MENJAWAB TITIPAN SALAM

October 19, 2017 at 12:39 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENJAWAB TITIPAN SALAM
Diantara petunjuk Nabi adalah ketika ada orang yang membawakan titipan salam kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan membalas salam orang menitipkan tadi dan juga kepada orang yang dititipi salam. Sebagaimana dalam kitab as-Sunan :

“Seorang menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa bapaknya titip salam untuknya, maka Beliau menjawab :

“Salam juga (dariku) kepadamu dan kepada Bapakmu”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Nasai dalam sunan al-kubro. 

Didhoifkan oleh asy-syaikh Syu’aib Arnauth. 

Al Hafidz ibnu hajar dalam kitabnya “Fathul Bari” (syarah hadits no.  5898) setelah membawakan hadits ini beliau mengambil kesimpulan hukum :

ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺒﻠﻎ 

“Disunahkan untuk menjawab salam juga kepada pembawa (pesannya)”

Advertisements

Bab 7 Tentang Putus Asa dari Rahmat Allah dan Aman dari Makar Allah

October 18, 2017 at 3:22 pm | Posted in AL KABAIR | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABA`IR

Bab 7 Tentang Putus Asa dari Rahmat Allah dan Aman dari Makar Allah

 

Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ}

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf : 87).

***

Continue Reading Bab 7 Tentang Putus Asa dari Rahmat Allah dan Aman dari Makar Allah…

Bab 6 Bersuka Ria

October 17, 2017 at 2:33 pm | Posted in AL KABAIR | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

Bab 6 Bersuka Ria

 

Penjelasan :

Gembira atau suka ria itu ada dua macam yang tercela dan yang terpuji. Imam Abu Ishaq az-Zujaaj (w. 311 H) dalam kitab tafsirnya “Ma’aani al-Qur’an wa I’rabuhu” (5/128, cet. ‘Aalim al-Kitab) mengatakan :

فدل بهذا أنه ذم الفرح الذي يختال فيه صاحبه ويبطر له، فأمَّا الفرح بنعمة اللَّه والشكر عليها فغير مذمومِ

“maka hal ini menunjukkan bahwa celaan kegembiraan adalah yang menyebabkan pelakunya sombong dan membanggakan diri. Adapun jika bergembira dengan nikmat Allah dan bersyukur atasnya, maka ini tidaklah tercela” –selesai-.

Continue Reading Bab 6 Bersuka Ria…

HADITS BERBUAT SECARA TERARAH

October 17, 2017 at 12:49 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

HADITS BERBUAT SECARA TERARAH

 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla suka jika kalian ketika beramal / bekerja melakukan pekerjaan tersebut dengan itqan (terarah, jelas dan bersungguh-sungguh).

Takhrij Hadits : Continue Reading HADITS BERBUAT SECARA TERARAH…

Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah

October 15, 2017 at 12:06 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah

 

Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi : 110).

***

 

Ta’liqiy :

Imam al-Hakim meriwayatkan asbabun nuzul untuk ayat diatas dalam kitabnya “al-Mustadrok” (no. 2527, cet. DKI) dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Abbas radhiyyallahu anhu beliau berkata :

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَقِفُ الْمَوْقِفَ أُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ، وَأُرِيدُ أَنْ يُرَىَ مَوْطِنِي، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا حَتَّى نَزَلَتْ {فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ، فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا، وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف: 110]

“seorang laki-laki berkata : “wahai Rasulullah sesungguhnya aku bersikap dengan sikap ini menginginkan wajah Allah dan menginginkan juga agar dilihat kedudukanku (bagaimana ini?)”, Beliau tidak menjawab sedikit pun sampai turun Al Kahfi 110”.

Imam al-Hakim setelah meriwayatkan hadits diatas beliau berkata : “hadits ini shahih atas syarat Bukhori-Muslim, namun mereka berdua tidak meriwayatkannya”. Pernyataan beliau ini disetujui oleh Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhiish”.

Continue Reading Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah…

DURARUL BAHIYYAH – Bab 9B Ilaa

October 14, 2017 at 9:48 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9B Ilaa

Yaitu seorang suami bersumpah kepada seluruh istrinya atau sebagian istrinya untuk tidak mendekatinya (menggaulinya). Jika ia memberikan batas waktu untuk tidak mendekatinya kurang dari 4 bulan, maka ia menjauhi istrinya sampai batas waktunya habis[1]. Namun jika ia tidak memberikan batas waktu –atau waktunya lebih dari 4 bulan-, diberikan pilihan baginya setelah habis waktu (4 bulan) antara ia kembali kepada istrinya atau menceraikannya[2].

========== Continue Reading DURARUL BAHIYYAH – Bab 9B Ilaa…

YAHUDI DAN NASRANI YANG TIDAK BERIMAN SETELAH DIUTUSNYA RASULULLAH DIHUKUMI KAFIR

October 14, 2017 at 9:38 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

YAHUDI DAN NASRANI YANG TIDAK BERIMAN SETELAH DIUTUSNYA RASULULLAH DIHUKUMI KAFIR

 

Imam Suyuthi dalam kitabnya “al-Luma’ fii Asbaabi Wuruud al-Hadits” (hal. 89-90, cet. Daarul Fikr) menyebutkan sebuah kisah yang melatarbelakangi sebuah hadits yang mayshur, asbabul wurudnya kata beliau diriwayatkan dalam kitab “al-Afrood” karya Imam Daruquthni dari jalan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu :

يا رسول الله رأيت رجلا من النصاري متمسكا بالانجيل ورجلا من اليهود متمسكا بالتوراة يؤمن بالله ورسوله، ثم لم يتبعك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” من سمع بي من يهودي أو نصراني ثم لم يتبعني فهو في النار “

“wahai Rasulullah aku melihat seorang Nasrani yang berpegang dengan Injil dan seorang Yahudi yang berpegang dengan Taurat, mereka berdua beriman kepada Allah dan Nabinya masing-masing, namun tidak mau mengikutimu (maka bagaimana statusnya?, pent.). Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam menjawab :

“barangsiapa yang mendengarku baik dari kalangan Yahudi atau Nasrani, kemudian mereka tidak mengikutiku, maka ia adalah penghuni neraka”. Continue Reading YAHUDI DAN NASRANI YANG TIDAK BERIMAN SETELAH DIUTUSNYA RASULULLAH DIHUKUMI KAFIR…

KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH

October 14, 2017 at 12:38 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

 

Perceraian diperbolehkan[1] yang berasal dari seorang laki-laki yang telah mukallaf dan tidak dalam kondisi terpaksa[2]. Percaraian terjadi, sekalipun hanya bercanda[3]. Perceraian ditujukan kepada istri yang dalam kondisi suci sebelum “digauli”[4]. Perceraian tidak boleh dilakukan kepada istri yang sedang haidh yang tadinya suci atau kepada istri yang hamil pada saat melahirkan. Diharamkan menjatuhkan talak, selain dalam kondisi diatas[5], adapun terkait jatuhnya talak yang diucapkan lebih dari satu kali tanpa diselingi rujuk terlebih dahulu, maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama dan pendapat yang rajih, tidak jatuh talaknya[6].

Continue Reading KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH…

​APAKAH BINATANG DIBANGKITKAN JUGA PADA HARI KIAMAT? 

August 17, 2017 at 3:37 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH BINATANG DIBANGKITKAN JUGA PADA HARI KIAMAT? 
Imam al-Aluusiy dalam kitab tafsirnya yang berjudul “ﺭﻭﺡ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ” ketika menafsirkan Firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat At-Takwir ayat ke-5 :

وَاِذَا الْوُحُوْشُ  حُشِرَتْ 

“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,”.
Al-Imam berkomentar (30/52) :

“Tidak ada dalam bab (dibangkitkannya hewan pada hari kiamat -pent.) itu nash baik dari Kitab dan Sunnah yang bisa ditafsirkan bahwa selain manusia dan jin, seperti hewan akan dikumpulkan pada hari kiamat, hadits Muslim dan Tirmidzi, sekalipun itu shahih namun bukanlah terkait dengan tafsir dari ayat ini, bisa jadi itu adalah kinayah (simbolik) dari keadilan yang sempurna. Pendapat inilah yang aku (Imam al-Aluusiy) condong padanya, walaupun aku tidak memastikan kesalahan orang yang berpendapat (dibangkitkannya hewan pada hari kiamat), karena mereka memiliki sandaran yang layak dijadikan hujjah secara global. Wallahul a’lam -selesai-. 
Apa yang dirajihkan oleh Imam al-Aluusiy bertentangan dengan pendapat Imam Ibnu Jarir ath-thabari, beliau berkata dalam tafsirnya (ayat terakhir surat An-Nabaa’):

وقوله: (ويقول الكافر ياليتني كنت ترابا) يقول تعالى ذكره: ويقول الكافر يومئذ تمنيا لما يلقى من عذاب الله الذي أعده لأصحابه الكافرين به، يا ليتني كنت ترابا كالبهائم التي جعلت ترابا.

“Firman Allah Subhanahu wa ta’ala : {orang-orang kafir berkata, “seandainya aku menjadi tanah”}.

Allah menyebutkan ucapan orang kafir pada hari (pembalasan) yang berharap ketika menghadapi azab Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang kafir, seandainya aku (orang kafir) menjadi tanah, sebagaimana binatang yang dijadikan tanah” -selesai-. 
Kemudian Imam ath-thabari menyampaikan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa binatang juga akan dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari kiamat. 

إذا كان يوم القيامة، مد الأديم، وحشر الدواب والبهائم والوحش، ثم يحصل القصاص بين الدواب، يقتص للشاة الجماء من الشاة القرناء نطحتها، فإذا فرغ من القصاص بين الدواب، قال لها: كوني ترابا، قال: فعند ذلك يقول الكافر: يا ليتني كنت ترابا “.

“Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang, hewan liar, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga ditegakkan keadilan Allah, untuk memindahkan tanduk dari hewan hewan bertanduk ke yang tidak bertanduk (lalu dilakukan qishas). Kemudian Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah tanah.” Di saat itulah orang kafir mengatakan, “Andai aku jadi tanah.” (HR. Hakim 3231 dan dishahihkan ad-Dzahabi).
Binatang tersebut dibangkitkan bukan untuk dihisab amalnya, karena mereka bukan mukallaf (yang terkena beban syariat), tapi untuk menunjukkan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan, sampaipun kedzholiman yang dilakukan oleh binatang. 

ﻟَﺘُﺆَﺩُّﻥَّ ﺍﻟﺤُﻘُﻮﻕَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺎﺩَ ﻟِﻠﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟﺠَﻠْﺤَﺎﺀِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟﻘَﺮْﻧَﺎﺀِ ‏

“Benar-benar hak itu akan ditunaikan kepada yang berhak pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan membalas kambing yang bertanduk (HR. Muslim). 
Jadi sebagian ulama berpendapat bahwa hewan juga akan dibangkitkan pada hari kiamat, namun setelah Allah memberikan kesempatan kepada para binatang untuk saling mengqishosh, lalu Allah menjadikan mereka debu, sehingga orang-orang kafir berharap menjadi seperti binatang pada saat itu, agar mereka lenyap tidak menerima siksaan yang Sudah dipersiapkan bagi mereka, akibat kekafirannya. 
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menyampaikan pendapat yang kedua terkait potongan paling akhir dari ayat ke-40 surat An-Nabaa’, beliau berkata :

وقيل: إنما يود ذلك حين يحكم الله بين الحيوانات التي كانت في الدنيا، فيفصل بينها بحكمه العدل الذي لا يجور، حتى إنه ليقتص للشاة الجماء من القرناء. فإذا فرغ من الحكم بينها قال لها: كوني ترابا، فتصير ترابا. فعند ذلك يقول الكافر: {يا ليتني كنت ترابا} أي: كنت حيوانا فأرجع إلى التراب. وقد ورد معنى هذا في حديث الصور المشهور  وورد فيه آثار عن أبي هريرة، وعبد الله بن عمرو، وغيرهما.

“Menurut pendapat lain, sesungguhnya orang kafir itu berkhayal demikian hanyalah setelah ia menyaksikan peradilan Allah, pada saat menghukumi antara hewan-hewan terhadap kejadian-kejadian yang telah dilakukannya ketika di dunia dengan sesamanya. Maka Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-Nya yang Maha-adil yang tidak ada kecurangan sedikit pun, sehingga kambing yang tidak bertanduk disuruh membalas terhadap kambing yang bertanduk yang dahulu sewaktu di dunia pernah menanduknya. Apabila peradilan telah dilakukan terhadap mereka, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu tanah!” Maka semuanya kembali menjadi tanah. Dan saat itulah orang kafir berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: {“Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.} (An-Naba: 40).

Yaitu mereka berkeinginan seperti hewan, yang dikembalikan menjadi tanah. Hal yang semakna telah disebutkan di dalam hadis sangkakala yang terkenal, sebagaimana telah disebutkan pula dalam asar-asar yang bersumber dari Abu Hurairah, dan Abdullah ibnu Amr serta selain keduanya”.

​BERSERIKAT DALAM HEWAN KURBAN

August 17, 2017 at 3:36 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BERSERIKAT DALAM HEWAN KURBAN
Yang masyhur bahwa untuk Unta dan Sapi dapat ditanggung oleh 7 orang untuk dijadikan kurban. Jadi ada 7 orang yang urunan untuk membeli satu ekor Sapi atau Unta untuk dijadikan hewan kurban. Bahkan jika dari 7 orang tersebut meniatkan bagian dari Sapi atau Unta yang disembelih tersebut untuk selain kurban, misalnya ada yang meniatkan untuk bayar fidyah atau untuk kurban karena haji (al-Hadyu) atau malah sekedar ingin menikmati dagingnya, maka diperbolehkan karena kedudukannya seolah-olah masing-masing mereka membeli seekor kambing, sehingga masing-masing dapat meniatkan bagian dari Sapi atau Unta yang disembelih, sebagaimana jika mereka masing-masing menyembelih Kambing. Ini adalah faedah dari perkataan Imam al-Muzani dalam Mukhtashornya (hal 392-Daarul Ma’rifah, Beirut dengan cetakan yang digabungkan bersama al-Umm Imam Syafi’i dan kitab Mukhtashor berada di Juz yang ke-8 nya). Beliau berkata :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻧَﺤَﺮَ ﺳَﺒْﻌَﺔٌ ﺑَﺪَﻧَﺔً ﺃَﻭْ ﺑَﻘَﺮَﺓً ﻓِﻲ ﺍﻟﻀَّﺤَﺎﻳَﺎ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺖٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﺃَﻭْ ﺷَﺘَّﻰ ﻓَﺴَﻮَﺍﺀٌ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻳُﺠْﺰِﻱ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻣُﻀَﺤِّﻴًﺎ ﻭَﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻣُﻬْﺪِﻳًﺎ ﺃَﻭْ ﻣُﻔْﺘَﺪِﻳًﺎ ﺃَﺟْﺰَﺃَ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺳُﺒُﻊَ ﻛُﻞِّ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﻣَﻘَﺎﻡَ ﺷَﺎﺓٍ ﻣُﻨْﻔَﺮِﺩَﺓٍ، ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺑِﻨَﺼِﻴﺒِﻪِ ﻟَﺤْﻤًﺎ ﻟَﺎ ﺃُﺿْﺤِﻴَّﺔً ﻭَﻟَﺎ ﻫَﺪْﻳًﺎ

Jika 7 orang menyembelih seekor Unta atau Sapi untuk korban atau al-Hadyu (korban kerena haji) baik mereka dari satu anggota keluarga atau lain keluarga, maka sama saja sah kurbannya, sekalipun sebagian ada yang meniatkan untuk kurban, sebagian lagi ada yang untuk hadyu atau fidyah, maka itu cukup. Karena 7 orang tersebut seolah-olah masing-masingnya berkurban seekor Kambing sendiri-sendiri. Demikian juga seadainya ada sebagian yang menginginkan dagingnya, bukan sebagai kurban atau hadyu, (maka sah kurban temannya yang lain –pent.) -selesai-.
Kemudian Imam Nawawi menegaskan bahwa berserikatnya 7 orang untuk berkurban satu ekor Unta atau Sapi adalah pendapatnya mayoritas ulama, kata beliau dalam al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab (8/398-Cet. Daarul Fikr) :

ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻙَ ﺳَﺒْﻌَﺔٌ ﻓِﻲ ﺑَﺪَﻧَﺔٍ ﺃَﻭْ ﺑَﻘَﺮَﺓٍ ﻟِﻠﺘَّﻀْﺤِﻴَﺔِ ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺑَﻴْﺖٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﺃَﻭْ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗِﻴﻦَ ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﻠَّﺤْﻢَ ﻓَﻴُﺠْﺰِﺉُ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻤﺘﻘﺮﺏ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺃﺿﺤﻴﺔ ﻣﻨﺬﻭﺭﺓ ﺃﻭ ﺗَﻄَﻮُّﻋًﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺬْﻫَﺒُﻨَﺎ ﻭَﺑِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻭَﺩَﺍﻭُﺩ ﻭَﺟَﻤَﺎﻫِﻴﺮُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺇﻟَّﺎ ﺃَﻥَّ ﺩَﺍﻭُﺩ ﺟَﻮَّﺯَﻩُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻄَﻮُّﻉِ ﺩُﻭﻥَ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐِ ﻭَﺑِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﺇﻥْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗِﻴﻦَ ﺟَﺎﺯَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎﻟِﻚٌ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺍﻟِﺎﺷْﺘِﺮَﺍﻙُ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺎﺓِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪَﺓِ

Boleh untuk berserikat 7 orang untuk satu ekor Unta atau Sapi, sama saja apakah mereka dari satu keluarga atau beda keluarga atau sebagian hanya menginginkan dagingnya, semua itu sah dan sama saja apakah sembelihan ini nadzar atau sunnah. Ini adalah madzhab kami (Syafi’ iyyah-pent.) dan pendapatnya Ahmad, Dawud dan mayoritas ulama, kecuali Dawud hanya membolehkan jika itu adalah sembelihan sunnah bukan wajib.

Sebagian Malikiyyah dan Abu Hanifah berpendapat jika yang berserikat tadi beda keluarga maka baru sah. Adapun Malik berpendapat tidak boleh berserikat secara mutlak, sebagaimana tidak bolehnya berserikat dalam satu ekor Kambing -selesai-.
Dalil madzhab kami (syafi’iyyah) adalah :

1. Hadits Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 1318-cet. Daaru Ihyaa’ it Turots) bahwa beliau Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

ﻧَﺤَﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﺎﻡَ ﺍﻟْﺤُﺪَﻳْﺒِﻴَﺔِ ﺍﻟْﺒَﺪَﻧَﺔَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ، ﻭَﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ

Kami menyembelih bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada tahun Hudaibiyyah, satu ekor unta dari 7 orang dan satu ekor Sapi dari 7 orang.

2. Masih dari Jaabir Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim juga, bahwa beliau Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

ﺧَﺮَﺟْﻨَﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣُﻬِﻠِّﻴﻦَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺞِّ : ‏« ﻓَﺄَﻣَﺮَﻧَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﻧَﺸْﺘَﺮِﻙَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺑِﻞِ ﻭَﺍﻟْﺒَﻘَﺮِ، ﻛُﻞُّ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﻣِﻨَّﺎ ﻓِﻲ ﺑَﺪَﻧَﺔٍ »

Kami pergi bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam keadaan bertalbiyyah untuk haji, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam memerintahkan kami untuk berserikat dalam satu ekor Unta atau Sapi, setiap 7 orang satu ekor Unta.

3. Kemudian Imam Nawawi menukil perkataan Imam Baihaqi yang berkata :

ﻭَﺭَﻭَﻳْﻨَﺎ ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲٍّ ﻭَﺣُﺬَﻳْﻔَﺔَ ﻭَﺃَﺑِﻲ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِﻱِّ ﻭَﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ‏( ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓُ ﻋَﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ )

Kami meriwayatkan dari Ali, Khudzaifah, Abu Mas’ud al-Anshoriy dan Aisyah Rodhiyallahu ‘anhum bahwa mereka berkata : “sapi dari 7 orang”.
Imam Syafi’I dalam al-Umm (2/244-cet. Daarul Ma’ rifah) mengatakan :

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺃَﻗَﻞَّ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ ﺃَﺟْﺰَﺃَﺕْ ﻋَﻨْﻬُﻢْ

Tidak sah (satu ekor Unta atau Sapi-pent.) untuk lebih dari 7 orang, adapun jika kurang dari 7 orang maka tetap sah -selesai-.
Bahkan Imam Shon’ani dalam Subulus Salam menukil klaim Ibnu Rusydi bahwa terjadi ijma tidak boleh berserikat lebih dari 7 orang, ash-Shon’ani berkata :

ﻭَﺍﺩَّﻋَﻰ ﺍﺑْﻦُ ﺭُﺷْﺪٍ ﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻙَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨُّﺴُﻚِ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌَﺔٍ

Ibnu Rusydi mengklaim bahwa telah terjadi ijma (kesepakatan ulama) bahwa tidak boleh berserikat dalam penyembelihan lebih dari 7 orang -selesai-.
Namun klaim Ijma ini batil, karena telah dinukil bahwa untuk Unta bisa disembelih dari urunan 10 orang. Dalilnya adalah sebagai berikut :

1. Hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam

Sunannya (1501) dan selainnya dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam Al Albani bahwa Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻲ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﺤَﻀَﺮَ ﺍﻷَﺿْﺤَﻰ ﻓَﺎﺷْﺘَﺮَﻛْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺒَﻘَﺮَﺓِ ﺳَﺒْﻌَﺔً، ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺒَﻌِﻴﺮِ ﻋَﺸَﺮَﺓً

Kami bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam sebuah perjalan, lalu kami menjumpai hari raya kurban, maka kami berserikat 7 orang untuk satu ekor sapi dan 10 orang untuk satu ekor Unta.

2. Hadits Rufa’I bin Khudaij Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam

Shahihnya (no. 2507) dan Imam Muslim juga dalam Shahihnya (no. 1968) bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

ﺛُﻢَّ ﻋَﺪَﻝَ ﻋَﺸْﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ ﺑِﺠَﺰُﻭﺭٍ

Lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menyamakan 10 ekor kambing dengan satu ekor Unta.
Imam Syaukani ketika menjelaskan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa untuk Unta bisa 10 orang, beliau berkomentar :

ﻓِﻴﻪِ ﺩَﻟِﻴﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺒَﺪَﻧَﺔَ ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﺿْﺤِﻴَّﺔِ ﻋَﻦْ ﻋَﺸَﺮَﺓٍ

Ini dalil bahwa Unta dalam penyembelihan bisa untuk 10 orang -selesai-.
Sebelum Imam Syaukani, salah satu pembesar ulama pada zamannya yaitu Imam Ishaq bin Rohawiyyah juga berkata yang sama, sebagaimana dinukil oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, kata Imam Tirmidzi :

ﻭﻗَﺎﻝَ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕُ : ﻳُﺠْﺰِﺉُ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﺍﻟﺒَﻌِﻴﺮُ ﻋَﻦْ ﻋَﺸَﺮَﺓٍ ﻭَﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺑِﺤَﺪِﻳﺚِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ

Ishaq berkata : ‘sah juga kurban satu ekor sapi dari 10 orang berhujjah dengan hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu’ -selesai-.
Adapun Kambing maka yang rajih hanya berlaku untuk satu orang tidak boleh lebih. Imam Nawawi dalam al-Majmu berkata :

ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﺍﻟﺸَّﺎﺓُ ﻋَﻦْ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺠْﺰِﺉُ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﻭَﺍﺣِﺪٍ

Kambing sah untuk satu orang dan tidak sah untuk lebih dari satu orang -selesai-.
Begitu juga apa yang dikatakan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, kata beliau :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ : ﻟَﺎ ﺗُﺠْﺰِﻱ ﺍﻟﺸَّﺎﺓُ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗَﻮْﻝُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺍﻟﻤُﺒَﺎﺭَﻙِ، ﻭَﻏَﻴْﺮِﻩِ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ

Sebagian ulama berkata : ‘tidak sah kambing, kecuali untuk satu orang saja, ini adalah pendapatnya Abdullah bin Mubarok dan selainnya -selesai-.

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: