HUKUM SUJUD SAHWI

June 27, 2017 at 4:46 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM SUJUD SAHWI
Para ulama bersepakat bahwa sujud sahwi itu disyariatkan, namun mereka berbeda pendapat dalam masalah hukum taklifinya menjadi dua madzhab :

1. Wajib, ini adalah pendapat resminya Hanafiyyin, sekalipun sebagian ulama mereka ada yang mengatakan hukumnya sekedar sunnah. Asy-Syaikh Muhammad bin Firoomuriz atau yang lebih masyhur dengan sebutan Mulaa Khusruu (w. 885 H) dalam kitabnya “درر الحكام شرح غرر الأحكام” (1/150) berkata :

(بَابُ سُجُودِ السَّهْوِ وَالشَّكِّ) (يَجِبُ) أَيْ سُجُودُ السَّهْوِ، وَقِيلَ يُسَنُّ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ

“Sujud Sahwi itu hukumnya wajib. Ada yang mengatakan hukumnya sunnah. Namun yang benar adalah pendapat pertama (yaitu wajib).

Kemudian asy-Syaikh Hasan bin ‘Aamar asy-Syurunbulaaliy (w. 1069 H) memberikan hasyiyah (catatan kaki, yang dicetak bersama denan kitab diatas) bahwa ulama Hanafi yang mengatakan hukumnya sunnah adalah Imam Abul Husain al-Quduuriy (w. 428 H). sedangkan pembesar ulama hanafiyyah lainnya memilih pendapat yang mewajibkannya.
Adapun madzhab Maliki, maka terjadi khilaf dikalangan mereka, ada yang mengatakan bahwa sujud sahwi sebelum salam wajib hukumnya, adapun setelah salam, maka tidak ada perselisihan pendapat dikalangan mereka bahwa hukumnya tidak wajib alias sunnah. Asy-Syaikh al-Khithoob ar-Ru’ainiy al-Malikiy (w. 954 H)dalam kitabnya “مواهب الجليل في شرح مختصر خليل” (2/14) berkata : 

وَفِي وُجُوبِهِمَا قَوْلَانِ قَالَ فِي التَّوْضِيحِ أَطْلَقَ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – الْخِلَافَ فِي وُجُوبِهِمَا وَالْخِلَافُ إنَّمَا هُوَ فِي الْقَبْلِيِّ وَأَمَّا الْبَعْدِيُّ فَلَا خِلَافَ فِي عَدَمِ وُجُوبِهِ

“terkait wajibnya ada dua pendapat. Penulis at-Taudhiih memutlakkan perselisihan tentang kewajibannya hanya pada sujud sahwi sebelum salam, adapun sesudah salam, maka tidak ada perselisihan bahwa hukumnya tidak wajib”.
Adapun madzhab Hanbali mereka merinci hukumnya menjadi tiga. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad as-Salmaan (w. 1422 H) dalam kitab fiqih yang disusun dengan bentuk tanya jawab “الأسئلة والأجوبة الفقهية” (1/139 – 140) menjelaskan perinciannya tersebut :

يسن إذا أتى بقول مشروع في غير محله، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: «إذا نسي أحدكم فليسجد سجدتين» رواه مسلم. ويباح إذا ترك مسنونًا سهوًا كان من عزمه أن يأتي به ولا يسن؛ لأنه لا يمكن التحرز منه، ويجب إذا زاد ركوعًا أو سجودًا أو قيامًا أو قعودًا، 

“disunahkan jika ia berdzikir bukan pada tempat yang seharusnya, karena keumuman sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam : “jika kalian lupa, maka sujudlah dengan dua kali sujud” (HR. Muslim).

Hukumnya mubah, jika lupa meninggalkan sunah-sunah sholat yang sebelumnya ia sudah bertekad untuk mengerjakannya, karena tidak mungkin untuk dihindari.

Dan menjadi wajib jika ia menambahi ruku’, sujud, berdiri atau duduk..” –selesai-.

Dalam hal ini, hanabilah mendatangkan hukum yang ketiga yaitu mubah.
Adapun Imam ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya “المحلى بالآثار” (3/76) merinci amalan sholat menjadi dua terkait masalah sujud sahwi, sebagai berikut :

قَالَ عَلِيٌّ: وَبُرْهَانُ صِحَّةِ قَوْلِنَا هُوَ أَنَّ أَعْمَالَ الصَّلَاةِ قِسْمَانِ – بِيَقِينٍ لَا شَكَّ فِيهِ – لَا ثَالِثَ لَهُمَا -: إمَّا فَرْضٌ، يَعْصِي مَنْ تَرَكَهُ، وَإِمَّا غَيْرُ فَرْضٍ، فَلَا يَعْصِي مَنْ تَرَكَهُ فَمَا كَانَ غَيْرَ فَرْضٍ فَهُوَ مُبَاحٌ فِعْلُهُ، وَمُبَاحٌ تَرْكُهُ وَإِنْ كَانَ بَعْضُهُ مَنْدُوبًا إلَيْهِ مَكْرُوهًا تَرْكُهُ.

فَمَا كَانَ مُبَاحًا تَرْكُهُ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَلْزَمَ حُكْمًا فِي تَرْكِ أَمْرٍ أَبَاحَ اللَّهُ تَعَالَى تَرْكَهُ، فَيَكُونَ فَاعِلُ ذَلِكَ شَارِعًا مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ تَعَالَى؟ وَأَمَّا الْفَرْضُ – وَهُوَ الْقِسْمُ الثَّانِي – وَهُوَ الَّذِي تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِتَعَمُّدِ تَرْكِهِ وَلَا تَبْطُلُ بِالسَّهْوِ فِيهِ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ} [الأحزاب: 5] .

فَإِذْ الصَّلَاةُ لَا تَبْطُلُ بِالسَّهْوِ فِيهِ وَكَانَ سَهْوًا، فَفِيهِ سُجُودُ السَّهْوِ، إذْ لَمْ يَبْقَ غَيْرُهُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُخَصَّ بَعْضُهُ بِالسُّجُودِ دُونَ بَعْضٍ – وَبِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ.

“Ali berkata, dalil sahihnya pendapat kami adalah amalan sholat itu ada dua jenis –tidak ragu lagi, dan tidak ada jenis yang ketiga-, yaitu : (pertama) amalan wajib dimana orang yang meninggalkannya berarti berbuat maksiat, dan (yang kedua) tidak wajib, dimana orang yang meninggalkannya dianggap tidak bermaksiat . maka amalan yang tidak wajib boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, sekalipun sebagian amalan tersebut ada yang disunahkan, dimana makruh untuk meninggalkannya. Maka amalan yang boleh ditinggalkan, tidak boleh untuk mewajibkan hukumnya karena Allah telah memperbolehkan meninggalkannya, sehingga orang yang mengharuskan hal tersebut, berarti ia membuat syariat tanpa seijin Allah subhanahu wa ta’aalaa.

Adapun amalan wajib –ini adalah jenis kedua- yangmana batal sholatnya bagi yang meninggalkannya dengan sengaja, dan tidak batal jika karena lupa, sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’aalaa : { Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. } (QS. Al Ahzaab : 5).

Sehingga sholat yang tidak batal karena lupa, dalam kondisi dia lupa, maka wajib padanya sujud sahwi. Jika tidak tersisa amalan selainnya, maka tidak boleh mengkhususkan sebagian sujud pada satu tempat, tanpa di tempat lainnya” –selesai-.
Jadi dalam madzhab Dhohiri mereka memandang wajibnya sujud sahwi pada amalan-amalan sholat yang jika ditinggalkan dengan sengaja, batal sholatnya. Jika ia meninggalkannya karena lupa (sahwu), maka wajib sujud sahwi padanya.
2. Hukumnya Sunnah. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki, selain ada sebagian ulama mereka yang mewajibkannya, sebagaimana keterangan diatas. Asy-Syaikh ad-Dasuuqiy al-Malikiy (w. 1230 H) dalam kitabnya “حاشية الدسوقي على الشرح الكبير” (1/273) berkata :

ثُمَّ إنَّ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنْ سُنِّيَّةِ السُّجُودِ لِلسَّهْوِ سَوَاءٌ كَانَ قَبْلِيًّا أَوْ بَعْدِيًّا هُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ الْمَذْهَبِ وَقِيلَ بِوُجُوبِ الْقَبْلِيِّ قَالَ فِي الشَّامِلِ وَهُوَ مُقْتَضَى الْمَذْهَبِ.

“kemudian apa yang disebutkan oleh penulis tentang sunahnya sujud sahwi sama saja apakah sebelum atau sesudah salam ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab (Maliki). Ada yang berpendapat wajibnya sujud sahwi sebelum salam, penulis kitab “asy-Syaamil” berkata, (wajibnya sujud sahwi sebelum salam) adalah konsekuensi dari madzhab (Maliki).
Kemudian Syafi’iyyah juga berpendapat hukumnya sunnah. Al-‘Alamah Zakariya al-Anshoriy (w. 926 H) dalam kitabnya “فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب” (1/62) berkata :

” سُجُودُ السَّهْوِ ” فِي الصَّلَاةِ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا ” سُنَّةٌ ”

“Sujud Sahwi dalam sholat baik sholat wajib maupun sholat nafilah, hukumnya adalah sunnah”.
Dalil sunahnya sujud sahwi menurut madzhab Syafi’iyyah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari jalannya sampai kepada Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfu’ :

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُلْقِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ، فَإِذَا اسْتَيْقَنَ التَّمَامَ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، فَإِنْ كَانَتْ صَلَاتُهُ تَامَّةً كَانَتِ الرَّكْعَةُ نَافِلَةً وَالسَّجْدَتَانِ وَإِنْ كَانَتْ نَاقِصَةً كَانَتِ الرَّكْعَةُ تَمَامًا لِصَلَاتِهِ، وَكَانَتِ السَّجْدَتَانِ مُرْغِمَتَيِ الشَّيْطَانِ

“jika kalian ragu dalam sholatnya, maka buanglah keraguan dan bersandarlah kepada hal yang yakin. Jika telah selesai sholatnya, lalu sujud dengan dua kali sujud. Jika sholatnya ternyata telah sempurna, maka rokaat (tambahannya –pent.) adalah sebagai nafilah dan (begitu juga) dua sujudnya, namun jika memang jumlah rokaat sholatnya kurang, maka rokaatnya tambahannya tadi sebagai penyempurna dan dua sujud sahwinya, membuat setan kecewa”. (dinilai hasan shahih oleh Al Albani).
Adapun pendapat yang kami pandang rajih adalah pendapat yang mengatakan sujud sahwi hukumnya wajib pada amalan-amalan sholat yang jika seorang meninggalkannya karena sengaja, maka batal sholatnya. Karena sujud sahwi ini, seperti pengganti dari batalnya sholat (jika bukan karena lupa). Begitu juga beberapa dalil dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam yang memerintahkan untuk melaksanakan sujud sahwi, ketika terjadi kelupaan dalam sholat. Misalnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu secara marfu’ :

ثم لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْن

“kemudian sujudlah dengan dua sujud sahwi”.
Adapun dalil yang digunakan Syafi’iyyah yang menunjukkan bahwa sujud sahwi adalah nafilah, maka konteksnya bukan untuk menjelaskan hukumnya, namun sujud sahwi dan tambahan rokaatnya, misalnya ia sholat Isya, lalu ragu-ragu apakah sudah 3 rokaat atau baru dua rokaat, kemudian ia memilih pendapat yang pasti yakin, bahwa sudah dua rokaat, sehingga kemudian dia menyelesaikan dua rokaat sisanya, setelah itu ia sujud sahwi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam mengatakan, jika kenyataan sholatnya yang benar tadi sudah 3 rokaat, maka tambahan satu rokaat dan dua sujud sahwi (sebab ia berarti telah sholat 5 rokaat) adalah sebagai naafilah (tambahan) pahala baginya, bukan sebuah kemaksiatan. Namun jika ternyata yang benar adalah 2 rokaat, dimana berarti ia sudah bertindak hal yang benar, dengan menyempurnakan 2 rokaat sisanya (sholatnya berarti genap 4 rokaat), maka sujud sahwinya membuat setan kecewa, was-was yang ditimbulkannya tidak mempenaruhi sholatnya. Wallahul A’lam.
Asy-Syaikh DR. Wahbah az-Zuhailiy dalam kitabnya “الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ” (2/1106) mempunyai suatu catatan yang bisa kita pertimbangkan, kata beliau :

والأولى ترك سجود السهو في الجمعة والعيدين إذا حضر فيهما جمع كبير، لئلا يشتبه الأمر على المصلين

“yang utama adalah meninggalkan sujud sahwi bagi sang Imam pada sholat Jum’at dan sholat hari raya, ketika makmum yang menghadirinya dalam jumlah besar, agar tidak menimbulkan kesamaran dikalangan jamaah sholatnya”.

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

June 26, 2017 at 11:01 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

 

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur bahwa pahala sholat Jama’ah berkali lipat dibandingkan jika mengerjakan sholat sendirian. Disebutkan 25 atau 27 derajat sesuai dengan perbedaan riwayat yang datang. Namun ada sebuah hadits riwayat Abu Huroiroh -Rodhiyallahu ‘anhu- yang cukup menarik minat saya untuk dijadikan catatan, yang lafadznya :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “sholat seorang laki-laki secara berjamaah (pahalanya) berkali lipat dibandingkan sholat (sendirian) di rumahnya dan pasarnya sebanyak 25 derajat. Yang demikian itu jika ia berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidaklah ia keluar, kecuali karena sekedar bertujuan untuk sholat, tidaklah satu langkah yang dilakukannya, kecuali akan diangkat derajatnya dan akan dihapus kesalahannya. Jika ia sholat, maka Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat sholatnya, mereka berkata : “Ya Allah berikan sholawat kepadanya, Ya Allah rahmatilah ia… kalian senantiasa (dianggap) sedang sholat selama menunggu waktu ditunaikannya sholat”.  (Muttafaqun ‘alaih).

Continue Reading MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN…

AQIDAH IMAM ABDUL QODIR JAILANIY

June 24, 2017 at 10:09 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AQIDAH IMAM ABDUL QODIR JAILAANIY
Syaikh Abdul Qodir Jailani (w. 561 H) adalah nama yang tidak asing bagi mayoritas masyarakat Indonesia, karena kalau ada yang mengirimkan bacaan Al Fatihah, hampir dipastikan nama beliau akan disebut. 
Namun kemungkinan besar mayoritas masyarakat tidak mengetahui akidah yang diyakini oleh Imamnya. Untuk menjelaskan akidahnya, beliau menulis beberapa kitab, salah satunya adalah kitab yang berjudul “ﺍﻟﻐﻨﻴﺔ ﻟﻄﺎﻟﺒﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺤﻖ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ”, kitab ini menjadi bahan kajian ulama untuk memberikan informasi kepada masyarakat akidah beliau yang lurus. Sebelum kita meng-highlight beberapa pernyataan beliau terkait akidahnya yang bersesuai dengan madzhab salaf, maka perlu dijelaskan dulu bahwa banyak pembesar ulama yang memastikan kitab diatas adalah benar-benar karya Imam Abdul Qodir Jailani. Ada sekitar belasan Aimah kita yang menetapkannya, diantaranya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Sakhowi, Imam Ibnu Katsir, Haji Kholifah, dll. Untuk melihat cuplikan qoul mereka terkait hal tersebut dapat layari link berikut : http://www.alsoufia.org/vb/archive/index.php/t-8883.html
Mari kita lihat cuplikan pernyataan beliau terkait Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala dari kitabnya diatas yang  dicetak oleh Darul Kutub ‘Ilmiyyah, Beirut (http://waqfeya.com/book.php?bid=10984).
Beliau berkata di juz 1 hal. 124 :

“Dia (Allah Azza wa Jalla) terpisah dari makhluk-Nya, tidak satu tempat pun yang terluput dari Ilmu-Nya,  tidak boleh mensifati Allah ada di semua tempat,  tapi katakan Dia di langit diatas Arsy… Kemudian Al-Imam menyebutkan dalil-dalilnya dari Kitab dan Sunah (sila lihat ss-nya)”.
Kemudian masih di juz 1 hal. 125 :

“Al-Istiwa adalah sifat dzat sesuai dengan yang kami kabarkan dan ternashkan atasnya.  Hal tersebut dikuatkan dalam 7 ayat di Kitabullah dan sunah yang ma’tsuroh. Ini adalah sifat lazimah, sesuai dengan yang layak bagi Allah, sebagaimana juga sifat Tangan,  Wajah, Kedua Mata, mendengar, melihat, hidup, qudroh, dan Dia Maha menciptakan, memberi Rizki, serta menghidupkan dan mematikan, (begitu juga) semua yang disifatkan kepada-Nya. Kami tidak akan menyempal dari Kitab dan Sunah, kami membaca Kitabullah dan Hadits, lalu kami mengimani keduanya, kami menyerahkan kaifiyyah sifat kepada Ilmu-Nya Allah Subhanahu wa ta’ala… “.
Kita lihat penjelasan beliau begitu gamblang dalam masalah sifat yang merupakan madzhab salaf. Point yang penting dari pernyataan beliau bahwa yang di-tafwidh (diserahkan) kepada Allah adalah kaifiyyah Sifat-Sifat itu, bukan maknanya, sehingga tidak meng-istabat Sifat Allah. Karena sebagaimana artikel saya yang dulu terkait pernyataan Imamul Haromain yang menyerahkan maknanya kepada Allah, maka perlu diklarifikasi. Jika tafwidh secara mutlak, maka ini bukannya jalan Salaf, seperti ketika seorang ditanya : apakah Allah beristiwa diatas Arsy?, dia menjawab : wallahul a’lam, saya serahkan kepada Allah. Maka ini yang disebut dengan aliran “Muwafidhoh”.
Beliau juga berapa kali melakukan perbandingan keyakinan ahlus sunah dengan keyakinannya asya’iroh, misalnya dalam masalah Kalamullah adalah suara yang tentunya tidak seperti suara makhluk-Nya, ini adalah pernyataan Imam Ahmad, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para muridnya, berbeda dengan Asya’iroh yang mengatakan Kalam Allah adalah makna qoiumun binafsihi (yang ada pada diri Allah, bukan berupa suara) (juz 1 hal. 131). Begitu juga dalam masalah Iman, dimana keyakinan ahlus sunnah adalah Imam bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sedangkan Asya’iroh mengingkari bertambah dan berkurangnya Iman (juz 1 hal. 135).
Kitab “al-Ghunyan” karya Imam Abdul Qodir Jailani, tidak hanya berisi masalah akidah saja, namun juga tercantum masalah-masalah fiqih. Namun ada beberapa point yang perlu dilakukan validasi lagi, yaitu masalah keutamaan sebagian ibadah. Misalnya di juz 2 hal 241-244, beliau mengangkat tema seputar keutamaan sholat harian, dimulai dari keutamaan sholat malam Ahad sampai malam Sabtu, dalil-dalil yang beliau ajukan kebanyakan dari hadits-hadits palsu. 
Namun yang terpenting akidah beliau adalah akidah Salaf, mengikuti akidah Imamnya dalam fiqih yaitu Imam Ahmad bin Hanbal.

DOA DALAM ISTILAH NAHWU 

June 24, 2017 at 10:08 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

DO’A DALAM ISTILAH NAHWU
didalam kitab al-Jurumiyyah ketika disebut bab tentang “Jawaazim al-Mudhoori'”, yangmana Imam ibnu Ajurruum menghitungnya ada 18 buah. Diantara al-Adawaatu (alat) yang menjazmkan fi’il Mudhori’ adalah laam al-Amr dan Ad-Du’aa` serta Laa fii an-Nahyi dan ad-Du’aa`.
Kemudian pensyarah kitab al-Jurumiyyah, yakni asy-syaikh Muhyiddin Abdul Hamid dalam kitabnya “at-Tuhfah as-Saniyyah” menerangkan bahwa laam al-Amr dan laam ad-Du’aa` secara makna adalah sama yaitu meminta untuk mengerjakan suatu pekerjaan dengan permintaan yang pasti. Hanya saja bedanya al-Amr adalah perintah dari pihak yang lebih tinggi kepada yang rendah. Sedangkan ad-Du’aa` adalah perintah dari yang rendah kepada yang tinggi. 
Kemudian laa an-Nahiy dan laa ad-Du’aa` juga sama, yaitu meminta untuk tidak mengerjakan sesuatu dan meninggalkannya, bedanya dari sisi siapa yang memerintahkan sebagaimana dalam penjelasan laam al-Amri. 
Dari sinilah kita bisa memahami mengapa para ulama tidak absen dari menuliskan adab-adab dalam berdoa, karena urusannya sangat besar yaitu kita “memerintah” Sang pencipta agar menunaikan hajat yang kita inginkan. Namun bukan berarti karena segan dengan kondisi ini, lantas kita meninggalkan berdoa kepada Allah, karena Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang memerintahkan agar kita senantiasa berdoa kepada-Nya. 

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌۖ ﺃُﺟِﻴﺐُ ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِۖ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran .” (Al-Baqarah: 186)

FIRASAT ALBANI KETIKA MEMILIH MADZHAB AHLI HADITS

June 24, 2017 at 10:07 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

FIRASAT AL ALBANI KETIKA MENDEKLARASIKAN DIRINYA SEBAGAI PENGIKUT MADZHAB MUHADITSIN
Imam Al Albani dalam mukadimah kitabnya yang monumental “Sifat Sholat Nabi” berkata ketika menjelaskan pilihan madzhab fiqihnya :

“…Adalah suatu hal yang pasti bahwa saya tidak mengikatkan diri dengan madzhab tertentu, karena sebab yang telah berlalu penyebutannya. Saya hanya sekedar mendatangkan hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkait tema ini, sebagaimana ini adalah madzhab ahli hadits baik yang klasik maupun yang kontemporer…. “.
Kemudian di halaman berikutnya, beliau berkata :

“Kemudian ketika saya mengaplikasikan metode ini untuk diriku -yaitu berpegang dengan hadits-hadits yang shahih- dan saya terapkan madzhab tersebut didalam kitabku ini dan karya-karya lainnya -Insya Allah kelak akan tersebar ditengah-tengah manusia-,  maka saya sadar bahwa nanti beberapa kelompok dan para pengikut madzhab tidak akan Ridho dengan hal ini, bahkan nanti sebagian atau kebanyakan mereka akan mencela dan mencaciku. Hal tersebut tidak masalah bagiku, karena saya tahu juga bahwa mencari keridhoan manusia adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat digapai, dan bahwa “orang yang ingin mendapatkan keridhoan manusia dengan sesuatu yang dibenci Allah, maka kelak Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia”, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam”..

LEMAHNYA SEMANGAT ILMIYAH

June 24, 2017 at 10:06 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LEMAHNYA SEMANGAT ILMIYAH 
Prof. DR. Ali Muhammad ash-Shalabi dalam bukunya tentang Daulah Utsmaniyyah, sounding kepada kita berdasarkan analisanya, sebab-sebab runtuhnya daulah atau kekhilafahan Utsmaniyyah. Beliau menampilkan 10 sebab yang melatarbelakangi keruntuhannya. Ada 2 sebab yang menarik perhatian saya terkait studi ilmiyah, yaitu pada sebab ke-enam dan ke-tujuh dari analisa beliau. 
Di point sebab keenam, beliau mengatakan bahwa runtuhnya khilafah Utsmaniyah adalah karena kelangkaan pemimpin Rabbani. Bagaimana bisa pemimpin Rabbani langka pada akhir-akhir daulah Utsmaniyyah?  Asy-Syaikh menampilkan 4 root causenya :

1. Para penuntut ilmu hanya fokus pada muktashor (ringkasan-ringkasan) karya tulis atau dalam istilah kita matan yang jamaknya mutun yang biasanya terdapat dalam beberapa cabang ilmu Islam.  Ternyata maksud baik sebagian ulama yang meringkas ilmu dalam bentuk matan disalahpahami oleh para penuntut ilmu dengan hanya berhenti dan fokus disitu, akibatnya semangat mereka melakukan penelitian ilmiah agar menghasilkan kesimpulan langsung dari Sumber primernya yaitu Al-qur’an dan as-sunnah terhenti. 

2. Syarah, ta’liq dan hasyiah yang dibuat kebanyakan kosong dari ilmu Al Qur’an dan Sunnah.  Bahkan banyak syarah yang dibuat “mbulet” dan “muter-muter” tidak karuan. 

3. Pemberian ijasah dan gelar secara obral, sehingga akhirnya menyibukkan kaum muslimin dari menuntut ilmu yang sewajarnya. 

4. Pewarisan posisi keilmuan, zaman itu seorang Syaikh pengajar jika wafat, maka akan digantikan anaknya atau kerabatnya yang sebetulnya mereka belum kompeten.  Posisi ilmiah dianggap sebagai barang warisan yang bisa diwariskan seperti benda-benda mati. 
Kemudian asy-syaikh menyebutkan sebab ketujuh, yaitu penolakan dibukanya pintu ijtihad. Pada akhir masa khilafah Utsmaniyah seruan untuk membuka pintu ijtihad dianggap hal tabu dan dosa besar, bahkan dianggap sebagai kekufuran. Kemudian asy-syaikh mengkritik keras fanatisme madzhab yang jamak terjadi pada detik-detik menjelang bubarnya khilafah Utsmaniyyah. 
saya tidak sanggup lagi menuliskan bagaimana akibat yang ditimbulkan dari fanatisme ini, sebagaimana yang digambarkan oleh Prof. Ali ash-Shalabi. Silakan baca sendiri bukunya. 

Wallahul Musta’aan.

IMAMUL HAROMAIN RUJU’ DARI MADZHAB TAKWIL

June 24, 2017 at 10:06 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

IMAMUL HAROMAIN RUJU’ DARI MADZHAB TAKWIL
Sebagian ulama menginformasikan bahwa Imam abul Ma’aaliy al-Juwainiy (w. 478 H)  atau yang lebih dikenal dengan julukan Imamul Haromain, sebelumnya adalah ulama yang berkecimpung mendalami ilmu Kalam. Dalam kitabnya “ﺍﻹﺭﺷﺎﺩ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﺍﻃﻊ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ”, beliau menempuh thoriqoh Asya’iroh dalam mentakwil Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. 
Namun kemudian Allah memberinya hidayah, pada masa akhir hidupnya dengan meninggalkan madzhab takwil. Beliau mengunggulkan madzhab sahabat dan Tabi’in yang tidak menggunakan takwil, sebagaimana diinformasikan oleh asy-syaikh Abdul Aziz ath-Tharifi dalam kitabnya “al-Khuroosaaniyyah”.
Pernyataan Imamul Haromain yang meninggalkan madzhab takwil dapat kita baca di kitabnya yang dikenal dengan nama “al-‘Aqiidah an-Nidhomiyyah’. Penerbit kitab ini, yakni al-Maktabah al-Azhariyyah lit Turats, dalam kata pengantarnya menginformasikan bahwa kitab ini asalnya adalah tulisan Imamul Haromain yang berjudul “an-Nidhomiyyah fii al-arkaan al-Islaamiyyah” yang berisi masalah aqidah, sholat, puasa, zakat dan haji. Kitab ini ditulis sebagai muqoror untuk bahan ajar di madrasah Nidhomiyyah yang sangat terkenal pada zaman tersebut. Kemudian Imam ibnul Arobiy memisahkan pembahasan beliau terkait akidah dalam buku tersendiri yang diberi judul “al-‘Aqiidah an-Nidhoomiyyah fii al-Arkaan al-Islaamiyyah”.
Pada halaman 32-33 kitab diatas, Imamul Haromain berkata :

 ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﺴﺎﻟﻚ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﺭﺩﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺍﻣﺘﻨﻊ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻓﺤﻮﺍﻫﺎ ﻭﺇﺟﺮﺍﺅﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺟﺐ ﻣﺎ ﺗﺒﺮﺯﻩ ﺃﻓﻬﺎﻡ ﺃﺭﺑﺎﺏ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻣﻨﻬﺎ .

ﻓﺮﺃﻯ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺗﺄﻭﻳﻠﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺘﺰﺍﻡ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﻓﻲ ﺁﻱ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ، ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺻﺢَّ ﻣﻦ ﺳﻨﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺫﻫﺐ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻻﻧﻜﻔﺎﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﺄﻭﻳﻞ، ﻭﺇﺟﺮﺍﺀ ﺍﻟﻈﻮﺍﻫﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺍﺭﺩﻫﺎ، ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻣﻌﺎﻧﻴﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺏ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ .

ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﺮﺗﻀﻴﻪ ﺭﺃﻳًﺎ، ﻭﻧَﺪﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻋﻘﺪًﺍ : ﺍﺗﺒﺎﻉُ ﺳﻠﻒ ﺍﻷﻣﺔ؛ ﻓﺎﻷَﻭْﻟﻰ ﺍﻻﺗﺒﺎﻉ ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ، ﻭﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﺴﻤﻌﻲ ﺍﻟﻘﺎﻃﻊ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻷﻣﺔ ﺣﺠﺔ ﻣﺘﺒﻌﺔ، ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﻨﺪ ﻣﻌﻈﻢ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻭﻗﺪ ﺩﺭﺝ ﺻَﺤْﺐُ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻤﻌﺎﻧﻴﻬﺎ، ﻭﺩﺭﻙ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﻫﻢ ﺻﻔﻮﺓُ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺍﻟﻤﺸﺘﻐﻠﻮﻥ ﺑﺄﻋﺒﺎﺀ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﺄﻟُﻮﻥ ﺟُﻬﺪًﺍ ﻓﻲ ﺿﺒﻂ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﻤﻠﺔ، ﻭﺍﻟﺘﻮﺍﺻﻲ ﺑﺤﻔﻈﻬﺎ، ﻭﺗﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﻳﺤﺘﺎﺟﻮﻥ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻨﻬﺎ 

“Para ulama berbeda metode dalam memberlakukan dhohir nash yang berasal dari Kitab dan Sunnah ….sebagian ulama berpendapat untuk mentakwilnya, mereka senantiasa berpegang dengan metode takwil tersebut didalam memberlakukan Kitabullah dan Sunah Rasulullah yang shahihah. Adapun para Aimah Salaf mereka berpendapat untuk meninggalkan takwil, dan memberlakukan dhohirnya sesuai dengan datangnya, kemudian menyerahkan maknanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Yang kami ridhoi pendapatnya dan kami beribadah kepada Allah sebagai sebuah keyakinan adalah dengan mengikuti Salaful Umah, lebih utama mengikuti mereka dan meninggalkan bid’ah… “.
Kita bisa lihat, setelah Imamul Haromain memaparkan dua pendapat terkait memberlakukan dhohir-dhohir nash Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, dimana ini mencakup juga Asmaa’ dan Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, yaitu satu pendapat mengatakan untuk mentakwilnya, sedangkan pendapat para Imam Salaf dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in adalah memberlakukan nash tersebut sesuai dengan dhohirnya, tidak melakukan takwil. Kemudian beliau mendeklarasikan dirinya sebagai pengikut madzhab salaf dan itulah keyakinan yang beliau pegang dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. 
Maka jelas sekali, Imamul Haromain taubat dari pendapat sebelumnya yangmana beliau dalam memberlakukan dhohir nash menempuh jalan bid’ah dengan menakwilinya. Hanya saja ada yang perlu diklarifikasi terkait pernyataan beliau bahwa Aimah salaf men-tafwidh (menyerahkan) makna-nya kepada Allah. Kalau yang dimaksud adalah menyerahkan makna kaifiyyah Sifat-Sifat Allah, maka ini tepat, karena para salaf menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala tanpa menyerupakan dan membagaimanakannya. 
Asy-Syaikh Abdul Aziz ath-Tharifi sebagaimana dalam kitabnya “al-Khuroosaaniyyah” mengatakan :

“Akan tetapi beliau beralih dari takwil menuju tafwidh secara mutlak terhadap Sifat-Sifat Allah, beliau mentafwidh makna dan kaifiyyah semuanya, menyangkanya ini sebagai metodenya ulama salaf, padahal ulama salaf mentafwidh ilmu kaifiyyahnya, bukan ilmu maknanya, mereka menetapkan makna dan mengilmuinya, kesalah pahaman ini juga terjadi pada Imam al-ghazali dalam kitabnya “Iljaam al-‘Awaam an ‘Ilmi al-Kalaam”, dan juga banyak ulama selainnya yang salah paham seperti ini” -selesai-.
Jadi madzhab takwil adalah metode yang keliru didalam memberlakukan nash-nash Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, sedangkan jalan yang lurus adalah jalannya para Aimah Salaf yang menetapkan Asmaa dan Sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa mentakwilnya, merubah lafadznya, membagaimanakan, dan menyerupakannya dengan Makhluk-Nya. Diatas madzhab Salaf inilah kami beragama sebagai sebuah keyakinan. Wallahul A’lam.

AQIDAH IMAM ROZIYAIN

June 24, 2017 at 10:05 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AQIDAH IMAM ROZIYAIN
Imam ibnu Abi Hatim (w. 327 H)  secara khusus bertanya kepada bapaknya Imam Abu Hatim (w. 277 H) dan kepada rekan ayahnya, Imam Abu Zur’ah (w.  264 H), mereka bertiga adalah Aimahnya kaum muslimin, tentang madzhab ahlu sunnah dalam perkara ushuluddin dan keyakinan mereka yang diyakini oleh para ulama dari seluruh penjuru negeri, maka diantara jawaban yang diberikan oleh mereka berdua adalah :

“….Allah berada diatas Arsy, terpisah dari makhluk-nya, sebagaimana yang Dia sifatkan Diri-Nya sendiri dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, tanpa takyif (membagaimanakan), ilmu-Nya meliputi segala sesuatu,  tidak ada yang serupa dengan-nya dan Dia Maha Melihat lagi Maha Mendengar… “.
===============
Asy-Syaikh Abdul Aziz ath-Thoriifiy dalam kitabnya “al-Khuroosaaniyyah fii Syarh Aqiidati ar-Rooziyain” menukil sanad matan kitab diatas dari Imam al-Laalikaa’i dalam kitabnya “Syarah Ushul I’tiqood” : 

“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Mudhoffar al-Muqrii’ ia berkata, telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Muhammad bin Habasy al-Muqrii’ ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdur Rahman bin Abi Hatim (Imam Abu Hatim) beliau berkata : “al-matan”.

Kemudian setelah selesai menyebutkan isi kitabnya, beliau menukil Abu Muhammad (Imam Abu Hatim) berkata : “demikian akidah yang aku katakan (baca yakini)”, Abu Ali bin Habasy al-Muqrii’ berkata : “demikian akidah yang aku katakan (baca yakini)”, guru kami ibnul Mudhoffir berkata : “demikian akidah yang aku katakan (baca yakini)”, berkata guru kami yakni Imam al-Laalikaa’i : “demikian akidah yang aku katakan (baca yakini)”, ath-Throisiyyi berkata : “demikian akidah yang aku katakan (baca yakini)”, guru kami as-Silafiy berkata : “demikian akidah yang aku katakan (baca yakini)”.

ZAKAT FITRAH DENGAN UANG

June 24, 2017 at 10:04 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ZAKAT FITRAH DENGAN UANG
Telah masyhur bahwa dalam madzhab Hanafi, mereka membolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan uang. Kemudian terbaca oleh saya, orang yang lebih senior dari Imam Abu Hanifah juga sebelumnya sudah membolehkan untuk mengeluarkan zakat fitrah dengan uang. Baiklah saya akan mengupas riwayat-riwayat yang menunjukkan hal itu kemudian kita nilai tingkat validitasnya. Ada dua buah kitab yang dijadikan penelitian kecil terkait tema ini, yang pertama adalah buku yang berjudul “الكتاب المصنف في الأحاديث والآثار” karya Imam Abu Bakar ibnu Abi Syaibah (w.235 H) dan yang kedua kitab “الأموال” karya Imam Ibnu Zanjawaih (w.251). 
Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf-nya membuat sebuah bab dalam kitab az-Zakaat dengan judul “فِي إِعْطَاءِ الدَّرَاهِمِ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ” (tentang pembayaran menggunakan dirham (uang) ketika menunaikan zakat Fitrah), kemudian beliau menurunkan 5 jalan riwayat dari 4 ulama tiga diantaranya menunjukkan adanya pembayaran zakat dengan uang seharga bahan makanan, sedangkan satu ulama lagi me-makruhkannnya.
Adapun Imam Ibnu Zanjawaih menurunkan judul bab dalam kitab az-Zakaat dengan nama “الرُّخْصَةُ فِي إِخْرَاجِ الدَّرَاهِمِ بِالْقِيمَةِ” (keringan dalam membayar (zakat fitrah) dengan dirham seharga (bahan makanan pokok)), beliau mendokumentasikan 7 jalan yang menunjukkan pembayaran zakat fitrah dengan uang.
Baik kita mulai dengan riwayat yang ditulis oleh Imam ibnu Abi Syaibah :

1. Atsar Umar bin Abdul Aziz, beliau menurunkan dua sanad untuk atsar ini. Imam ibnu Abi Syaibah berkata :

10368 – حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، قَالَ: سَمِعْتُ كِتَابَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ يُقْرَأُ إِلَى عَدِيٍّ بِالْبَصْرَةِ «يُؤْخَذُ مِنْ أَهْلِ الدِّيوَانِ مِنْ أَعْطِيَّاتِهِمْ، عَنْ كُلِّ إِنْسَانٍ نِصْفُ دِرْهَمٍ»

(no. 10368) telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari Ibnu ‘Aun beliau berkata : “aku mendengar dibacakannya buku (baca SK (surat keputusan)) Umar bin Abdul Aziz yang dikirimkan kepada Adiy di Bashroh, yang isinya : “diambil dari ahli Diwan berupa zakat fitrahnya, untuk setiap orang sebesar setengah dirham”.

10369 – حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ قُرَّةَ، قَالَ: جَاءَنَا كِتَابُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ «نِصْفُ صَاعٍ عَنْ كُلِّ إِنْسَانٍ أَوْ قِيمَتُهُ نِصْفُ دِرْهَمٍ»

“telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Qurroh beliau berkata : “telah sampai kepada kami SK Umar bin Abdul Aziz tentang zakat Fitrah : “yaitu dikeluarkan sebesar setengah sho’ (bahan makanan) untuk setiap orang, atau yang seharga dengan sebesar setengah dirham”.

Statusnya : pentahqiq kitab Mushonaf, yakni asy-Syaikh Muhammad ‘Awaamah, mengatakan bahwa Abu Usaamah adalah Hamaad bin Usaamah, sementara Ibnu ‘Aun dalam naskah lain tidak ada ibnu yakni Cuma ‘Aun, keduanya adalah perowi Basroh yang tsiqoh. Oleh karenanya, atsar ini shahih. Sedangkan sanad yang kedua, Wakii’ adalah ibnu Jarooh, Aimah sunah yang masyhur, Qurroh yakni ibnu Khoolid as-Saduusi, perowi yang tsiqoh, thus sanad yang kedua juga shahih.

2. Atsar al-Hasan al-Bashri. Imam ibnu Abi Syaibah berkata :

10370 – حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تُعْطِيَ الدَّرَاهِمَ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ»

(No. 10370) telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Hisyaam, dari al-Hasan beliau berkata : “tidak mengapa membayar dengan dirham untuk menunaikan zakat fitrah”.

Statusnya : semua perowinya tsiqoh, Hisyaam disini adalah ibnu Hasan, perowi Shahihain yang tsiqoh. So, this atsar shahih.

3. Atsar Abu Ishaq. Imam Ibnu Abi Syaibah berkata :

10371 – حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ زُهَيْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ، يَقُولُ: «أَدْرَكْتُهُمْ وَهُمْ يُعْطُونَ فِي صَدَقَةِ رَمَضَانَ الدَّرَاهِمَ بِقِيمَةِ الطَّعَامِ»

(No. 10371) telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari Zuhair beliau berkata, aku mendengar Abu Ishaq berkata : “aku menjumpai mereka membayarkan zakat fitrahnya pada bulan Romadhon dengan dirham seharga bahan makanan”.

Statusnya : Zuhair yakni ibnu Muhammad at-Tamiimiy, perowi Shahihain, ia punya kelemahan jika yang mengambil haditsnya para perowi Syam. Namun dalam sanad ini Abu Usaamah adalah perowi Kufah, sehingga no problem. Abu Ishaaq adalah ‘Amr al-Hamdaaniy, perowi Shahihain yang tsiqoh, masuk dalam thobaqoh tabi’i pertengahan, beliau banyak meriwayatkan dari para sahabat. Sehingga maksud perkataan beliau “hum” artinya mereka para sahabat. So bayar zakat fitrah pakai uang juga dilakukan oleh sebagian sahabat.

4. Atsar Athaa`. Imam Ibnu Abi Syaibah berkata :

10372 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ عُمَرَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يُعْطِيَ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ وَرِقًا

(No. 10372) telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Umar, dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa`, bahwa beliau me-makruhkan membayar zakat fitrah dengan uang perak (alias dirham).

Statusnya : Umar adalah ibnu Haaruun al-Balkhi, perowi matruk, dan Ibnu Juraij yang mudallis, sedangkan  beliau dalam sanad ini meriwayatkannya dengan ‘an’anah. Atsar ini sangat lemah.
Adapun riwayat Imam Ibnu Zanjawaih dalam kitabnya “al-Amwaal” adalah sebagai berikut :

1. Atsar Umar bin Abdul Aziz. Imam Ibnu Zanjawaiah menurunkan dua sanad, beliau berkata :

2451 – ثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ، ثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَتَبَ: يُؤْخَذُ مِنْ عَطَاءِ كُلِّ رَجُلٍ نِصْفُ دِرْهَمٍ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَالَ يَزِيدُ: فَهُمْ حَتَّى الْآنَ يَأْخُذُونَهُمْ بِهِ

(No. 2451) telah menceritakan kepada kami Abul Aswad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhaiah, dari Zaid bin Abi Habiib, bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis SK : “diambil dari gaji setiap (pegawai) sebesar setengah dirham untuk zakat fitrah”.

Yaziid berkata : “mereka sampai sekarang masih diambil zakatnya seperti itu”.
2453 – ثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ عَوْفٍ قَالَ: قُرِئَ عَلَيْنَا كِتَابُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي صَدَقَةِ رَمَضَانَ: «وَاجْعَلْ عَلَى أَهْلِ الدِّيوَانِ نِصْفَ دِرْهَمٍ مِنْ كُلِّ إِنْسَانٍ، يُؤْخَذُ مِنْ أُعْطِيَاتِهِمْ»

(No. 2453) telah menceritakan kepada kami Ali bin al-Hasan, dari Ibnul Mubaroj dari ‘Auf beliau berkata : “dibacakan kepada kami SK Umar bin Abdul Aziz tentang zakat Fitrah pada bulan Ramadhan (yang isinya) : “berlakukan untuk ahli diiwan setengah dirham per orang, yang diambil dari gaji mereka”.

Statusnya : sudah berlalu sebelumnya.

2. Atsar Ibnu Syihaab. Imam Ibnu Zanjawaih berkata :

2452 – أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ أنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: «أَخَذَتِ الْأَئِمَّةُ فِي الدِّيوَانِ زَكَاةَ الْفِطْرِ فِي أُعْطِيَاتِهِمْ»

(No. 2452) telah mengabarkan kepada kami Humaid, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Shoolih, telah menceritakan kepadaku al-Laits, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihaab beliau berkata : “Para pemimpin senantiasa mengambil zakat fitrah dari pegawainya dari gaji mereka”.

Statusnya : Humaid adalah Imam Ibnu Zanjawaih sendiri; Abdullah bin Shoolih, hasanul hadits; al-Laits, Yunus bin Yaziid, dan Imam ibnu Syihaab az-Zuhri, para perowi Shahihain, para perowi yang tsiqoot. Atsar ini mininal hasan.

3. Atsar al-Hasan dan Sufyan. Imam Ibnu Zanjawaih berkata :

2454 – أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ أنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، ثَنَا يُوسُفُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: «إِذَا أَعْطَى الدِّرْهَمَ مِنْ زَكَاةِ الْفِطْرِ أَجْزَأَ عَنْهُ» قَالَ سُفْيَانُ: إِذَا أَعْطَى قِيمَةَ نِصْفِ صَاعٍ مِنْ حِنْطَةٍ أَجْزَأَ عَنْهُ

(No. 2454) telah mengabarkan kepada kami Humaid, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf, dari Hisyaam, dari al-Hasan, beliau berkata : “jika ia membayar zakat fitrah dengan dirham, maka sah zakatnya”. 

Sufyan berkata : “jika ia membayarnya seharga setengah sho’ gandum, maka sah zakatnya”.

Statusnya : para perowinya semuanya tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim, kecuali Yusuf yakni ibnu Ya’quub as-Saduusi, hanya dipakai Bukhori. Sehingga atsar ini shahih, sebagaimana jalannya Imam Ibnu Abi Syaibah diatas.

4. Atsar Abu Ishaaq. Imam ibnu Zanjawaih berkata :

2455 – ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ الرُّومِيُّ، أنا زُهَيْرٌ أَبُو خَيْثَمَةَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِيِّ قَالَ: «كَانُوا يُعْطُونَ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ بِحِسَابِ  مَا يُقَوَّمُ مِنَ الْوَرِقِ»

(No. 2455) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar ar-Ruumiy, telah mengabarkan kepada kami Zuhair bin Khoitsamah, dari Abi Ishaaq al-Hamdaaniy beliau berkata : “mereka membayar zakat fitrah dengan hitungan yang sebanding dengan uang perak”.

Statusnya : telah lewat penshahihnya diatas.

5. Atsar Malik. Imam ibnu Zanjawaih berkata :

2456 – قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى ابْنِ أَبِي أُوَيْسٍ، عَنْ مَالِكٍ وَسُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَكُونُ فِي مَوْضِعٍ لَيْسَ فِيهِ طَعَامٌ، أَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرَ دَرَاهِمَ؟ قَالَ: لَا وَاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: وَيَكُونُ أَحَدٌ بِمَوْضِعٍ لَيْسَ فِيهِ طَعَامٌ، فَأَيُّ شَيْءٍ يَأْكُلُ؟ فَقِيلَ: إِنَّهُ يُقِيمُ فِي ذَلِكَ الْمَكَانِ الشَّهْرَ وَالشَّهْرَيْنِ، قَالَ: إِذَا رَجَعَ أَخْرَجَ ذَلِكَ طَعَامًا، وَلَا يُعْطِي غَيْرَ الطَّعَامِ

(No. 2456) aku membaca dihadapan ibnu Abi Uwais, dari Malik, beliau pernah ditanya terkait seseorang yang ditempatnya tidak punya bahan makanan, apakah dia boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan dirham?”,

Beliau menjawab : “tidak, demi Allah”. Lalu beliau melanjutkan : “ia berada di tempat yang tidak ada bahan makanan?, lalu bagaimana makannya?”. Lalu dijawab : “maksudnya ia tinggal ditempat itu Cuma sebulan dua bulan”. Maka Malik berkata : “nanti jika ia kembali ke kampungnya, ia mengeluarkan zakat fitrah dengan bahan makanan, tidak boleh membayarnya dengan dirham”.

Statusnya : Ismail bin Abi Uwais, adalah keponakannya Imam Malik bin Anas, dipakai Bukhori-Muslim. Dalam jawaban Imam Malik, beliau membolehkan seorang musafir yang tinggal di suatu tempat untuk masa tertentu boleh membayar zakat fitrah dengan uang, namun kalau sudah tinggal di kampungnya, maka kembali normal, zakat fitrah harus dibayar dengan bahan makanan.

6. Imam ibnu Zanjawaih berkata :

2457 – قَالَ أَبُو بَكْرٍ: قَالَ حُمَيْدٌ: الْقِيمَةُ تُجْزِي فِي الطَّعَامِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالطَّعَامُ أَفْضَلُ

(No. 2457) Abu Bakar berkata, Humaid berkata : “membayar zakat fitrah seharga bahan makanan sah insya Allah, namun yang paling utama adalah membayarnya dengan bahan makanan”.

Statusnya : Imam Humaid ibnu Zanjawaih menutup bab ini dengan pendapat beliau pribadi bahwa membayar zakat fitrah dengan uang sah zakatnya, sekalipun yang lebih utama membayarnya dengan bahan makanan.
Imam Ibnu Zanjawaih adalah ulama sunah yang mendakwahkan sunah di daerah Nasaa`, tempat lahirnya Imam Nasaa`i, beliau dikatakan sebagai orang yang pemahaman fiqihnya sangat bagus.
Kesimpulannya, sah-sah saja membayar zakat fitrah dengan uang seharga bahan makanan, kalau di negeri kita seharga 2.5 Kg beras. Terlebih lagi jika memang pemerintahnya mengeluarkan keputusan untuk menunaikannya menggunakan uang sebagai sarana mempermudah pembayaran dan penyalurannya, maka dalam hal ini telah ada salafnya dari Amirul Mukminin “kelima” Umar bin Abdul Aziz. Sejumlah Tabi’in, bahkan diduga sebagian sahabat Rodhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in, telah terbiasa membayar zakat fitrah dengan uang. Wallahul A’lam.

MANHAJ AKIDAH PARA SAHABAT

June 24, 2017 at 10:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MANHAJ AKIDAH PARA SAHABAT
“Alhamdulillah para sahabat radhiyallahu anhum tidak berselisih dalam satu permasalah yaitu bab Asma, Sifat dan Af’al (Perbuatan) Allah Subhanahu wa ta’ala,  mereka semuanya menetapkan apa yang diucapkan oleh Kitab dan Sunah dengan satu kalimat. Para sahabat tidak melakukan takwil dan tidak mentahrif (merubah) dari tempatnya untuk dilakukan penggantian.. ”
(Quote min Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah fii kitabihi “I’laam al-Muwaqi’iin” juz. 2 hal. 91, cet. Daar Ibnul Jauzi) .

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: