu Abdulloh bin Al Mughiroh bin Abi Burdah ada yang mengatakan lagi namanya adalah Abdulloh bin Al Mughiroh bin Abi Burdah, telah berlalu penilaian Majhul dari Imam Syafi’I, dan yang benar beliau tidak majhul dikarenakan sejumlah rowi tsiqoh meriwayatkannya dan dalam Tarikh Ya’qub bin Sufyan dari Yahya bin Bukair dari Al Laits ia berkata : ‘pada tahun seratus Al Mughiroh bin Abi Burdah berangkat menjadi tentara perang ke Afrika’, Berkata Abdulloh bin Abi Sholih : ‘saya bersama Al Mughiroh pada peperangan di konstatinopel, dan beliau adalah seorang yang banyak shodaqoh, setiap orang yang meminta tidak pernah ditolak, Bahkan Imam Ali bin Madini memastikan bahwa Al Mughiroh bin Abi Burdah dari Bani Abdud Daar mendengar dari Abu Huroiroh dan tidaklah ia mendengar darinya kecuali hadits ini. Imam Abu Dawud pun menilainya : Ma’ruf (dikenal), kemudian beliau juga mendapatkan penilaian tsiqoh dari Imam Nasa’I dan Imam Ibnu Hibban (lihat Tahdzibul kamal serta Tahdzibut Tahdzib).

–   / G z  – ”   w   H7G z  –    5ƒ H #  – – ,/,#   H\- – H ‚   G   = (“#$ %   ) ” W  R d$  J\   W   / „  8 ”    + &  – @ ^ m7  

Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, Akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Abdul Aziz bin Umar dari Sa’id bin Tsaubaan dari Abi Hind Al Faroosiy dari Abu Huroiroh dari Nabi Beliau bersabda : “Barangsiapa yang air laut tidak mau digunakan untuk bersuci, maka Allah tidak akan mensucikanya”.

 
Ta’liqiy :
Riwayat didhoifkan oleh Imam Al Albani dalam “Dhoif Jaami’us Shoghiir” (no.
5843).

L 8+ Q/;  ‡ ƒ +  `    8 L 8 )  L 5 + H #B   V +  & $ Y=  5 R Y+ M  † &   … „  8  5 R L T  )F$ (“#$ %     ) H/y  – H ‚     G   =       M   (“#$ %     ) L T  ‰s7( Y   7  +   7       R &  L T   Y  ˆ 8 kE+  ˆ 8 &  gh5 /+ &  )  X $ L T  &   ˆ /    &7-   “h     Š      –   &     –
Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, setiap air itu suci selama tidak bercampur dengan najis. Tidak ada alat yang dapat digunakan untuk bersuci selain air dan debu. (Kesucian ini tidak berbeda) sama saja baik ia air dingin , air salju yang membeku, air (panas) yang dipanaskan atau tidak dipanaskan (secara sengaja), karena air suci dan api juga suci tidak membuat air menjadi najis.
Imam Syafi’I berkata, akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Zaid bin Aslam dari Bapaknya bahwa Umar bin Khothob memasak air, lalu mandi dan berwudhu menggunakan air tersebut.

Ta’liqiy :
hadits ini dishahihkan oleh Imam Daruquthni, Al Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Al Albani, dengan mempertimbangkan penguat-penguanya. Karena Ibrohim bin Muhammad guru Imam Syafi’I ini, dilemahkan oleh para ulama seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Ibnul Mubarok, Imam Ibnu Ma’in, Imam Yahya bin Sa’id Al Qohthon, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Hibban, Imam Al Hakim, Imam Daruquthni dan selainya. Namun Imam Syafi’I banyak berhujjah dengan riwayatnya, mungkin beliau beranggapan bahwa celaan ulama jarh wa ta’dil kepadanya adalah disebabkan keyakinan yang ada pada dirinya, karena Ibrohim ini sebagaimana disifati Imam Ahmad sebagai Qodariy, Mu’taziliy dan Jahmiy semua musibah ada padanya. Sedangkan dalam ilmu hadits kemungkinan Imam Syafi’I berpendapat ia seorang yang jujur. Wallohu a’lam.

– H\- M H^ – H ‚   G   = (“#$ %   ) Q    M *  8 Y= ‰ %T  L T  W    Y+ (“#$ %   ) Œ    ‹ 5/ & = :   + ‰ %T  L T       EY  W F/ – H\-    * – k ,   z 

 

Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, aku tidak membenci air Musyamas (yang dipanaskan dengan sinar matahari) kecuali dari sisi kesehatan. Imam Syafi’I berkata, akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Shodaqoh bin Abdullah dari Abuz Zubair dari Jaabir bin Abdullah bahwa Umar membenci mandi menggunakan air yang dipanaskan dengan sinar matahari lalu berkata, hal ini dapat menyebabkan penyakit kusta.

Ta’liqiy :
Hadits ini selain berasal dari riwayat mauquf Umar Ibnul Khothob, juga datang secara marfu’ dari Aisyah dan Anas bin Malik . Namun semua jalan-jalannya lemah. Sejumlah ulama melemahkan hadits-hadits berkaitan dengan bab ini seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, Imam Al Albani dan selainnya, bahkan Imam Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan bahwa hadits-hadits tentang ini lemah semuanya berdasarkan kesepakatan ahli hadits.
Sebenarnya Imam Syafi’I telah mengisyaratkan kelemahan riwayat ini, karena beliau tidak suka menggunakan air Musyamas bukan karena hadits ini, namun karena menurut beliau, air tersebut dapat menyebabkan penyakit, maka beliau memandangnya dari sisi kesehatan. Akan tetapi pendapat yang kuat bahwa air itu tetap suci dan dugaan air tersebut dapat menyebabkan penyakit telah dikonfirmasi oleh Imam Ibnu Qudamah dalam “Al Mughni” dengan perkataannya :
< . AŽ  “2$ pk2ƒDg(. v2.132 1 5?$< >#/. 1 > 6 A1 rQ•  )>G1< > -. “2.F6 +.
“dinukil dari para dokter bahwa mereka tidak mengetahui air musyamas dapat menyebabkan kemudhorotan”.
Begitu juga Imam Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan :
& $ MG   Y & g ’,“   5B $ ‘u & $ L \RY  – •\•/ „+ & G F )^ Y ‰ %T    3G  8 )BJ$
“kesimpulannya bahwa air Musyamas tidak ada dasar pe-makruh-annya dan tidak ada ketetapan dari para dokter sedikit pun, maka yang benar dan pasti bahwa air tersebut tidak makruh”.
Dalam tempat lain masih dalam kitab yang sama, Imam Nawawi berkata :
5G MG   Y &  5  “ + `+ `+ H  + Mw 7  z + v 8 QG38+ :”#$ %  ’d  5G 8+ M g  T V WHZ #  8 3 $
ˆT
“ini adalah yang kami yakini dalam masalah ini berkaitan pendapat Imam syafi’I dimana madzhab Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan Dawud (dhohiri) serta Jumhur bahwa air musyamas tidak makruh sebagaimana pendapat yang terpilih”.

 

W B –  8 8g$ ’ ” ‰s7  S= ‰s7      7 + ‰ % + &    ‰s7 Y= ‰s7/ Y+      @ – L T (“#$ %    ) @ –  Z/ Y & Y  5 R  5F/ Y • + Y c +; `  * L 8 v 3 +  5 R  5F/ d$ WkE + ` +  su L 8  8  5 8`N +,*  — 5 v 3 + 3  H  *+ 3  )Bw8 L 8+ 3   su L 8+ ` + L 8 –#• L 8 :&   Z/ S= L 8    3G  8 H  + L 8+ ˜   L 8  Z/ WkE ‘u ‘= M$ hY  Y= L T    & –  Z/ Y 3G  Y  5 R  F/ „ L 8 &78  B – $  u   3  + 3G  8 › “% gh5 /   ™,š d$ 3 + 3   su L 8+ ` + L 8  Z/    )Bw8
Terjemahan :
Al Imam berkata, Air itu tetap diatas kesuciannya, tidaklah ia menjadi najis kecuali jika najis mencampurinya. Sinar matahari dan api bukanlah benda najis. Hanyalah najis sesuatu yang diharamkan (Syariat). Adapun apa yang dimanfaatkan oleh manusia, seperti air pohon, air bunga, air kismis atau yang semisalnya, maka tidak dapat digunakan untuk bersuci. Demikian juga air yang berasal dari jasad manusia yang sudah meninggal dunia, tidak dapat digunakan untuk bersuci. Karena jenis air diatas tidak disebut secara mutlak sebagai air. Hanyalah ia dinamakan air dengan maksud yang disandarkan kepada bendanya, seperti air pohon, air bunga dan semisalnya. Dan air adalah benda yang terpisah, demikian juga jasad dan seperti orang yang menebang suatu bunga kemudian menggunakan zat wanginya, lalu memanfaatkan airnya, maka ini juga tidak dapat digunakan untuk bersuci, karena ini tidak dapat disebut sebagai air mutlak, melainkan harus disebut dengan sesuatu yang disandarkan kepadanya. Maka dikatakan air Kirsyi, air Mufshol (kismis) kedudukannya seperti air bunga, air pohon dan semisalnya. Maka semua itu tidak dapat digunakan untuk berwudhu (bersuci).
Ta’liqiy :
Imam Syafi’I disini membagi air menjadi 3 jenis yaitu :
1. Air Mutlak, yaitu air yang masih tetap dalam penciptaannya, maka ia suci dan mensucikan.
2. Air yang bercampur dengan najis dan merubah salah satu sifat air yaitu bau, warna dan rasanya. Maka air tersebut berubah menjadi najis. Telah datang hadits yang menunjukan hal ini yaitu sabda Beliau :

 
&6 rs76/. 1 9L . D 4 = } . 4. +. 2&>1.- 6&4  @4^. 2&4  ? 56 .    :    6&>7-. 6&4  .”2h. r”22G \D. 1M.8 8?. “<1 > .-.+ KL . D } r”2Z. >\D.2+. ¡  2( . 561 6&1wA#.h.+ • >&.* 8. 6 > 6&.*. > 1 { 2&<>51+. &2 >#1R+. &2ž< @1-. .Q11E .8 4= • tL>”.u { & $2 ?‹6H>J.( ¢M. s.7<. • &6>51 >+1 • &6 >#1R >+1 • &6ž< . A.X.( D = 4= q 56 1R

“Dari Abu Umamah Al Bahiliy ia berkata, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang menajiskannya, kecuali jika merubah bau, rasa dan warnanya”. (HR. Ibnu Majah dan didhoifkan oleh Imam Abu Hatim)
Dalam riwayat Baihaqi, Nabi bersabda : “Air itu suci, kecuali jika berubah bau, rasa dan warnanya dengan najis yang jatuh kepadanya”.
Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” mengomentari hadits ini dengan perkataannya :
. 4. .+ 2&>1.- 6&4  @4^. r”<\A7  > .- l+>. 6/ • p <s.  1 &6>51 +1> &6ž< >+1 CL . D 6 >#1R . A.X.( 1;= 6&A1 > 28 •D  .8 : 0″2#2$ A%    .+ 1 CL 7D•2.> 2 2M./ +<. 6¤ 2#>Ž(. 6` . 6 D +. . &2w 2#>Ž(. @1-. 1 5?ƒrHJ6. D .I1wA( : 0™<+5A7.    .+ . 6&1D•28 n/2HJD. ?)>G1 •<\D•6/ 1 ¢&>*.+ > 28 ”    . . 2 DF6J< < >51ZD @1-. KL . 16#D  2 >s6/ >H1 ?.` ./r,  W23G. > 2F1+. • 1M.- .Ž6  ¥D< n/2H. “2$ .•.\1ƒ >H1 6&A<~1$ • n/2HJD. <)>^1 56. $1 pž< +1> p>51 +1> p >#1R &16 c>. AX1.$ M¦. s.. & $2 •>#1. +. 1;= k2•1FD. +. ) 21ZD L9 . D 4 1 @1-. LK . 16#D . . >*1 : ” < 23>76 D 6 > ?`. /r,.  W23G. 1 • &2$ ^>+1. H6. 1 . AX.(. 8. M2. s.. @1-. )? 2AH  56G. ¨6 . >*<~D $1 § ‰<sq.
“Imam Syafi’I berkata : ‘aku tidak berpendapat bahwa air jika berubah rasa, bau dan warnanya (karena najis) itu berubah menjadi najis, berdasarkan hadits dari Nabi karena haditsnya tidak kuat menurut ulama hadits’. Imam Nawawi berkata : ‘Para ulama ahli hadits sepekat atas kedhoifanya’. Yang dimaksud dengan riwayat dhoif adalah riwayat pengecualiannya, bukan asal hadits, karena telah shahih dalam hadits sumur Budhoah, namum tambahan inilah yang disepekati ulama tentang hukumnya (yaitu dhoif)’. Imam Ibnul Mudzir berkata : ‘para ulama sepakat bahwa air yang sedikit atau banyak jika jatuh najis kepadanya, lalu merubah salah satu sifatnya yaitu, rasa, warna atau baunya maka air tersebut najis. Maka ijma ulama adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya, bukan berdasarkan riwayat tambahan ini”.
3. Air yang Muqoyyad (yang terikat), yakni ia tidak disebut nama air, kecuali harus disandarkan kepada sesuatu, seperti air bunga, air buah dan semisalnya. Atau air mutlak yang telah hilang kemutlakannya karena tercampuri dengan benda suci lainnya, kemudian mendominasinya, seperti air kopi, air teh dan semisalnya. Hukumnya air tersebut suci, tapi tidak dapat digunakan untuk bersuci.

PENGERTIAN SALAF SECARA BAHASA

January 4, 2018 at 4:43 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

PENGERTIAN SALAF SECARA BAHASA

 

Salaf secara bahasa dikatakan oleh Imam Ahmad bin Faaris (w. 395 H) Rahimahullah dalam kitabnya “معجم مقاييس اللغة” adalah :

السِّينُ وَاللَّامُ وَالْفَاءُ أَصْلٌ يَدُلُّ عَلَى تَقَدُّمٍ وَسَبْقٍ. مِنْ ذَلِكَ السَّلَفُ: الَّذِينَ مَضَوْا. وَالْقَوْمُ السُّلَّافُ: الْمُتَقَدِّمُونَ

“terdiri dari huruf siin, laam dan faa yang pada asalnya menunjukkan atas makna terdahulu dan sebelumnya”. oleh karenanya as-Salaf adalah mereka-mereka yang telah berlalu. Al-Qoum as-Sullaaf adalah mereka para al-Mutaqoddimuun (para pendahulu)”.[1]

Continue Reading PENGERTIAN SALAF SECARA BAHASA…

Pengertian Sunah

January 4, 2018 at 2:09 pm | Posted in SYARAH USHUL SUNNAH | Leave a comment

Pasal Pengertian Sunah

 

 

Teks Kitab

Al-Imam Ahmad Rahimahullah berkata :

أصُول السّنة عندنَا

“Pokok-pokok Sunah menurut kami adalah..”.

 

 

Syarah :

Continue Reading Pengertian Sunah…

Penisbatan Kitab Ushul as-Sunnah kepada Imam Ahmad

January 3, 2018 at 11:34 pm | Posted in SYARAH USHUL SUNNAH | Leave a comment

Penisbatan Kitab Ushul as-Sunnah kepada Imam Ahmad

 

Para ulama ketika menetapkan sebuah kitab kepada penulisnya, maka mereka biasanya menempuh dua macam cara, yaitu :

  1. Menyebutkan sanad sampai kepada penulisnya;
  2. Persaksian para ulama lainnya, bahwa karya tersebut merupakan karya sang penulis.

Continue Reading Penisbatan Kitab Ushul as-Sunnah kepada Imam Ahmad…

KESALAHAN PEMBAHASAN AKIDAH DALAM SYARAH SHAHIH MUSLIM IMAM NAWAWI

December 23, 2017 at 8:04 pm | Posted in Hadits | 2 Comments

KESALAHAN PEMBAHASAN AKIDAH DALAM SYARAH SHAHIH MUSLIM IMAM NAWAWI

 

Pada tulisan kami berapa waktu yang lalu, kami menyebutkan beberapa tulisan ulama sebagai bantahan ilmiyyah terhadap kesalahan akidah yang terjadi didalam kitab “Fathul Bari” karya besar al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani. Tentu bantahan ilmiyyah adalah perkara yang biasa terjadi, asal semua itu dilandasi oleh bukti-bukti yang kuat dalam agama kita, terutama dalam masalah akidah salaf yang lurus, dan tentunya kita mendapatkan manfaat yang besar dengan adanya kritikan-kritikan ilmiyyah ketika mempelajari Fathul Bari, karena sebagai “warning” jika ada kesalahan-kesalahan akidah yang terluput pada saat membahasnya.

Continue Reading KESALAHAN PEMBAHASAN AKIDAH DALAM SYARAH SHAHIH MUSLIM IMAM NAWAWI…

Pembagian al-Kalam berdasarkan Susunannya

December 21, 2017 at 3:32 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Pembagian al-Kalam berdasarkan Susunannya

 

Imamul Haramain berkata :

فَأَما أَقسَام الْكَلَام فَأَقل مَا يتركب مِنْهُ الْكَلَام اسمان أَو اسْم وَفعل أَو فعل وحرف أَو اسْم وحرف

“adapun pembagian al-Kalam, maka minimalnya kalam itu tersusun dari dua isim, atau isim dan fi’il, atau fi’il dan huruf, atau isim dan huruf”.

Continue Reading Pembagian al-Kalam berdasarkan Susunannya…

« Previous PageNext Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: