ONANI MEMBATALKAN PUASA

May 21, 2017 at 4:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ONANI MEMBATALKAN PUASA
Imam ibnu Hazm dengan tegas dalam kitabnya al-Muhalla mengatakan bahwa onani tidak membatalkan puasa, alasanya tidak ada dalil dari nash al qur’an dan sunah yang mengatakan bahwa onani membatalkan puasa. 
Pendapat Imam ibnu hazm ini bertabrakan dengan pendapat mainstream ulama 4 imam madzhab, yang sepakat bahwa onani bila sampai keluar maninya, maka hal tersebut membatalkan puasanya. Hal ini disebutkan oleh al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin dalam kitabnya Asy-Syarah al-Mumti’. Kemudian beliau menyanggah ibnu hazm dengan menyampaikan bahwa terdapat dalil yang menunjukkan onani membatalkan puasa. Menurut penjelasan beliau onani sampai keluar mani membatalkan puasa dari 2 sisi :

1. Terdapat nash yang lafadznya bahwa syahwat itu membatalkan puasa. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits qudsi dimana Allah berfirman :

ﻳَﺘْﺮُﻙُ ﻃَﻌَﺎﻣَﻪُ ﻭَﺷَﺮَﺍﺑَﻪُ ﻭَﺷَﻬْﻮَﺗَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃﺟْﻠِﻲْ

“Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku” (muttafaqun alaih). 

Istidlalnya bahwa onani itu syahwat dan keluar mani juga syahwat. Dalil yang menunjukkan bahwa keluarnya mani dimutlakan sebagai syahwat karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

ﻭَﻓِـﻲْ ﺑُﻀْﻊِ ﺃَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠّٰـﻪِ ! ﺃَﻳَﺄْﺗِـﻲْ ﺃَﺣَﺪُﻧَﺎ ﺷَﻬْﻮَﺗَﻪُ ﻭَﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻟَﻪُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺃَﺟْﺮٌ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺃَﺭَﻳْﺘُﻢْ ﻟَﻮْ ﻭَﺿَﻌَﻬَﺎ ﻓِـﻲ ﺣَﺮَﺍﻡٍ، ﺃَﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭِﺯْﺭٌ ؟ ﻓَﻜَﺬٰﻟِﻚَ ﺇِﺫَﺍ ﻭَﺿَﻌَﻬَﺎ ﻓِـﻲ ﺍﻟْـﺤَﻼَﻝِ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮًﺍ

dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?” Beliau menjawab : “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” [HR. Muslim].

Dan yang dimaksud wadho’a dalam hadits diatas adalah mengeluarkan maninya. 

2. Diqiaskan dengan batalnya puasa karena muntah dan berbekam -menurut sebagian pendapat ulama-. Hikmah batalnya puasa karena muntah dan berbekam adalah dua hal tersebut dapat melemahkan badan yakni ketika keluar makanan akibat muntah atau keluar darah ketika dibekam, maka untuk merecovery tubuh agar kembali kuat, diperlukan asupan makanan. Pun dengan keluar mani, hal tersebut dapat melemahkan badan. 
Yang menarik ibnu hazm memiliki pendapat bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan secara sadar pada saat seorang tengah berpuasa itu beliau anggap dapat membatalkan puasa, maka dari sinilah kita tahu bahwa Imam ibnu Hazm berpendapat onani bukan sebuah perbuatan maksiat dan memang beliau berpendapat seperti itu dalam kitabnya al-Muhalla, beliau hanya sampai derajat memakruhkannya saja.

BATAL PUASANYA ORANG YANG SENGAJA BERMAKSIAT PADA SAAT BERPUASA

May 21, 2017 at 4:20 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BATAL PUASANYA ORANG YANG SENGAJA BERBUAT MAKSIAT PADA SAAT BERPUASA
Imam ibnu Hazm memiliki pandangan yang cukup “unik” tatkala beliau menyatakan bahwa batal puasanya bagi orang yang melakukan kemaksiatan dalam kondisi ia sengaja berbuat maksiat dan ia sadar sedang dalam kondisi berpuasa. diantara perbuatan maksiat yang beliau sebutkan sebagai pembatal puasa adalah berdusta, ghibah, adu domba dan selainnya.

beliau berdalil diantaranya dengan hadits Abu Huroiroh radhiyallahu anhu dimana Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda :

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“’Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa” (Muttafaqun alaih).

juga hadits Abu Huroiroh radhiyallahu anhu secara marfu’ :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allâh tidak butuh kepada (puasanya) yang hanya meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhori).

dan dalil-dalil sejenisnya.
logika berpikir Imam Ibnu Hazm, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya al-Muhalla yaitu :

فَصَحَّ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَرْضَى صَوْمَهُ ذَلِكَ وَلَا يَتَقَبَّلُهُ، وَإِذَا لَمْ يَرْضَهُ وَلَا قَبِلَهُ فَهُوَ بَاطِلٌ سَاقِطٌ

“maka telah shahih bahwa Allah Ta’aalaa tidak ridho dan tidak menerima puasa (yang terkontaminasi maksiat), sehingga ketika puasa tersebut tidak diridhoi dan tidak diterima, hal ini menunjukkan bahwa puasanya batal dan telah berguguran”.
Sumber : Al-Muhalla. masalah sengaja bermaksiat pada saat berpuasa

WANITA HAIDH MANDI HAIDH PADA WAKTU SUBUH

May 21, 2017 at 4:19 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WANITA HAIDH TELAH SUCI SEBELUM TERBIT FAJAR SUBUH
Imam ibnu Hazm mengangkat tema pembahasan terkait seorang wanita yang haidh atau nifas yang kemudian ia telah melihat dirinya suci sebelum terbit Fajar subuh. Maka tentu saja wanita tersebut wajib berpuasa pada hari itu. 
Yang unik, imam ibnu hazm sounding kepada kita dalam kitabnya al-Muhalla, bagaimana jika sang wanita tersebut menunda mandi haidhnya sampai waktu terbit Fajar subuh telah tiba. Untuk hal ini selama dia mandi dan kemudian sholat Subuh sebelum waktu subuhnya habis alias sebelum matahari terbit, maka puasanya sempurna, sekalipun tadi sang wanita mandi bersucinya setalah terbit Fajar subuh. 

Namun jika sang wanita sengaja menunda-nunda mandinya sehingga matahari sudah terbit alias waktu sholat subuh telah habis, maka puasanya tidak sah. Alasannya imam ibnu hazm, karena sang wanita telah berbuat maksiat dengan meninggalkan sholat subuh secara sengaja.

ORANG KAFIR MASUK ISLAM PADA PERTENGAHAN RAMADHAN

May 21, 2017 at 4:17 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ORANG KAFIR MASUK ISLAM PADA PERTENGAHAN BULAN RAMADHAN
Para ulama berbeda pendapat terkait hukum mengqodho puasa yang tidak dilakukan oleh seorang mualaf ketika ia masuk islam pada pertengahan Bulan romadhon. Misal ada orang kafir masuk islam pada tanggal 10 romadhon, maka otomatis mulai tanggal 11 romadhon dan seterusnya sang mualaf ini berkewajiban puasa.  Permasalahan yang dibahas para ulama adalah bagaimana dengan status puasanya dari tanggal 1 sampai 10 romadhon, apakah dia wajib menqodhonya? 
Mayoritas ulama mengatakan sang mualaf tidak perlu mengqodho puasa pada tanggal 1-10 romadhon tersebut. Sekalipun memang ada beberapa ulama salaf, seperti Imam Hasan al-bashri dan atho’ yang berpendapat sang mualaf wajib mengqodhonya. 

Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, karena memang dari tanggal 1-10 romadhon dalam kasus kita ini, sang mualaf masih kafir yang seandainya ia puasa pada tanggal tersebut, tidak sah puasanya, artinya dia tidak cakap hukum ketika itu untuk berpuasa. 
Kemudian terjadi pembahasan lagi, bagaimana jika si kafir masuk islamnya pada pertengahan siang hari Bulan romadhon. Misalnya ada orang kafir masuk islam pada tanggal 10 romadhon jam 12 siang. Pembahasan para ulama adalah apakah dia wajib berpuasa setelah jam 12 siang sampai menjelang maghrib? 

Sebagian ulama mengatakan dia wajib berpuasa, lalu mengqodho puasa pada tanggal tersebut (karena dari mulai subuh sampai jam 12 siang dalam kasus kita ini, dia tidak berpuasa). Sebagian ulama lain berpendapat dia hanya wajib berpuasa saja, setelah jam 12 siang, tanpa perlu mengqodho. Sebagian lain lagi berpendapat tidak ada kewajiban apapun pada tanggal tersebut, tidak perlu berpuasa, apalagi mengqodhonya. 
Pendapat terakhir dirajihkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Muhalla, alasannya karena pada tanggal tersebut, sang mualaf belum memiliki kecakapan hukum untuk berpuasa, mengingat dirinya masih kafir. 
Sumber : maushu’ah masailul jumhuur fiil fiqhil islamiy dan al-Muhalla.

SYARAT I’TIKAF ADALAH DI MASJID JAAMI’

May 21, 2017 at 4:16 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

I’TIKAF DI MASJID JAAMI’
Asy-Syaikh Abdullah alu basam berkata :

“Bahwa syarat i’tikaf adalah di masjid yang diselenggarakan sholat jamaah, berdasarkan Firman Allah : {dan kalian sedang beri’tiaf di masjid-masjid} [QS. al-baqarah ayat 187]. Hal ini bertujuan agar pada waktu beri’tikaf tidak meninggalkan sholat berjamaah atau berulang kali keluar dari tempat i’tikaf (untuk sholat berjamaah, jika tempat i’tikafnya bukan di masjid jaami’ -pent.)”.
Taisir al-‘Alaam (syarah hadits no.  203).

ANAK MEMBAYARKAN HUTANG PUASA ORANG TUANYA YANG SUDAH WAFAT

May 21, 2017 at 4:15 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ANAK MEMBAYARKAN HUTANG PUASA ORANG TUANYA YANG KEBURU WAFAT
madzhab Ahli hadits berpendapat seorang wali dalam hal ini ahli warisnya disyariatkan membayar hutang puasa orang tuanya misalnya, yangmana orang tuanya belum sempat menunaikan puasa tersebut karena keburu meninggal dunia. Ahli hadits tidak membedakan apakah hutang puasa tersebut adalah puasa nadzar atau puasa yang diwajibkan syariat (puasa Ramadhan).

Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang meningal dunia dan ia masih punya tanggungan puasa, maka walinya membayarkan puasa atas namanya” (Muttafaqun alaih). 
Asy-Syaikh Alu Basam menyebutkan tiga pendapat ulama dalam menyikapi hadits diatas dan beliau condong kepada madzhab ahli hadits sebagaimana diatas. 

(Taisir al-‘Alaam, syarah hadits no. 187).

SUBUH MASIH JUNUB PADA BULAN RAMADHAN

May 21, 2017 at 4:14 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SUBUH MASIH JUNUB PADA BULAN ROMADHON
Madzhab fiqih mayoritas ulama jika anda berhubungan badan dan ternyata sudah masuk waktu Fajar (subuh) belum sempat mandi junub, maka segera mandi untuk sholat Subuh dan puasanya tetap sah tidak perlu diqodho. 

Dalilnya hadits Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu anhuma :

“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah masih dalam kondisi junub pada saat waktu subuh sudah tiba, kemudian Beliau mandi dan tetap berpuasa” (muttafaqun alaih) 
Quote min Taisir al-‘Alaam, Kitab ash-Shaum (hadits no.  178)

HUKUM KHITAN BAGI WANITA

May 21, 2017 at 4:12 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM KHITAN BAGI WANITA
Asy-Syaikh Abdullah Alu basam berkata :

“…para ulama berselisih pendapat terkait masalah khitan, apakah hukumnya sekedar sunnah atau wajib? Kemudian pada umur berapa seseorang wajib berkhitan? Dan apakah wajib juga bagi laki-laki dan wanita? Atau hanya wajb bagi laki-laki saja?

Pendapat yang rajih dari perselisihan diatas adalah khitan hukumnya wajib, namun yang wajib hanya kepada laki-laki saja, tidak kepada para wanita. Adapun waktu yang wajib untuk melaksanakannya adalah (maksimal) ketika sudah baligh, yang mana ia sudah wajib untuk bersuci dan sholat.. “.
Quote min Taisir al-‘Alaam Syarah ‘Umadat al-Ahkaam, Kitab ath-Thoharoh, bab bayaan Ahkaam al-Khitaan.. (Hadits no. 27)

PERBEDAAN QIROAH ASHIM ANTARA RIWAYAT HAFSH DENGAN SYU’BAH

May 21, 2017 at 12:03 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PERBEDAAN QIRO’AH ASHIM ANTARA RIWAYAT HAFSH DENGAN SYU’BAH
Sebagaimana diketahui qiroah al qur’an yang biasa kita baca adalah qiroah ashim dengan menggunakan riwayat hafsh. Para ulama sudah menyebutkan alasan kenapa qiroah Ashim dengan riwayat Hafsh lebih banyak diaplikasikan oleh kaum muslimin, selain karena mudahnya, sanad qiroah ini juga memiliki tempat tersendiri di hati kaum muslimin. Yakni Imam Ashim mengambil qiroah ini dari gurunya Abu Abdurrahman as-Sulamiy, kemudian as-Sulamiy mengambil qiroahnya dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, yangmana beliau bertalaqi langsung  kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 
Kemudian Imam Ashim ternyata mengambil qiroah juga dari guru lainnya yakni Zirr bin Khubaisy, yangmana Zirr ini bertalaqi kepada sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu yang juga merupakan murid Rasulullah dalam qiroah Al Qur’an. Bacaan Imam Ashim dari Abdullah bin Mas’ud inilah yang kemudian diajarkan kepada Syu’bah, sehingga kemudian ada istilah qiroah ashim dengan riwayat Syu’bah. 
Kemudian setelah dibandingkan oleh para ulama kita, ternyata terjadi beberapa perbedaan cara baca antara riwayat Hafsh dengan Syu’bah yang sama-sama bertalaqi kepada Imam Ashim, karena memang Imam Ashim mengajarkan versi yang berbeda kepada Hafsh dan Syu’bah. Alhamdulillah para ulama telah menyusun mushaf Al Qur’an qiroah Ashim dengan riwayat hafsh dan ini sudah umum dimiliki oleh kaum muslimin, kemudian juga telah disusun qiroah ashim dengan riwayat Syu’bah. 
Bagi yang ingin memiliki mushaf Al Qur’an qiroah Ashim dengan riwayat Syu’bah dapat didownload di link berikut : 

https://archive.org/details/sas66b_yahoo_Pdf
Sedangkan bagi yang ingin mengetahui perbedaan antara riwayat hafsh dengan ashim dapat memiliki mushafnya dengan mengunduhnya pada link berikut :

http://ia801408.us.archive.org/28/items/MOS7F_H_SH/MOS7F_H_SHH.pdf
Kita juga bisa menyimak beberapa contoh perbandingan riwayat hafsh dengan syu’bah di surat Al Baqoroh dengan menyaksikan video pada link berikut : 

(Namun dalam video tersebut ada ralat kesalahan untuk menit kedelapannya) 
Saya lampirkan juga contoh perbedaan riwayat hafsh dengan syu’bah di mushaf yang bisa didownload diatas.

WARISAN DIBAGI RATA

May 21, 2017 at 12:02 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WARISAN DIBAGI RATA
Ada pertanyaan yang masuk, bagaimana ketika anggota keluarga alias ahli waris ingin pembagiannya dilakukan sama rata, tanpa memandang laki-laki atau perempuan? 
Tentunya yang perlu diketahui bahwa syariat islam telah mengatur pembagian warisan dengan seadil-adilnya. Ketika mendapatkan kasus seperti ini maka perlu dilakukan edukasi kepada anggota keluarga yang menolak pembagian misalnya laki-laki berbanding 2 orang perempuan. Edukasi bisa dengan mengundang ahli ilmu yang paham tentang hukum warisan dan pembagiannya. 
Jika cara ini sudah ditempuh, namun masih belum menghasilkan kepuasan dari pihak yang menolak, maka kasusnya bisa diajukan kepada pengadilan agama. Namun tentunya cara-cara kekeluargaan itu layak diutamakan terlebih dahulu, jangan sampai ada keributan yang menyebabkan putus tali silaturahmi gara-gara masalah warisan. 
Nah yang unik, dalam kompilasi hukum islam ditawarkan sebuah solusi yang aplikatif untuk mengatasi problem diatas. Ketentuan ini terletak pada pasal 183 KHI yang berbunyi :

*Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya.*
Dasar pemikiran dari pasal 183 adalah kemaslahatan yang hendak diraih sebagaimana penjelasan kami diawal tadi. Konsep ini adalah buah pikiran dari ulama hanafiyyah yang mereka melahirkan sebuah ide yang disebut dengan takhoruj, yakni salah satu atau masing-masing ahli waris keluar dari pembagian warisan sesuai dengan jatah yang seharusnya diterima. Konsep ini untuk menjawab sebuah kebutuhan dimana misalnya ada salah satu ahli waris yang kebetulan ia adalah pihak yang sangat membutuhkan. Misalnya dalam sebuah keluarga ada seorang anak yang belum punya rumah dan kebetulan sang bapak hanya mewariskan satu unit rumah, sedangkan saudara-saudaranya yang lain sudah diberikan kelebihan ekonomi sehingga sudah memiliki rumah dari hasil rizkinya. Maka dalam hal ini saudaranya yang sudah berkecukupan tadi merelakan bagiannya untuk saudaranya yang belum punya rumah. 
Oleh karena itu pasal 183 diatas dapat menjawab kebutuhan akan hal itu. Jika ingin “soft” dalam mengaplikasikan pasal 183, dapat ditempuh dengan cara Harta warisan dibagikan sesuai ketentuan syariat, baru setelah itu  pihak ahli waris lainnya melepaskan haknya kepada ahli waris yang membutuhkan. 

Sekalipun memang dalam pasal 183 ini tidak ada larangan juga untuk menyepakati bagian warisan masing-masing diluar ketentuan syariah atas dasar keridhoan satu sama lainnya. Yang ditekankan disini masing-masing ahli waris sudah mengetahui bagiannya masing-masing sesuai ketentuan syariah, namun kemudian konsep takhoruj dipakai demi sebuah kemasalahatan yang disepakati bersama.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: