WASIAT RASULULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM YANG ABADI

February 20, 2018 at 3:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WASIAT RASULULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM YANG ABADI

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu berkata :
ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻭَﺻِﻴَّﺔَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠْﻴَﻘْﺮَﺃْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺎﺕِ : } ﻗُﻞْ ﺗَﻌَﺎﻟَﻮْﺍ ﺃَﺗْﻞُ ﻣَﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : 151 ‏] ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻟِﻪِ : } ﺫَﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺻَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : 153 ] »
Barangsiapa yang senang untuk membaca wasiat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, maka hendaknya membaca ayat ini : {Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.} (QS. Al An’aam : 151-153).

Takhrij Atsar :
Atsar ini diriwayatkan oleh para Aimah hadits diantara mereka adalah :
1. Imam Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi (no. 3979 –pen. Musthofa Baabil Halabi, Mesir).
2. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Imaan (no. 7540 –pen. Maktabah ar-Rusydi, Riyaadh).
3. Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 10060 –pen. Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo) dan
Mu’jam Ausath (no. 1186 –pen. Daarul Haromain, Kairo).

Lafadz hadits diatas adalah milik Imam Thabrani dalam Mu’jam Ausath. Lalu semua Aimah diatas meriwayatkannya dari jalan :
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻓُﻀَﻴْﻞٍ، ﻋَﻦْ ﺩَﺍﻭُﺩَ ﺍﻷَﻭْﺩِﻱِّ، ﻋَﻦْ ﺍﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﻋَﻠْﻘَﻤَﺔَ، ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ
Haddatsanaa Muhammad bin Fudhoil, dari Dawud al-Audiy, dari asy-Sya’biy, dari ‘Alqomah, dari Abdullah –bin Mas’ud- rodhiyallahu anhu beliau berkata : “Al Atsar”.

Kedudukan sanad :
Semua perowinya adalah perowi tsiqoh, perowi yang dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim, kecuali Dawud al-Audiy, dia hanya dipakai oleh Imam Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod. Sebagian ulama melemahkan perowi yang bernama Dawud tersebut, seperti : Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam al-‘Ijli, Imam al-Azdiy, dan Imam al-Hakim (lihat tahdzibain).

Namun Imam Ibnu Adiy memberikan penilaian positif kepadanya jika perowi tsiqoh yang meriwayatkan darinya, kata beliau :
ﻟﻢ ﺃﺭ ﻟﻪ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﺟﺎﻭﺯ ﺍﻟﺤﺪ ﺇﺫﺍ ﺭﻭﻯ ﻋﻨﻪ ﺛﻘﺔ ، ﻭ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﺲ ﺑﻘﻮﻯ ﻓﻰ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﺘﺐ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻭ ﻳﻘﺒﻞ ﺇﺫﺍ ﺭﻭﻯ ﻋﻨﻪ ﺛﻘﺔ
“Saya tidak melihat ia memiliki hadits yang mungkar yang melampaui batas jika perowi tsiqoh meriwayatkan darinya. Sekalipun ia tidak kuat dalam hadits, namun ditulis dan diterima haditsnya jika perowi tsiqoh meriwayatkan darinya” -selesai-.

Al Hafidz Ibnu Hajar kelihatannya tidak melirik pendapat Imam Ibnu Adiy sehingga dalam Taqribut Tahdzib, beliau tetap memberikan penilaian “Dhoif” untuknya.

Berdasarkan hal tersebut, Imam Al Albani dalam Dhoif Sunan Tirmidzi (hal. 375 –pen. Maktabah Islamiy, Beirut) memberikan penilaian : “Dhoiful Isnad” (sanadnya lemah).

Namun disisi lain barangkali Imam Tirmidzi sependapat dengan Imam Ibnu Adiy, sehingga dalam kitabnya beliau memberikan penilaian : “Hadza Hadits Hasan Ghorib” (hadits ini hasan ghorib).

Kemudian pentahqiq “Kitabut Tauhid” yakni asy-Syaikh Ahmad bin Ali bin Mutsana menilai atsar diatas shahih dalam tahqiqnya tersebut (hal. 10 –pen. Maktabah Ibadur Rokhman, Mesir), alasan beliau bahwa Dawud al-Audiy diatas adalah Dawud bin Abdullah Al-Audiy, bukan Dawud bin Yaziid al-Audiy. Dan Dawud bin Abdullah ini tsiqoh, dinilai demikian oleh Al Hafidz dalam at-Taqriib. Asy-Syaikh Ahmad juga menisbatkan perajihan bahwa itu adalah Dawud bin Abdullah kepada gurunya, yaitu asy-Syaikh Muqbil bin Hadi.

Memang dalam riwayat Imam Tirmidzi tidak disebut nama bapak dari Dawud al-Audiy ini, dan kebetulan dalam kitab-kitab rijalul hadits Dawud al-Audiy ada dua dan menariknya lagi kedua-duanya sama-sama memiliki guru dan murid yang sama dalam riwayat ini, yaitu keduanya sama-sama berguru kepada ‘Aamir asy-Sya’bi dan muridnya juga sama yaitu Muhammad bin Fudhoil.

Untuk merajihkannya tentu kita perlu mencari informasi sanad yang menyebutkan nama Dawud ini secara lengkap dengan nama bapaknya, sehingga bisa diketahui siapa Dawud yang dimaksud, Dawud yang dhoif atau yang tsiqoh?, walhamdulillah, Imam Thabrani dalam Mu’jam Ausath- nya menulis nama lengkap Dawud, kata beliau dalam kitabnya tersebut :
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺑْﻦُ ﻋُﺒَﻴْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺟَﺮِﻳﺮِ ﺑْﻦِ ﺟَﺒَﻠَﺔَ ﻗَﺎﻝَ : ﻧﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُ ﺑْﻦُ ﻳُﻮﺳُﻒَ ﺍﻟﺴَّﻤْﺘِﻲُّ ﻗَﺎﻝَ : ﻧﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻓُﻀَﻴْﻞٍ، ﻋَﻦْ ﺩَﺍﻭُﺩَ ﺑْﻦِ ﻳَﺰِﻳﺪَ ﺍﻟْﺄَﻭْﺩِﻱِّ، ﻋَﻦْ ﻋَﺎﻣِﺮٍ ﺍﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﻋَﻠْﻘَﻤَﺔَ، ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ
“Haddatsanaa Ahmad bin Abdullah bin Jariir bin Jabalah ia berkata, akhbaronaa Khoolid bin Yusuf as-Samtiy ia berkata, akhbaronaa Muhammad bin Fudhoil, dari Dawud bin Yaziid al-Audiy , dari ‘Aamir asy-Sya’biy, dari ‘Alqomah dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu beliau berkata : “al-Atsar”.

Shuf!, Dawud yang dimaksud adalah Dawud bin Yaziid al-Audiy, perowi yang dhoif, sehingga dengan ini, pendapat yang rajih adalah atsar ini dhoif, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Albani. Wal ‘ilmu minallah.

Advertisements

APAKAH HIDAYAH ITU DICARI?

February 20, 2018 at 2:51 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH HIDAYAH ITU DICARI?

Shohabi Jaliil Abu Dzar Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِيمَا رَوَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: «يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ
“meriwayatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa bahwa Dia Berfirman : “wahai hamba-Ku, Kuharamkan kezholiman atas diri-Ku dan aku menjadikannya haram diantara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi, wahai hamba-Ku kalian semuanya sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, pasti aku akan memberikan petunjuk kepada kalian…” (HR. Muslim No. 2577).

Al-‘Alamah Mulla al-Qooriy (w. 1014 H) dalam kitabnya “Mirqootul Mafaatih” berkata menerangkan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam diatas :
(فَاسْتَهْدُونِي) أَيِ: اطْلُبُوا الْهِدَايَةَ مِنِّي
“fastahduuniy, yakni mintalah hidayah kepada-Ku”.

Al-‘Alamah ibnu Utsaimin dalam kitabnya “Syarah Arbain Nawawiyyah” menyebutkan bahwa hidayah dalam hadits diatas yang kita minta termasuk didalamnya hidayah bayan (petunjuk ke jalan yang benar) dan hidayah taufiq (petunjuk untuk mengamalkan yang benar tersebut).

Oleh karenanya, wajib bagi seorang hamba mencari hidayah dan hanya memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, kemudia Allah Subhanahu wa Ta’alaa akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang mau menempuh jalan hidayah tersebut.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al Ankabuut : 69).

TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT Bagian 04

February 20, 2018 at 2:50 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT
Bagian 04

4. Dari jalan Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu ‘anhumaa, sebagaimana saya dapatkan faedah dari takhrij yang dilakukan oleh asy-Syaikh Diibaan Muhammad ad-Diibaan Hafidzahullah. Haditsnya dikeluarkan oleh Imam Thabrani dalam “Mu’jam al-Ausath” (no. 4746) :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلْمٍ قَالَ: نَا أَحْمَدُ بْنُ ثَابِتٍ فَرْخَوَيْهِ الرَّازِيُّ قَالَ: نَا الْعَلَاءُ بْنُ هِلَالٍ الرَّقِّيُّ قَالَ: نَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ مِنَ السُّوءِ إِلَى مِثْلِهَا»
“…dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “barangsiapa yang memotong kukunya pada hari Jum’at, maka Allah akan menjaganya dari kesalahan semisalnya”.

Namun dalam sanad ini terdapat perowi yang bernama Ahmad bin Tsaabit Farkhowaih –sebagaimana pembaca bisa lihat-. Dia ini dikatakan oleh Imam ibnu Abi Hatim dalam kitabnya “al-Jarh wa at-Ta’dil” (2/44) menukil dari bapaknya dari Imam at-Thahrooniy yang berkata tentangnya :
كانوا لا يشكون أن فرخويه كذاب
“mereka tidak ragu lagi mengatakan bahwa Farkhowaih ini adalah seorang pendusta”.
Oleh sebab itu asy-Syaikh Diibaan Hafidzahullah tidak ragu menilai sanad hadits ini sebagai hadits palsu. Senanda dengan penilaian Imam al-albani Rahimahullah dalam “dhoif al-Jaami’” (no. 5796) yang menilai hadits Aisyah ini palsu juga. Wallahu a’lam.

MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT Bagian 02

February 20, 2018 at 2:49 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT
Bagian 02

2. Dari shohabi Jaliil Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu. Imam al-Albani menemukan 3 (tiga) jalan sebagai berikut :
A. Diriwayatkan oleh Imam ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya “al-Juu’” (no. 19) dari jalannya sampai kepada :
عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَاجٍ، عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَكَلْتُ خُبْزَ بُرٍّ بِلَحْمِ سَمْنٍ، فَأَتَيْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَشَجَّأْتُ، فَقَالَ: «اكْفُفْ جُشَاءَكَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُمْ شِبَعًا أَطْوَلُكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ» ، قَالَ: فَمَا أَكَلَ أَبُو جُحَيْفَةَ مِلْءَ بَطْنِهِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“dari al-Waliid bin ‘Amr bin Saaj, dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya…..”.

Asy-Syaikh al-albani menyebutkan bahwa perowinya yang bernama al-Waliid bin ‘Amr tersebut, didhoifkan oleh Imam ibnu Ma’in, Nasa`i dan selainnya.

Kemudian al-albani Rahimahullah merasa bahwa al-waliid ini dimutaba’ahi oleh Malik bin Mighwal –perowi tsiqoh-, sebagaimana riwayat Imam ibnu Abi Hatim dalam “al-Illal” (5/131-132) dari bapaknya yang menyebutkan hadits dalam kitabnya ‘Amr bin Marzuuq dari Ahmad bin Mighwal dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya dan seterusnya…”.
Imam Abu Hatim menilai sanad ini :
هَذَا حديثٌ باطلٌ، ولم يَبْلُغْني أنَّ عَمْرو بْن مرزوق حَدَّثَ به قَطُّ
“hadits ini batil, belum pernah sampai informasi kepadaku bahwa ‘Amr bin Marzuuq meriwayatkannya sedikit pun”.

B. Melalui jalan Ali bin al-Aqmar dari Abu Juhaifah. Riwayat Ali bin al-Aqmar melalui beberapa jalan sebagai berikut :
• Imam al-Hakim meriwayatkan dalam kitabnya “al-Mustadrok” (No. 7140) dengan penilaian shahih menurutnya dari jalan :
أَخْبَرَنَا مُكْرَمُ بْنُ أَحْمَدَ الْقَاضِي، ثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شَاكِرٍ، ثَنَا أَبُو رَبِيعَةَ فَهْدُ بْنُ عَوْفٍ، ثَنَا فَضْلُ بْنُ أَبِي الْفَضْلِ الْأَزْدِيُّ، أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْأَقْمَرِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: أَكَلْتُ ثَرِيدَةً مِنْ خُبْزٍ بُرٍّ وَلَحْمٍ سَمِينٍ ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلْتُ أَتَجَشَّأُ فَقَالَ: «مَا هَذَا كُفَّ مِنْ جُشَائِكَ فَإِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا شِبَعًا أَكْثَرُهُمْ فِي الْآخِرَةِ جُوعًا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ ”

Penshahihan Imam al-Hakim, dikritik oleh Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhish”, dimana beliau berkata :
فهد بن عوف قال المديني كذاب وعمر هالك
“Fahd bin ‘Auf, didustakan oleh al-Madiiniy, dan Umar (bin Musa) hancur haditsnya”.

• Imam Ibnu Qudamah dalam “al-Muntakhob” (1/47) meriwayatkan jalan lain :
قال مهنّا: سَأَلْتُ أَحْمَدَ وَيَحْيَى، قُلْتُ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ ابن يَحْيَى: ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الأَقْمَرِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: أَكَلْتُ خُبْزَ شَعِيرٍ بلحمٍ سمينٍ، فلقيت رَسُولَ اللَّهِ (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) فَتَجَشَّأْتُ عِنْدَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): “اكْفُفْ جُشَاءَكَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ؛ فَإِنَّ أَكْثَرَكُمْ شَبَعًا الْيَوْمَ أَكْثَرُكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ”.
فَقَالا: لَيْسَ بِصَحِيحٍ.
قُلْتُ لأَحْمَدَ: يُرْوَى مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ؟.
قَالَ: كَانَ عَمْرُو بْنُ مَرْزُوقٍ يُحَدِّثُ بِهِ، عْنَ مَالِكِ بْنِ مِغْوَل، عن علي بن الأقمر، عن أبي جحيفة، ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدُ.
ثُمَّ سَأَلْتُه عَنْهُ بَعْدُ؟.
فقال: ليس بصحيحٍ.

Kata al-albani Rahimahullah Abdul Aziz bin Yahya, Imam Bukhori berkomentar terhadapnya bahwa ia adalah pemalsu hadits.

• Imam Tamaam dalam “al-Fawaid” (1/99) melalui jalan :
من طريق أبي ربيعة. حدثنا عمر بن الفضل عن رقبة عن علي بن الأقمر به
Namun kata asy-Syaikh al-Albani, Abu Robi’ah adalah Fahd bin ‘Auf, perowi yang didustakan sebagaimana diatas.

C. Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana dalam kitabnya “al-Juu’” (no. 4) meriwayatkan dari jalan :
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَمَّنْ سَمِعَ أَبَا جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، أَنَّهُ تَجَشَّأَ فِي مَجْلِسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُ: «أَقْصِرْ مِنْ جُشَائِكَ، فَإِنَّ أَطْوَلَ النَّاسِ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا» ، قَالَ أَبُو جُحَيْفَةَ: فَمَا شَبِعْتُ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً
Sebagiamana yang kita lihat dalam sanad ini ada perowi yang tidak disebutkan namanya alias “Mubham”, sehingga sanadnya dhoif.

Akan tetapi dalam “ash-Shahihah” (no. 3372), Imam al-Albani merasa menemukan sanad yang lebih bagus yang sampai kepada shohabi Jaliil Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dalam riwayat Imam ath-Thabrani dalam “Mu’jam al-Kabiir” (no. 327) melalui jalan :
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ الْكُوفِيُّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، ثنا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: تَجَشَّأْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا أَكَلْتَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ؟» ، فَقُلْتُ: خُبْزًا وَلَحْمًا، فَقَالَ: «إِنَّ أَطْوَلَ النَّاسِ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا»

Asy-Syaikh al-albani ketika memaparkan sanad ini mengatakan bahwa para ulama menilai sanadnya terdapat cacat pada Muhammad bin Khoolid al-Kuufiy, perowi yang dianggap majhul. Namun asy-Syaikh mengatakan perowi ini adalah Muhammad bin Kholid bin Shoolih at-Tamiimiy Abu Abdillah al-Kuufiy, yang hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban. Namun asy-Syaikh menemukan mutaba’ah untuknya dalam riwayat Imam al-Bazzaar dalam “musnadnya” (no. 4237) dari jalan :
حَدَّثنا العباس بن جعفر، قَال: حَدَّثنا إسحاق بن منصور، قَال: حَدَّثنا عَبد السَّلامِ، عَن أَبِي رَجَاءٍ، عَن أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ: تَجَشَّأْتُ عِنْدَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم فَذَكَرَ نَحْوَهُ.
Al-‘Abbas bin Ja’far dinilai shoduq oleh Imam Abu Hatim, sehingga beliau bisa dijadikan mutaba’ah untuk Muhammad bin Kholid al-Kuufiy diatas.

Namun yang menjadikan saya penasaran adalah tentang perowi yang bernama Abu Rojaa`, dalam biografi Abdus Salaam tidak disebutkan Abu Rojaa` sebagai salah seorang gurunya. Saya tidak berhasil mendapatkan titik terang siapa Abu Rojaa`, karena yang membuat bimbang dalam riwayat Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana diatas, Abu Rojaa` meriwayatkan dari Abu Juhaifah melalui perantara seorang perowi yang tidak disebutkan namanya yang diklaim mendengar langsung dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu, sedangkan dalam sanad Mu’jam Kabiir dan Musnad al-Bazzaar, Abu Rojaa` meriwayatkan langsung dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab Tahdzibul Kamal dan Tahdzibut Tahdzib, saya tidak menemukan Abu Rojaa` dalam deratan murid Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu, namun akhirnya saya menemukan di kitab “Ma’rifatus Shohabat” (5/2722), karya Imam Abu Nu’aim beliau menyebutkan bahwa Abu Rojaa` adalah salah satu diantara deretan perowi yang meriwayatkan dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu.

Asy-Syaikh Syu’aib arnauth dalam takhrijnya, ketika menyebutkan riwayat Abu Juhaifah, mereka hanya mengatakan :
وعن أبي ججفة عند البزار (3669) و (3670)، والطبراني في “الكبير” 22/ (327) و (351)، وفي “الأوسط” (3746) و (8929)، والحاكم 4/ 121، والبيهقي في “شعب الإيمان” (5642)، بأسانيد ضعيفة لا يخلو واحد منها من مقال، وقال أبو حاتم في حديث أبي جحيفة كما في “العلل” (1861): حديث باطل.
“diriwayatkan dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu ….. dengan sanad-sanad yang lemah yang masing-masingnya tidak terlepas dari kritikan. Abu Hatim berkata tentang hadits Abi Juhaifah dalam al’Illal (1861) : “haditsnya batil”.
Tapi kalau kita melihat dalam kitab al’Illal yang dikritik adalah jalan dari Malik bin Mighwal dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya. Kemudian jalan yang dari al-Aqmariy dikritik oleh Imam Ahmad dan Imam Yahya bin Ma’in, sementara yang dari jalan Abu Rojaa` kritikan ada pada kemajhulan Muhammad bin Kholid al-Kuufiy dan mubhamnya antara Abu Rojaa dengan Abu Juhaifah. Namun jika ditetapkan bahwa shortcutnya Abu Rojaa` yang langsung meriwayatkan dari Abu Juhaifah adalah benar, maka melalui sanad al-Bazzar hadits ini shahih, sebagaimana perkataan Imam al-Mundziri Rahimahullah yang dinukil oleh Imam al-Albani ketika mengomentari sanad al-Bazzar, bahwa para perowinya adalah para perowi tsiqoh. Wallahu a’lam.

MENGENAL SEKILAS KITAB MAJMA’U AZ-ZAWAID KARYA IMAM AL-HAITSAMI

February 20, 2018 at 2:48 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGENAL SEKILAS KITAB MAJMA’U AZ-ZAWAID KARYA IMAM AL-HAITSAMI

Terkadang nasehat dan instruksi dari sang guru amat membekas di hati muridnya, sehingga melecut semangatnya untuk menghasilkan karya terbaik bagi kaum Muslimin, diantara mereka adalah Imam abul Hasan Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman yang dikenal dengan Imam al-Haitsamiy (w. 807 H).

Salah satu karya monumentalnya yang menjadi rujukan para pakar takhrij hadits adalah kitabnya yang berjudul “Majmau’ az-Zawaa`id wa Manba’u al-Fawaa`id”. Kitab ini ditulis salah satu alasannya adalah instruksi dari guru beliau, yakni salah seorang pakar ilmu takhrij hadits yang sudah tidak asing bagi para tholabul ilmu, khususnya bidang hadits, belia adalah Imam al-Hafidz Abul Fahdz Abdur Rokhim bin al-Iraaqiy (w. 806 H) yang lebih dikenal dengan nama al-Hafidz al-Iraaqiy.

Kitab “Majmau’ az-Zawaa`id” berisi tentang hadits-hadits tambahan yang terdapat dalam beberapa kitab hadits berikut atas hadits-hadits yang ditulis didalam kutubus sittah (Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasaa`iy, dan Sunan Ibnu Majah) :
1. “al-Musnad”, karya Imam Ahmad;
2. “al-Musnad”, karya Imam Abu Ya’laa al-Maushuliy;
3. “al-Musnad”, karya Imam al-Bazzaar;
4. “Mu’jam al-Kabiir, Mu’jam al-Ausath, dan Mu’jam ash-Shoghiir”, ketiganya karya Imam ath-Thabrani.

Aslinya, Imam al-Haitsami sudah menulis masing-masing zawaid (tambahan hadits) atas Kutubus Sittah untuk masing-masing kitab-kitab diatas yang beliau beri judul :
 “Majmu’ al-Bahrain fii Zawaa`id al’Mu’jamain”, yakni tambahan hadits yang terdapat didalam kitab “al-Mu’jam al-Ausath” dan “al-Mu’jam ash-Shaghiir”, karya Imam Thabrani;
 “al-Badr al-Muniir fii Zawaa`id al-Mu’jam al-Kabiir”, karya Imam Thabrani;
 “Kasyf al-Astaar fii Zawaa`id Musnad al-Bazzaar”, karya Imam al-Bazzaar;
 “al-Maqshud al-Arsyid fii Zawaa`id Musnad Imam Ahmad”; dan
 “al-Qoul al-‘Aliy fii Zawaa`id Musnad Abi Ya’laa al-Maushuliy.

Gurunya, al-Hafidz al-‘Iraaqiy Rahimahullah berkata kepada Imam al-Haitsami :
اجْمَعْ هَذِهِ التَّصَانِيفَ، وَاحْذِفْ أَسَانِيدَهَا ; لِكَيْ تَجْتَمِعَ أَحَادِيثُ كُلِّ بَابٍ مِنْهَا فِي بَابٍ وَاحِدٍ مِنْ هَذَا
“kumpulkan kitab-kitab tersebut, lalu buang sanadnya, supaya terkumpul padanya hadits-hadits pada tiap babnya dalam satu pembahasan kitab”
Kemudian Imam al-Haitsamiy pun merespon baik nasehat gurunya tersebut, setelah beliau memohon pertolongan kepada Allah, lahirlah kitab monumental ini. pernyataan gurunya tersebut bisa kita baca dalam Mukadimah kitab Majmu’ az-Zawaa`id”.

Keistimewan kitab beliau ini, didalam mukadimahnya, Imam al-Haitsamiy Rahimahullah menyebutkan sanad-sanad beliau yang menyampaikan beliau kepada kitab Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Ya’laa, Musnad al-Bazzaar dan tiga Mu’jamaat Imam Thabrani. Kemudian setelah membawakan hadits-hadits yang beliau bagi kepada beberapa kitab dan bab yang menjadi tambahan atas Kutubus Sittah, beliau akan menyebutkan hadits tersebut dikeluarkan didalam kitab apa dan bagaimana kondisi perowinya. Jika seluruh perowinya tsiqoh, beliau akan mengatakan “Rijaaluhu tsiqoot” (semua perowinya tsiqoh), dan jika ada satu dua perowi yang bermasalah beliau akan menyebutkan, misalnya hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Ya’laa dalam sanadnya ada perowi yang bernama Kautsar, ia perowi yang matruk.

Akan tetapi sebagai seorang manusia yang tidak maksum, penilaian Imam al-Haitsamiy dalam kitabnya ini tentu menjadi pembahasan para ulama yang memang pakar dalam bidang ini. bahkan beberapa ulama menilai Imam al-Haitsamiy tasaahul (terlalu gampang) dalam masalah penshahihan hadits.

Beberapa ulama kontemporer sudah melakukan pentahqiqan terhadap kitab ini, seperti : asy-Syaikh Hisaamuddiin al-Qudsiy, asy-Syaikh Muhammad Abdul Qodir Ahmad ‘Athaa`, asy-Syaikh Husain Salim Asad, asy-Syaikh Abdullah ad-Darwiisy dll. Barangkali tahqiq yang terbaik adalah yang dikerjakan oleh asy-Syaikh Husain Salim Asad, karena beliau melakukan pengecekan ulang terhadap kualitas sanad yang ditampilkan oleh Imam al-Haitsami, lalu memberikan penilaian final akan shahih, hasan, dan dhoifnya. Wallahu a’lam.

MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT – BAGIAN 1

February 13, 2018 at 7:41 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT

 

Terdapat sebuah hadits marfu’ yang berbunyi :

فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ القِيَامَةِ

“maka sesungguhnya yang paling banyak kekenyangan di dunia adalah yang paling lama merasakan kelaparan pada hari kiamat”.

 

Sebelum kita mendengarkan penjelasan para ulama terkait hadits ini, maka perlu kita pastikan validitasnya. Imam al-Albani telah mentakhrij hadits ini di dua nomor dalam kitabnya “Silsilah Ahaadits Shahihah” (no. 343 & 3372) dan beliau menemukan hadits diatas diriwayatkan dari 5 orang sahabat sebagai berikut, dengan ringkasan cacat pada jalannya dan tambahan keterangan dari kami.

Continue Reading MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT – BAGIAN 1…

REZEKI ANAK SHOLIH

February 11, 2018 at 1:57 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

REZEKI ANAK SHOLIH

Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad an-Ni’mah -Khothib masjid Muhammad bin Abdul Wahab- menegaskan dalam salah satu khutbah Jum’at nya :
أن بر الوالدين يفتح أبواب الرزق والسعادة وطول العمر ويمنع البلاء والمصائب
“Bahwa berbakti kepada kedua orang tua bisa membuka pintu-pintu Rizki, kebahagian, panjang umur, terhalang dari ujian dan musibah-musibah”.

Kemudian asy-syaikh menjelaskannya dalam khutbahnya tersebut. Diantara dalil yang beliau sitir adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
ﻻ ﻳَﺠْﺰِﻱ ﻭَﻟَﺪٌ ﻭَﺍﻟِﺪَﻩُ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳَﺠِﺪَﻩُ ﻣَﻤْﻠُﻮﻛًﺎ ﻓَﻴَﺸْﺘَﺮِﻳَﻪُ ﻓَﻴُﻌْﺘِﻘَﻪُ
“Tidak akan seorang anak membalas jasa orang tuanya kecuali jika ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu membelinya dan memerdekakannya”.

Ini artinya sebenarnya balas Budi seorang anak kepada orang tuanya tidak bisa sebanding dengan jasa orang tuanya yang telah membesarkannya.
(http://islam.assawsana.com/pages.php?newsid=6065).

Dalil yang menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua akan dilapangkan rizkinya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺴَﻂَ ﻟَﻪُ ﻓﻲ ﺭِﺯْﻗِﻪِ ، ﺃَﻭْ ﻳُﻨْﺴَﺄَ ﻟَﻪُ ﻓﻲ ﺃَﺛَﺮِﻩِ ، ﻓَﻠْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ‏
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya atau ditangguhkan ajalnya, maka hendaknya untuk menyambung tali silaturahmi” (Muttafaqun alaih).

Dalam lafadz al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-hakim :
ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﻤِﺪَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﻋُﻤُﺮِﻩِ ﻭَﻳُﻮَﺳِّﻊَ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺭِﺯْﻗِﻪِ ﻭَﻳَﺪْﻓَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﻴْﺘَﺔَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ
“Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya oleh Allah, diluaskan rizkinya, dan dihindarkan dari su’ul khotimah, maka hendaknya bertakwa kepada Allah dan menyambung tali silaturahmi”.

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA” – BAGIAN AKHIR-

February 11, 2018 at 11:04 am | Posted in Hadits | Leave a comment

 

Melanjutkan takhrij haditsnya, maka dalam tulisan kali ini saya akan menambahkan takhrij hadits yang dilakukan oleh asy-Syaikh Thooriq bin ‘Aathif Hijaaziy Hafidzahullah dari jalan shohabi Jalil Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ dan Imam ‘Athoo bin Yasaar Rahimahullah secara mursal.

Continue Reading TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA” – BAGIAN AKHIR-…

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA” ) – HADITS TSAUBAAN

February 11, 2018 at 9:29 am | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA”

 

Melanjutkan takhrij haditsnya, pada tulisan yang pertama saya telah menyinggung bahwa al-‘Alamah bin Baz Rahimahullah menukil hadits terkait masalah ini dari jalan shohabi Jaliil Tsaubaan Rodhiyallahu ‘anhu. Maka pada kesempatan ini, kita akan menyebutkan jalan ini dan meneliti kevalidannya.

Continue Reading TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA” ) – HADITS TSAUBAAN…

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA”

February 10, 2018 at 4:23 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA”

 

Melanjutkan takhrij sebelumnya terkait dzikir diatas yang tertera didalam kutub ushul hadits, Imam al-Albani kemudian menemukan jalan lain yang beliau takhrij dalam “Silsilah Ahaadits ash-Shahihah” (no. 2686). Hadits tersebut kata asy-Syaikh al-Albani Rahimahullah dicantumkan oleh Imam al-Mundziriy dalam kitabnya “at-Targhiib wa at-Tarhiib” (1/229) yang beliau nukil dari kitabnya Imam Thabrani dalam “Mu’jam al-Kabiir” (no. 838) dari jalannya sampai kepada :

نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ حَيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنِ الْمُنَيْذِرِ صَاحِبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَكَانَ يَكُونُ بِإِفْرِيقِيَّةَ – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، فَأَنَا الزَّعِيمُ لِآخُذَ بِيَدِهِ حَتَّى أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ “

“telah menceritakan kepada kami Risydiin bin Sa’ad dari Hayyi bin Abdillah al-Ma’aafiriy dari Abi Abdir Rakhman al-Hubuliy dari al-Munaidzir Rodhiyallahu ‘anhu –sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam-, beliau berasal dari Afrika- beliau berkata : “aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “barangsiapa ketika pagi mengucapkan, aku ridho Allah sebagai tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagai Nabi, maka aku menjamin akan menggandeng tangannya, lalu memasukkannya kedalam surga”.

Continue Reading TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA”…

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: